HADITS-HADITS PALSU TENTANG KEUTAMAAN MENZIARAHI KUBURAN ORANG TUA DAN KERABAT PADA HARI JUMAT / الأحاديث الضعيفة والموضوعة في فضائل زيارة قبر الأبوين والأقارب يوم الجمعة

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc

Bismillah. Segala puji bagi Allah, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang selalu istiqomah dalam memegang teguh ajarannya yang murni hingga akhir zaman.

Ziarah kubur merupakan salah satu ibadah yang disyariatkan dalam agama Islam. Karena ia mempunyai hikmah, keutamaan dan manfaat bagi orang yang berziarah maupun orang mati yang diziarahi. Di antara hikmah disyariatkannya ziarah kubur sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits yang shohih ialah:

1)      Untuk mengucapkan salam dan mendoakan kebaikan serta memohon ampunan kepada Allah bagi orang-orang mati dari kaum muslimin, agar mereka dibebaskan dari siksa kubur, dan diberi nikmat di dalam kubur.

2)      Untuk mengingat kematian dan kehidupan akhirat, sehingga tidak terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia.

3)      Dalam rangka melunakkan hati yang keras dan sombong, dan lain sebagainya.

Manfaat dan hikmah tersebut dapat diperoleh oleh seorang muslim kapan saja ia berkeinginan melakukan ziarah kubur tanpa mengkhususkan hari dan kesempatan tertentu,  dan di kuburan siapa saja dari pekuburan kaum muslimin. Asalkan tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap tuntunan Islam dalam berziarah kubur, seperti melakukan safar (wisata ziarah) ke pekuburan yang jauh dari tempat tinggalnya, atau melakukan ritual-ritual seperti membaca Al-Quran, sholat, dzikir berjama’ah dan selainnya dalam rangka mencari berkah.

Meskipun sudah sedemikian jelas dan sempurna tuntunan agama Islam dalam ziara kubur, namun tetap saja ada sebagian kaum muslimin yang berbuat kesalahan dan pelanggaran terhadap tuntunan tersebut. Ini tiada lain disebabkan kebodohan mereka tentang agama Islam yang benar dan murni, dan banyaknya para juru dakwah yang mengajarkan kesesatan dan kebatilan kepada pengikut dan jama’ahnya demi memperoleh kepentingan dunia, serta tersebarnya buku-buku yang memuat hadits-hadits lemah dan palsu, baik yang berkaitan dengan ziarah kubur maupun ritual lainnya. sehingga kebanyakan mereka tidak sadar bahwa ziarah kubur dan amal ibadah yang mereka lakukan itu sangat bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Di antara hadits-hadits lemah dan palsu yang tersebar di tengah kaum muslimin ialah hadits yang menjelaskan keutamaan menziarahi kuburan orang tua atau kerbat pada hari dan malam Jumat. di antara keutamaan-keutamaannya ialah:

  1. Berziarah ke kuburan orang tua pada hari Jumat lalu membaca surat Yasin di sisinya akan menghapuskan dosa-dosa.
  2. Siapa yang melakukannya akan dianggap sebagai anak yang berbakti pada kedua orang tuanya.
  3. Siapa yang banyak menziarahi kuburan kedua orang tuanya atau kerabatnya hingga meninggal dunia, maka kuburannya akan diziarahi oleh para malaikat.
  4. Siapa yang melakukannya akan memperoleh pahala Umroh atau Haji Mabrur.

Berikut ini akan saya sebutkan hadits-haditsnya beserta derajatnya dan perkataan para ulama hadits yang menjelaskan sisi kelemahan dan kepalsuannya. 

HADITS PERTAMA:

قَالَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ  رحمه الله : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الضَّحَّاكِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أََبِي عَاصِمِ ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ خَالِدٍ الأَصْبَهَانِيُّ ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زِيَادَ ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ الطَّائِفِيُّ ، عَنْ هِشَامٍ بن عُرْوَة ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ ، قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَرَأَ يس غُفِرَ لَهُ .

