التوبة من الأموال والمكاسب المحرمة (CARA TAUBAT DARI MODAL USAHA YANG HARAM)

Oleh: Muhammad Wasitho, Lc

Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir setiap usaha yang dijalankan oleh para pengusaha atau bisnisman selalu membutuhkan adanya modal, sedikit maupun banyak. Akan tetapi sebagai seorang muslim yang telah menyatakan dirinya beriman kepada Allah dan hari akhir, sudah seharusnya menggunakan modal yang halal dalam menjalankan usahanya, agar senantiasa mendatangkan manfaat dan berkah dari Allah.

Allah telah memerintahkan kepada kita semua agar selalu mencari rezeki dari sumber yang halal. Dan perintah ini banyak ‎terkandung dalam ayat Al-Quran, diantaranya adalah firman-Nya: “Maka makanlah yang baik dari rezki yang telah diberikan oleh Allah kepadamu, dan syukuriklah ni’mat Allah jika kamu benar-benar menyembah-Nya.”‎  (QS. An-Nahl: 114)

Demikian pula di dalam banyak hadits, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan kepada kita agar bekerja dan berusaha mencari rezeki dengan cara yang halal. Diantaranya adalah hadits-hadits berikut:  

عَنْ جَدِّهِ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ ، قَالَ : قِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ ؟ قَالَ : عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ.

  1. Dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ada seseorang bertanya, “Penghasilan apakah yang paling baik, Wahai Rasulullah?” Beliau jawab: “Penghasilan seseorang dari jerih payah tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur.” [HR. Ahmad di dalam Al-Musnad no.16628] yang dimaksud dengan jual beli yang mabrur ialah jual beli yang benar menurut syariat, diterima dan diberi pahala oleh Allah, dan tidak mengandung unsur menipu atau khianat. (Lihat Faidhul Qadir Syarhu Al-Jami’I Ash-Shaghir, karya Abdur Rauf Al-Munawi II/47).

لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh salah seorang dari kalian mencari kayu bakar lalu memikulnya di atas punggungnya itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, lalu ia memberinya atau menolaknya.” (HR. Bukhari no.1470)

إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِى مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

  1. Dari Khaulah Al-Anshariyah radhiyallahu anha, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengelola dan mengambil harta kaum muslimin tanpa hak, maka bagi mereka azab neraka pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118)

Demikianlah perintah Allah dan rasul-Nya kepada kita semua agar bekerja dan berusaha mencari rezeki dengan cara yang halal lagi baik. Sebab yang namanya modal tidak harus berupa uang, tapi bisa juga berbentuk ketrampilan, pikiran positif, tenaga dan lain sebagainya yang dimiliki seseorang dan dimungkinkan dapat menghasilkan uang yang halal, seperti menulis atau menterjemah buku-bukuh Islam yang bermanfaat, mengajarkan ketrampilan dan keahlian kepada orang lain, sebagai pengelola usaha tertentu dengan modal dari investor yang percaya pada kita, atau sebagai kuli (jasa tenaga) dan lain sebagainya. Semua itu dapat mendatangkan penghasilan halal yang dapat kita jadikan modal usaha di kemudian hari setelah kita mengumpulkannya dengan giat dan sabar.

Akan tetapi kalau kita perhatikan di zaman sekarang, tidak sedikit pengusaha yang menjalankan usahanya dengan menggunakan modal yang haram, atau mencari rezeki dengan cara dan profesi yang haram. Mereka kurang atau bahkan tidak sabar menghadapi keadaan sulit yang menghimpit mereka. Mereka lebih suka mengambil jalan pintas dan cepat dalam mengais rezeki untuk memperkaya diri. Sehingga demi terwujudnya impian dan cita-cita menjadi orang yang kaya raya, diantara mereka ada yang menggunakan cara-cara yang diharamkan oleh syariat Islam seperti, korupsi, menipu, mengurangi takaran dan timbangan dalam jual beli, menjual barang-barang haram, bekerja di tempat-tempat maksiat dan berprofesi dengan profesi-profesi haram seperti menjadi penari latar dengan cara vulgar di depan umum, berjoget dan bernyanyi, sebagai model perempuan yang berlenggang lenggok di catwalk dan disaksikan kaum lelaki, sebagai aktor/artis film-film yang mengumbar syahwat, demikian pula para perempuan pendamping tamu di bar, kafe, atau tempat biliar dan sejenisnya. Semua itu adalah contoh perbuatan-perbuatan yang hasil upahnya diharamkan, karena tindakan atau transaksi yang dilakukannya tidak dibenarkan secara syar’i.

Kita dapatkan pula sebagian pengusaha yang lebih memilih mengambil pinjaman uang dari bank-bank, koperasi-koperasi atau lembaga-lembaga keuangan yang konvensional maupun yang berbasis syariah meskipun di dalamnya diberlakukan sistem bunga riba. Dan menjalankan usaha dengan modal dari hasil transaksi riba ini memiliki banyak bahaya dan petaka bagi pelakunya. Apalagi status keharamannya telah jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Allah berfirman: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al Baqarah: 275).

Transaksi riba itu lebih dari tujuh puluh macam jenisnya (sesuai penjelasan hadis

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam). Salah satunya adalah riba ‘bunga bank’.

Allah berfirman pula: “Janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan jalan yang batil” (QS. Al Baqarah: 188).

maksudnya, janganlah kita mengelola dan memperoleh harta kekayaan melalui jalan yang batil, yaitu jalan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Kiranya benar sinyalemen Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dengan sanadnya kepada al-Auza’i: “Akan datang suatu zaman di tengah -tengah manusia di mana mereka menghalalkan transaksi riba dengan nama jual beli (perdagangan)” (Hadits ini Mursal. Disebutkan oleh Ibnul Qayyim di dalam I’lamul Muwaqqi’in III/166)

CARA BERTAUBAT DARI MODAL USAHA YANG HARAM

Lalu bagaimana bila seseorang terlanjur berusaha dan berbisnis dengan modal yang haram sedangkan ia ingin segera bertaubat kepada Allah dan membersihkan dirinya dan harta bendanya dari hal-hal yang haram?

Maka kami katakan, bahwa hal pertama yang wajib baginya sebelum melakukan hal-hal lain adalah bersegera bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha, yaitu dengan memohon ampunan kepada-Nya atas segala dosa yang telah diperbuatnya, menyesalinya dengan sebesar-besar penyesalan dan bertekad bulat untuk tidak mengulanginya kembali di kemudian hari. Hal ini sebagaimana firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim: 8)

Allah Ta’ala berfirman pula:

“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Selanjutnya, agar taubatnya sempurna dan diterima Allah maka hendaknya ia membersihkan kekayaannya dari segala modal dan harta yang diperolehnya dengan cara yang haram. Dan dalam hal ini ada dua permasalahan: 

Permasalahan pertama: Bertaubat dari harta benda atau modal haram yang diperoleh secara zhalim, yakni tanpa seizin atau kerelaan dari pemiliknya seperti pencurian, perampokan, penipuan/penggelapan, korupsi, dan semisalnya.

Untuk bertaubat dalam masalah ini ada dua keaadaan:

Keadaan Pertama: Memungkinkan baginya untuk mengembalikan harta benda atau modal haram tersebut kepada pemiliknya. Maka dalam keadaan seperti ini wajib baginya untuk mengembalikannya kepada pemiliknya atau kepada ahli warisnya jika harta benda tersebut milik individu, dan mengembalikannya kepada pemerintah jika harta benda tersebut milik negara. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

لاَ يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ عَصَا أَخِيهِ لاَعِبًا أَوْ جَادًّا فَمَنْ أَخَذَ عَصَا أَخِيهِ فَلْيَرُدَّهَا إِلَيْهِ

“Janganlah salah seorang dari kamu mengambil harta benda saudaranya baik dengan bercanda maupun serius. Apabila salah seorang dari kamu mengambil tongkat saudaranya maka hendaknya ia mengembalikannya kepadanya.” (HR. Ahmad (no.(17262, Abu Daud (no.4350) dan At-Tirmidzi (no.2086)).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ (رواه البخاري)

Keadaan Kedua: Tidak memungkinkan baginya untuk mengembalikan harta benda atau modal haram tersebut kepada pemiliknya karena telah meninggal dunia atau tidak mengetahui keberadaannya dan keberadaan ahli warisnya padahal sudah berusaha keras mencarinya. Maka dalam keadaan ini hendaknya ia menginfakkan harta benda atau modal haram tersebut dengan mengatas-namakan pemiliknya kepada fakir miskin atau disalurkan ke jalur-jalur yang mendatangkan kemaslahatan bagi kaum muslimin secara umum. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Bertakwalah kamu kepada Allah semampu kamu.” (QS. At-Taghabun: 16)

Dan berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, bahwasanya ia pernah membeli seorang budak wanita dari seseorang, lalu ia masuk untuk mempertimbangkan harganya. Tiba-tiba tuan budak itu pergi, maka ia (Abdullah bin Mas’ud) menunggunya hingga lama sekali dan ia tak kunjung kembali. Maka ia bershodaqoh seharga budak itu seraya berkata, “Ya Allah, pahala shodaqoh ini untuk tuan budak wanita ini, jika ia ridho maka pahalanya untuknya, tetapi jika ia datang (dan meminta harganya, pen) maka pahalanya untukku dan ia memperoleh dari kebaikan-kebaikanku sesuai dengan kadarnya.” (Madariju As-Salikin, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah I/421)

Permasalahan Kedua: Bertaubat dari harta benda atau modal haram yang diperoleh secara suka rela, yakni ia mengambilnya dengan izin dan kerelaan dari pemiliknya, seperti harta atau modal haram hasil transaksi riba, perjudian, bisnis barang-barang haram seperti khamr, narkoba dan semisalnya, upah pelacuran, hasil praktek perdukunan, hasil suap, dan semisalnya.

Untuk bertaubat dalam masalah ini ada dua keadaan pula:

Keadaan pertama: Ketika memperoleh harta benda atau modal haram tersebut ia dalam keadaan tidak mengetahui keharamannya, dikarenakan ia adalah seorang mualaf (baru masuk Islam), atau tinggal di wilayah yang belum terdengar dakwah Islam atau penjelasan tentang larangan-larangan tersebut.

