Monthly Archives: November 2014

3 PINTU UTAMA MASUK NERAKA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

3 PINTU MASUK NERAKAقال الحافظ ابن القيم رحمه الله : “دخل الناس النار من ثلاثة أبواب:

1) باب شبهة أورثت شكاً في دين الله.

2) وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته.

3) وباب غضب أورث العدوان على خلقه”.

انظر: الفوائد – ص105

» Al-Hafizh Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Manusia masuk ke dalam neraka melalui tiga pintu (yaitu):

1. Pintu Syubhat (pemikiran yang rancu lagi menyesatkan) yang dapat menimbulkan keraguan terhadap (kebenaran) agama Allah.

2. Pintu Syahwat (gejolak nafsu) yang akan mengakibatkan seseorang lebih mengedepankan hawa nafsunya daripada ketaatan kepada Allah dan upaya menggapai ridho-Nya.

3. Pintu Amarah (emosi) yang akan menimbulkan permusuhan (dan kezholiman) terhadap orang lain.”

(Lihat kitab Al-Fawa-id, karya imam Ibnul Qoyyim hal.105).

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yg dpt kami sampaikan pd pagi hari ini. Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari segala keburukan yg akan menjerumuskan kita ke dalam api neraka. Amiin. (Klaten, 23 November 2014).

# Grup Majlis Hadits, chat room Faedah Ilmiyah & Mau’izhoh Hasanah. BB: 7FA61515, WA: 082225243444

(*) Blog Dakwah Sunnah, KLIK:
» Http://abufawaz.wordpress.com

» Http://facebook.com/muhammad.wasitho.abu.fawaz

Iklan

HUKUM ISTRI MEMANDIKAN JENAZAH SUAMI DAN SEBALIKNYA

Dijawab oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

IslBG(*) Masalah 435: HUKUM ISTRI MEMANDIKAN JENAZAH SUAMI DAN SEBALIKNYA
Tanya:
Dari anggota Grup WA Majlis Hadits Akhwat (3).
Assalamu’alaikum… Ustad, saya mau tanya : apakah seorang suami/istri bila salah satu dari mereka meninggal lebih dulu boleh memandikan jasad pasangan mereka masing2..? Blm lama ini saya dapat kiriman sms kisah perihal tsb. diatas. Nanti saya kirimkan kisah itu jg ke pak Ustadz. Mohon penjelasannya ..ustadz. Terima kasih ustadz .(Fii).

Jawab:
Bismillah. Menurut pendapat ulama yg shohih bahwa seorang istri BOLEH memadikan jenazah suaminya yang lebih dahulu meninggal dunia. Demikian juga sebaliknya, BOLEH bagi seorang suami memandikan jenazah istrinya yang lebih dahulu meninggal dunia.

Hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut ini:

عن عائشة رضي الله عنها قالت : (رَجَعَ إلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ جِنَازَةٍ بِالْبَقِيعِ وَأَنَا أَجِدُ صُدَاعًا فِي رَأْسِي وَأَقُولُ : وَارَأْسَاهُ , فَقَالَ : بَلْ أَنَا وَارَأْسَاهُ , مَا ضَرَّكِ لَوْ مِتِّ قَبْلِي فَغَسَّلْتُكِ وَكَفَّنْتُكِ , ثُمَّ صَلَّيْتُ عَلَيْكِ وَدَفَنْتُكِ ) رواه أحمد (25380) ، وابن ماجة (1456)، وصححه الشيخ الألباني في صحيح ابن ماجة (1/247) .

1. Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, ia menceritakan, ‘bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah pulang ke (rumah)ku setelah mengantar jenazah ke Baqi’, beliau menemuiku ketika aku sedang sakit kepala, aku mengeluh: “Duh kepalaku.” Beliau bersabda, “Saya juga Aisyah, duh kepalaku.” Kemudian beliau menyatakan,

«مَا ضَرَّكِ لَوْ مِتِّ قَبْلِي، فَقُمْتُ عَلَيْكِ، فَغَسَّلْتُكِ، وَكَفَّنْتُكِ، ثُمَّ صَلَّيْتُ عَلَيْكِ، وَدَفَنْتُكِ»

“Tidak jadi masalah bagimu, jika kamu mati sebelum aku. Aku yang akan mengurusi jenazahmu, aku mandikan kamu, aku kafani, aku shalati, dan aku makamkan kamu.” (HR. Ahmad nomor.25380, Ibnu Majah nomor.1465, dan derajatnya dinyatakan SHOHIH oleh syaikh al-Albani di dalam Shohih Ibnu Majah I/247).