Abu Ahmad Ibnu Adiy berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Adh-Dhohhak bin ‘Amr bin Abi ‘Ashim, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Kholid Al-Ashbahani, ia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ziyad, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaim Ath-Tho-ifi, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berziarah ke kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada hari jum’at, lalu ia membaca surat Yasin maka (dosa-dosanya) akan diampuni (oleh Allah, pent).”

(Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Ady dalam Al-Kamil Fi Dhu’afa’i Ar-Rijal V/151).

HADITS KEDUA:

قال أبو الشيخ الأصبهاني رحمه الله : حَدَّثَنَـا أَبُو عَلِيِّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، قال : ثنا أَبُو مَسْعُودٍ يَزِيدُ بْنُ خَالِدٍ ، قال : ثنا عَمْرُو بْنُ زِيَادٍ الْبَقَالَيُّ الْخُرَاسَانِيُّ بِجُنْدِيسَابُورَ ، قال : ثنـا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ أَوْ أَحَدِهِمَا ، فَقَرَأَ عِنْدَهُمَا أَوْ عِنْدَهُ : يس ، غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ ذَلِكَ آيَةً أَوْ حَرْفًا “

Abu –Asy-Syaikh Al-Ashbahani berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ali bin Ibrahim, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mas’ud, Yazid bin Kholid, ia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ziyad Al-Baqqoly Al-Khurosani di Jundisabur, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, dari Abu Bakar, ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:  Barangsiapa yang menziarahi kuburan kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya pada setiap hari Jum’at, lalu ia membaca surat Yasin di sisi (kuburan) keduanya atau salah satunya, niscaya (dosa-dosanya) diampuni sebanyak bilangan ayat atau huruf (yang dibacanya, pent).”

(Diriwayatkan oleh Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani di dalam Thobaqot Al-Muhadditsin III/125 no.751).

DERAJAT HADITS PERTAMA DAN KEDUA:

Hadits-hadits tersebut di atas derajatnya PALSU (Maudhu’). Karena di dalam sanadnya terdapat seorang perowi yang bernama ‘Amr bin Ziyad. Dia seorang perowi yang pendusta dan pemalsu hadits.

Abu Ahmad Ibnu ‘Adiy berkata: “Hadits dengan sanad ini derajatnya BATIL, TIDAK ADA ASAL-USULNYA. Dan ‘Amr bin Ziyad meriwayatkan beberapa hadits selain hadits ini. Diantaranya ada hadits yang ia mencurinya dari para perowi yang terpercaya, dan ada pula hadits-hadits palsu. Dan dialah orang yang tertuduh memalsukannya.” (Lihat Al-Kamil Fi Dhu’afa’i Ar-Rijal V/151).

Imam Ad-Daruquthni berkata: “Dia memalsukan hadits.” (Lihat Mizan Al-I’tidal karya Adz-Dzahabi III/261)

Abu Zur’ah Ar-Rozi berkata:”Dia seorang pendusta.” (Lihat Adh-Dhu’afa’ karya Al-‘Uqoily III/274)

HADITS KETIGA:

قال الطبراني رحمه الله : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ النُّعْمَانِ بْنِ شِبْلٍ ، قَالَ : حَدَّثَنِي أَبِي ، قَالَ : حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَمِّ أَبِي ، عَنْ يَحْيَى بْنِ الْعَلاءِ الرَّازِيِّ ، عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ أَبِي أُمَيَّةَ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ غُفِرَ لَهُ ، وَكُتِبَ بَرًّا “

Imam Ath-Thabrani rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’man bin Asy-Syibl, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin An-Nu’man bin Abdurrahman (paman ayahku), dari Yahya bin Al-‘Ala’ Ar-Rozi, dari Abdul Karim Abu Umayyah, dari Mujahid, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang menziarahi kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya setiap hari Jum’at, niscaya akan diampuni baginya dan dicatat sebagai bakti (kepada keduanya).”

