INILAH 6 KEUTAMAAN BERDO’A KEPADA ALLAH

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz
Bismillah. Secara bahasa, DO’A berarti meminta atau memohon dengan sepenuh hati.

Sedangkan menurut istilah syar’i, DO’A berarti permohonan seorang hamba kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati. Dan diartikan pula dengan pensucian, pemujaan dan semisalnya. 

(lihat kitab syuruthu ad-du’a wa mawani’u al-ijabah, karya Syaikh Sa’id bin Ali Al-Qohthoni, hlm. 5)

Doa memiliki keutamaan dan faedah yang tak terhitung, kedudukannya sebagai satu bentuk ibadah sudah cukup menjadi bukti keutamaannya.

Berikut ini kami akan sebutkan beberapa keutamaan berdoa kepada Allah. Diantaranya ialah sebagai berikut:

1. Doa adalah ibadah itu sendiri.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اَلدُّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah.” 

(HR. Abu Daud I/466 no.1479, Tirmizi V/374 no.3247, Ibnu Majah II/1258 no.3828, dan Ahmad IV/267 no.18378, dan An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhu. Dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)

Meninggalkan doa adalah bentuk menyombongkan diri dari menyembah Allah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (60)

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”. 

(QS. Al-Mu’min/Ghafir: 60)

2. Doa itu menunjukan sikap tawakal kepada Allah Ta’ala.

Hal itu dikarenakan orang yang berdo’a dalam kondisi memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan urusan hanya kepada-Nya bukan kepada yang selain-Nya. Sebagaimana doa juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan bentuk pemenuhan akan perintah-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. 

(QS. Al-Mu’min/Ghafir: 60)

3. Doa juga merupakan senjata yang kuat yang digunakan seorang muslim dalam mencari kebaikan dan menolak bahaya dan keburukan.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَمَا سُئِلَ اللَّهُ شَيْئًا يَعْنِى أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُسْأَلَ الْعَافِيَةَ ».

“Barang siapa di antara kalian telah dibukakan baginya pintu doa, pasti dibukakan pula baginya pintu rahmat, dan tidaklah Allah diminta sesuatu yang lebih Dia senangi dari pada diminta kesehatan (atau keselamatan).”

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ »

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya doa itu bermanfaat baik terhadap apa yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa.” 

(HR. At-Tirmidzi V/552 no.3548, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma. Dihasankan oleh syaikh Al-Albani)

4. Doa adalah senjata yang digunakan para Nabi dalam menghadapi situasi dan keadaan yang sulit.

» Begitu pun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Badar, ketika beliau melihat jumlah kaum musyrikin sebanyak seribu orang sedangkan pasukan Islam berjumlah tiga ratus sembilan belas orang, beliau segera menghadap ke Kiblat seraya mengangkat kedua tangannya berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِى مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِى الأَرْضِ ». فَمَازَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ. وَقَالَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ كَذَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ

“Ya Allah wujudkanlah untuk kami apa yang engkau janjikan, ya Allah berikanlah kepada kami apa yang engkau janjikan, ya Allah jika sekumpulan kaum muslimin ini binasa, maka tidak ada yang akan menyembah engkau di muka bumi ini.” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terus melantunkan doa seraya membentangkan kedua tangan beliau menghadap ke kiblat hingga selempangnya jatuh, maka datanglah Abu Bakar mengambil selempang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan meletakkannya di atas pundaknya dan menjaganya dari belakang dan berkata: “Wahai Nabi Allah, doa engkau kepada Tuhanmu sudah cukup, karena Dia pasti akan mewujudkan apa yang Dia janjikan untukmu.” 

(HR. Muslim III/1383 no.1763, dari Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu)

» Demikian pula Nabi Ayub ‘alaihissalam, ia menggunakan senjata doa ketika mengalami berbagai macam cobaan, terisolir dari manusia, tidak ada lagi yang menyayanginya selain istrinya sendiri, dalam kondisi seperti itu ia tetap bersabar dan mengharap ridho Allah, dan ketika cobaan itu telah berlarut lama, ia berdoa:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)

“Dan (ingatlah kisah Nabi) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang”. Maka Kami pun memperkenankan seruan (doa)nya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”. 

