Monthly Archives: Juni 2015

KEUTAMAAN MENELADANI IBADAH NABI shallallahu alaihi wassalam

بِسْــــــمِ اللَّه

HADIRILAH KAJIAN ILMIYAH ISLAM
Gratis…!! untuk umum
(ikhwan & akhawat)

In syaa ALLAH akan diadakan pada

📅 : Sabtu, 20 Juni 2015 / 3 Romadhon 1436 H.
⌚:  12:30 – 15:00
🏠: Masjid An Nur
Jl. Jati utama Raya blok M-N (Setelah Kelurahan), Jatibening II-Bekasi 17412

Narasumber: Ustadz Abu Fawwaz Muhammad Wasitho

📗: “KEUTAMAAN MENELADANI IBADAH NABI Shallallahu ‘alaihi wasallam”

🍀 Mohon perhitungkan waktu kehadiran lebih awal, karena jalan menuju lokasi masjid macet.
🍀Mohon memperhatikan Adab2 Parkir agar tidak mengganggu kenyamanan warga sekitar masjid.
🍀Mohon yg membawa  anak2 spy menjaganya agar tdk mengganggu konsentrasi jamaah lainnya.
🍀Mohon yg ingin berdagang,  mendaftarkan diri terlebih dahulu utk pengaturan tempat.

☎Contact Person :
0888 9929 820
0817 734 706
0812 8030 5823

(MOHON BANTU SYIARKAN)

Targhiib :
“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga”. (HR. Ahmad V/196, Abu Dawud no. 3641, Tirmidzi no. 2682)

“Barang siapa mengajak kepada suatu kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana pelakunya”. (HR.Muslim no. 3509)

زَادَنَا اللَّهُ عِلْمًا وَحِرْصَا

Semoga ALLAH menambah kita Ilmu & Semangat

شُكْرًا وجَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا وبَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْ

Iklan

KEWAJIBAN MENGIKUTI SUNNAH NABI Shallallahu Alaihi Wasallam SAMPAI MATI

image

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Bismillah. Mengikuti dan berpegang teguh pada Sunnah Nabi shallallahu alaihi wassalam adalah suatu kewajiban atas setiap individu muslim dan muslimah yang senantiasa mendambakan keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Yang dimaksudkan dengan Sunnah Nabi ialah petunjuk dan tuntunan apa saja yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wassalam kepada kita dengan jalan periwayatan yang shohih (valid dan otentik), baik berkaitan dengan perkara aqidah, ibadah, mu’amalah, akhlak & adab, maupun selainnya dari perkara-perkara agama Islam.

Diantara dalil-dalil syar’i yang menunjukkan kewajiban mengikuti dan berpegang teguh pada Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam setiap urusan agama ialah sebagai berikut:

»1. Firman Allah ta’ala:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Rasulullah): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (ikutilah tuntunan dan petunjukku), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali ‘Imran: 31).

● Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemberi hukum) bagi semua orang yang mengaku mencintai Allah ‘Azza wa Jalla, padahal dia tidak mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka orang tersebut (dianggap) berdusta dalam pengakuannya (mencintai Allah Azza wa Jalla), sampai dia mau mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan Beliau shallallahu alaihi wasallam”. Oleh karena itulah sebagian dari para ulama ada yang menamakan ayat ini sebagai “Ayatul Imtihan” (Ayat untuk menguji benar/tidaknya pengakuan cinta seseorang kepada Allah Azza wa Jalla).

»2. Dan firman-Nya pula:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim (pemutus perkara dan penetap hukum) dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa: 65).

»3. Dan diriwayatkan dari Abdullah bin Mas‘ud Radhiyallahu anhu, ia berkata:

خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًا، وَخَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هذِهِ سُبُلٌ ]مُتَفَرِّقَةٌ[ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَى: وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membuat satu garis (lurus) dengan tangannya, kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kiri garis tersebut, kemudian beliau bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat), tidak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syetan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya beliau membacakan firman Allah Azza wa Jalla: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-berai-kan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.’” (QS. Al-An’aam: 153).

»4. Dan diriwayatkan dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

: ” لَا يُؤْمِن أَحَدكُمْ حَتَّى يَكُون هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْت بِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hashim dalam kitab As-Sunnah, Al-Hakam bin Sufyan dalam kitab Al-Arba’in, dan imam An-Nawawi dalam kitab Hadits Arab’in, dan beliau menilai derajatnya Hasan Shohih).

