Jeritan Hati Sang Pegawai Negeri

Dijawab oleh: Muhammad Wasitho, Lc

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,

Ustadz, saya seorang pemuda berusia 22 tahun. Saya bekerja pada sebuah kantor pemerintahan. Saya merasakan setidaknya dua fitnah besar.

1. Mana yang harus didahulukan, membantu perekonomian keluarga dan mendakwahi keluarga atau menikah?

Jawaban:

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,

Saudaraku seislam, sesungguhnya agama Islam adalah agama yang sempurna dalam mengatur segala aspek kehidupan manusia. Tiada suatu apa pun yang mengandung kebaikan dan mendatangkan maslahat dan manfaat bagi manusia melainkan Islam telah memerintahkannya. Dan sebaliknya, tiada suatu apa pun yang mengandung keburukan dan mendatangkan mafsadat dan madharat (kerusakan dan bahaya) bagi manusia melainkan Islam telah melarangnya. Namun apabila maslahat dan mafsadat terkumpul dalam satu perkara yang mesti dihadapi oleh seorang muslim dan keduanya tidak dapat dilaksanakan secara bersamaan dan bahkan saling berbenturan, maka sikap yang benar dan sesuai dengan kaedah fiqih Islam adalah mengambil yang paling besar dan dominan diantara keduanya. Jika maslahat dan kebaikan lebih besar daripada mafsadat dan keburukan yang ada dalam satu perkara, maka hendaknya ia mengambil dan merajihkan maslahat dan kebaikan. Demikian sebaliknya, bila mafsadat dan keburukan lebih besar dan dominan daripada maslahat dan kebaikannya, maka hendaknya ia melakukan pencegahan terhadap mafsadat dan keburukan tersebut. Sedangkan permasalahan yang sedang anda hadapi adalah antara maslahat membantu perekonomian dan mendakwahi keluarga, dan mafsadat dan bahaya yang akan timbul akibat menunda pernikahan di saat anda sangat membutuhkannya. Manakah diantara kedua hal ini yang lebih didahulukan? Maka kami katakan, apabila kedua hal tersebut dapat dilakukan secara bersamaan, maka inilah yang lebih baik dan utama. Karena telah terbukti adanya sebagian kaum muslimin yang telah menikah dan mereka pun masih sanggup membantu perekonomian dan memberikan bimbingan Islam kepada keluarga mereka. Apalagi menikah bukan merupakan penghalang utama untuk berdakwah kepada ajaran Islam dan kendala untuk membantu perekonomian keluarga. Namun apabila anda merasa tidak mungkin menggabungkan antara keduanya, maka hendaknya anda melihat dan menimbang terlebih dahulu antara maslahat dan mafsadat yang ada pada kedua perkara yang sedang anda hadapi tersebut. Jika dengan menunda pernikahan anda merasa khawatir akan terjerumus ke dalam perbuatan keji dan mungkar, maka hendaknya anda segera menikah dan mendahulukannya daripada maslahat membantu perekonomian dan mendakwahi keluarga karena menjaga kehormatan bagi seorang muslim adalah hukumnya fardhu ‘ain, sedangkan hukum asal berdakwah adalah fardhu kifayah. Dan di dalam syariat Islam ditetapkan bahwa segala perbuatan yang hukumnya fardhu ‘ain derajatnya lebih tinggi dan harus didahulukan daripada segala perbuatan yang hukumnya fardhu kifayah. Akan tetapi bila dengan menunda pernikahan anda tidak merasa khawatir akan timbul mafsadat yang besar dan bahkan masih mampu mengendalikan hawa nafsu, maka membantu perekonomian dan mendakwahi keluarga anda lebih diutamakan daripada menikah. Apalagi bilamana mereka belum memahami akidah tauhid dengan benar, bodoh tentang perkara-perkara pokok ajaran Islam dan bahkan telah terjerumus ke dalam berbagai bentuk kesyirikan, maka perkara ini lebih ditekankan lagi untuk anda prioritaskan dari yang lainnya karena ini merupakan perkara yang tidak boleh ditunda-tunda untuk mendakwahkannya.

2. Apakah saya sudah pantas menikah sementara saya masih sibuk dengan pekerjaan, terkadang masih bersikap kekanak-kanakan dan sering bercanda dengan teman-teman?

Jawaban:

Saudaraku –semoga Allah merahmatimu-, agama Islam yang kita bangga dan merasa mulia dengannya menganjurkan kepada kita semua yang telah memiliki al-ba-ah (kemampuan memberikan nafkah dan jima’) agar segera menikah. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam (artinya): “Wahai segenap pemuda, barangsiapa diantara kamu yang telah memiliki al-ba-ah (kemampuan memberikan nafkah dan jima’) maka menikahlah, karena nikah itu lebih dapat menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa itu dapat membentengi dirinya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

Di dalam hadits ini, Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan umatnya agar segera menikah dan beliau menggantungkannya dengan adanya al-ba-ah (kemampuan memberikan nafkah dan jima’). Beliau tidak mensyaratkan kepada orang yang hendak menikah agar meluangkan sebagian besar waktunya hanya untuk ilmu, terbebas dari sifat kekanak-kanakan dan tidak pernah bercanda. Akan tetapi sebagai seorang muslim yang mengaku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan memahami perkara agamanya yang bersumber dari Al-Qur’an Al-Karim dan Al-Hadits Ash-Shahih dengan pemahaman generasi pertama umat Islam yang shalih, menghiasi dirinya dengan akhlak mulia dan menjauhi segala sikap dan akhlak yang buruk, baik sebelum maupun sesudah menikah. Jadi, keadaan yang anda sebutkan bukan sebagai penghalang atau hambatan untuk menikah.

3. Bagaimana cara nyata mencari calon isteri yang benar-benar syar’i?

Jawaban:

Islam adalah agama yang bersifat universal, mencakup segala aspek kehidupan manusia. Tidak ada satu masalah pun melainkan Islam telah menjelaskannya dengan gamblang. Termasuk di antaranya adalah masalah bagaimana seorang muslim mencari calon istri sholihah. Berikut ini penjelesan langkah-langkahnya secara singkat:

1.Mencari calon istri di tempat-tempat yang baik dan dari keluarga yang sholih.

Anda bisa mencarinya sendiri atau dengan meminta bantuan kepada orang lain yang dapat anda percaya akan ketakwaan dan kejujurannya agar ia mencarikan calon istri sholihah bagi anda. Hal ini bisa dilakukan dengan mendatangi pondok-pondok pesantren putri dan menyampaikan maksud kedatangan anda atau orang yang anda percaya kepada para pengasuh atau penanggung jawab pondok pesantren tersebut. Atau kalau dimungkinkan, bisa juga dengan cara mendatangi rumah para orang tua yang nampak sholih dan diketahui memiliki anak-anak perempuan yang sholihah. Akan lebih diharapkan lagi bila anda atau orang yang anda percaya untuk mencari calon istri bagi anda telah mengenal mereka (para orang tua/wali) dan mereka pun mengenal anda atau orang kepercayaan anda. Lalu anda atau orang kepercayaan anda menyampaikan kepada mereka maksud kedatangan anda dengan cara yang baik dan beradab, yakni berniat menikahi putrinya. Hal ini sebagaimana makna yang tersirat di dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam (artinya): “Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.”. (HR. Bukhari, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dll)

2. Istisyaroh (Minta Pertimbangan)
Sebelum anda memutuskan untuk menikahi seorang wanita untuk menjadi istri, hendaklah anda juga melakukan istisyaroh (minta pertimbangan) dari keluarga anda yang sholih dan kerabat dekat wanita tersebut yang baik agamanya. Mereka hendaknya orang yang tahu benar tentang keadaan dan sifat wanita yang akan anda lamar, agar mereka dapat memberikan pertimbangan dan masukan positif kepada anda dengan jujur dan adil. Begitu pula bagi wanita yang akan dilamar oleh anda, sebaiknya ia minta pertimbangan dari kerabat dekatnya yang baik agamanya.

3. Nadhor (melihat calon istri):

Apabila anda telah mendapatkan calon istri yang Nampak sholihah, maka anda dianjurkan melihat wajah wanita yang akan anda pinang dan boleh melihat apa-apa yang dapat mendorong anda untuk menikahi wanita itu . hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang seorang wanita, jika ia bisa melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah!”

Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu pernah meminang seorang wanita, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Lihatlah wanita tersebut, sebab hal itu lebih patut untuk melanggengkan (cinta kasih) antara kalian berdua.”

Demikian pula wanita calon istri anda dianjurkan pula untuk melihat anda yang akan meminangnya dan menjadi calon suaminya, agar masing- masing pihak benar-benar mendapatkan kejelasan tatkala menjatuhkan pilihan pasangan hidupnya.

Adapun tentang melihat wanita yang akan dipinang, para ulama berselisih pendapat dalam hal yang berkaitan dengan bagian mana saja yang boleh dilihat. Sebagian mereka berpendapat boleh melihat selain muka dan kedua telapak tangan, yaitu melihat rambut, betis dan lainnya, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya.” Akan tetapi yang disepakati oleh para ulama adalah melihat muka dan kedua tangannya. Wallaahu Ta’ala A’lam.

4. Shalat Istikharah (minta petunjuk dan pilihan dari Allah)
apabila anda telah mendapatkan pertimbangan secara matang tentang bagaimana calon istri anda, dan tekad anda telah bulat untuk menikahinya, maka hendaknya anda melakukan shalat istikharah sehingga Allah Ta’ala memberikan petunjuk dan kemantapan hati dalam mengambil pilihan dan keputusan. Demikian pula calon istri anda hendaknya melakukan shalat istikharah sebagaimana yang anda lakukan. Hal ini berdasarkan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami shalat Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu sebagaimana mengajari surat Al-Qur’an.” Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat sunnah (Istikharah) dua raka’at, kemudian membaca do’a:
Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku memohon kekuatan kepada-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan ke-Mahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu yang Mahaagung, sungguh Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui dan Engkaulah yang Maha Mengetahui yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, penghidupanku, dan akibatnya terhadap diriku (atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘..di dunia atau akhirat) takdirkan (tetapkan)lah untukku, mudahkanlah jalannya, kemudian berilah berkah atasnya. Akan tetapi, apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini membawa keburukan bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibatnya kepada diriku (atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘…di dunia atau akhirat’) maka singkirkanlah persoalan tersebut, dan jauhkanlah aku darinya, dan takdirkan (tetapkan)lah kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berikanlah keridhaan-Mu kepadaku.”

5. Khithbah (meminang)
Setelah anda mendapat kemantapan dalam menentukan calon istri anda, maka hendaklah segera meminangnya. Anda atau keluarga anda harus menghadap orang tua/wali dari wanita pilihan anda itu untuk menyampaikan kehendak hati anda, yaitu meminta agar anda direstui untuk menikahi putrinya.

Setelah anda mendapat restu dari orang tua/wali calon istri anda, maka langkah selanjutnya adalah melakukan aqad nikah dan mengadakan pesta walimatul urs.

Adapun keinginan anda keluar dari pekerjaan anda di kantor pemerintahan karena merasa khawatir akan terjerumus ke dalam fitnah harta, maka kami katakan bahwa apa yang anda khawatirkan, yakni terjerumus ke dalam fitnah harta memang benar adanya. Betapa banyak umat Islam yang melalaikan dan bahkan melanggar ajaran agamanya karena terlena dengan gemerlapnya harta dunia. Karena itu, jauh-jauh hari Nabi telah memberitahukan kepada kita bahwa fitnah yang Allah timpakan kepada umatnya adalah fitnah harta. Namun sebelum mengambil keputusan untuk keluar atau tetap bekerja di tempat tersebut, kami sarankan kepada anda agar  memperhatikan dan mempertimbangkan terlebih dahulu sisi maslahat dan mafsadatnya bagi diri dan agama anda. Sebagaimana yang kami telah jelaskan sebuah kaedah fiqih dalam jawaban permasalahan yang pertama. Karena tidak semua pekerjaan di kantor pemerintahan hukumnya haram. Demikian pula hukum gaji/penghasilan dari bekerja di kantor pemerintahan. Maka sekali lagi, hendaklah anda melihat dan mempertimbangkan sisi maslahat dan mafsadatnya menurut kaedah fiqih Islam, dan berdoalah kepada Allah agar diberi petunjuk dan bimbingan untuk mengikuti segala kebaikan dan menjauhi segala keburukan. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Dimuat dalam majalah nikah Vol. 8 No. 08  tanggal 15 November – 15 Desember 2009)

Iklan

One response to “Jeritan Hati Sang Pegawai Negeri

  1. Assalamualaikum
    Postingan ini memberikan saya pencerahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s