(Diriwayatkan oleh At-Thobroni di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath VI/175 no.6114, dan di dalam Al-Mu’jam Ash-Shoghir II/160 no.955. dan diriwayatkan pula oleh As-Suyuthi di dalam kitab Al-La’ali’ Al-Mashnu’ah Fi Al-Ahadits Al-Maudhu’ah II/440 no.2526, dan selainnya).

DERAJAT HADITS:

Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’). Sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah I/125 no.49.

Hal ini dikarenakan di dalam sanadnya terdapat empat orang perowi hadits yang bermasalah sebagaimana para ulama hadits telah memperbincangkannya, yaitu:

1. Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’man.

Dia seorang perowi yang ditinggalkan riwayat haditsnya dan tertuduh sebagai pemalsu hadits.

Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Ad-Daruquthni telah mencela dan menuduhnya sebagai pemalsu hadits.” (Lihat Mizan Al-I’tidal IV/26)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata: “Dia seorang perowi yang matruk (ditinggalkan riwayat haditsnya).” (Lihat Taqrib At-Tahdzib I/505).

2. Muhammad bin An-Nu’man.

Dia seorang perowi yang tidak dikenal jati diri dan kredibilitasnya.

Imam adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Ia seorang perowi yang majhul (tidak dikenal jati diri dan kredibilitasnya).” (Lihat Mizan Al-I’tidal IV/56)

Al-‘Uqaili berkata: “Muhammad bin An-Nu’man seorang perowi yang Majhul (tidak dikenal jati diri dan kredibilitasnya).” (Lihat kitab Adh-Dhu’afa’ IV/146).

3. Yahya bin al-‘Ala’ Ar-Rozi (al-Bajali)

Dia seorang perowi yang sangat lemah karena tertuduh memalsukan hadits dan riwayatnya tidak dapat diterima dan dijadikan hujah.

Al-‘Uqaili berkata tentangnya: “Yahya adalah seorang perowi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya).” (Lihat kitab Adh-Dhu’afa’ IV/146).

Yahya bin Ma’in berkata: “Yahya bin Al-‘Ala’ bukan seorang perowi hadits yang tsiqoh (terpercaya).” (Lihat kitab Adh-Dhu’afa’ karya Al-‘Uqaili IV/437).

Abu Hatim Ar-Rozi berkata: “Dia bukan seorang perowi hadits yang kuat (hafalannya, pent).”

Ad-Daruquthni berkata: “Dia seorang perowi yang matruk (ditinggalkan riwayat haditsnya).”

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Dia pernah memalsukan hadits.” (Lihat perkataan ini semua di dalam kitab Mizan Al-I’tidal karya imam Adz-Dzahabi IV/397).

Ibnu Hibban berkata: “Tidak boleh berhujjah dengan (hadits)nya.” (Lihat kitab Al-Majruhin III/115).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata: “Dia seorang perowi yang tertuduh memalsukan hadits.” (Lihat Taqrib At-Tahdzib I/595)

3. Abdul karim Abu Umayyah

Dia seorang perowi yang Dho’if (lemah).

Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Dia seorang perowi yang sering lupa dan banyak kesalahan yang fatal dalam meriwayatkan hadits.” (Lihat kitab Al-Majruhin II/145).

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Abdul Karim Abu Umayyah tidak ada apa-apanya, dia menyerupai perowi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya).” (Lihat Al-Jarhu wa At-Ta’dil karya Ibnu Abu Hatim VI/60).

Yahya bin ma’in berkata: “Abdul Karim Abu Umayyah tidak ada apa-apanya.”

Ayyub As-Sakhtiyani berkata: “Dia bukan seorang perowi yang tsiqoh (terpercaya).” (Lihat kitab Al-Majruhin II/145).

HADITS KEEMPAT:

قَالَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ رحمه الله : ثنا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصٍ السَّعْدِيُّ ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الْوَزْدُولِيُّ ، ثنا خَاقَانُ بْنُ الأَهْتَمِ السَّعْدِيُّ ، ثنا أَبُو مُقَاتِلٍ السَّمَرْقَنْدِيُّ ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ ، عَنْ نَافِعٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : ” مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبِيهِ أَوْ أُمِّهِ أَوْ عَمَّتِهِ أَوْ خَالَتِهِ أَوْ أَحَدُ قَرَابَاتِهِ كَانَتْ لَهُ حَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ ، وَمَنْ كَانَ زَائِرًا لَهُمَا حَتَّى يَمُوتَ زَارَتِ الْمَلائِكَةُ قَبْرَهُ ” .

Abu Ahmad Ibnu ‘Adiy rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hafsh As-Sa’di, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa Al-Wazduli, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Khoqon bin Al-Ahtam As-Sa’di, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Muqotil As-Samarqondi, dari Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa menziarahi kuburan ayahnya atau ibunya, atau saudara perempuan ayah atau ibunya (baca: bibi), atau salah seorang kerabatnya, maka ia akan memperoleh pahala haji mabrur. Dan barangsiapa menziarahi kuburan kedua orang tuanya hingga ia meninggal dunia, niscaya para malaikat akan menziarahi kuburannya.”

(Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy di dalam kitab Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal II/393 no.2260. dan diriwayatkan pula oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al-Maudhu’aat III/240 no.1714, dan As-Suyuthi di dalam kitab Al-La’ali’ Al-Mashnu’ah Fi Al-Ahadits Al-Maudhu’ah II/440 no.2527, dan selainnya).

DERAJAT HADITS:

Hadits ini derajatnya DHO’IF JIDDAN (sangat lemah), karena di dalam sanadnya ada seorang perowi yang bernama (Hafsh bin Salm, pent) Abu Muqotil As-Samarqondi. Dia seorang perowi yang matruk (ditinggalkan riwayat haditsnya).

Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Abu Muqotil As-Samarqondi, namanya Hafsh bin salm, ia seorang yang rajin ibadah, akan tetapi meriwayatkan hadits-hadits mungkar yang mana (ulama hadits) siapa pun yang mencatat hadits dapat mengetahui bahwa hadits-hadits yang diriwayatkannya tidak mempunyai dasar yang dapat dijadikan rujukan.”

Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Tidak boleh meriwayatkan hadits darinya.” (Lihat kitab Al-Majruhin I/256)

Imam Adz-Dzahabi berkata: “Qutaibah menganggapnya sebagai perowi hadits yang sangat lemah, dan (Abdurrahman) bin Mahdi mendustakannya.” (Lihat Mizan Al-I’tidal I/557)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata: “Waki’ (bin Al-Jarroh Al-Kufi, pent) mendustakannya, dan As-Sulaimani mengatakan, bahwa dia termasuk dalam barisan orang yang memalsukan hadits.” (Lihat Tahdzib At-Tahdzib II/342).

Demikianlah beberapa hadits DHO’IF dan PALSU tentang keutamaan menziarahi kuburan orang tua dan kerabat yang dapat saya kumpulkan dan susun. Semoga Allah ta’ala senantiasa membimbing kita semua ke jalan yang benar dan diridhoi-Nya, serta memberikan kepada kita taufiq dan kemudahan untuk tetap istiqomah dalam mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran-Nya yang bersumber dari Al-Quran Al-Karim dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang shohih hingga kematian menjemput kita. Semoga artikel ini menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Amin ya Robbal alamin.

Alhamdulillah, telah selesai menulis dan menyusun artikel ini pada hari Kamis pukul 15.55 WIB, tanggal 19 januari 2012 di kediamannya, Klaten – Jawa Tengah.

(Artikel ini ditulis untuk materi kajian BBG Majlis Hadits Ikhwan dan Akhwat di room Hadits Dho’if dan Palsu. Dan diposting di blog pribadi penulis dan Pembina BBG Majlis Hadits: https://abufawaz.wordpress.com, PIN: 285734BB)

 

About these ads

30 responses to “HADITS-HADITS PALSU TENTANG KEUTAMAAN MENZIARAHI KUBURAN ORANG TUA DAN KERABAT PADA HARI JUMAT / الأحاديث الضعيفة والموضوعة في فضائل زيارة قبر الأبوين والأقارب يوم الجمعة

  1. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Artikel yang bagus, Berkarya terus ustadz ….. biar kami tambah ilmu.
    terima kasih.

    • waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh
      terima kasih yang besar atas kunjungan n komentar anda yg bermanfaat bagi blog kami. syukron wa jazakumullah khoiron.

  2. rujukan kaum SAWAH kok al bani terus??? gak ada imam lain yang kaliber???

  3. lanjutkan perjuanganya…

  4. ananda melakukan ziarah ke dua orang tua,semata2 hanya karena Allah SWT dan perintah Rasulullah SAW dan membuat ke dua orang tua kuburnya menjadi taman sorga..Aminn..

    • bismillah. mas/bpk Hasyim yg semoga dirahmati Allah, memang benar bahwa ibadah apapun yg kita lakukan haruslah diniatkan dengan ikhlas, semata-mata karena mengharap ridho Allah, trmsuk dalam ibadah ziarah kubur, apakah kuburan kedua orang tua kita atau kuburan kaum muslimin secara umum. yg penting tujuannya benar sesuai perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yaitu; untuk mengingat kematian dan kehidupan akhirat, untuk melunakkan hati kita yg telah kaku dan sombong, untuk mengucapkan salam kpd para penghuni kubur dari kaum muslimin, untk berdoa kpd Allah agar orang tua kita dan kerabat serta kaum muslimin secara umum diampuni oleh Allah dosa-dosa mereka, diselamatkan dari siksa kubur dan dilapangkan kuburnya serta diberi nikmat. dan waktu ziarah kubur kapan saja, tanpa mengkhususkan pada malam atau hari tertentu spti malam jumat kliwon, atau menjelang datangnya bulan Ramadhan, atau setelah sholat hari raya, dsb. dan di kuburan juga bukan tempat untuk sholat, atau membaca Al-Quran, atau ibadah2 lainnya. demikianlah ziarah kubur yang benar sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
      kami berdoa kpd Allah, agar Allah mengampuni dosa-dosa kita dan kedua orang tua kita serta saudara2 kita dari kaum muslimin yg masih hidup maupun yg telah meninggal dunia. dan semoga Allah membebaskan kita dari siksa kubur dan siksa api neraka, serta memasukkan kita semua ke dalam Surga-Nya yg penuh dengan kenikmatan yg hakikik dan abadai. amin ya Robbal alamin.

  5. ILMU SEGUDANG,,TETAPI ZIARAH QUBUR OGAH OGAHAN,,,,

    KENAPA SAAT DI DLM MESJID NABAWI
    BYK WAHABIY ACUH DAN CUEK DENGAN NABI NYA,,,,

    APA ZIARAH QUBUR TERHADAP NABI SAW GA PERNAH MENEMUKAN ????

    APA KORBAN WAHABIY ???
    KRN HADIST KEUTAMAAN ZIARAH QUBUR NABI SAW UDH DI GANTI DG KEUTAMAAN ZIARAH MESJID NABAWI,,,,

    BOLEHLAH DI CARI DULU YA,,,,,

    OH YA ,,, ANA MAU BELAJAR CARA ZIARAH NYA ORG YG BUAT POSTING INI,,
    KAPAN BISA AJAK ANA
    BERZIARAH ????

  6. Assalamualaikum Ustadz Abu Fawaz yg senantiasa dirahmati Allah SWT…
    Mohon ustadz tidak usah melayani komentar kafirin-kafirin yg halal darahnya itu, teruskan saja ustadz dakwah tauhidnya karena itu perintah Allah SWT dan RasulNya, insya Allah saya pribadi dan segenap saudara-saudara sesama Muslim (non mubtadi’) akan terus mendukung dakwah para ulama’ manhaj salafush sholih pada umumnya dan dakwah ustadz Abu Fawas pada khususnya….Laa ilaha ilallah Muhammadan abduhuu wa rasuluuh !!!
    wa’alaikumsalam…

    • waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.
      amin ya Robbal alamin, syukron wa jazakumullaho khoiron atas doanya. semoga antum jg selalu baik dan dirahmati Allah.

