<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ABU FAWAZ ASY-SYIRBOONY</title>
	<atom:link href="http://abufawaz.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abufawaz.wordpress.com</link>
	<description>BERDAKWAH DENGAN ILMU, LEMAH LEMBUT DAN PENUH HIKMAH</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 22:15:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abufawaz.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ABU FAWAZ ASY-SYIRBOONY</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abufawaz.wordpress.com/osd.xml" title="ABU FAWAZ ASY-SYIRBOONY" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abufawaz.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>HADITS-HADITS PALSU TENTANG KEUTAMAAN MENZIARAHI KUBURAN ORANG TUA DAN KERABAT PADA HARI JUMAT / الأحاديث الضعيفة والموضوعة في فضائل زيارة قبر الأبوين والأقارب يوم الجمعة</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/19/hadits-hadits-palsu-tentang-keutamaan-menziarahi-kuburan-orang-tua-dan-kerabat-pada-hari-jumat/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/19/hadits-hadits-palsu-tentang-keutamaan-menziarahi-kuburan-orang-tua-dan-kerabat-pada-hari-jumat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 09:51:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIQIH IBADAH]]></category>
		<category><![CDATA[GRUP MAJLIS HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS DHO'IF DAN PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[AMALAN DI HARI JUMAT]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH YASINAN PADA MALAM JUMAT]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH ZIARAH KUBUR]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS DHO'IF]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN BACA SURAT YASIN DI KUBURAN]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN MENZIARAHI KUBUR ORANG TUA PADA HARI JUMAT]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN SURATA YASIN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=859</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Bismillah. Segala puji bagi Allah, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang selalu istiqomah dalam memegang teguh ajarannya yang murni hingga akhir zaman. &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/19/hadits-hadits-palsu-tentang-keutamaan-menziarahi-kuburan-orang-tua-dan-kerabat-pada-hari-jumat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=859&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2012/01/bohong2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-860" title="BOHONG" src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2012/01/bohong2.jpg?w=500" alt=""   /></a>Bismillah. Segala puji bagi Allah, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang selalu istiqomah dalam memegang teguh ajarannya yang murni hingga akhir zaman.</p>
<p>Ziarah kubur merupakan salah satu ibadah yang disyariatkan dalam agama Islam. Karena ia mempunyai hikmah, keutamaan dan manfaat bagi orang yang berziarah maupun orang mati yang diziarahi. Di antara hikmah disyariatkannya ziarah kubur sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits yang shohih ialah:</p>
<p>1)      Untuk mengucapkan salam dan mendoakan kebaikan serta memohon ampunan kepada Allah bagi orang-orang mati dari kaum muslimin, agar mereka dibebaskan dari siksa kubur, dan diberi nikmat di dalam kubur.</p>
<p>2)      Untuk mengingat kematian dan kehidupan akhirat, sehingga tidak terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia.</p>
<p>3)      Dalam rangka melunakkan hati yang keras dan sombong, dan lain sebagainya.</p>
<p>Manfaat dan hikmah tersebut dapat diperoleh oleh seorang muslim kapan saja ia berkeinginan melakukan ziarah kubur tanpa mengkhususkan hari dan kesempatan tertentu,  dan di kuburan siapa saja dari pekuburan kaum muslimin. Asalkan tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap tuntunan Islam dalam berziarah kubur, seperti melakukan safar (wisata ziarah) ke pekuburan yang jauh dari tempat tinggalnya, atau melakukan ritual-ritual seperti membaca Al-Quran, sholat, dzikir berjama’ah dan selainnya dalam rangka mencari berkah.</p>
