MENGENAL CIRI-CIRI SETAN BISU DAN SETAN YANG BERBICARA

20130315-170258.jpg
(*) Masalah 323: APAKAH UNGKAPAN “ORANG YANG DIAM DARI MENYAMPAKAIKAN KEBENARAN ADALAH SETAN YANG BISU” TERMASUK HADITS SHOHIH?

Dijawab oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Tanya:
Pertanyaan dr moderator Majlis Hadits Ikhwan 12:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ustadz, ana mau tanya status hadits berikut :

“Diam dari kebenaran adalah Setan yg Bisu”

Ada yg menyatakan itu bukan hadits, tapi hanya perkataan Abu Ali ad-Daqqaq, namun ada yg berpendapat itu adalah hadits, sebagaimana Ibnu Qayyim menyebutkannya dalam al Jawab al Kahfi.

Mohon pencerahan dari Ustadz.

شُكْرًا جَزَاك اللهُ خَيْرًا
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jawab:
وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Al-Akh Denny yg smg dirahmati Allah, perkataan tsb BUKAN HADITS dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Yang benar adalah bahwa perkataan tsb diucapkan oleh sebagian Ulama Sunnah, seperti Abu Ali Ad-Daqqooq Asy-Syafi’i, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahumullah dan selainnya.

Menurut penelitian sebagian ulama, bahwa yg pertama kali mengucapkan hal itu adalah Abu Ali Ad-Daqqooq Asy-Syafi’i An-Naisaburi (wafat pada tahun 406 H).

Berikut ini kami akan sebutkan perkataan mereka berkaitan dengan ungkapan di atas.

(*) Abu Ali Ad-Daqqooq An-Naisaburi Asy-Syafi’i berkata: “Barangsiapa yang berdiam diri dari (menyampaikan) kebenaran, maka ia adalah Syaithon Akhros (yakni setan yg bisu dari jenis manusia).” (Disebutkan oleh imam An-Nawawi di dlm Syarah Shohih Muslim).

(*) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah jg pernah berkata: “Orang yang berdiam diri dari menyampaikan kebenaran (padahal ia mampu menyampaikannya, pent) adalah Syaithon Akhros (Setan yg Bisu dari jenis manusia).” (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).

(*) Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Agama dan kebaikan apalagi yg ada pada seseorang yg melihat larangan-larangan Allah dilanggar, batas-batas-Nya diabaikan, agama-Nya ditinggalkan, dan sunnah Rasul-Nya dibenci. Orang yg hatinya dingin, lisannya diam (dari menyampaikan kebenaran n mengingkari kemungkaran, pent), dia adalah Syaithon Akhros (Setan yg bisu dr jenis manusia), sebagaimana orang yg berbicara dengan kebatilan dinamakan Syaithon Naathiq (Setan yg berbicara dr jenis manusia).

(*) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata ketika ditanya tentang ungkapan tsb di atas: “Perkataan tsb diucapkan oleh sebagian ulama Sunnah dari generasi as-salafus sholih. Dan itu bukan hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Mereka berkata: “Orang yang diam dari (menyampaikan) kebenaran adalah Syaithon Akhros (setan yang bisu), dan orang yang berbicara dengan kebatilan adalah Syaithon Naathiq (setan dr manusia yg berbicara dengan kebatilan).”

Oleh karenanya, siapa saja yg mengatakan kebatilan dan menyeru kpd kebatilan, maka ia termasuk golongan Syaithon Nathiq (setan dr manusia yg berbicara). Sedangkan siapa saja yg diam dari mengatakan kebenaran padahal ia mampu menyampaikannya, dan siapa saja yg tidak memerintahkan kpd yg ma’ruf dan tidak mencegah dr kemungkaran, serta tidak merubah apa yg wajib dirubah, tetapi ia diam sj padahal ia mampu berbicara dengan kebenaran, maka ia disebut setan yg bisu dari jenis manusia. Karena kewajiban seorang mukmin adalah mengingkari kebatilan, dan menyeru kpd yg ma’ruf (kebaikan) jika ia mampu menjalankannya. Hal ini sebagimana fimn Allah Ta’ala:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron: 104)

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

Artinya: “Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubah/mencegah dengan tangannya (kekuasaannya). Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubah/mencegahnya dengan lisahnya (nasehat n peringatan, pent). Dan jika tidak mampu, maka hendaklah ia merubah/mencegahnya dengan hatinya (yakni merasakan tidak senang dan tidak rela). Dan yg demikian itu adalah selemah-lemah Iman”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan Ahmad).

Dalil-dalil syar’i ini menjelaskan kpd kita akan wajibnya mengingkari kemungkaran sesuai dengan kemampuan kita (masing-masing). (Urutannya adalah) dengan tangan (kekuasaan), kemudian dengan lisan, kemudian dengan hati. Maka siapa saja yg dim dari mengingkari kemungkaran padahal ia mampu mencegah n merubahnya, serta tidak ada penghalang baginya, maka dia adalah Syaithon Akhros (setan yg bisu dari jenis manusia).” (Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/18316)

(*) Al-Haq (kebenaran) yang tidak boleh bagi siapa pun untuk berdiam diri dari menyampaikannya secara garis besar adalah segala perintah, larangan dan adab-adab yg terkandung di dalam Al-Quran Al-Karim dan Hadits-hadits Nabi yg Shohih.

Demikian jawaban yg dapat kami smpaikan. Semoga mudah dipahami n menjadi ilmu yg bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-taufiq.

(Sumber: Tanya Jawab BlackBerry Group Majlis Hadits. PIN: 2987565B).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s