      Semoga Allah memberikan taufiq dan bimbingannya kepada kita semua untuk selalu istiqomah dalam memegang teguh Al-Quran Al-Karim dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang shohih dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama Islam yg lurus aqidah dan manhajnya.

      Adapun berkaitan dengan masalah menyikapi orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita dalam perkara-perkara agama karena adanya kerancuan atau salah paham atau belum sampai pada mereka keterangan yg kuat dan benar, maka para ulama Ahlus Sunnah wal jama’ah mempunyai sikap yang sangat hati-hati dan penuh lemah lembut terhadap sesama Muslim sebagaimana yg telah dilakukan oleh pemimpin (imam) Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. masalah mengkafirkan orang muslim adalah masalah yg sangat berbahaya, dan ini adalah hak mutlak bagi Allah dan Rasul-Nya. tidak ada celah bagi pendapat siapapun. dan yg berhak menerapkan kaedah2 pengkafiran adalah para ulama Robbani. tidaklah setiap orang yang berbuat kekafiran langsung dihukumi sebagai orang kafir, dan tidak pula setiap orang yang berbuat syirik dikatakan sebagai orang musyrik. demikian pula tidaklah setiap orang yg berbuat bid’ah dihukumi sebagai ahli bid’ah, sehingga telah terpenuhi SYARAT-SYARAT PENGKAFIRAN, PEMBID’AHAN dan terbebas dari PENGHALANG-PENGHALANGNYA.
      untuk dapat mengetahui masalah SIKAP AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH DALAM MENGKAFIRKAN ORANG MUSLIM , silakan mendengarkan rekaman kajian kami dengan tema: MELURUSKAN PEMAHAMAN TAKFIR di link berikut ini: http://suaraquran.com/audio-kajian-meluruskan-pemahaman-takfir-ust-muhammad-wasithoh-lc/
      semoga bermanfaat. (Ahlus Sunnah adalah golongan yang mengenali kebenaran, dan paling lemah lembut dan kasih sayang kepada sesama makhluk).

  7. jangan gampang mengkafirkan org lain apalagi sesama muslim, karena perkataan itu sesungguhnya akan kembali kepada dirimya sendiri, wallahua’lam. hati-hatilah terhadap wahabiy/salafi yang mengaku sebagai golongan ahlussunnah, tp nyatanya bukan.

  8. Assalamu’alaykum ,sedikit berbagi ustadz semoga langkah ustadz mendapat ridho dan rahmat dari Allah Robbila’alamiin terus terang ketinggian argumen tidak saya miliki seperti halnya ustadz,kemampuan dan kapasitas kami hanya sebatas,maklum saya hanya sebatas al-faqir ilallah semata ustadz, ,jadi untuk memvonis amalan ibadah seseorang bukan hak preogratif seseorang,hambanya hanya sebatas bertabligh untuk meluruskan yang haq dan menyingkap tabir kebathilan agar suatu masa beroleh kebahagiaan fiddaroini,begitulah mungkin tujuan hidup kita ini ustadz. Ustadz,ada sebuah ayat yang mengingatkan kami untuk terus memposisikan sikap lemah lembut,menghargi nilai hak amalan seseorang(semuslim)…….walanaa a’maalunaa walakum a’maalukum wanahnu lahuu mukhlisuuna.
    ini adalah bentuk pengabdian diri seorang hamba kepada allah dengan bentuk yang menurut hemat kami tidak menerbitkan unsur lain yang kerap dilontarkan oleh pihak lain yang memvonis “ziarah kubur”bertentangan dengan anjuran ataupun perintah Rosulullah, karena ziarah kami berangkat dari kedasaran akal yang dibangun oleh hati tanpa dicampuri unsur lain dan ini adalah batasan kami sebagai seorang anak yang ingin berbakti pada orang tua yang telah membesar,mendidik dan mengenalkan keagungan Allah,Rosulnya,kitabnya dll kepada anaknya..akankah jasa-jasa yang telah ikhlas di semayamkan dalam bathin setiap genap anak oleh orang tuanya akan berlalu oleh sebab di batasi oleh kematian bapak dan ibunya,bukankah kasih sayang ibu dengan anak tak bertepi dan tak berbatas?Setiap orang tentu akan meyakininya bahwa orang menyiarahi kuburan orang tuanya hanya sebatas mendo’akan,suatu saat pasti akan mengalami kematian/biar ingat akan kematian dengan begitu kita tidak akan bersikap menjaga gemerlap isi dunia dengan keabadian,penuh ketamakan…….dan ziarah kubur kami karena semata ingin membangun kualitas ketaqwaan kami fii kulli hal wa zaman,selagi ajal kematian belum menjemputnya….dan selagi Allah masih memberikan rizqi berupa umur maka kesempatan umur ini harus dioptimalisasikan dengan ketekunan meninggikan amalan ibadah baik yang maghdhoh maupun ghoiru maghdhoh…..sikap ini bisa sedikat tumbuh dengan rasa ikhlas sebagai bentuk hamba Allah bila kita disibukkan oleh ingat kematian,dan ingat kematian biasanya ditempuh dengan melakukan ziarah kubur.
    Wallahu a’lamu bil muradih.

