USTADZ TUKANG DONGENG ADALAH ORANG YANG PALING PENDUSTA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz


Bismilah. Orang yang berbicara tentang agama Allah dengan cara bercerita atau mendongeng biasanya sering berdusta kepada murid-muridnya atau jama’ahnya. Apakah dengan cara membuat cerita fiktif atau membacakan ayat Al-Qur’an dan hadit Nabi lalu ia menafsirkan dan memahaminya dengan pemahamannya sendiri tanpa merujuk kepada penafsiran dan pemahaman para ulama Sunnah. Dan bisa juga ia berdusta dengan menyampaikan hadits-hadits palsu dan batil yang tidak jelas sumbernya. Apalagi jika ia bodoh tentang ilmu syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shohihah dengan Manhaj yang benar. 


Oleh karena itu, para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah dari generasi As-Salafus Sholih telah memberikan ‘Tahdzir’ (peringatan keras) kepada kaum muslimin agar tidak duduk dan menimba ilmu agama kepada para tukang dongeng dan tukang bercerita dalam perkara agama.
Berikut ini akan kami sebutkan beberapa perkataan para Ulama As-Salafus Sholih tentang tercelanya para tukang dongeng dalam perkara agama, dan bahwa mereka adalah manusia yang paling banyak berdusta kepada umat Islam.

1. Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata: “Sesungguhnya aku membenci adanya dongeng-dongeng di dalam masjid.”
Dan beliau juga berkata: “Dan aku berpendapat agar tiada seorang pun yang duduk (belajar) kepada mereka, karena dongeng-dongeng tersebut adalah Bid’ah.”

2. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Orang yang paling pendusta adalah tukang bercerita dan peminta-minta.” (Bada-i’ul Fawa-id karya Ibnul Qoyyim).

3. Diriwayatkan dari Syu’bah bin Al-Hajjaj, bahwasanya ada seorang pemuda yang mendekatinya, lalu bertanya tentang sebuah hadits. Maka beliau bertanya, “Apakah engkau seorang tukang bercerita?” Ia jawab, “iya, benar.” Maka beliau berkata: “Pergilah, karena aku tidak akan menyampaikan hadits kepada para tukang bercerita”. Pemuda itu bertanya, “Mengapa demikian?” Beliau jawab: “Karena mereka mengambil hadits dari kami satu jengkal, lalu mereka menjadikannya satu hasta.” Maksudnya, mereka (berani) menambahkan di dalam hadits Nabi (cerita-cerita dan dongeng dusta, pent).”

4. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Apakah kami menemui para tukang dongeng dengan wajah kami?” Jawab beliau: “Buanglah Bid’ah-bid’ah (dongeng) tersebut di balik punggung kalian.” (Lihat Al-Adab Asy-Syar’iyyah II/82-89)

5. Salim rahimahullah berkata: “Dahulu Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma pernah keluar dari masjid seraya mengatakan, “Tidaklah mengeluarkanku dari dalam masjid melainkan adanya suara tukang bercerita (di dalam masjid).” (Lihat Al-Hawadits Wal Bida’ hal.190).

6. Abu Idris Al-Khaulani rahimahullah berkata: “Sungguh aku melihat adanya kobaran api yang menyala-nyala di dalam masjid lebih aku sukai daripada aku melihat ada seorang tukang dongeng yang sedang bercerita di dalam masjid.”

7. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Kebanyakan petaka dalam pemalsuan hadits terjadi karena dilakukan oleh para tukang dongeng.”(Lihat Al-Qushshosh hal.308).

#Siapakah Tukang Dongeng atau Tukang Bercerita yang sangat tercela, banyak berdusta dan dilarang keras untuk duduk dan belajar agama kepadanya?

✓ Tukang Dongeng atau Tukang Bercerita yang tercela dan telah ditahdzir (diperingatkan) oleh para Ulama Sunnah adalah mereka yang berbicara tentang agama Allah melalui jalan Dongeng atau Bercerita, akan tetapi mereka tidak memiliki ilmu syar’i yang mumpuni dengan pemahaman yang benar. Di samping itu mereka berambisi meraih ketenaran atau popularitas di tengah umat, sehingga mereka berani berdusta atas nama Rasulullah shallallahu alaihi Wasallam dalam menyampaikan Hadits-hadits Nabi, baik dengan menambahi atau mengurangi atau menafsirkan dengan makna yang sesuai dengan selera dan hawa nafsunya (cocoklogi). 

✓ Dan termasuk juga para tukang Dongeng atau Tukang Bercerita tentang perkara agama namun bodoh tentang ilmu Hadits, sehingga mereka tidak mampu membedakan antara Hadits yang Shohih dengan Hadits DHO’IF dan Palsu serta Hadits yang Tidak jelas asal usulnya.

✓ Adapun hukum asal bercerita atau mendongeng itu boleh dan tidak tercela dengan sendirinya, bahkan bisa menjadi terpuji apabila cerita dan dongeng tersebut bersumber dan berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang Shohih.

» Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Para Tukang Dongeng tidaklah tercela hanya karena namanya sebagai tukang dongeng. Akan tetapi mereka itu tercela dikarenakan mayoritas mereka bercerita dengan bebas dan panjang lebar tanpa menyebutkan ilmu yang bermanfaat. Dan kebanyakan mereka juga mencampur adukkan dalam ceritanya (antara yang hak dan batil, pent). Dan terkadang mereka bersandar dalam ceritanya kepada hal-hal yang mustahil (tidak sesuai fakta).” (Lihat Talbis Iblis hal.134)

» Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Tukang bercerita yang senantiasa mengingatkan tentang surga dan neraka dan menakut-nakuti dengannya dengan niat yang baik dan perkataan yang jujur (maka mereka tidak apa-apa bila berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadits Shohih dengan pemahaman yang benar, pent). Adapun Tukang bercerita yang suka membuat berita-berita dusta dan hadits-hadits palsu maka aku berpendapat (tidak boleh duduk dan belajar agama kepada mereka, pent).(Lihat Al-Adab Asy-Syar’iyyah II/85).

Demikian faedah ilmiah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

(Disusun oleh Muhammad Wasitho Abu Fawaz di Pondok Pesantren Islam Al-Ittiba’ Klaten Jawa Tengah, pada hari Jumat, 15 Ramadhan 1441 H / 7 Mei 2020).

Halaman Facebook:

_https://www.facebook.com/muhammad.wasitho.abu.fawaz/_

_https://www.facebook.com/ponpes.alittiba.klaten/_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s