Monthly Archives: Maret 2013

5 KIAT AGAR DAPAT MENGETAHUI DAN MENGIKUTI KEBENARAN

20130319-102558.jpg

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Ilmu itu ada 2 macam, yaitu:
Ilmu yg bermanfaat dan ilmu yg tidak bermanfaat.

Ilmu yg bermanfaat ialah apa saja yg sejalan n sesuai dengan al-Haq (kebenaran). Dan al-Haq adalah apa saja yg ditunjukkan oleh dalil-dalil syar’I dari Al-Quran, Hadits Shohih, dan ijma’ (konsensus) ulama salafus sholih dari kalangan para sahabat, tabi’in n pengikut tabi’in.

Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala di dalam surat Al-A’raaf ayat 3, dan surat Al-Hasyr ayat 7.

Berikut ini kami akan sebutkan beberapa kiat agar seorang hamba dapat mengetahui n mengikuti kebenaran: Baca lebih lanjut

Iklan

HADITS PALSU TENTANG BAHAYA MENIKAHI WANITA KARENA HARTA, KEDUDUKAN DAN KECANTIKANNYA SAJA

20130318-074831.jpg

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

عن أنس مرفوعاً: من تزوج امرأة لعزها لم يزده الله إلا ذلاً، ومن تزوجها لمالها لم يزده الله إلا فقراً، ومن تزوجها لحسنها لم يزده الله إلا دناءة، ومن تزوج امرأة لم يتزوجها إلا ليغض بصره أو ليحصن فرجه أو يصل رحمه بارك الله له فيها وبارك لها فيه.

Diriwayatkan dari Anas (bin Malik) radhiyallahu anhu secara marfu’ (sanadnya tersambung kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam) :

“Barangsiapa menikahi wanita karena kemuliaan (kedudukan)nya, maka ALLAH tidak akan menambahkan untuknya kecuali kehinaan. Barangsiapa yang menikahi wanita karena hartanya, maka ALLAH tidak akan menambahkan untuknya kecuali kefakiran. Barangsiapa menikahi wanita karena kecantikannya, maka ALLAH tidak akan menambahkan untuknya kecuali kerendahan (keburukan). Dan barangsiapa yang menikahi seorang wanita karena ingin menuundukkan pandangan matanya, membentengi kemaluannya, dan mempererat tali silaturahmi, maka ALLAH akan melimpahkan barokah-NYA kepada dia (suami) dan istrinya (dalam kehidupan keluarganya).”

(*) TAKHRIJ HADITS: Baca lebih lanjut

MENGENAL CIRI-CIRI SETAN BISU DAN SETAN YANG BERBICARA

20130315-170258.jpg
(*) Masalah 323: APAKAH UNGKAPAN “ORANG YANG DIAM DARI MENYAMPAKAIKAN KEBENARAN ADALAH SETAN YANG BISU” TERMASUK HADITS SHOHIH?

Dijawab oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Tanya:
Pertanyaan dr moderator Majlis Hadits Ikhwan 12:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ustadz, ana mau tanya status hadits berikut :

“Diam dari kebenaran adalah Setan yg Bisu”

Ada yg menyatakan itu bukan hadits, tapi hanya perkataan Abu Ali ad-Daqqaq, namun ada yg berpendapat itu adalah hadits, sebagaimana Ibnu Qayyim menyebutkannya dalam al Jawab al Kahfi.

Mohon pencerahan dari Ustadz.

شُكْرًا جَزَاك اللهُ خَيْرًا
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jawab:
وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Al-Akh Denny yg smg dirahmati Allah, perkataan tsb BUKAN HADITS dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Yang benar adalah bahwa perkataan tsb diucapkan oleh sebagian Ulama Sunnah, seperti Abu Ali Ad-Daqqooq Asy-Syafi’i, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahumullah dan selainnya.

Menurut penelitian sebagian ulama, bahwa yg pertama kali mengucapkan hal itu adalah Abu Ali Ad-Daqqooq Asy-Syafi’i An-Naisaburi (wafat pada tahun 406 H).

Berikut ini kami akan sebutkan perkataan mereka berkaitan dengan ungkapan di atas.

(*) Abu Ali Ad-Daqqooq An-Naisaburi Asy-Syafi’i berkata: “Barangsiapa yang berdiam diri dari (menyampaikan) kebenaran, maka ia adalah Syaithon Akhros (yakni setan yg bisu dari jenis manusia).” (Disebutkan oleh imam An-Nawawi di dlm Syarah Shohih Muslim).

(*) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah jg pernah berkata: “Orang yang berdiam diri dari menyampaikan kebenaran (padahal ia mampu menyampaikannya, pent) adalah Syaithon Akhros (Setan yg Bisu dari jenis manusia).” (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).

(*) Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Agama dan kebaikan apalagi yg ada pada seseorang yg melihat larangan-larangan Allah dilanggar, batas-batas-Nya diabaikan, agama-Nya ditinggalkan, dan sunnah Rasul-Nya dibenci. Orang yg hatinya dingin, lisannya diam (dari menyampaikan kebenaran n mengingkari kemungkaran, pent), dia adalah Syaithon Akhros (Setan yg bisu dr jenis manusia), sebagaimana orang yg berbicara dengan kebatilan dinamakan Syaithon Naathiq (Setan yg berbicara dr jenis manusia).

(*) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata ketika ditanya tentang ungkapan tsb di atas: “Perkataan tsb diucapkan oleh sebagian ulama Sunnah dari generasi as-salafus sholih. Dan itu bukan hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Mereka berkata: “Orang yang diam dari (menyampaikan) kebenaran adalah Syaithon Akhros (setan yang bisu), dan orang yang berbicara dengan kebatilan adalah Syaithon Naathiq (setan dr manusia yg berbicara dengan kebatilan).”