(QS: Al-Anbiya’ : 83-84)

5. Doa dapat menghilangkan kegelisahan dan kesedihan, menjadikan hati lapang, dan mempermudah urusan.

Dalam berdoa, seorang hamba bermunajat kepada Tuhannya, mengakui kelemahan dan ketidak berdayaannya, mengungkapkan rasa butuhnya kepada Pencipta dan Pemiliknya, doa juga sarana untuk menghindari murka Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَیْهِ

“Barang siapa tidak mau meminta kepada Allah, niscaya Dia akan marah kepadanya.” 

(HR. Ahmad II/442 no.9699, dan At-Tirmidzi V/456 no.3373, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Dan dihasankan syaikh Al-Albani)

Alangkah indahnya ungkapan seorang penyair:

Janganlah engkau meminta manusia satu kebutuhan,

Mintalah kepada yang pintu-Nya tak pernah tertutup.

Allah marah jika engkau tidak meminta-Nya,

Sedang manusia justru marah ketika diminta.

6. Doa juga menjadi senjata bagi orang-orang yang terzholimi (teraniaya), ia adalah tempat berlindung bagi orang-orang lemah yang putus harapan, tertutup segala pintu di hadapannya.

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan:

“Apakah engkau meremehkan doa dan memandangnya sepele,

Padahal engkau tidak tahu apa yang diperbuat doa.

Ia adalah anak panah-anak panah malam yang tak kan meleset,

Akan tetapi ia memiliki masa dan masa itu ada penghujungnya”.

Demikian pelajaran yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan semoga kita semakin semangat untuk memperbanyak doa, memohon segala kebaikan di dunia dan akhirat hanya kepada Allah yang Maha Kaya lagi Maha Mampu atas segala sesuatu. Amiin. 

(Mekkah Mukarramah, 2 Februari 2017)

#GRUP MAJLIS HADITS

WA/LINE: 082225243444

FB: Muhammad Wasitho

FP: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

IG: muhammad_wasitho

#Blog Dakwah Sunnah (Pondok Pesantren Islam Al-Ittiba’ Klaten, Jawa Tengah) KLIK:

Http://abufawaz.wordpress.com

Iklan

MINTALAH HAJATMU HANYA KEPADA ALLAH, PASTI DIA AKAN KABULKAN UNTUKMU

(*) MINTALAH HAJATMU HANYA KEPADA ALLAH, PASTI DIA AKAN KABULKAN UNTUKMU (*)

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Muslim bin Qutaibah rahimahullah berkata: “Janganlah engkau meminta hajatmu kepada salah satu dari tiga golongan (yaitu):

» Janganlah engkau minta hajatmu kepda seorang pendusta, karena sesungguhnya ia akan (berpura-pura) mendekatkan hajatmu, padahal ia masih jauh (maksudnya, ia menampakkan seolah-olah akan memberi hajatmu dalam waktu dekat, padahal yang sebenarnya masih lama, atau bahkan tidak akan memberi hajatmu, pent).

» Janganlah engkau minta hajatmu kepada orang dungu (tolol), karena sesungguhnya ia ingin memberimu manfaat, tapi justru ia akan memberimu mudhorot (sesuatu yang berbahaya).

» Janganlah engkau minta hajatmu kepada seseorang yang kebutuhan makannya bergantung kepada kaumnya, karena sesungguhnya ia akan menjadikan hajatmu sebagai sarana untuk memenuhi hajatnya. (Lihat Al-Amaali karya Abu Ali Al-Qoli, II/190).

» Atho’ rahimahullah berkata: “Thowus rahimahullah (seorang ulama tabi’in) datang menemuiku, lalu ia berkata kepadaku: “Wahai ‘Atho, janganlah engkau mengajukan hajat-hajatmu kepada orang yang menutup dan menghalangi pintu (rumah)nya dari hadapanmu. Akan tetapi, hendaklah engkau meminta segala hajatmu hanya kepada Allah, yang mana pintu (pengabulan permohonan)-Nya senantiasa terbuka untukmu sampai hari Kiamat. Dia memintamu agar engkau selalu berdoa (meminta) kepada-Nya, dan Dia juga berjanji akan selalu mengabulkan permintaanmu.” (Lihat Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani, IV/11).

» Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ادْعُونِي أسْتَجِبْ لَكُمْ 

Artinya: “Berdo’alah kamu sekalian hanya kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan do’a kalian.” (QS. Al-Mu’min/ Ghoofir: 60).

» Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah berwasiat kpd Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma dengan sabdanya:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

Artinya: “Apabila engkau meminta (hajat), maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah.”. (Diriwayatkan oleh imam Ahmad dan At-Tirmidzi).

Demikian Faedah Ilmiah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Allah memberikan taufiq dan pertolongan-Nya kepada kita agar senantiasa istiqomah dalam beribadah dan berdo’a hanya kepada-Nya hingga akhir hayat. (Jakarta,  23 Januari 2017).

#GRUP MAJLIS HADITS

WA/LINE: 082225243444

FB: Muhammad Wasitho

FP: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

IG: muhammad_wasitho

Twitter@mwasitho

(*) Blog Dakwah Sunnah (Pondok Pesantren Islam Al-Ittiba’ Klaten Jawa Tengah) KLIK:

https://abufawaz.wordpress.com

INFO PENERIMAAN SANTRIWATI BARU TAHUN PELAJARAN. 2017/2018

#SMP TAHFIZH AL-ITTIBA’ (khusus PUTRI)

KLATEN – JAWA TENGAH

*Berlandaskan AL-QURAN DAN AS-SUNNAH dengan MANHAJ (PEMAHAMAN) AS-SALAFUS SHOLIH AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

»Mohon Bantu Di-SHARE

Syukron wajazakumullahu khoiron wabarokallahu fiikum

https://abufawaz.wordpress.com

#GRUP MAJLIS HADITS

View on Path

Tonton “Muhammad Wasitho – MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT YANG BENAR DAN KONSEKUENSINYA” di YouTube

(*) MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT YANG BENAR DAN KONSEKUENSINYA (*)

* Durasi: 66 menit

Bismillah. Di dalam kajian islam ilmiah ini dijelaskan 3 pembahasan, yaitu:

1. Makna dua kalimat syahadat yang BENAR.

2. Rukun dua kalimat syahadat.

3. Konsekuensi dan Tuntutan dua kalimat syahadat.

Berikut ini adalah Rekaman Video Kajian ilmiah rutin LIVE via Skype dari Pesantren Islam Al-Ittiba’ Klaten, Jawa Tengah untuk jamaah akhwat di Houston Texas US, Dubai dan selainnya pada setiap hari Rabu malam Kamis, jam 20.30-22.00 WIB (jam 08.30-10.00 pagi waktu Amerika, dan jam 16.30 – 18.00 Sore waktu Dubai)

Narasumber: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Materi: MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT DAN KONSEKUENSINYA

Semoga Bermanfaat 😄

#GRUP MAJLIS HADITS
WA/LINE: 082225243444

»» Pesantren Islam Al-Ittiba’ Klaten, Jawa Tengah

#Selamat Mendengarkan. KLIK:

https://youtu.be/vxMiUYT8Aoo

Tonton “CARA MELENYAPKAN JIMAT DAN BENDA KEMUSYRIKAN – Muhammad Wasitho Abu Fawaz” di YouTube

(*) CARA MELENYAPKAN JIMAT DAN BENDA KEMUSYRIKAN (*)
*Durasi : 5 menit 21 detik
» Tanya Jawab dalam kajian ilmiah rutin LIVE via Skype dari Pesantren Islam Al-Ittiba’ Klaten Jawa Tengah untuk jamaah akhwat di Houston Texas US, Dubai dan selainnya pada setiap hari Rabu malam Kamis, jam 20.30-22.00 WIB (jam 08.30-10.00 waktu Amerika, Sore waktu Dubai)
» Narasumber: Muhammad Wasitho Abu Fawaz
» Materi: AQIDAH dan MANHAJ AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH (Tematik)
(Semoga Bermanfaat)

#GRUP MAJLIS HADITS

WA/LINE: 082225243444

KLIK:

Tonton “CARA TAUBAT DARI SYIRIK – Muhammad Wasitho Abu Fawaz” di YouTube

TANDA DAN BUKTI MENCINTAI RASULULLAH Shallallahu Alaihi Wasallam DENGAN BENAR

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Bismillah. Cinta Rasul tidaklah berupa peringatan-peringatan tertentu pada saat-saat tertentu. Cinta itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin dan senantiasa terpatri di dalam hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal sholih dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.
Adapun diantara tanda-tanda dan bukti cinta sejati kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sebagai berikut:
1. Berkeinginan Keras untuk Dapat Melihat dan Bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Merasa Berat Bila Kehilangan Kesempatan itu.
Tanda dan bukti cinta Rasul ini sudah diwujudkan oleh para sahabat Nabi dengan sempurna.
2. Mentaati beliau dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.
Pecinta sejati Rasulullah manakala mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan sesuatu akan segera menunaikannya. Ia tak akan meninggalkannya meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya. Ia juga tidak akan mendahulukan ketaatannya kepada isteri, anak, orang tua atau adat kaumnya. Sebab kecintaannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lebih dari segala-galanya. Dan memang, pecinta sejati akan patuh kepada yang dicintainya.
Adapun orang yang dengan mudahnya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam serta menerjang berbagai kemungkaran, maka pada dasarnya dia jauh lebih mencintai dirinya sendiri. Sehingga kita saksikan dengan mudahnya ia meninggalkan shalat lima waktu, padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam sangat mengagungkan perkara sholat, hingga ia diwasiatkan pada detik-detik akhir sakaratul mautnya. Dan orang jenis ini, akan dengan ringan pula melakukan berbagai larangan agama lainnya. Na’udzubillah min dzalik.
3. Menolong dan mengagungkan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Sunnah beliau.
Dan ini telah dilakukan oleh para sahabat Nabi sesudah beliau wafat. Yakni dengan mensosialisasikan, menyebarkan dan mengagungkan sunnah-sunnahnya di tengah-tengah kehidupan umat manusia, betapapun tantangan dan resiko yang dihadapinya.
4. Tidak menerima sesuatupun perintah dan larangan kecuali melalui Nabi shallallahu alaihi wasallam, rela dengan apa yang beliau tetapkan, serta tidak merasa sempit dada dengan sesuatu pun dari sunnahnya.
Hal ini sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمَا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa: 65).
Adapun selain beliau, hingga para ulama dan orang-orang sholih, maka mereka adalah pengikut Nabi shallallahu alaihi wasallam. Tidak seorang pun dari mereka boleh diterima perintah atau larangannya kecuali berdasarkan apa yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.
5. Mengikuti Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam segala halnya.
Dalam hal shalat, wudhu, makan, tidur , bergaul, dsb. Juga berakhlak dengan akhlak beliau dalam kasih sayangnya, rendah hatinya, kedermawanannya, kesabaran, kejujuran, dan zuhudnya, dsb. 
Allah Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab: 21)
6. Memperbanyak mengingat dan sholawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Dalam hal sholawat, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
“Barangsiapa bersholawat atasku sekali, niscaya Allah bersholawat atasnya sepuluh kali.” (HR. Muslim I/306 no.408).
Adapun bentuk sholawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah sebagaimana yang beliau ajarkan. Salah seorang sahabat bertanya tentang bentuk sholawat tersebut, beliau menjawab: “Ucapkanlah:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَّمَدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
( Ya Allah, bersholawatlah atas Muhammad dan keluarga Muhammad)” (HR. Al-Bukhari No. 6118, Muslim No. 858).
7. Mencintai orang-orang yang dicintai Nabi  shallallahu alaihi wasallam.
Seperti Abu Bakar, Umar bin Khoththob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Aisyah, Fathimah radhiallahu anhum dan segenap orang-orang yang disebutkan hadits bahwa beliau shallallahu alaihi wasalam  mencintai mereka. Kita harus mencintai orang yang dicintai beliau dan membenci orang yang dibenci beliau. Lebih dari itu, hendaknya kita mencintai segala sesuatu yang dicintai Nabi, termasuk ucapan, perbuatan dan sesuatu lainnya.
Demikian pelajaran yang dapat kami sampaikan pada hari ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Amiin. (Jakarta, 11 Desember 2016)
#GRUP MAJLIS HADITS

WA/LINE: 082225243444
(*) Link Kajian Ilmiah tentang “HAKEKAT DAN KEUTAMAAN MENCINTAI RASULULLAH” KLIK: