HADITS PALSU TENTANG BAHAYA MENIKAHI WANITA KARENA HARTA, KEDUDUKAN DAN KECANTIKANNYA SAJA

20130318-074831.jpg

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

عن أنس مرفوعاً: من تزوج امرأة لعزها لم يزده الله إلا ذلاً، ومن تزوجها لمالها لم يزده الله إلا فقراً، ومن تزوجها لحسنها لم يزده الله إلا دناءة، ومن تزوج امرأة لم يتزوجها إلا ليغض بصره أو ليحصن فرجه أو يصل رحمه بارك الله له فيها وبارك لها فيه.

Diriwayatkan dari Anas (bin Malik) radhiyallahu anhu secara marfu’ (sanadnya tersambung kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam) :

“Barangsiapa menikahi wanita karena kemuliaan (kedudukan)nya, maka ALLAH tidak akan menambahkan untuknya kecuali kehinaan. Barangsiapa yang menikahi wanita karena hartanya, maka ALLAH tidak akan menambahkan untuknya kecuali kefakiran. Barangsiapa menikahi wanita karena kecantikannya, maka ALLAH tidak akan menambahkan untuknya kecuali kerendahan (keburukan). Dan barangsiapa yang menikahi seorang wanita karena ingin menuundukkan pandangan matanya, membentengi kemaluannya, dan mempererat tali silaturahmi, maka ALLAH akan melimpahkan barokah-NYA kepada dia (suami) dan istrinya (dalam kehidupan keluarganya).”

(*) TAKHRIJ HADITS:

Hadits ini dikeluarkan oleh Ath-Thabrani, Ibnu Al-Jauzi di dalam Al-Maudhuu’aat, Ibnu Hibban di dalam kitab Al-Majruuhiin II/151, Al-Haitsami di dalam Majma’ Az-Zawaa-id IV/254, dan Asy-Syaukani di dalam Al-Fawaa-id Al-Majmu’ah hal.121.

(*) DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya maudhu’ (PALSU) sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Al-Jauzi,Ibnu ‘Iraq, Asy-Syaukani, dan syaikh Al-Albani rahimahumullah. Hal ini karena di dalam sanadnya terdapat seseorang yang bernama Abdus-Salam bin Abdul Quddus, ia seorang perawi yang sangat lemah dan ditinggalkan haditsnya karena meriwayatkan hadits-hadits palsu.

Berikut ini kami akan sebutkan beberapa perkataan ulama hadits tentang Abdus-Salam bin Abdul Quddus.

Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Dia meriwayatkan hadits-hadits palsu.”. (lihat kitab Al-Majruuhiin II/150).

Dan ia berkata pula: “Dia pernah memalsukan hadits-hadits dengan mengatasnamakan para perawi hadits yang terpercaya. Maka, tidak boleh menulis dan meriwayatkan hadits darinya.”. (lihat kitab Al-Majruuhiin karya Ibnu Hibban II/131).

Al-‘Uqoili berkata: “Tidak ada satu pun dari hadits (yang diriwayatkan)nya yang dapat dijadikan penguat (untuk hadits yang lain), atau diperkuat (dengan hadits lainnya).” (lihat Adh-Dhu’afa Al-Kabiir III/67).

Yahya bin Ma’in berkata: “Haditsnya ditinggalkan.”

Abdullah bin al-Mubarok berkata: “Sungguh aku melakukan perampokan di jalan lebih aku sukai daripada meriwayatkan hadits darinya.”

An-Nasa’i berkata: “Dia bukan orang yang terpercaya.” (lihat Al-Kaamil karya Ibnu Adiy IV/253, Miizaan Al-I’tidaal karya imam Adz-Dzahabi II/643).

Demikian penjelasan tentang derajat hadits ini yg dapat kami sampaikan berdasarkan keterangan para ulama hadits. Semoga bermanfaat. Dan semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada setiap kebaikan, dan melindungi kita dari setiap keburukan di dunia n akhirat. (Klaten, 17 Februari 2013).

(Sumber: BlackBerry Group Majlis Hadits, chat room Hadits Dho’if dan Palsu. PIN: 2987565B)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s