<p>Meskipun sudah sedemikian jelas dan sempurna tuntunan agama Islam dalam ziara kubur, namun tetap saja ada sebagian kaum muslimin yang berbuat kesalahan dan pelanggaran terhadap tuntunan tersebut. Ini tiada lain disebabkan kebodohan mereka tentang agama Islam yang benar dan murni, dan banyaknya para juru dakwah yang mengajarkan kesesatan dan kebatilan kepada pengikut dan jama’ahnya demi memperoleh kepentingan dunia, serta tersebarnya buku-buku yang memuat hadits-hadits lemah dan palsu, baik yang berkaitan dengan ziarah kubur maupun ritual lainnya. sehingga kebanyakan mereka tidak sadar bahwa ziarah kubur dan amal ibadah yang mereka lakukan itu sangat bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>Di antara hadits-hadits lemah dan palsu yang tersebar di tengah kaum muslimin ialah hadits yang menjelaskan keutamaan menziarahi kuburan orang tua atau kerbat pada hari dan malam Jumat. di antara keutamaan-keutamaannya ialah:</p>
<ol start="1">
<li><span style="color:#0000ff;"><strong>Berziarah ke kuburan orang tua pada hari Jumat lalu membaca <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">surat Yasin</span></a> di sisinya akan menghapuskan dosa-dosa.</strong></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><strong>Siapa yang melakukannya akan dianggap sebagai anak yang <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank">berbakti pada kedua orang tuanya</a>.</strong></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><strong>Siapa yang banyak menziarahi kuburan kedua orang tuanya atau kerabatnya hingga meninggal dunia, maka kuburannya akan <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">diziarahi oleh para malaikat</span></a>.</strong></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><strong>Siapa yang melakukannya akan memperoleh <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">pahala Umroh atau Haji Mabrur</span></a>.</strong></span></li>
</ol>
<p>Berikut ini akan saya sebutkan hadits-haditsnya beserta derajatnya dan perkataan para ulama hadits yang menjelaskan sisi kelemahan dan kepalsuannya.  <span id="more-859"></span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;"><strong>HADITS PERTAMA:</strong></span></span></p>
<p dir="RTL"><a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com"><span style="color:#000000;"><strong>قَالَ <span style="color:#000000;">أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ </span> رحمه الله : حَدَّثَنَا <span style="color:#000000;">مُحَمَّدُ بْنُ الضَّحَّاكِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أََبِي عَاصِمِ </span>، حَدَّثَنَا <span style="color:#000000;">يَزِيدُ بْنُ خَالِدٍ ا<span style="text-decoration:underline;">لأَصْبَهَانِيُّ </span></span>، حَدَّثَنَا <span style="color:#000000;">عَمْرُو بْنُ زِيَادَ </span>، حَدَّثَنَا <span style="color:#000000;">يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ الطَّائِفِيُّ </span>، عَنْ <span style="color:#000000;">هِشَامٍ بن عُرْوَة </span>، عَنْ <span style="color:#000000;">أَبِيهِ </span>، عَنْ <span style="color:#000000;">عَائِشَةَ </span>، <span style="text-decoration:underline;">عَنْ <span style="color:#000000;text-decoration:underline;">أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ </span></span>، قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : &#8221; مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَرَأَ يس غُفِرَ لَهُ .</strong></span></a></p>
<p>Abu Ahmad Ibnu Adiy berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Adh-Dhohhak bin ‘Amr bin Abi ‘Ashim, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Kholid Al-Ashbahani, ia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ziyad, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaim Ath-Tho-ifi, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> bersabda:<strong><em> “Barangsiapa yang berziarah ke kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada hari jum’at, lalu ia membaca <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank">surat Yasin</a> maka (dosa-dosanya) akan diampuni (oleh Allah, pent).”</em></strong></p>
<p><strong>(Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Ady dalam <em>Al-K<span style="text-decoration:underline;">a</span>mil Fi Dhu’afa</em><em>’i Ar-Rijal</em><em> </em>V/151).</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;"><strong>HADITS KEDUA:</strong></span></span></p>