● Al-Hafizh Ibnu Rojab rahimahullah berkata: “Makna hadits ini ialah bahwa seseorang tidaklah beriman dengan iman yang sempurna sehingga hawa nafsu dan kecintaannya mengikuti apa saja yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, baik berupa perintah, larangan maupun selainnya. Maka, ia wajib mencintai apa yang beliau perintahkan dengannya, dan membenci apa yang beliau larang darinya. Dan di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang maknanya seperti hadits ini (seperti surat An-Nisa’ ayat 65, dan surat Al-Ahzaab ayat 36).” (Lihat kitab Jami’ul ‘Uluum Wal Hikam).

★ Adapun atsar (perkataan) para ulama as-salafus sholih dari kalangan para sahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya yang menunjukkan kewajiban mengikuti Sunnah Nabi shallallahu alaihi wassalam ialah sebagai berikut:

»5. ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:

اِتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“Hendaklah kalian mengikuti (Sunnah Nabi) dan janganlah kalian berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi dengan Islam ini, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh ad-Darimi (I/69), al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/96 no. 104), ath-Thabrani dalam Mu’jaamul Kabiir (no. 8770), dan Ibnu Baththah dalam al-Ibaanah (no. 175)).

»6. Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat tahun 157 H) mengatakan:

اِصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ، وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، وَقُلْ بِمَا قَالُواْ، وَكُفَّ عَمَّا كُفُّوْا عَنْهُ، وَاسْلُكْ سَبِيْلَ سَلَفِكَ الصَّالِحِ، فَإِنَّهُ يَسَعُكَ مَا وَسِعَهُمْ.

“Bersabarlah dirimu di atas As-Sunnah, tetaplah tegak di atasnya sebagaimana para Sahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan As-Salafush Sholih, karena ia (Sunnah Nabi) akan mencukupimu sebagaimana ia telah mencukupi mereka.” (Lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah I/174 no. 315).

»7. Imam Al-Auza’i rahimahullah juga mengatakan:

عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ، وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوْهُ لَكَ بِالْقَوْلِ.

“Hendaklah engkau berpegang kepada atsar-atsar (riwayat/perkataan) dari para ulama generasi As-Salafush Sholih meskipun orang-orang menolaknya. Dan jauhkanlah dirimu dari pendapat orang-orang meskipun mereka menghiasi pendapatnya dengan kata-kata yang indah.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Ajurri dalam asy-Syarii’ah (I/445, no. 127) dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluww lil Imaam adz-Dzahabi (hal. 138), Siyar A’laamin Nubalaa’ (VII/120) dan Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (II/1071, no. 2077).

»8. Muhammad bin Sirin rahimahullah (wafat tahun 110 H) berkata:

كَانُوْا يَقُوْلُوْنَ: إِذَا كَانَ الرَّجُلُ عَلَى اْلأَثَرِ فَهُوَ عَلَى الطَّرِيْقِ.

“Mereka (para sahabat dan tabi’in) mengatakan: “Jika ada seseorang berada di atas atsar (Sunnah Nabi), maka sesungguhnya ia berada di atas jalan yang lurus.’” (HR. Ad-Darimi (I/54), Ibnu Baththah dalam al-Ibaanah ‘an Syarii’atil Firqatin Naajiyah (I/356, no. 242). Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah oleh al-Lalika-i (I/98 no. 109).

»9. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat tahun 241 H) berkata:

أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا: التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاْلإِقْتِدَاءُ بِهِمْ وَتَرْكُ الْبِدَعِ وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلاَلَةٌ.

“Prinsip (Aqidah dan manhaj) Ahlus Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang dilaksanakan oleh para Sahabat Radhiyallahu anhum dan mengikuti jejak mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa‘ah oleh al-Lalika-i (I/176, no. 317).

»10. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

اِتَّبِعْ طُرُقَ الْهُدَى وَلاَ يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِيْنَ وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلاَلَةِ وَلاَ تَغْتَرْ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِيْنَ.

