10 KIAT BENINGKAN HATI

KAJIAN ILMIAH: 10 KIAT MEMBERSIHKAN HATI MENURUT AL-QURAN DAN ASSUNNAH

Semoga Allah subhanahuwata’ala memudahkan langkah kita menuju majelis ilmu.

Barang siapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Rute kendaraan:

🚌 Dari terminal blok M naik kopaja 66 turun d pasar festival kuningan.

Lalu masuk ke arah komplek epicetrum mesjid persis di sebelah Hotel Aston Rasuna.

🚎 Dari kampung melayu naik mikrolet 44 turun di apartemen puri casablaca lalu menyebrang jembaran dari halte 79 masuk samping apartemen casablaca jalan kaki/ naik ojek ke masjid bakrie.

🚌Dari terminal pasar senen naik kopaja P20 turun pasar festival-kuningan lanjut naik shuttle bus gratis menuju mesjid Al Bakrie

🚂 jalur kereta api dari st.manggarai naik metromini 61 /jalan kaki ke terminal manggarai.lalu naik kopaja 66 turun di pasar festival naik shuttle bus gratis sampai mesjid Al Bakrie

✒Panitia Majelis Tholabul Ilmi 📚

Tonton “Kajian Ilmiah: Beriman Kepada Hari Kiamat – Ustadz Muhammad Wasitho, Lc. ,MA” di YouTube

#BERIMAN_KEPADA_HARI_KIAMAT

((( BARU )))

Kajian Ilmiah: Beriman Kepada Hari Kiamat – Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Beriman kepada Hari akhir atau kiamat merupakan rukun iman yang ke 5. Beriman kepadanya adalah wajib karena termasuk dalam prinsip Aqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah. 

#Beriman kepada Hari Kiamat mencakup 4 perkara, yaitu:

1. Beriman kepada Hari Kebangkitan dalam alam kubur pada hari Kiamat.

2. Beriman dengan adanya hari perhitungan dan pembalasan amal perbuatan.

3. Beriman dengan adanya Surga dan Neraka yang kekal abadi.

4. Beriman dengan segala peristiwa setelah kematian, seperti adanya ujian di dalam kubur, Nikmat Kubur, Siksa Kubur, Telaga Nabi di Padang Dahsyat, Timbangan Amalan, Jembatan di atas neraka Jahannam, Syafa’at Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan selainnya.

Penjelasan selengkapnya, silakan klik link video Safdah TV berikut ini:

» Yu.. tonton #cuplikannya:

((( BARU ))) Kajian Ilmiah: Beriman Kepada Hari Kiamat – Ustadz Muhammad Wasitho, Lc. ,MA Beriman kepada Hari akhir atau kiamat merupakan rukun iman yang ke 5. Beriman kepadanya adalah wajib karena termasuk dalam prinsip Aqidah Ahlissunnah Wal Jama'ah. Bagaimanakah seharusnya berimana kepada hari akhir? Full Video Kajian ini di youtube SAFDAH TV via Link: https://youtu.be/hG-eNUXboIo Kajian ini dilaksanakan di Central Park Kota Wisata Cibubur Video ini semata-mata untuk menyampaikan ilmu. Semoga bermanfaat dan dapat mengambil ilmu darinya. Subscribe Youtube SAFDAH TV: https://www.youtube.com/user/safaridakwah2014 Telegram, FB, IG, Twitter: safdahtv Silahkan dishare dan Semoga bermanfaat bagi kita semua. Allahu yahdikum #kajianislam #kajianilmiah #dakwah #islam #safdahtv #bekalmuslim #IslamMenjawab #TanyaIslam #TanyaUstadz #UstadzDitanya #harikiamat #hariakhir #aqidah #ahlussunnah

A post shared by Safdah TV (@safdahtv) on

#Full_Video Kajian ini di youtube SAFDAH TV via Link:


Video ini semata-mata untuk menyampaikan ilmu. Semoga bermanfaat dan dapat mengambil ilmu darinya.

Subscribe Youtube SAFDAH TV:

https://www.youtube.com/user/safaridakwah2014

Telegram, FB, IG, Twitter: safdahtv

Silahkan dishare, dan Semoga bermanfaat bagi kita semua. Allahu yahdikum wa yubariku fiikum.

BETAPA BURUKNYA ORANG YANG TIDAK SHOLAT

» Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Orang yang meninggalkan sholat (wajib 5 waktu) itu lebih buruk (dosanya) daripada (dosa) pencuri, pezina, pemabuk, dan pecandu narkoba.” (Lihat Mahmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, XX/50).

قال #ابن_تيمية رحمه الله : “تارك الصلاة أشر من السارق والزاني وشارب الخمر وآكل الحشيشة”. (مجموع الفتاوى 22/50).

*GRUP MAJLIS HADITS*

WA/LINE: 082225243444

#Blog Dakwah Sunnah (Pondok Pesantren Islam Al Ittiba’ Klaten Jawa Tengah) KLIK:

*Http://abufawaz.wordpress.com*

MARI BERTAUBAT SEBELUM TERLAMBAT!

📚BERTAUBAT SEBELUM TIDUR

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Bismillah. Hidup di dunia ini hanya sementara. Saat kematian menjemput seseorang, berarti harus berpisah dengan dunia dan segala isinya. Dan itu pasti terjadi. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati.” [al-Anbiyâ’/21:35]

Dalam ayat lain Allâh berfirman :

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu (berada) dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” [an-Nisâ`/4: 78]

Kematian akan menimpa semua orang, baik yang shalih atau yang durhaka, yang kaya raya ataupun yang miskin papa, yang terpandang ataupun tidak, yang ikut berjihad ataupun duduk santai di rumahnya, dan lain sebagainya. Semuanya pasti akan mati bila ajalnya telah tiba ajalnya dan semuanya akan binasa, karena Allâh Azza wa Jalla berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

“Semua yang ada di bumi itu fana (tidak kekal).” [ar-Rahmân/55:26]

Kemudian sesudah mati, kita semua akan dihidupkan kembali untuk mempertanggung jawabkan semua amal perbuatan kita. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati.” [Hûd/11:7]

#MARI SEGERA BERTAUBAT KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA

Jika memang demikian, sementara sudah dapat dipastikan bahwa setiap manusia tidak akan luput dari kelalaian, kesalahan dan dosa kecuali yang dirahmati Allâh dan diberi al-‘ishmah (terpelihara dari salah dan dosa) seperti para nabi dan rasul, maka sudah seharusnya kita semua untuk segera bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak menunda-nundanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak adam (manusia) pernah berbuat kesalahan, namun sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan ialah orang yang segera bertaubat (kepada Allâh).” [HR. Ibnu Mâjah 2/1420, no.4251][1]) .

Allâh memerintahkan kita agar segera bertaubat, sebagaimana firman-Nya :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, hai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” [an-Nûr/24:31].

Dan firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allâh dengan taubat yang benar (ikhlas).” [at-Tahrîm/66:8]

Dan hendaknya kita sering beristighfâr (mohon ampun kepada-Nya) atas dosa-dosa yang telah kita perbuat selama ini. Karena Allâh Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang akan senantiasa menerima taubat dari para hamba-Nya dan mengampuni dosa-dosa sebesar dan sebanyak apapun. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allâh. Sesungguhnya Allâh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [az-Zumar/39: 53]

Di dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Allâh berfirman: “Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan.” [HR. Tirmidzi IV/548,no.3540][2]

Hendaknya kita mempersiapkan diri dengan bekal taqwa untuk menempuh perjalanan menuju ke negeri akhirat yang merupakan tempat tinggal abadi.

#BEBERAPA HAL YANG DAPAT MENDORONG SEORANG HAMBA AGAR SEGERA BERATUBAT KEPADA ALLAH SEBELUM TIDUR

Kenapa sebelum tidur? Terdapat banyak hal yang dapat membantu seorang hamba untuk segera bertaubat kepada Allâh kapan pun dan dimanapun. Namun dalam pembahasan kali ini kami akan menyebutkan sebagian amalan yang diharapkan dapat mendorong seorang hamba bertaubat kepada Allâh sebelum tidurnya. Di antaranya:

1. Melakukan Muhâsabah (Introspeksi Diri).

Muhâsabah ialah usaha seseorang untuk mengevaluasi segala perbuatannya, baik sebelum maupun sesudah melakukannya. Sebelum tidur hendaklah seorang hamba mengintrospeksi diri atas segala perkataan maupun perbuatannya sepanjang hari, baik yang berkaitan dengan hak-hak Allâh maupun hak-hak sesama manusia. Jika dia telah melakukan amal shalih, maka hendaknya dia bersyukur dengan memuji Allâh dan memohon kepada-Nya tambahan nikmat. Dan memohon kepada-Nya pula agar senantiasa diberi taufiq dan kesanggupan untuk dapat melaksanakan amal ketaatan. Namun jika sebaliknya, maka hendaknya dia segera bertaubat dan memohon ampunan kepada-Nya serta bertekad untuk segera melakukan kebaikan.

Tentang muhâsabah, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allâh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allâh.” [al-Hasyr/59:18]

Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu berkata, “Hisablah diri kalian sebelum dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang (oleh Allâh) ….”.

2. Mengingat Alam Kubur Yang Sangat Gelap Dan Dia Akan Menyendiri di sana

Ketika akan tidur, hendaknya seseorang mengingat suasana alam kubur yang sangat gelap, dia akan berada di sana seorang diri tanpa teman, hanya amalannya selama di dunia yang mendampinginya. Dengan mengingat kondisi ini, hati akan merasa takut kepada Allâh dan siksa-Nya yang sangat pedih, sehingga dia terdorong untuk segera bertaubat kepada Allâh dan banyak mohon ampun kepada-Nya.

3. Banyak Mengingat Kematian

Setiap muslim dan muslimah, yang sehat ataupun yang sedang sakit, tua maupun muda, hendaknya selalu mengingat kematian yang datang secara tiba-tiba. Ingatan ini bisa menghalangi dan menghentikan seseorang dari perbuatan maksiat serta memotivasinya untuk beramal shalih.

Mengingat kematian ketika dalam kesempitan akan bisa melapangkan hati seorang hamba. Kalau dia ingat kematian ketika hatinya sedang senang, maka dia itu menyebabkan dia tidak lupa diri. Dengan begitu ia selalu dalam keadaan siap untuk pergi meninggalkan dunia dan menghadap Allâh Azza wa Jalla .

Mengingat mati bisa melembutkan hati dan menghancurkan sikap tamak terhadap dunia. Karenanya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan anjuran untuk banyak mengingatnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” [HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258][3]

Orang cerdas yang sesungguhnya ialah orang yang banyka mengingat mengingat mati dan mempersiapkan bekal untuk mati. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, ia menuturkan, “Aku sedang duduk bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’ ‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” [HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ad-Daqqaq berkata, ‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara : bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan antusias dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati, ia akan dihukum dengan tiga perkara : menunda taubat, tidak ridha dan malas dalam beribadah. Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu; Yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak merasakan sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya ! Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan memupus angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan tibanya hari kematianmu dan perpindahan hidupmu dari tempatmu yang sekarang?” [Lihat at-Tadzkîrah, hlm. 9].

4. Menyadari Hakikat Kehidupan Dunia Yang Fana Dan Akhirat Yang Kekal

Keberadaan makhluk di dunia ini hanyalah sementara, dan semua yang ada di alam semesta ini akan hancur kecuali Allâh semata yang kekal dan abadi. Allâh berfirman :

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

“Seluruh yang ada di atas bumi ini fana (tidak kekal).” [Ar-Rahman/55: 26]

Sedangkan kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang hakiki, kekal dan abadi, sebagaimana firman-Nya:

وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal”. [Al’A’la/87: 17].

Dan dia mengetahui pula bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakannya di dalam kehidupan ini tiada lain hanya untuk mengujinya, siapa di antara para hamba-Nya yang paling baik amal perbuatannya, sebagaimana firman-Nya di dalam surat Al-Mulk, ayat 2.

Dengan demikian, maka diapun segera terdorong untuk bertaubat kepada Allâh, memohon ampunan kepada-Nya, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat yang hakiki nan abadi.