<p dir="RTL"><strong><a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank">قال أبو الشيخ الأصبهاني رحمه الله : حَدَّثَنَـا أَبُو عَلِيِّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، قال : ثنا أَبُو مَسْعُودٍ يَزِيدُ بْنُ خَالِدٍ ، قال : ثنا عَمْرُو بْنُ زِيَادٍ الْبَقَالَيُّ الْخُرَاسَانِيُّ بِجُنْدِيسَابُورَ ، قال : ثنـا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : &#8221; مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ أَوْ أَحَدِهِمَا ، فَقَرَأَ عِنْدَهُمَا أَوْ عِنْدَهُ : يس ، غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ ذَلِكَ آيَةً أَوْ حَرْفًا &#8220;</a></strong></p>
<p>Abu –Asy-Syaikh Al-Ashbahani berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ali bin Ibrahim, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mas’ud, Yazid bin Kholid, ia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ziyad Al-Baqqoly Al-Khurosani di Jundisabur, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, dari Abu Bakar, ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:  <strong>“<em>Barangsiapa yang menziarahi kuburan kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya pada setiap hari Jum’at, lalu ia membaca <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank">surat Yasin</a> di sisi (kuburan) keduanya atau salah satunya, niscaya (dosa-dosanya) diampuni sebanyak bilangan ayat atau huruf (yang dibacanya, pent).” </em></strong><em></em></p>
<p><strong>(Diriwayatkan oleh Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani di dalam <em>Thobaqot Al-Muhadditsin</em> III/125 no.751).</strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong><span style="text-decoration:underline;">DERAJAT HADITS PERTAMA DAN KEDUA:</span></strong></span></p>
<p>Hadits-hadits tersebut di atas derajatnya <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank"><strong>PALSU</strong> </a>(Maudhu’). Karena di dalam sanadnya terdapat seorang perowi yang bernama ‘Amr bin Ziyad. Dia seorang perowi yang pendusta dan pemalsu hadits.</p>
<p>Abu Ahmad Ibnu ‘Adiy berkata: “Hadits dengan sanad ini derajatnya BATIL, TIDAK ADA ASAL-USULNYA. Dan ‘Amr bin Ziyad meriwayatkan beberapa hadits selain hadits ini. Diantaranya ada hadits yang ia mencurinya dari para perowi yang terpercaya, dan ada pula hadits-hadits palsu. Dan dialah orang yang tertuduh memalsukannya.”<strong> (Lihat <em>Al-K<span style="text-decoration:underline;">a</span>mil Fi Dhu’afa</em><em>’i Ar-Rijal</em><em> </em>V/151).</strong></p>
<p>Imam Ad-Daruquthni berkata: “Dia memalsukan hadits.”<strong> (Lihat <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank"><em>Mizan Al-I’tidal</em></a> karya Adz-Dzahabi III/261)</strong></p>
<p>Abu Zur’ah Ar-Rozi berkata:”Dia seorang pendusta.” <strong>(Lihat <em>Adh-Dhu’afa</em>’ karya Al-‘Uqoily III/274)</strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong><span style="text-decoration:underline;">HADITS KETIGA:</span></strong></span></p>
<p dir="RTL"><strong><a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank">قال الطبراني رحمه الله : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ النُّعْمَانِ بْنِ شِبْلٍ ، قَالَ : حَدَّثَنِي أَبِي ، قَالَ : حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَمِّ أَبِي ، عَنْ يَحْيَى بْنِ الْعَلاءِ الرَّازِيِّ ، عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ أَبِي أُمَيَّةَ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : &#8221; مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ غُفِرَ لَهُ ، وَكُتِبَ بَرًّا &#8220;</a></strong></p>
<p><em>Imam Ath-Thabrani rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’man bin Asy-Syibl, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin An-Nu’man bin Abdurrahman (paman ayahku), dari Yahya bin Al-‘Ala’ Ar-Rozi, dari Abdul Karim Abu Umayyah, dari Mujahid, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: <strong>&#8220;</strong></em><strong><em>Barangsiapa yang menziarahi kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya setiap hari <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank">Jum’at</a>, niscaya akan diampuni baginya dan dicatat sebagai bakti (kepada keduanya).” </em></strong></p>
<p><strong>(Diriwayatkan oleh At-Thobroni di dalam <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank"><em>Al-Mu’jam Al-Ausath</em></a> VI/175 no.6114, dan di dalam Al-Mu’jam Ash-Shoghir II/160 no.955. dan diriwayatkan pula oleh As-Suyuthi di dalam kitab Al-La’ali’ Al-Mashnu’ah Fi Al-Ahadits Al-Maudhu’ah II/440 no.2526, dan selainnya).</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">DERAJAT HADITS:</span></strong></p>
<p>Hadits ini derajatnya<span style="color:#ff0000;"> <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank"><span style="color:#ff0000;"><strong>PALSU</strong> </span></a></span>(Maudhu’). Sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah I/125 no.49.</p>
<p>Hal ini dikarenakan di dalam sanadnya terdapat empat orang perowi hadits yang bermasalah sebagaimana para ulama hadits telah memperbincangkannya, yaitu<span style="color:#ff0000;"><strong>:</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>1. Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’man.</strong></span></p>
<p>Dia seorang perowi yang ditinggalkan riwayat haditsnya dan tertuduh sebagai pemalsu hadits.</p>
<p>Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Ad-Daruquthni telah mencela dan menuduhnya sebagai pemalsu hadits.” <strong>(Lihat <em>Mizan Al-I’tidal</em> IV/26)</strong></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata: “Dia seorang perowi yang <em>matruk</em> (ditinggalkan riwayat haditsnya).” <strong>(Lihat <em>Taqrib At-Tahdzib</em> I/505).</strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>2. Muhammad bin An-Nu’man.</strong></span></p>
<p>Dia seorang perowi yang tidak dikenal jati diri dan kredibilitasnya.</p>
<p>Imam adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Ia seorang perowi yang <em>majhul</em> (tidak dikenal jati diri dan kredibilitasnya).” (Lihat Mizan Al-I’tidal IV/56)</p>
<p>Al-‘Uqaili berkata: “Muhammad bin An-Nu’man seorang perowi yang Majhul (tidak dikenal jati diri dan kredibilitasnya).” <strong>(Lihat kitab Adh-Dhu’afa’ IV/146).</strong></p>
<p><strong>3. Yahya bin al-‘Ala’ Ar-Rozi (al-Bajali)</strong></p>
<p>Dia seorang perowi yang sangat lemah karena tertuduh memalsukan hadits dan riwayatnya tidak dapat diterima dan dijadikan hujah.</p>
<p>Al-‘Uqaili berkata tentangnya: “Yahya adalah seorang perowi yang <em>matruk</em> (ditinggalkan riwayatnya).” <strong>(Lihat kitab Adh-Dhu’afa’ IV/146).</strong></p>
<p>Yahya bin Ma’in berkata: “Yahya bin Al-‘Ala’ bukan seorang perowi hadits yang <em>tsiqoh</em> (terpercaya).” <strong>(Lihat kitab Adh-Dhu’afa’ karya Al-‘Uqaili IV/437).</strong></p>
<p>Abu Hatim Ar-Rozi berkata: “Dia bukan seorang perowi hadits yang kuat (hafalannya, pent).”</p>
<p>Ad-Daruquthni berkata: “Dia seorang perowi yang <em>matruk</em> (ditinggalkan riwayat haditsnya).”</p>
<p>Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Dia pernah memalsukan hadits.” <strong>(Lihat perkataan ini semua di dalam kitab Mizan Al-I’tidal karya imam Adz-Dzahabi IV/397).</strong></p>
<p>Ibnu Hibban berkata: “Tidak boleh berhujjah dengan (hadits)nya.” <strong>(Lihat kitab Al-Majruhin III/115).</strong></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata: “Dia seorang perowi yang tertuduh memalsukan hadits.”<strong> (Lihat Taqrib At-Tahdzib I/595)</strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>3. Abdul karim Abu Umayyah</strong></span></p>
<p>Dia seorang perowi yang <em>Dho’if</em> (lemah).</p>
<p>Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Dia seorang perowi yang sering lupa dan banyak kesalahan yang fatal dalam meriwayatkan hadits.”<strong> (Lihat kitab <em>Al-Majruhin</em> II/145).</strong></p>
<p>Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Abdul Karim Abu Umayyah tidak ada apa-apanya, dia menyerupai perowi yang <em>matruk</em> (ditinggalkan riwayatnya).” <strong>(Lihat Al-Jarhu wa At-Ta’dil karya Ibnu Abu Hatim VI/60).</strong></p>
<p>Yahya bin ma’in berkata: “Abdul Karim Abu Umayyah tidak ada apa-apanya.”</p>
<p>Ayyub As-Sakhtiyani berkata: “Dia bukan seorang perowi yang <em>tsiqoh</em> (terpercaya).” <strong>(Lihat kitab <em>Al-Majruhin</em> II/145).</strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong><span style="text-decoration:underline;">HADITS KEEMPAT:</span></strong></span></p>