Oleh karenanya, siapa saja yg mengatakan kebatilan dan menyeru kpd kebatilan, maka ia termasuk golongan Syaithon Nathiq (setan dr manusia yg berbicara). Sedangkan siapa saja yg diam dari mengatakan kebenaran padahal ia mampu menyampaikannya, dan siapa saja yg tidak memerintahkan kpd yg ma’ruf dan tidak mencegah dr kemungkaran, serta tidak merubah apa yg wajib dirubah, tetapi ia diam sj padahal ia mampu berbicara dengan kebenaran, maka ia disebut setan yg bisu dari jenis manusia. Karena kewajiban seorang mukmin adalah mengingkari kebatilan, dan menyeru kpd yg ma’ruf (kebaikan) jika ia mampu menjalankannya. Hal ini sebagimana fimn Allah Ta’ala:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron: 104)

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

Artinya: “Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubah/mencegah dengan tangannya (kekuasaannya). Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubah/mencegahnya dengan lisahnya (nasehat n peringatan, pent). Dan jika tidak mampu, maka hendaklah ia merubah/mencegahnya dengan hatinya (yakni merasakan tidak senang dan tidak rela). Dan yg demikian itu adalah selemah-lemah Iman”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan Ahmad).

Dalil-dalil syar’i ini menjelaskan kpd kita akan wajibnya mengingkari kemungkaran sesuai dengan kemampuan kita (masing-masing). (Urutannya adalah) dengan tangan (kekuasaan), kemudian dengan lisan, kemudian dengan hati. Maka siapa saja yg dim dari mengingkari kemungkaran padahal ia mampu mencegah n merubahnya, serta tidak ada penghalang baginya, maka dia adalah Syaithon Akhros (setan yg bisu dari jenis manusia).” (Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/18316)

(*) Al-Haq (kebenaran) yang tidak boleh bagi siapa pun untuk berdiam diri dari menyampaikannya secara garis besar adalah segala perintah, larangan dan adab-adab yg terkandung di dalam Al-Quran Al-Karim dan Hadits-hadits Nabi yg Shohih.

Demikian jawaban yg dapat kami smpaikan. Semoga mudah dipahami n menjadi ilmu yg bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-taufiq.

(Sumber: Tanya Jawab BlackBerry Group Majlis Hadits. PIN: 2987565B).

KEUTAMAAN TAWAKKAL KEPADA ALLAH MENURUT AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH

20130312-125421.jpg
(*) KEUTAMAAN TAWAKKAL KEPADA ALLAH MENURUT AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH (*)

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنَّهُ سَمِعَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Dari Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-sebenarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada seekor burung yang pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.”

(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi di dalam Sunannya, kitab az-Zuhd, bab Fi At-Tawwakkuli ‘Alallah no. 2344, dan ia berkata, “(derajat hadits ini) hasan shohih,” Ibnu Majah dalam sunnannya, Kitab Al-Zuhud, Bab Attawakkal Wal Yaqin, hadits no 4164, Imam Ahmad bin Hanbal di dalam musnadnya, hadits no.205, 372 dan 375, dan al-Hakim di dalam al-Mustadrok kitab ar-Riqooq IV/310, dan ia nyatakan Shohih, dan imam adz-Dzahabi menyepakatinya).

(*) BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG DAPAT DIAMBIL DARI HADITS INI:  Baca lebih lanjut

HUKUM MENGUCAPKAN “JUMAT MUBAROK” PADA SETIAP HARI JUMAT

20130301-144600.jpg
(*) Masalah 318: HUKUM MENGUCAPKAN “JUMAT MUBAROK” PADA SETIAP HARI JUMAT

Dijawab oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Tanya:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ada yang pernah baca tentang hukum mengucapkan jum’at mubarok ?
.شكرا ​جَزَاك اللهُ خَيْرًا

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Menggucapkan “JUMAT MUBAROK” kpd sesama muslim pd setiap hari Jumat secara rutin hukumnya TIDAK BOLEH, karena tidak ada satu riwayat pun yg Shohih maupun yg Dho’if yg menunjukkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam n para sahabat radhiyallahu anhum pernah mengucapkan kalimat tsb pd setiap hari Jumat.

Ucapan “Jumat Mubarok” tsb yg disampaikan kpd sesama muslim n muslimah termasuk dlm jenis doa n dzikir. Sedangkan di dlm syariat Islam seorang muslim dilarang melakukan atau mengucapkan sesuatu yg menyangkut urusan agama secara khusus n rutin pd waktu tertentu kecuali berdasarkan dalil2 syar’i yg shohih.

Oleh karena itu, akan lebih hati2 n lebih selamat dari segala perbuatan bid’ah yg tercela n sesat jika kita tidak mengucapkan kalimat tsb sbgmn Nabi n para sahabat tidak mengucapkannya pada setiap hari Jumat.

Di dlm hadits yg shohih, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
(Wa Khoirol Hadyi Hadyu Muhammad)

Artinya: “Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.”

Akan tetapi, ada sebagian ulama yg berpendapat BOLEHNYA mengucapkan kalimat doa tsb “JUMAT MUBAROKAH” dengan beberapa syarat, diantaranya:
1. Tidak mengucapkannya secara rutin pada setiap hari Jumat.
2. Tidak meyakini bahwa ucapan tsb ada tuntunannya dari Nabi n para sahabat.
3. Tidak meyakini adanya pahala tertentu dr mengucapkan kalimat tsb.

Demikian jawaban yg dpt kami smpaikan. Smg bisa dipahami n menjadi ilmu yg bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.

(Sumber: Tanya Jawab BlackBerry Group Majlis Hadits. PIN: 2987565B).