Demikian tulisan singkat tentang bertaubat sebelum tidur. Mudah-mudahan bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, dan menjadi amal shalih bagi penulisnya. Amin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

_______

Footnote

[1]. Syaikh al-Albâni rahimahullah meng-hasan-kannya dalam Takhrîj Misykâtul Mashâbîh, no.2341

[2]. Syaikh al-Albâni menilai hadits ini hasan dalam Silsilatul Ahâdîts Ash-Shahîhah 1/249, no.127.

[3]. Syaikh al-Albâni menilai hadits ini, “Hasan shahih.” (Takhrîj Misykâtul Mashâbih, no.1607)

🌎Sumber: https://almanhaj.or.id/3618-bertaubat-sebelum-tidur.html

————————–

#GRUP MAJLIS HADITS

WA/LINE: 082225243444

FB: Muhammad Wasitho

FP: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

IG: muhammad_wasitho

(*) Blog Dakwah Sunnah (Pondok Pesantren Islam Al Ittiba’ Klaten Jawa Tengah) KLIK:

Http://abufawaz.wordpress.com

MASJID JAMI’ AL-ITTIBA’ PONDOK PESANTREN ISLAM AL ITTIBA’ JUWIRING, KLATEN, JAWA TENGAH

MASJID JAMI’ AL-ITTIBA’ (2 Lantai)

Pondok Pesantren Islam Al-Ittiba’

(Kampus 2 KHUSUS PUTRI)

Di desa Kwarasan, kecamatan Juwiring, kabupaten Klaten, Jawa Tengah

#Ukuran: 21 m X 21 m X 2 lantai

#Semoga pembangunan masjid ini cepat selesai dengan baik, sempurna dan diberkahi Allah. Amiin

​INFORMASI PENERIMAAN SANTRIWATI BARU SMP TAHFIZH AL-ITTIBA’ KLATEN JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2017/2018

🏤 _*SMP TAHFIZH AL-ITTIBA’*_
🕌 *PONDOK PESANTREN ISLAM AL-ITTIBA’*

_*Klaten – Jawa Tengah*_

Pimpinan: 

*Ustadz MUHAMMAD WASITHO ABU FAWAZ * 

(Pembina Grup WA/BB : MAJLIS HADITS)

🔶 Menerima PENDAFTARAN SANTRIWATI BARU tahun pembelajaran 2017 / 2018 berbasis  *~messaging apps~* ( Whatsapp, BBM & Telegram )

dengan ketentuan sebagai berikut :

🔸Persyaratan Pendaftaran

1). Usia minimal 12 tahun (Lulus SD/MI/sederajat)

2). Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 300.000,- melalui transfer ke 🏧 Bank Muamalat:

📌 No. Rek. : 5290003779

a/n : Muhammad Wasitho

3). Mengirimkan bukti transfer dan data sebagai berikut :

 a). Nama calon santri

 b).  Tempat / tanggal lahir  

 c). No Kartu Keluarga (KK)

 d). Nama Ayah

 e). Nomer KTP ayah

 f). Alamat lengkap

 g). No telp yang bisa dihubungi setiap saat,

melalui

~*messaging apps*~

*WhatsApp* :

 🔻0857 2676 0880

 🔻0819 0415 0991

*Telegram*

 🔻0857 2676 0880

BBM

 🔻

4). Pendaftar wajib mengikuti tes masuk dan wawancara.

🔸Waktu Pendaftaran :

1). Pendaftaran : 1 Februari 2017 – 20 Mei 2017

2). Tes Masuk : 11 Februari 2017 dan 20 Mei 2017

3) Pengumuman Kelulusan : 27 Maret 2017 dan 22 Mei 2017

4) Daftar Ulang : 

Periode 1 : 3-8 April 2017 (pembayaran 30 % Biaya Administrasi)

Periode 2 : 22-27 Mei 2017 (Pembayaran 50 % Biaya Administrasi)

 🔸Materi Tes Masuk :

– Baca tulis Al-Qur’an

– Kecepatan hafalan

– Matematika, IPA, bahasa Inggris

– Wawancara

🔸Pendaftaran DAFTAR ULANG

Setelah dinyatakan lulus & diterima sebagai santriwati Pondok Pesantren Islam Al-Ittiba’ :

1). Membayar Uang Pangkal *(min 20%)*, Uang Buku *(min 50%)* dan SPP bulan Juli 2017.

