SEPUTAR HUKUM NADZAR

HUKUM SEPUTAR NADZAR(*) Masalah 422: SEPUTAR HUKUM NADZAR

Dijawab oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Tanya:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَتُهُ.
Ana mau tanya ustadz, Apakah nadzar ada hukum2nya?
شُكْرًا وَ ​جَزَاكُمْ اللّهُ خَيْرًا

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Iya benar. Di dlm syariat Islam Nadzar memiliki hukum yg berbeda-beda sesuai dengan jenis nadzarnya.

Hukum asal nadzar adalah makruh. Akan tetapi, jika seorang muslim atau muslimah tlh bernadzar utk menjalankan amal kebaikan, maka ia wajib menunaikan nadzarnya. Sebagai contoh; seseorang mengatakan, ‘Jika aku sembuh dari sakitku atau mendapatkan untung yg besar dari bisniku, maka aku akan menunaikan ibadah umroh, atau mewakafkan sebagian tanahnya, atau membiayai sekolah anak yatim atau dhu’afa, dan yg semisalnya.

Namun sebaliknya, jika ia tlh bernadzar utk menjalankan suatu perbuatan maksiat n dosa, maka ia DIHARAMKAN menunaikannya. Sebagai contoh; seseorang mengatakan, ‘Jika aku telah sembuh dari sakitku, maka aku akan memberikan hewan sembelihan atau sesajian di sisi kuburan Wali atau syaikh fulan. Jika aku naik pangkat atau jabatan, maka aku akan mengadakan pesta minuman keras, atau jika aku sukses dlm bisnis, maka aku akan menambah modal dgn pinjaman uang dari bank, dan semisalnya.

» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
(Man Nadzaro an Yuthii’allaha Fal Yuthi’hu, Wa Man Nadzaro An Ya’shiyallaha Fa Laa Ya’shihi)

Artinya: “Barangsiapa bernadzar utk melaksanakan ketaatan kpd Allah, maka hendaknya ia menunaikannya. Dan barangsiapa bernadzar utk melakukan maksiat kpd Allah, maka janganlah ia melaksanakannya.”

» Kemudian, jika seseorang telah membatalkan nadzar maksiatnya kpd Allah, maka ia berkewajiban membayar kaffaroh (tebusan) sebagaimana kaffaroh sumpah. Hal ini berdasarkan hadits Shohih yg diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu:
كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِيْنِ.

“Kaffaroh nadzar adalah (sama) dengan kaffaroh sumpah.” (HR. Muslim).

Dan kaffaroh (tebusan)nya ialah dengan melaksanakan salah satu dari 3 hal berikut ini:

1. Memberi makan 10 orang miskin,
2. Memberi pakaian 10 orang miskin,
3. Atau membebaskan seorang budak.

Kalau tidak mampu menjalankan salah satu dari tiga hal itu, maka hendaknya ia berpuasa selama tiga hari berturut-turut.

» Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala (yg artinya):

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Maidah: 89).

Demikian jawaban yg dpt kami sampaikan. Smg mudah dipahami n menjadi tambahan ilmu yg bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Klaten, 23 Juli 2014).

» Grup WA/BB Majlis Hadits, chat room Tanya Jawab.

(*) Blog Dakwah Kami, KLIK:
https://abufawaz.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s