  9. Saya adalah rakyat kecil kerjaan saya buruh jadi kameramen jujur kalau pengalamn saya dibidang agama kurang tapi saya mengutuk suatu situs yng mana situs tersebut digunakan untuk mengolok ngolokan antar sesama muslim yaitu NU vs WAHABI kenapa sih kok begitu kenapa sesama islam harus begitu apa anda fikir terus ngomong kotor itu sudah pahlawan itu nafsu Brooo.. Islam itu bukan Wahabi Bukan Nu Bukan Muhamadiyah Bukan Lamkari Dan Bukan Dan bukan Tapi Islam Adalah Islam
    Perbedaan pendapat Itu anugrah jadikan perbedaan sebagai sarana ilmu yg blm kita ketahui jangan jadikan perbedaan pendapat sebagai ajang berkelahi koyo cah bayii.. Jangan Sok kita mengkhafirkan orang kalau kita belum tau hatinya orang tsbt, kafir dan tidak yg tau Alloh dan kita sendiri, yg jelas kalo ada orang yg mengatakan ziaroh kubur itu haram itu tidak benar,Yg salah orang ziaroh kubur minta sesuatu,tapi kalo ziaroh kubur Ingat Mati dan mendoakan orang yg sudah mati saya yakin doanya pasti sampai karena Alloh Maha Mendengar Dan Maha Tau. Yg jelas yg namanya kekuburan kalo dia orang islam ya pastinya ingat mati masa ingat roti kekuburan….Makasih hendaknya bersatulah muslimku janganlah engkau rebut Cuma untuk memenangkan dalilmu sendiri.
    By.Udin…..

  10. semoga kita selalu berpegang teguh pada sunnah dan mengindari kesesatan.

  11. Bid”ah lebih disukai iblis daripada maksiat,kalau maksiat nyata dan bisa bertobat tapi kalau bidah merasa benar dengan tujuan ibadah tanpa disadari bertentangan dengan sunnah rasul…maka berilmulah

  12. Sdr. Udin anda benar, sekarang ini ada beberapa pendapat yg selalu mangandalkan kata2 Bid’ah seolah2 yg di kerjakan oleh umat ” terdahulu itu Bid’ah, atau hadits tdk shohih, yg benar itu adalah pendapat mereka sendiri…pertanyaannya misalkan Maulud nabi saw diraperingati itu bid’ah, edangkan perayaan ini sejak dulu saya berusia 7 thn sudah ada, dan sekarang usia saya 58 thn, baru dikatakan bid’ah, dan lagi perayaan ini dirayakan oleh para ulama2 terkemuka…..jadi yg mengatakan bid’ah itu apakah mereka ahli hadits ? mhn maaf, kalau bukan ahli hadits dan kalau hanya dari buku saja, sebaiknya tidak usah bicara hadits……

