TINGKATAN PUASA ‘ASYURA YANG PALING UTAMA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

2014-11-03_09.52.58Bismillah. Berikut ini kami akan sebutkan penjelasan para ulama sunnah tentang tingkatan puasa ‘Asyura yang paling utama.

» Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Berdasarkan hadits-hadits di atas, puasa ‘Asyura ada tiga tingkatan :
– Yang paling rendah adalah berpuasa tanggal 10 (Muharram) saja.
– Yang Lebih utama lagi, berpuasa pada tanggal 9 dan 10 (Muharram).
– Dan yang paling utama, adalah berpuasa pada tanggal 9, 10, dan 11 (Muharram).”

(Lihat Fathul Bari IV/311).

» Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Tingkatan puasa ‘Asyura ada tiga, yaitu:
–  Yang paling sempurna adalah berpuasa sehari sebelumnya dan sehari setelahnya (yakni tanggal 9, 10, dan 11 Muharram).
–  Yang berikutnya adalah berpuasa tanggal 9 dan 10 (Muharram). Kebanyakan hadits-hadits menunjukkan pada makna ini.
– Yang berikutnya adalah berpuasa hanya tanggal 10 (Muharram) saja.

Adapun barangsiapa (memahami dalil-dalil di atas) bahwa (yang disyari’atkan) hanya tanggal 9 (Muharram) saja, maka itu disebabkan karena kurang bisa memahami dalil-dalil yang ada, dan tidak meniliti dengan seksama lafazh-lafazh dan jalur-jalur periwayatan (dalil-dalil tersebut), sekaligus (pemahaman) tersebut jauh dari (makna secara) bahasa dan syari’at. Dan hanyalah Allah yang mampu memberikan Taufiq untuk sesuai dengan yang benar.”

(Lihat Zaadul Ma’aad II/75).

» Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Puasa ‘Asyura itu ada 4 tingkatan:

Tingkatan Pertama:
Kita berpuasa pada tanggal 9, 10, dan 11 (Muharram). Dan ini adalah tingkatan yang paling tinggi. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad di dalam Al-Musnad, (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda) :
صوموا يوما قبله ويوما بعده خالفوا اليهود
“Berpuasalah juga kalian sehari sebelumnya (yakni tanggal 9) dan sehari setelahnya (yakni tanggal 11), selisihilah (kebiasaan puasanya) orang-orang Yahudi.”
Karena seseorang apabila berpuasa 3 hari (yakni tanggal 9, 10 dan 11 Muharram), niscaya ia memperoleh pahala (keutamaan) puasa tiga hari dalam bulan.

Tingkatan Kedua:
Puasa pada tanggal 9 dan 10 (Muharram). Hal ni berdasarkkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallaam:
«لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع»

“Kalau aku hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa tanggal 9 (Muharram juga).”

Nabi shallallahu alaihi wassalam menyampaikan ini tatkala ada seseorang yang berkata kepada beliau, “Sesungguhnya orang-orang Yahudi terbiasa berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Sementara beliau shallallahu alaihi wasallam sangat suka menyelisihi (kebiasaan) orang-orang Yahudi, dan bahkan menyelisihi setiap orang kafir.

Tingkatan Ketiga:
Puasa tanggal 10 dan 11 Muharram.

Tingkatan Keempat:
Puasa tanggal 10 Muharram saja.

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa hal ini hukumnya mubah (boleh). Dan ada pula sebagian ulama lain yang berpendapat bahwa hal ini (yakni puasa hanya tanggal 10 Muharram saja) hukumnya makruh.

Para ulama yang berpendapat bolehnya puasa sunnah pada tanggal 10 Muharram saja berdalil dengan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala beliau ditanya tentang (pahala dan keutamaan) puasa ‘Asyura, maka beliau jawab, “Aku berharap kepada Allah agar Dia menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu.”

Dan sebagian ulama lain yang berpendapat makruh puasa sunnah pada tanggal 10 Muharram saja berdalil dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
خالفوا اليهود صوموا يوما قبله أو يوما بعده

“Selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah juga kalian sehari sebelumnya (yakni tanggal 9) atau sehari setelahnya (yakni tanggal 11 Muharram).” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).

Dan dalam lafazh lain, Nabi bersabda:
صوموا يوما قبله ويوما بعده

“Berpuasalah juga kalian sehari sebelumnya (yakni tanggal 9 Muharram) dan sehari setelahnya (yakni tanggal 11 Muharram).”
Hadits ini mengandung makna wajibnya menambahkan puasa 1 hari pada puasa Asyura dalam rangka menyelisihi (kebiasaan/ ibadahnya orang-orang Yahudi), atau setidaknya hadits ini menunjukkan makruhnya puasa hanya pada tanggal 10 Muharram saja (tanpa menambah puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya, pent).

Akan tetapi, pendapat yang menyatakan makruh berpuasa hanya tanggal 10 Muharram saja adalah pendapat yang (cukup) kuat. Oleh karenanya, kami berpendapat bahwa seseorang dapat keluar dari hukum makruh dengan cara berpuasa sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal 9 Muharram, atau berpuasa pada tanggal 11 Muharram (yakni sehari setelahnya, pent).

(Lihat Silsilah Liqoo-aat Al-Baab Al-Maftuuh nomor.95).

» Sementara itu Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah berpendapat :
– Berpuasa tanggal 9 dan 10 (Muharram) adalah paling utama.
– Jika berpuasa tanggal 10 dan 11 (Muharram),  maka itu cukup menunjukkan penyelisihan terhadap Yahudi.
– Jika berpuasa tanggal 9, 10, dan 11 (Muharram), maka itu tidak mengapa, berdasarkan sebagian riwayat: “Berpuasalah juga kalian sehari sebelumnya (yakni tanggal 9 Muharram) dan sehari setelahnya (yakni tanggal 11 Muharram).”
– Adapun berpuasa tanggal 10 saja, maka hukumnya makruh.”

(Lihat Majmu’ Fatawa wal Maqoolaat XV/403-404).

Demikian faedah ilmiyah tentang tingkatan puasa ‘Asyura yang paling utama sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah. Semoga mudah dipahami dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Amiin. (Klaten, 3 November 2014).

# Grup Majlis Hadits, chat room Fadhilah Amal. BB: 7FA61515, WA: 082225243444

(*) Blog Dakwah Sunnah, KLIK:
Http://abufawaz.wordpress.com

Http://facebook.com/muhammad.wasitho.abu.fawaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s