2. Riwayat yang menerangkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah berwasiat agar dimandikan oleh istrinya, Asma’ binti `Umais radhiyallahu ‘anha, sehingga istrinya melaksanakan wasiat ini. (HR. Imam Malik dalam al-Muwaththa’ I/223, Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya nomor.6113, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya III/249).

3. Atsar yang diriwayatkan Ibnul Mundzir bahwa Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu memandikan jenazah Fathimah radhiyallahu `anha, dan hal ini diketahui oleh para sahabat Radhiyallahu `Anhum, namun tiada seorang pun dari mereka yang mengingkarinya; karena itu hal ini merupakan sebuah irma’ (konsensus para sahabat).

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Smg mudah dipahami n menjadi ilmu yg bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-taufiq. (Klaten, 20 November 2014)
# Grup Majlis Hadits, chat room Tanya Jawab. BB: 7FA61515, WA: 082225243444

(*) Blog Dakwah Sunnah, KLIK:
Http://abufawaz.wordpress.com

http://facebook.com/muhammad.wasitho.abu.fawaz

HUKUM MAKAN DAN MINUM KETIKA MENJENGUK ORANG SAKIT

Dijawab oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

adab jenguk orang sakit(*) Masalah 434: BENARKAH MAKAN DAN MINUM DI SISI ORANG SAKIT AKAN MENGURANGI PAHALA ORANG YANG MENJENGUKNYA?

Tanya:
afwan ana mau tanya beberapa hal :
1. apakah dlm syariat islam ada adab tentang sisa rambut yg dipotong, apakah boleh dibuang begitu saja atau bagaimana y ustadz?

2. ketika kita menjenguk orang sakit apakah benar ada hadits yg menyatakan sebaiknya kita tdk memakan jamuan yg disediakan oleh pihak keluarga yg sakit karna bisa mengurangi pahala kita?
sekian dulu pertanyaan dari ana, jazakaalloh khoyr utk kesempatannya

Jawab:
Bismillah.
1. TIDAK ADA ketentuan syar’i dlm menyikapi sisa potongan rambut. Maka dlm hal ini ada kebebasan bagi kita, yaitu boleh membuangnya di tempat sampah, atau dipendam, atau dengan cara lain.

2. Iya benar ada hadits yg menunjukkan bahwa makan dan minum sesuatu di sisi orang sakit bisa mengurangi pahala orang yang menjenguknya, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

Baca lebih lanjut

SAFARI DAKWAH USTADZ MUHAMMAD WASITHO ABU FAWAZ

اتباع السنة
(*) JADWAL KAJIAN ILMIYAH USTADZ MUHAMMAD WASITHO ABU FAWAZ Seputar “ITTIBA’ AS-SUNNAH” DI DEPOK, BOGOR DAN JAKARTA (*)

(*) Jum’at, 7/11/2014:

1. Waktu: ba’da Magrib – selesai
Tema:  “Mengapa Mereka Semangat Melakukan Amalan Yang Tidak Sesuai Tuntunan Nabi?”

Tempat: Masjid Al-Fattah,
Jl. Jatinegara Timur no.48-50 Jakarta Timur.

Contact Person:
☎ 083876895816

(*) Sabtu, 8/11/2014:

2. Jam 09.00-11.00 wib
Tema: “Kiat Sukses Mengajak Orang Lain Kepada Kebaikan”

Tempat: » Masjid Daarul Ihsan, Perum Bumi Sentosa, Cibinong Bogor.

Contact person :
☎  081387037364

3. Jam 13.00-16.00 wib
Tema: Kajian Kitab “SYARAH USHULUS SUNNAH karya Imam Ahmad bin Hambali”

Tempat: Masjid Syaikh Hammad Al-Hammad, Jl. Raden Saleh Studio Alam TVRI, Sukmajaya Depok.

Contact Person:
☎ 081293345852

(*) Ahad, 9/11/2014:

4. jam 09.00-11.30 wib
Tema: “Hakekat CINTA NABI Dan Keutamaannya”

Tempat: Masjid Abu Bakar Ash-Siddiq.

5. Ba’da Ashar jam 15.00-selesai
Tema: “Meneladani Kesabaran Nabi Dan Para Sahabat Dalam Mengikuti Kebenaran”

Tempat: Masjid Al-Huda,
Jl. Damai Raya Petukangan Selatan, Pesanggrahan Jakarta Selatan

Contact Person:
☎ 0838 7424 2388

(*) Senin ,10.11.14
Ba’da Ashar pulang ke Klaten-Jateng, إِنْ شَاءَ اللّهُ

HUKUM POTONG RAMBUT DAN KUKU BAGI WANITA HAID DAN NIFAS

Dijawab oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

2014-11-04_23.11.25(*) Masalah 433: HUKUM POTONG RAMBUT DAN KUKU BAGI WANITA YANG SEDANG NIFAS ATAU HAID

Tanya:

Assalamualaikum, ustad sy mau tanya, kalau abis melahirkan tp blm 40 hari. Boleh ga’ potong kuku dan rambut?