2). Menandatangani surat perjanjian antara santri & wali santri dengan Pondok Pesantren Islam Al-Ittiba’.

3). Menyerahkan formulir daftar ulang (diisi lengkap)

4). Pas Foto 3×4 dan 4×6 berwarna @ 4 lembar

5). Menyerahkan fotocopy Kartu Keluarga (KK) = 2 lembar

6). Menyerahkan fotocopy Kartu Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) = 2 lembar.

7). Menyerahkan fotocopy akta kelahiran = 2 lembar.

8). Menyerahkan fotocopy rapor

9). Menyerahkan fotokopi Ijazah.

📌 BIAYA ADMINISTRASI

➖ Uang Pembangunan Gedung : GRATIS

➖ Uang Pangkal : Rp 6.750.000,-

➖ SPP bulan Juli : Rp 900.000

➖ Uang Buku : Rp 1.250.000 (1 tahun)

➖ Baju Seragam : Rp 700.000 (4 stel)

🆓 *ANAK YATIM GRATIS*

🆓 *BEASISWA bagi SANTRIWATI TIDAK MAMPU yang BERPRESTASI

🎯 *Santriwati Hafal 30 Juz Al-Qur’an, ber Aqidah dan Manhaj yang lurus, beribadah sesuai tuntunan Nabi, dan ber-Akhlaq Karimah* (in syaa Allah)

 💎 *HADIAH UMROH BAGI  HAFIZHAH TERBAIK*

📮 ALAMAT PONDOK PESANTREN

*Kampus 1* : Sebelah Barat POM Bensin

Tlogorandu, Juwiring, Klaten

*Kampus 2* (asrama putri)

Kwarasan, Juwiring, Klaten

*Ruang KELAS ber-AC

📚 Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi telpon, SMS, WA, Telegram : 

☎ Hotline 24 jam : *0857 2676 0880*

📧 e-mail : _ponpesalittiba@gmail.com_

HOMEPAGE: 

Http://abufawaz.wordpress.com

INILAH 6 KEUTAMAAN BERDO’A KEPADA ALLAH

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz
Bismillah. Secara bahasa, DO’A berarti meminta atau memohon dengan sepenuh hati.

Sedangkan menurut istilah syar’i, DO’A berarti permohonan seorang hamba kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati. Dan diartikan pula dengan pensucian, pemujaan dan semisalnya. 

(lihat kitab syuruthu ad-du’a wa mawani’u al-ijabah, karya Syaikh Sa’id bin Ali Al-Qohthoni, hlm. 5)

Doa memiliki keutamaan dan faedah yang tak terhitung, kedudukannya sebagai satu bentuk ibadah sudah cukup menjadi bukti keutamaannya.

Berikut ini kami akan sebutkan beberapa keutamaan berdoa kepada Allah. Diantaranya ialah sebagai berikut:

1. Doa adalah ibadah itu sendiri.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اَلدُّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah.” 

(HR. Abu Daud I/466 no.1479, Tirmizi V/374 no.3247, Ibnu Majah II/1258 no.3828, dan Ahmad IV/267 no.18378, dan An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhu. Dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)

Meninggalkan doa adalah bentuk menyombongkan diri dari menyembah Allah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (60)

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”. 

(QS. Al-Mu’min/Ghafir: 60)

2. Doa itu menunjukan sikap tawakal kepada Allah Ta’ala.

Hal itu dikarenakan orang yang berdo’a dalam kondisi memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan urusan hanya kepada-Nya bukan kepada yang selain-Nya. Sebagaimana doa juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan bentuk pemenuhan akan perintah-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. 

(QS. Al-Mu’min/Ghafir: 60)

3. Doa juga merupakan senjata yang kuat yang digunakan seorang muslim dalam mencari kebaikan dan menolak bahaya dan keburukan.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَمَا سُئِلَ اللَّهُ شَيْئًا يَعْنِى أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُسْأَلَ الْعَافِيَةَ ».

“Barang siapa di antara kalian telah dibukakan baginya pintu doa, pasti dibukakan pula baginya pintu rahmat, dan tidaklah Allah diminta sesuatu yang lebih Dia senangi dari pada diminta kesehatan (atau keselamatan).”

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ »

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya doa itu bermanfaat baik terhadap apa yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa.” 

(HR. At-Tirmidzi V/552 no.3548, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma. Dihasankan oleh syaikh Al-Albani)

4. Doa adalah senjata yang digunakan para Nabi dalam menghadapi situasi dan keadaan yang sulit.

» Begitu pun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Badar, ketika beliau melihat jumlah kaum musyrikin sebanyak seribu orang sedangkan pasukan Islam berjumlah tiga ratus sembilan belas orang, beliau segera menghadap ke Kiblat seraya mengangkat kedua tangannya berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِى مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِى الأَرْضِ ». فَمَازَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ. وَقَالَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ كَذَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ

“Ya Allah wujudkanlah untuk kami apa yang engkau janjikan, ya Allah berikanlah kepada kami apa yang engkau janjikan, ya Allah jika sekumpulan kaum muslimin ini binasa, maka tidak ada yang akan menyembah engkau di muka bumi ini.” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terus melantunkan doa seraya membentangkan kedua tangan beliau menghadap ke kiblat hingga selempangnya jatuh, maka datanglah Abu Bakar mengambil selempang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan meletakkannya di atas pundaknya dan menjaganya dari belakang dan berkata: “Wahai Nabi Allah, doa engkau kepada Tuhanmu sudah cukup, karena Dia pasti akan mewujudkan apa yang Dia janjikan untukmu.” 

(HR. Muslim III/1383 no.1763, dari Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu)

» Demikian pula Nabi Ayub ‘alaihissalam, ia menggunakan senjata doa ketika mengalami berbagai macam cobaan, terisolir dari manusia, tidak ada lagi yang menyayanginya selain istrinya sendiri, dalam kondisi seperti itu ia tetap bersabar dan mengharap ridho Allah, dan ketika cobaan itu telah berlarut lama, ia berdoa:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)

“Dan (ingatlah kisah Nabi) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang”. Maka Kami pun memperkenankan seruan (doa)nya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”. 

(QS: Al-Anbiya’ : 83-84)

5. Doa dapat menghilangkan kegelisahan dan kesedihan, menjadikan hati lapang, dan mempermudah urusan.

Dalam berdoa, seorang hamba bermunajat kepada Tuhannya, mengakui kelemahan dan ketidak berdayaannya, mengungkapkan rasa butuhnya kepada Pencipta dan Pemiliknya, doa juga sarana untuk menghindari murka Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَیْهِ

“Barang siapa tidak mau meminta kepada Allah, niscaya Dia akan marah kepadanya.” 

(HR. Ahmad II/442 no.9699, dan At-Tirmidzi V/456 no.3373, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Dan dihasankan syaikh Al-Albani)

Alangkah indahnya ungkapan seorang penyair:

Janganlah engkau meminta manusia satu kebutuhan,

Mintalah kepada yang pintu-Nya tak pernah tertutup.

Allah marah jika engkau tidak meminta-Nya,

Sedang manusia justru marah ketika diminta.

6. Doa juga menjadi senjata bagi orang-orang yang terzholimi (teraniaya), ia adalah tempat berlindung bagi orang-orang lemah yang putus harapan, tertutup segala pintu di hadapannya.

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan:

“Apakah engkau meremehkan doa dan memandangnya sepele,

Padahal engkau tidak tahu apa yang diperbuat doa.

Ia adalah anak panah-anak panah malam yang tak kan meleset,

Akan tetapi ia memiliki masa dan masa itu ada penghujungnya”.

Demikian pelajaran yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan semoga kita semakin semangat untuk memperbanyak doa, memohon segala kebaikan di dunia dan akhirat hanya kepada Allah yang Maha Kaya lagi Maha Mampu atas segala sesuatu. Amiin. 

(Mekkah Mukarramah, 2 Februari 2017)

#GRUP MAJLIS HADITS

WA/LINE: 082225243444

FB: Muhammad Wasitho

FP: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

IG: muhammad_wasitho

#Blog Dakwah Sunnah (Pondok Pesantren Islam Al-Ittiba’ Klaten, Jawa Tengah) KLIK:

Http://abufawaz.wordpress.com