Maka dalam keadaan demikian, ia wajib bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha sebagaimana telah disebutkan di atas, sedangkan harta atau modal haram yang telah ada di tangannya tersebut menjadi halal baginya, dan ia tidak berdosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.(QS. Al-Baqarah: 275-276)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala tidak memerintahkan untuk mengembalikan harta benda yang telah diambil melalui transaksi riba setelah bertaubat. Akan tetapi Dia memerintahkan agar mengembalikan harta hasil riba yang belum diambilnya.” (Al-Fatawa As-Sa’diyah hlm. 303)

Dan Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini: “Dari ayat yang mulia ini dapat diambil pelajaran bahwa Allah tidak menyiksa seorang manusia disebabkan melakukan suatu perkara kecuali setelah Dia mengharamkannya. Dia telah menerangkan makna ini dalam banyak ayat Al-Qur’an. Allah berfirman tentang orang-orang (para sahabat, pen) yang pernah minum khamr dan memakan harta hasil perjudian sebelum turunnya ayat yang mengharamkannya:

Tidak berdosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan tentang apa yang mereka makan (dahulu), apabila mereka bertakwa dan beriman, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman.” (QS. Al-Ma-idah: 93)

Demikian pula Allah berfirman tentang orang-orang yang menikahi mantan istri ayah mereka sebelum turunnya ayat yang mengharamkannya, mereka tidak berdosa.

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa’: 22-23).

Dan Allah berfirman tentang orang-orang yang membunuh hewan buruan ketika sedang ihram (haji atau umroh), mereka tidak berdosa tatkala melakukannya sebelum mengetahui keharamannya.  (baca QS. Al-Ma-idah: 95)

Dan dalil yang paling jelas adalah firman Allah:

Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan[663] suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taubah:115)

Maksud ayat ini, seorang hamba tidak akan diazab oleh Allah semata-mata karena kesesatannya, kecuali jika hamba itu melanggar perintah-perintah yang sudah dijelaskan. (Lihat Adhwa-ul Bayan I/188)

Keadaan Kedua: Ketika ia memperoleh harta benda atau modal haram tersebut dalam keadaan telah mengetahui keharamannya dan mengerti bahwa muamalah dan perbuatan-perbuatan tersebut tidak diperbolehkan dalam agama Islam.

Maka dalam keadaan seperti ini, di samping berkewajiban bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha, ia juga berkewajiban untuk menyalurkan semua harta atau modal haram yang ada dalam kepemilikannya tersebut kepada fakir miskin atau untuk kepentingan-kepentingan umum bagi kaum muslimin. Dan hal itu bukan termasuk shodaqoh tathawwu’ (sunnah), tetapi termasuk dari upaya menyelamatkan apa yang diharamkan Allah, sebagai sarana menyucikan dirinya dan hartanya dari penghasilan yang tidak sesuai dengan syari’at Allah.

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Para ulama kita berkata: Sesungguhnya cara bertaubat bagi orang yang di tangannya terdapat harta yang haram, jika dari hasil riba, maka hendaklah dia kembalikan kepada yang telah dia ambil ribanya. Ia harus mencari orang tersebut jika dia tidak mengetahui keberadaannya. Jika ia telah putus asa (setelah berusaha keras) untuk menemukannya, maka hendaklah ia sedekahkan harta tersebut atas nama orang itu. Jika ia mengambilnya dengan cara dzalim, maka hendaklah ia melakukan hal yang sama terhadap orang yang pernah didzaliminya. Jika tersamarkan olehnya, sehingga dia tidak mengetahui berapa jumlah harta yang haram dibanding yang halal yang ada di tangannya, maka hendaklah ia berusaha mengetahui kadar apa yang ada di tangannya dari harta yang harus dikembalikannya, sampai dia tidak ragu lagi bahwa apa yang tersisa di tangannya telah bersih. Lalu dia kembalikan harta yang telah dia pisahkan dari miliknya tersebut kepada orang yang pernah dia dzalimi (hartanya) atau yang dia ambil riba darinya. Jika telah putus asa dalam mencari orang tersebut, maka dia bersedekah dengan harta tersebut atas nama orang itu.
Jika telah menumpuk kedzaliman yang ada dalam tanggungannya dan dia mengetahui bahwa dia wajib mengembalikan sesuatu yang dia tidak mampu membayar selamanya karena demikian banyak jumlahnya, maka cara bertaubatnya adalah dia melepaskan (menginfakkan) semua harta yang ada di tangannya, baik kepada orang-orang miskin atau kepada sesuatu yang mendatangkan kemaslahatan bagi kaum muslimin. Sampai tidak ada lagi yang tertinggal di tangannya kecuali yang paling minimal berupa pakaian yang dapat menutupinya dalam shalat. Yaitu yang menutup auratnya, antara pusar sampai lututnya. Juga yang mencukupi kebutuhan makanannya dalam sehari, karena itulah yang boleh baginya untuk dia mengambil dari harta orang lain dalam kondisi darurat, walaupun orang yang diambil barangnya tersebut merasa benci.” (Lihat Tafsir Al-Qurthubi dalam menjelaskan ayat ini dalam permasalahan yang ke-36)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang meninggal yang di masa hidupnya dia bermuamalah dengan cara riba. Apakah ada cara yang syar’i bagi kerabatnya yang hidup dan ingin menebus dosanya yang meninggal?
Beliau menjawab: “Disyariatkan bagi ahli warisnya agar menentukan secara teliti kadar yang masuk ke dalam hartanya dari hasil riba lalu dia sedekahkan atas nama yang meninggal dan mendoakannya dengan memohon ampunan baginya.” (Lihat Al-Fatawa Al-Islamiyyah, II/387, yang disusun oleh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad)