Jawab:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah. Hukum memotong kuku dan rambut bagi wanita yang sedang nifas dan haidh adalah BOLEH, karena tidak ada satu pun dalil syar’I baik dari ayat Al-Quran maupun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yg melarangnya.

Yang dilarang bagi wanita yang sedang haid dan nifas adalah mengerjakan hal-hal berikut ini:

1. Sholat Wajib dan Sunnah.

2. Puasa Wajib dan Sunnah.

3. Thowaf.

4. Jima’ (berhubungan badan dgn suaminya).

Adapun bercumbu tanpa melakukan Jima’, maka hukumnya Boleh. Baca lebih lanjut

3 TANDA PENDUSTA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

bohong        قال حاتم: (من ادعى ثلاثًا بغير ثلاث فهو كاذب: من ادعى حب الله بغير ورع عن محارمه فهو كذاب، ومن ادعى حب الجنة بغير إنفاق ماله فهو كذاب، ومن ادعى حب النبي صلى الله عليه وسلم بغير حب الفقراء فهو كذاب)

Hatim rahimahullah berkata: “Barangsiapa mengaku-ngaku 3 perkara tanpa 3 perkara lainnya maka ia adalah seorang pendusta:

  1. Barangsiapa mengaku cinta kepada Allah tanpa adanya sikap wara’ (berhati-hati dan menjaga diri) dari apa-apa yang Allah haramkan, maka ia adalah seorang pendusta.
  2. Barangsiapa mengaku cinta (baca: ingin masuk) Surga, namun tanpa menginfakkan harta bendanya (di jalan Allah), maka ia adalah seorang pendusta.
  3. Dan barangsiapa yang mengaku cinta kepada Nabi, namun ia tidak mencintai orang-orang fakir dan miskin, maka ia adalah seorang pendusta.” (Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim Al-Ashfahani di dalam Hilyatul Auliya’ VIII/75).

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yang dapat kami sampaikan pada hari ini. Semoga bermanfaat. Dan semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang selalu jujur dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan hingga akhir hayat. Amiin. (Klaten, 4 November 2014).

# Grup Majlis Hadits, chat room Faedah Iilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah. BB: 7FA61515, WA: 082225243444

TINGKATAN PUASA ‘ASYURA YANG PALING UTAMA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

2014-11-03_09.52.58Bismillah. Berikut ini kami akan sebutkan penjelasan para ulama sunnah tentang tingkatan puasa ‘Asyura yang paling utama.

» Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Berdasarkan hadits-hadits di atas, puasa ‘Asyura ada tiga tingkatan :
– Yang paling rendah adalah berpuasa tanggal 10 (Muharram) saja.
– Yang Lebih utama lagi, berpuasa pada tanggal 9 dan 10 (Muharram).
– Dan yang paling utama, adalah berpuasa pada tanggal 9, 10, dan 11 (Muharram).”

(Lihat Fathul Bari IV/311).

» Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Tingkatan puasa ‘Asyura ada tiga, yaitu:
–  Yang paling sempurna adalah berpuasa sehari sebelumnya dan sehari setelahnya (yakni tanggal 9, 10, dan 11 Muharram).
–  Yang berikutnya adalah berpuasa tanggal 9 dan 10 (Muharram). Kebanyakan hadits-hadits menunjukkan pada makna ini.
– Yang berikutnya adalah berpuasa hanya tanggal 10 (Muharram) saja.

Adapun barangsiapa (memahami dalil-dalil di atas) bahwa (yang disyari’atkan) hanya tanggal 9 (Muharram) saja, maka itu disebabkan karena kurang bisa memahami dalil-dalil yang ada, dan tidak meniliti dengan seksama lafazh-lafazh dan jalur-jalur periwayatan (dalil-dalil tersebut), sekaligus (pemahaman) tersebut jauh dari (makna secara) bahasa dan syari’at. Dan hanyalah Allah yang mampu memberikan Taufiq untuk sesuai dengan yang benar.”

(Lihat Zaadul Ma’aad II/75).

» Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Puasa ‘Asyura itu ada 4 tingkatan:

Baca lebih lanjut