“Ikutilah jalan-jalan petunjuk (Sunnah Nabi), tidak akan membahayakanmu sedikitnya orang yang menempuh jalan tersebut. Jauhkan dirimu dari jalan-jalan kesesatan dan janganlah engkau tertipu dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebinasaan.” (Lihat al-I’tishaam oleh imam Asy-Syathibi (I/112).

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan semoga Allah memberikan taufiq dan kemudahan kepada kita agar senantiasa mengikuti dan berpegang teguh dengan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wassalam hingga akhir hayat. Amiin. (Jakarta, 8 Juni 2015)

# Grup BB & WA Majlis Hadits.

(*) Blog Dakwah Sunnah dan Pesantren Tahfizhul Quran Al-Ittiba’ Klaten – Jawa Tengah, KLIK:
https://abufawaz.wordpress.com

JADUAL KAJIAN ILMIYAH USTADZ MUHAMMAD WASITHO ABU FAWAZ DI PALANGKARAYA, KALIMANTAN TENGAH

image

(*) JADUAL KAJIAN ILMIYAH USTADZ MUHAMMAD WASITHO ABU FAWAZ DI MASJID IMAM SYAFI’I DI PALANGKARAYA, KALIMANTAN TENGAH (*)
————–
1) Hari     :  Jumat, 05/06/2015
Waktu      :  jam 18.30 wib – 20.30 wib

Tema     :  “BERLINDUNG DARI 4 KEBURUKAN”
—————
2). Hari  : Sabtu, 06/06/2015
Waktu :   08.30-11.30 wib

Tema : “TERJERAT HUTANG RIBA”
———
3).Hari     : Sabtu, 06/06/2015
Waktu   : 18.30 – 20.30 wib

Tema   : “KEAGUNGAN MENGIKUTI SUNNAH NABI”
————-
4) Hari       : Ahad, 07/06/2015
Waktu   : 08.30-11.30 wib.

Tema    :  “BIMBINGAN PRAKTIS BERPUASA SESUAI SUNNAH NABI”

» Silakan dishare kepada pihak lain. Semoga bermanfaat.

(*) Grup BB & WA Majlis Hadits.

JADIKANLAH AL-QURAN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP KITA

image

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ قَالَ : قَالَ رَجُلٌ لأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ : أَوْصِنِي ، قَالَ : ” اتَّخِذْ كِتَابَ اللَّهِ إِمَامًا ، وَارْضَ بِهِ قَاضِيًا وَحَكَمًا ، فَإِنَّهُ الَّذِي اسْتَخْلَفَ فِيكُمْ رَسُولَكُمْ ، شَفِيعٌ مُطَاعٌ ، وَشَاهِدٌ لا يُتَّهَمُ ، فِيهِ ذِكْرُكُمْ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلَكُمْ ، وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ ، وَخَبَرَكُمْ وَخَبَرُ مَا بَعْدَكُمْ ” .

● Dari Abu al-Aliyah, ia berkata: Ada seseorang berkata kepada Ubay bin Ka’ab radhiyallahuanhu (seorang sahabat Nabi) : “Berilah aku wasiat !” Ubay menjawab: “Jadikan Kitabullah (Al-Quran Al-Karim) sebagai imam (yaitu petunjuk dan pedoman hidup),  dan ridhalah terhadap hukum yang diputuskan Al-Qur’an, sesungguhnya Al-Qur’an-lah yang menjadikan Rasul kalian menguasai kalian. Al-Qur’an memberikan syafaat (bagi yang membaca dan mengamalkannya). Al-Qur’an adalah kitab yang ditaati dan saksi yang terpercaya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan (kemuliaan dan kejayaan) kalian dan orang-orang sebelum kalian. Al-Qur’an adalah pemutus perselisihan di antara kalian. Dan Al-Qur’an adalah kisah tentang kalian dan orang-orang sesudah kalian.” (Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam kitab Hilyatul Auliya’ I/253, dan Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Siyaru A’laamin Nubala’ I/392).

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yg dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq dan kemudahan kpd kita untuk istiqomah dalam membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Quran serta mendakwahkannya dengan ikhlas dan benar, sesuai sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam hingga akhir hayat. Amiin. (Palangkaraya, 6 Juni 2015)

# Grup BB & WA Majlis Hadits.

(*) Blog Dakwah Sunnah dan Pesantren Tahfizh Al-Quran Al-Ittiba’ Klaten Jateng, KLIK:
https://abufawaz.wordpress.com