Dan sebelum kami akhiri tulisan ini, kami sampaikan sebuah hadits yang dapat menghibur dan memotivasi kita untuk segera bertaubat dari modal usaha yang haram. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

من ترك شيئاً للّه عوضه اللّه خيراً منه

Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena (takut azab) Allah, maka Allah akan memberinya ganti yang lebih baik.” (HR. Ahmad no.20739)

Dan imam Malik meriwayatkan dari sebagian istri salafus shalih yang selalu mengingatkan suami mereka setiap akan keluar rumah untuk mencari nafkah dengan bisikan, “kami mampu bertahan menahan kelaparan, akan tetapi kami tidak mampu bertahan memakan neraka Allah”. (Lihat Subulussalam, Ash-Shan’ani ).

Wallahu a’lam bish-showab.

[Sumber: Majalah Pengusaha Muslim volume I no. 3 , Maret 2010]

48 responses to “التوبة من الأموال والمكاسب المحرمة (CARA TAUBAT DARI MODAL USAHA YANG HARAM)

  1. Assalamu’alaikum Ustadz.
    Ana sangat sepakat dengan apa yang Ustadz tulis. Menurut apa yang mampu ana amati, kendala yang paling urgen bagi seorang muslim saat ini apalagi seorang yang sudah ngaji adalah masalah modal usaha yang halal untuk memulai sebuah usaha, termasuk ana sendiri. Peluang yang sangat prospektif dan menjanjikan ada di hadapan mata namun seringkali pada kondisi keuangan yang tidak memungkinkan untuk mengambilnya, lagi-lagi terbentur modal. Ana sudah menghubungi Ustadz di sana sini saking inginnya mendapatkan modal yang halal namun sampai saat ini ternyata persoalan mereka juga sama. Sampai ana terfikir “kok sulit sekali cari Ustadz Sunnah yang kaya” yang membuka peluang kepada ikhwan-ikhwan untuk meminjam modal syar’i.Atau, apakah karena ana yang belum ketemu-ketemu. Ketika membaca artikel semacam ini, sangat besar harapan ana bahwa idealisme untuk mendapatkan sesuatu yang halal dalam berusaha akan sangat mudah tidak diindahkan tatkala tidak diiringi dengan solusi nyata untuk terhindar dari sesuatu yang haram dalam hal ini modal (uang ). Mungkin banyak yang tau bahwa bunga yang berbahaya itulah riba’ namanya, pada saat yang sama sebuah pertanyaan besar “SIAPA YANG MAMPU MEMBERIKAN SOLUSI SEDINI MUNGKIN”? Saya berharap Ustadz lah salah satu figur yang akan menjawab pertanyaan besar itu ( solusi kongkrit berupa modal bukan teori ). Semoga Alloh Ta’aala memudahkan dan menguatkan kita untuk menjadi hambaNya yang solutif syar’iyyah.Jazakallahu Khoirol Jaza’.Afwan Jiddan bila kata-kata ana ada yang kasar atau keluar dari kaidah-kaidah seorang tholab kepada Ustadznya.Wassalamu’alaikum.

  2. mf sy bru ngopi-ngopi dulu . jd blm bs koment.

    • iya ga apa2, silakan ngopi-ngopi (bukan saudaranya teh 🙂 ) dlu , yg penting bs ambil manfaatnya, trs diamalkan dan disebarkan kpd org lain.
      smg mnjadi amal sholin n diberi pahala. amiin..

  3. Alhamdulillah… nemu jawaban…
    Jazakumullah kher penjelasannya ustadz…

  4. Assalamu’alaikum, ustadz, bagaimana bila harta haram atau syubhat itu telah dipakai usaha dan usahanya berkembang dengan pesat apakah taubatnya dengan melepas semua modal awal beserta untungnya dan perkembangannya atau bagaimana? mohon penjelasannya.

    • WA’ALAIKUMSALAM WARAHMATULLAH,
      DI DALAM ARTIKEL TSB, KAMI MEMBEDAKAN CARA TAUBAT DARI MODAL YG HARAM ANTARA ORANG YANG TELAH MNGETAHUI (BERILMU) DAN ORANG YANG BODOH TENTANG KEHARAMAN MODAL TSB.
      KAMI HARAP ANTUM BACA SEKALI LAGI PEMBEDAAN TSB.
      BAROKALLAHU FIKUM, SEMOGA ALLAH MEMERKAHI ANTUM SEKELUARGA N HARTA ANTUM.

  5. Jazaakallah khorion ustad.
    Sungguh menginspirasi dan bermanfaat buat kami, yg kebetulan jg bermuamalah langsung dlm permodalan usaha baik dg bank konvensional maupun syariah. Kami sdh merasakan bagaimana bekerjasama dg mereka.
    Bagaimana saat kita mendatangkan rupiah dlm pundi pundi mereka dan bagaimana saat aliran rupiah itu terkendala, yah namanya bisnis terkadang ada masalah. Di situlah, kami baru tahu detailnya dan ambil hikmahnya, Allah telah bukakan mata hati kami. Ditambah lagi dg bertambahnya ilmu ttg perniagaan dan perbankan syariah yg kami pernah hadiri suatu seminar KPMI, dimana salah satu pematerinya Ustadz Arifin Badri. Maka makin memantapkan tekad kami utk meninggalkan itu semua…
    Smg Allah memberi kami kemudahan dan kekuatan utk meninggalkan itu semua. Karena teramat berat sekali meninggalkannya apa lagi dlm kondisi sistem ekonomi saat ini. Setiap kita melek saja terkadang sudah harus berhadapan dg praktek2 spt ini.
    Pelan pelan kami sekuat tenaga berusaha utk itu, dan berkeyakinan, persis dg hadist di atas : “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena (takut azab) Allah, maka Allah akan memberinya ganti yang lebih baik.” (HR. Ahmad no.20739)
    Kami berkeyakinan Allah sdg proses membersihkan harta dan diri kami, dan kami ikhlas utk itu. Utk case spt akhi Irvan, kami juga mengalaminya, bahkan hingga saat ini. Ketika banyak prospek, dan bertekad tdk ambil modal lagi dari perbankan, ini suatu dilema yg luar biasa. Di sinilah setan terus menggoda. Namun kuncinya satu : doa, tekad, terus ikhtiar dan sabar.
    Kami teringat inspirasi dari seminar itu, utk menghindari perbankan yg tdk syar’i, disarankan berserikatlah dalam permodalan antar sesama. Dan alhamdulillah, jika Allah sdh tentukan waktunya, insya Allah akan datang juga pertolongan Nya. Alhamdulillah Allah telah menggantinya. Modal yg tadinya kami ambil dari perbankan, sekarang kami dapatkan dari modal sendiri ditambah dari keluarga, saudara dan teman teman, bahkan tetangga. Kami bikin sistem bagi hasil dari keuntungan yg diperoleh, proposional dg setoran modalnya. Yah sperti serikat modal atau apalah namanya (Baitul Maal ? insya Allah ). Bahkan dari saudara ada yg tdk mau mendapat bagi hasil, hanya sbg pinjaman murni. Mereka sdh cukup bersyukur bisa membantu apalagi melihat niat kami. Subhanallah…
    Kami hanya terus berdoa, ya Allah hindarkan kami dari praktek riba dan jagalah kami agar tetap amanah… Andaikan iman kami blm cukup kuat utk menghadang godaan setan yg terus menerus datang dari segala penjuru, jagalah kami. Hanya bantuan, ridho dan rahmat Mu yg bisa menyelamatkan kami…
    “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena (takut azab) Allah, maka Allah akan memberinya ganti yang lebih baik.” (HR. Ahmad no.20739)
    Baarakallahu fiikum,
    Wassalamualaikum

  6. Nau’zu billah min dzalik!

  7. Terima kasih ustadz. Semoga dapat mengingatkan dan memotivasi orang-orang awam seperti saya untuk berusaha di jalan yang di ridhoi Allah.
    Sungguh jika sampai saat ini jika belum tersampaikan, pasti ada rahasia kebaikan yang diinginkan Allah untuk kita dapatkan. Insya Allah..

  8. Ya sekarang Ustadz Abu Fawaz buka dong PERMODALAN SYARIAH.

    • bismillah, bagi seorang muslim yg menghendaki rezeki / penghasilan yang halal n berkah ketika hendak menjalankan usaha tertentu maka tidak semestinya mencari modal dengan cari pinjam atau hutang kepada orang lain atau bank atau lembaga keuangan tertentu, apalagi jika terkandung di dalamnya unsur riba atau apapun namanya. sebab berhutang bukanlah satu-satunya cara/jalan utuk berusaha, akan tetapi di sana masih banyak jalan lain yg dihalalkan dan diperintahkan oleh Allah n rasul-Nya, spti bekerja pd orang lain dgn ilmu, keahlian / ketrampilan yg dikuasainya, atau sekalipun harus mnjadi pekerja keras dgn tenaganya. stlh brp waktu ia kumpulkan hasilnya, ia bisa memulai usaha dg modalnya sendiri yg jelas2 halal n berkah. yg demikian ini lebih mulia di hadapan Allah dan lebih berwibawa di hadapn manusia daripada meminta-minta pinjaman atau hutang. semoga Allah memudahkan segala urusan dunia n akhirat kita, n menjauhkan kita semua dari segala hal yg dimurkai-Nya, amiin.
      wallahu a’lam bish-showab.

  9. Masya Alloh… Allohu yahdina.. Amin… Kalau boleh tau, apa usaha Ustadz Abu Fawaz?

  10. Abu Abdurrahman Fadhlan

    ijin share akh …
    Artkel nya bagus, khususnya kutipan penutup, ana rasakan beratnya bagi ana untuk menjauhi riba terutama tuk berhutang di bank…..

    • iya, silakan akhi, smg mnjadi ilmu yg bermanfaat n amal yg sholih. wa jazakumullah khoiron ats kunjungan dan komentarnya pd blog dakwah kami.

  11. Assalamualaikum ustadz, bagaimana dengan barang2 untuk keperluan pribadi seperti baju, sepatu dll yang dibeli dengan uang hasil riba/haram, apakah bisa diganti dengan harta halal seharga barang tersebut lalu uangnya disedekahkan dgn niat berlepas diri dari harta haram?

    • Waalaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh.
      jika anda membeli barang2 tsb dalam keadaan belum mengetahui dan memahami hukum riba dengan berbagai macamnya, maka anda tidak diwajibkan membebaskan atau menginfakkan barang2 tsb atau seharganya, karena Allah memberikan maaf kpd orang yg melakukan kesalahan akibat ketidaktahuannya atau blm smpai padanya hujjah/pnjelasan tentang keharamannya.
      Adapun jika anda membelinya setelah mngetahui hukum haramnya riba, maka anda wajib bertaubat kpd Allah dngan mbebaskan diri anda dari barang2 tsb atau boleh jg dengan mngeluarkan harganya dari harta anda yg halal. Dan hendaknya disalurkan untuk hal2 yg mngandung kemaslahatan secara umum bagi manusia, tanpa ada niat bersedekah dan mngharapkan pahalanya. wallahu a’lam bish-showab.

    • iya silakan di-share. semoga mnjadi ilmu yg bermanfaat dan amal yg sholih bagi yg menulis, membaca dan mnyebarluaskannya. amiin ya Robbal ‘alamin.

  12. ya Allah…….gimana ya ustadz caranya lepas dari lilitan hutang……artikel ini pas banget dengan keadaan saya sekarang…..sampe malu rasanya…suami saya susah sekali dinasehati untuk tidak berhutang….

    • Ibu yg semoga dirahmati Allah, ada beberapa kiat/cara agar terbebas dari lilitan hutang, diantaranya:
      1. Mengetahui dan memahami bahaya utang piutang di dunia maupun akhirat menurut pandangan Islam.
      2. Mengetahui dan memahami bahwa untuk melakukan bisnis atau membuka suatu usaha tidak harus menggunakan pinjaman modal (utang) dr org lain atau lembaga keuangan.
      3. Tidak berhutang kpd orang lain untuk keperluan apapun kecuali dlm kondisi darurat, seperti jika tidak hutang maka akan kelaparan, atau binasa, atau sakitnya semakin parah, atau bahkan mnyebabkan kematian.
      4. Tidak membelanjakan harta yg dimiliki secara boros atau berlebihan sehingga mengakibatkan defisit keuangan.
      5. Bekerja atau mencari nafkah dengan giat dan niat yg baik, seperti mngharapkan pahala dr Allah dan bertujuan mnjalankan kewajiban menafkahi keluarga. sebab malas dlm bekerja sering kali membuat seseorang berhutang dan bersandar kpd orang lain.
      6. Bertakwa kepada Allah dengan menjalankan perintah2-Nya dan menjauhi larangan2-Nya, krn takwa merupakan sebab dilapangkannya rezeki dan dimudahkannya segala kesulitan oleh Allah.
      7. Banyak berdoa kpd Allah agar dibebaskan dr lilitan hutang.
      wallahu a’lam bish-showab.

  13. Assalamualaikum ustadz, lantas bagaimana dgn sisa hutang ribawi yg blm dilunasi? Apakah tetap hrs dilunasi atau tdk? Jk tdk nanti malah dikejar2 debt collector yg ganas. Syukron.

    • waalaikumsalam. jika masih ada sisa hutang ribawi yg blm dilunasi, maka anda melunasinya dlm keadaan terpaksa dan tidak ridho dg transaksi tsb, dan disertai perasaan mnyesal dan bertekad bulat untuk tidak mngulanginya kembali di waktu mndatang. jika anda melakukannya dlm keadaan demikian mk anda tidak berdosa, insya Allah. wallahu a’lam bish-showab.

  14. Artikel sudah cukup lama terbuka dan semua komentar masih mengalir hingga setahun lamanya. Mungkin tulisan seperti ini dan solusinya perlu disebar luaskan di tiap-tiap tempat kajian. Boleh minta ijin bertemu dengan antum untuk bicarakan lebih detail.

  15. Afwan ustadz, ana dah baca artikelnya tp blm faham, dg keuntungan dr modal riba. Yang ana baca yg dikembalikin adl keuntungan riba (kita meminjamkan dan dapat kelebihan pengembalian). Sedangkan kentungan dari usaha yg halal namun modalnya pinjaman riba tdk ada keterangan.

  16. Assalamu’alaikum ustad, Subhanallah artikelnya sangat membantu dalam membedakan antara yg hitam dan putih,antara riba dan bagi hasik,sekiranya saya mau menanyakan sebuah persoalan yg sedang saya hadapi dan saya bingung,begini ustad,saya alhamdulillah memiliki sebuah usaha yg telah berjalan,dan menghasilkan nafkah bagi keluarga dan para pekerja kami, saat ini ada seorang kerabat yg tertarik untuk ber-investasi di usaha kami,yg menjadikan kebingungan bagi kami adalah uang yg akan di investasikan adalah hasil tabungan dari kerabat kami selama ia bekerja di kapal pesiar,dimana ia bekerja di BAR, apakah uang yg akan di investasikan tersebut tergolong harta halal atau haram karena didapatkan dari bekerja di BAR kapal pesiar.
    Sesungguhnya kami sangat bingung,di satu sisi kami takut tidak berkahnya harta benda kami di kemudian hari, di sisi lain kami ingin membesarkan usaha kami.

    Mohon petunjuk dari ustad agar kami tidak salah langkah,terima kasih sebelumnya
    Wasalamu’alaikum

    • wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.
      Orang yg pekerjaannya haram atau bekerja di tempat yg haram ada dua keadaan.
      keadaan pertama: Seorang yg tidak mngetahui bahwa profesi/pkerjaan yg dijalankannya adalah dilarang dalam Islam, maka selagi dia tidak tahu dan blm smp padanya ilmu/penjelasan ttg hukum profesinya tsb, maka pnghasilannya halal.

      keadaan kedua: Seorang yg berprofesi haram atau bekerja di tempat yg haram dan dia telah mngetahui bahwa profesinya itu dilarang dalam Islam, maka hukum penghasilannya haram.
      dengan demikian, jika org tsb trmasuk dlm keadaan kedua maka tidak boleh bagi anda menerima tambahan modal dari penghasilannya itu. krena akan mnyebabkan berkurang atau hilangnya keberkahan rezeki, dan menimbulkan mudharat serta dimurkai oleh Allah.

      tpi jika termasuk keadaan pertama maka hukumnya tidak apa2 dgn syarat dia telah bertaubat kpd Allah dgn berhenti dr profesi haram tsb, dan anda juga berkewajiban menasehatinya agar mncari pekerjaan halal yg diridhoi Allah. wallahu a’lam bish-showab.

  17. Assalamu’alaikum Ustadz,
    Bagaimana jika majikan kita adalah orang kafir? Dan bolehkan mengembalikannya dengan cara diam2 (transfer ke rekening), sebab ada kemungkinan jika dikembalikan secara terang2an dikhawatirkan akan diperkarakan ke pihak yang berwajib?
    Jazakallahu khairan.

    • Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.
      Maaf pertanyaan anda blm jelas bagi saya. tapi jika anda sebagai karyawan di suatu perusahaan milik orang kafir atau bekerja pada orang kafir di bidang usaha yg halal, maka upah atau gaji bulanan yg anda terima darinya adalah halal, tidak perlu dikembalikan, tapi silakan anda memanfaatkannya untuk kebutuhan hidup anda.

      akan tetapi jika pekerjaan yg anda jalankan adalah pekerjaan yg diharamkan dalam Islam, maka penghasilan atau gaji bulanan yg anda terima hukumnya haram, baik itu majikan anda kafir ataupun muslim. sehingga dengan demikian anda tidak boleh melanjutkan kerja padanya.

      sedangkan gaji/penghasilan yg anda terima dr pekerjaan yg haram sebelum anda mngetahui bhwa pkerjaan tsb haram, maka hukumnya halal atau boleh anda gunakan untuk kebutuhan hidup anda.
      adapun jika anda telah mngetahui hukum pekerjaan tsb haram, lalu anda dengan sengaja dan sadar bekerja dg pkerjaan haram tsb, maka gaji/pnghasilan yg anda terima hukumnya haram, harus disalurkan untuk kepentingan umum sperti perbaikan atau penerangan jalan umum, pmbuatan jembatan atau sumur atau wc umum, dan selainnya. tapi anda tidak diharuskan mngembalikannya kpd majikan anda yg kafir jika memang permasalahan yg anda tanyakan sbgmna yg sy terangkan. wallahu a’lam bish-showab.

  18. Afwan ustadz, maksud ana jika seseorang bekerja di perusahaan swasta non muslim yang Insya Allah halal, kemudian dia korupsi. Lalu ingin bertaubat, jika dia mengembalikan secara terang2an dikhawatirkan akan dilaporkan ke polisi, apa yang harus dia lakukan? bolehkan dengan cara yg ana sebutkan di atas?

    Jazakallahu khairan

    • iya boleh, insya Allah, karena niat dan tekad bulat untuk taubat dari harta hasil korupsi tsb telah terlaksana, yaitu dikembalikan kepada pemiliknya tanpa menimbulkan mudharat bagi dirinya. dan yang demikian ini sama halnya dengan orang yang telah berbuat ghibah (menggunjing dan menikam) terhadap kehormatan orang lain, cara taubatnya dengan meminta maaf secara langsung (berterus terang) kpd org yg dighibahi, dan menyebutkan kebaikan2nya dihadapan orang2 yg pernah mndengarkan ghibahnya, disamping dia jg banyak istighfar kpd Allah. akan tetapi jika dengan meminta maaf secara langsung (terus terang) kpd orang yg dia gunjing dikhawatirkan akan timbul mudharat, sperti terputusnya hubungan kekerabatan, atau persauadaraan, maka menurut pendapat sbgian ulama, dia cukup bertaubat kpd Allah dg melakukan apa yg telah kami sebutkan di atas tadi tanpa meminta maaf scra langsung. wallahu a’lam bish-showab.

  19. ustadz, bagaimana dengan uang yang didapat dari pegawai negeri sipil didepartemen keuangan? Apakah itu juga haram? Dan bagaimana dengan istri yang bekerja sebagai pegawai pajak?
    Syukron

    • Gaji/penghasilan dari bekerja sbagai PNS di departemen keuangan termasuk penghasilan yg HALAL, insya Allah, jika ia tidak melakukan korupsi atau pelanggaran2 lainnya menusut syariat Islam.
      Adapun penghasilan/Gaji dari bekerja di kantor perpajakan maka termasuk yang diHARAMkan. maka dr itu, sebaiknya bagi istri atau selainnya, untuk mencari profesi atau lapangan pekerjaan lain yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya agar penghasilan/gaji yg didapat mnjadi halal dan diberkahi oleh Allah Ta’ala.
      untuk lebih jelas dalam memahami masalah perpajakan, silakan baca di artikel kami dengan judul: HUKUM PAJAK DALAM FIQIH ISLAM

  20. tanya lagi ustadz, gimana kalo misalnya kita udah tau kalau modal dari bank itu subhat ato haram, tapi tetap mengambilnya karena terpaksa melihat peluang didepan mata, dan sudah terlanjur uangnya digunakan untuk modal usaha, jika ingin bertaubat apakah harus mengeluarkan modal awal atau keseluruhan omset?

  21. Assalamualaikum ustadz, bagaimana dengan barang yang dibeli dengan uang haram dan kita mengetahui keharamannya sejak awal. Jika semua yang berbentuk uang sudah dikeluarkan, bolehkah barang yang kita beli waktu itu digunakan dulu sebagai alat usaha baru yang halal (misal komputer & kendaraan) baru setelah usaha/ kerja yg baru menghasilkan dikeluarkan uangnya seharga barang tsb?
    terima kasih..
    Wasalamu’alaikum

    • Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh
      jika seseorang muslim telah memiliki ilmu akan keharaman uang yang dia miliki dan mempergunakannya untuk suatu modal usaha atau membeli barang2 halal, maka apa saja yg dihasilkan darinya berupa keuntungan adalah hukumnya sama dengan modalnya, yaitu tetap haram. maka jika ia ingin segera bertaubat kepada Allah dari hal2 yg haram tsb, bisa dengan mengeluarkan sejumlah modal haram beserta keuntungannya dan menyalurkannya utk kemaslahatan umum tanpa niat mncari pahala dari Allah karena itu uang haram, dan Allah tidak menerima sedekah dari hamba-Nya kecuali yg baik-baik dan halal. atau jika sudah dlm bentuk barang sperti komputer dan kendaraan maka bisa dikeluarkan dengan nilainya saja. kalau sulit menghitung secara tepat brp jumlah modal haram yg ia gunakan utk suatu usaha, maka sbgmn fatwa para ulama, yaitu dngan memperkirakannya sj.

      kemudian yg harus dipahami, bhw ketika ia telah sadar dan ingin membebaskan diri dari harta atau modal yg haram, semestinya ia segera melaksanakan taubatnya, dan janganlah menunda-nundanya atau menunggu barang atau modal tsb mnghasilkan keuntungan lalu stlh itu mngeluarkan nilainya. ini tidak dibenarkan, karena hasilnya itu jg haram, shingga ia dianggap blm mbebaskan diri dari modal atau barang harap tsb.

      Adapun jika seseorang muslim mendapatkan uang haram dlm keadaan blm tau hukumnya, kmdian stlh dia kelola dan berkembang bgtu banyak, lalu dia mndapat ilmu dan hidayah bhwa apa yg ia miliki dan ia kelola adalah modal yg diperoleh dg jalan yg haram, maka semua yg ada di tangannya tetap halal dan tidak ada perintah atau anjuran utk mngeluarkannya dan mnyalurkannya utk hal2 yg mngandung kemaslahatan umum. wallahu a’lam bish-showab.

  22. Assalamu’alaykum ustadz,

    afwan ana cari di software musnad ahmad no 20739 bukan itu bunyi haditsnya..
    mohon penjelasannya ustadz, barangkali ana salah ..syukron

    • Waalaikumsalam warohmatullah wabarokatuh
      Akhi/ukhty fillah, untuk masalah nomor hadits atau juz dan halaman kitab sering terjadi perbedaan antara satu penerbit dengan penerbit yg lain. Maka untuk membuktikannya dengan memperhatikan kitab, judul bab dan lafazh haditsnya berikut sanadnya juga kalau ada. Karena 3 hal ini tdk akan berubah mskpun beda penerbit.
      Jazakumullah khoiron atas kunjungan, komentar dan koreksinya. Wa barokallahu fikum.

  23. atau lihatnya di versi penulisan musnad yg salah ya ana? yg jadi referensi tulisan di atas versi ihya at turats atau syaikh al Maimuniyah atau al alamiyah?
    syukron

  24. kalau berjualan emas secara online bagaimana? sistemnya pembeli mentransfer uang kepada penjual, kemudian oleh penjual emasnya dikirimkan ke pembeli lewat kurir atau jasa pengiriman. Syukron

  25. ustd ana mau tanya, kalau harta haram yg diambil 100 jt, trus kepakai semua, sekarang org tsb mau tobat, sedangkan seluruh hartanya cuma 50 jt. bagaimana cara tobatnya ? Jazakallahu khairan

  26. apakah dibenarkan seorang anak melacur dan memakai hartanya untuk orang tuanya yang sedang sakit dan mempunyai banyak hutang karna mereka hanya berekonomi rendah?

  27. asalamualikum ustad sy sekarang kerja di bank dan insa ALLAH pingin keluar bagaimana dengan tabunganan saya yg di dapat dari gaji saya apa bisa di pakai buat modal usaha atau tidak ? hukum ya gimana kalau di pakai….?

  28. jazakumullahukhairan atas artikelnya yang sangat bermanfaat, tapi gimana dengan saya yang bekarja di koperasi konvensional

  29. Ping-balik: CARA TAUBAT DARI MODAL USAHA YANG HARAM | Al Ghurabah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s