  13. kalau semua orang orang muslim atau pelaksana syariat menurut pemahaman masing masing dibilang itu kafir murtad, musrik, dholim, bid.ah, neraka terus yang masuk surga siapa pak Ustadz ? Mohon dijelaskan

  14. Merayakan atau memperingati maulid Nabi Muhammad SAW adalah per buatan yang tidak pernah ada dimasa Nabi ataupun dimasa Sahabat. Jadi kalau Nabi sendiri tdk ingin hari lahirnya dirayakan/diperingati,kenapa kita umatnya memaksakan diri utk melakukan yg tidak dicontohkan oleh Nabi? Para Sahabat Nabi yg sangat mencintai beliau juga tidak pernah meraya kan-nya.Segala sesuatu yg tidak dicontohkan Nabi– itulah BID’ AH…

  15. من احدث في امرنا هذا ما ليس منه فهو رد
    Hadits ini adalah pegangan kaum yg slalu mempertahankan sunnah “katanya” haha
    Diliat dari sumber dan sebab akibat serta pemetaannya :
    1. Islam hanya sebatas amalan tidak ada رحمة للعالمين
    2. Pandangan yg telah membesarkan zionisme yg dengan senjata satu keyakinan ini budaya islam dihapus dengan mengatas namakan BID’AH
    3. Kurang faham tentang hadits karena hanya memahami satu sudut pandang saja dan itu menandakan bahwa anda berintelejensi rendah dan sangat rendah sekali

  16. Haha satu mustanbath “albani” pantas saja cetek

    • Ohya setahu alfaqier : lulusan mesir memang suka tampil beda ” saya ucapkan selamat ” tapi juga banyak dari mereka yang bahkn lebih memilih cara islah baina an nas untuk mengislamkan orang kafir dan memasyarakatkan ibadah, bukan mengkritik budaya dan ibadah yg cuma berbeda dalam furu’iyah saja
      Semoga maklum

  17. Membacakan surat Yaseen, pada kerabat yg sudah menIggal apakah bagus? Mengingat, arti dari surat tersebut, sepertinya malah akan membuat ‘almarhum’ tidak tenang di alam kubur. Ada banyak doa yg bagus untuk ketenangan almarhum di banding surat Yaseen tsb.

    • bismillah. membacakan surat Yasin untuk orang yg sudah meninggal pada waktu / hari2 tertentu TIDAK BAGUS karena TIDAK ADA TUNTUNANNYA dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Apalagi Al-Quran Al-Karim itu tidaklah diturunkan untuk orang-orang yg telah mati, akan tetapi Allah menurunkannya kepada orang-orang yg masih hidup agar mereka mengambil pelajaran dan hikmah2 yg terkandung di dalamnya, melaksanakan perintah2nya serta menjauhi larangan2nya.

      oleh karena itu, yg wajib kita lakukan adalah beribadah kpd Allah semata dengan mengikuti petunjuk Rasulullah shallalahu alaihi wasallam meskipun sangat sedikit orang yg istiqomah dlm berpegang teguh dgn ajaran beliau, dan sangat banyak orang yg menyelisihi n menentang tuntunan beliau.

      di dlm hadits yg shohih, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
      وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم
      artinya: “Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.”

      dan hendaklah kita yg masih hidup di dunia bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kpd Allah, seperti menjaga sholat 5 waktu, rajin menuntut ilmu agama, membaca Al-quran, dzikir, dan ibadah2 wajib maupun sunnah lainnya, karena disamping kita memperoleh ridho n pahala dr Allah, orang tua kita jg akan mendapatkan pahala amal-amal ibadah yg dikerjakan oleh anaknya, apakah orang tua kita masih hidup atau sudah meninggal dunia. hal ini dikarenakan anak adalah jerih payah orang tuanya sbgmn dikabarkan oleh Rasulullah shallahu alaihi wasallam. wallahu a’lam bish-showab.

  18. Allohumma arrinal haqqan haqqaan warzuqna tibaa ‘atu. Wa arrinal bathiylan bathiylaa warzuqna tunaabatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s