<p dir="RTL"><a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank"><strong>قَالَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ رحمه الله : ثنا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصٍ السَّعْدِيُّ ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الْوَزْدُولِيُّ ، ثنا خَاقَانُ بْنُ الأَهْتَمِ السَّعْدِيُّ ، ثنا أَبُو مُقَاتِلٍ السَّمَرْقَنْدِيُّ ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ ، عَنْ نَافِعٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : &#8221; مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبِيهِ أَوْ أُمِّهِ أَوْ عَمَّتِهِ أَوْ خَالَتِهِ أَوْ أَحَدُ قَرَابَاتِهِ كَانَتْ لَهُ حَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ ، وَمَنْ كَانَ زَائِرًا لَهُمَا حَتَّى يَمُوتَ زَارَتِ الْمَلائِكَةُ قَبْرَهُ &#8221; .</strong></a></p>
<p>Abu Ahmad Ibnu ‘Adiy rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hafsh As-Sa’di, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa Al-Wazduli, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Khoqon bin Al-Ahtam As-Sa’di, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Muqotil As-Samarqondi, dari Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: <strong>“<em>Barangsiapa menziarahi kuburan ayahnya atau ibunya, atau saudara perempuan ayah atau ibunya (baca: bibi), atau salah seorang kerabatnya, maka ia akan memperoleh <a href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank">pahala haji mabrur</a>. Dan barangsiapa menziarahi kuburan kedua orang tuanya hingga ia meninggal dunia, niscaya para <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank">malaikat akan menziarahi kuburannya</a></em>.”</strong></p>
<p><strong>(Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy di dalam kitab <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank"><em>Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal</em></a> II/393 no.2260. dan diriwayatkan pula oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al-Maudhu’aat III/240 no.1714, dan As-Suyuthi di dalam kitab Al-La’ali’ Al-Mashnu’ah Fi Al-Ahadits Al-Maudhu’ah II/440 no.2527, dan selainnya).</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">DERAJAT HADITS:</span></strong></p>
<p><span style="color:#000000;">Hadits ini derajatnya <a title="hadits dho'if dan palsu" href="http://abufawaz.wordpress.com" target="_blank"><span style="color:#ff0000;"><strong>DHO’IF JIDDAN</strong></span></a> (sangat lemah), karena di dalam sanadnya ada seorang perowi yang bernama (Hafsh bin Salm, pent) Abu Muqotil As-Samarqondi. Dia seorang perowi yang <em>matruk</em> (ditinggalkan riwayat haditsnya).</span></p>
<p>Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Abu Muqotil As-Samarqondi, namanya Hafsh bin salm, ia seorang yang rajin ibadah, akan tetapi meriwayatkan hadits-hadits mungkar yang mana (ulama hadits) siapa pun yang mencatat hadits dapat mengetahui bahwa hadits-hadits yang diriwayatkannya tidak mempunyai dasar yang dapat dijadikan rujukan.”</p>
<p>Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Tidak boleh meriwayatkan hadits darinya.” <strong>(Lihat kitab Al-Majruhin I/256)</strong></p>
<p>Imam Adz-Dzahabi berkata: “Qutaibah menganggapnya sebagai perowi hadits yang sangat lemah, dan (Abdurrahman) bin Mahdi mendustakannya.”<strong> (Lihat Mizan Al-I’tidal I/557)</strong></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata: “Waki’ (bin Al-Jarroh Al-Kufi, pent) mendustakannya, dan As-Sulaimani mengatakan, bahwa dia termasuk dalam barisan orang yang memalsukan hadits.” <strong>(Lihat Tahdzib At-Tahdzib II/342).</strong></p>
<p>Demikianlah beberapa hadits DHO’IF dan PALSU tentang keutamaan menziarahi kuburan orang tua dan kerabat yang dapat saya kumpulkan dan susun. Semoga Allah ta’ala senantiasa membimbing kita semua ke jalan yang benar dan diridhoi-Nya, serta memberikan kepada kita taufiq dan kemudahan untuk tetap istiqomah dalam mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran-Nya yang bersumber dari Al-Quran Al-Karim dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang shohih hingga kematian menjemput kita. Semoga artikel ini menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Amin ya Robbal alamin.</p>
<p>Alhamdulillah, telah selesai menulis dan menyusun artikel ini pada hari Kamis pukul 15.55 WIB, tanggal 19 januari 2012 di kediamannya, Klaten – Jawa Tengah.</p>
<p><strong>(Artikel ini ditulis untuk materi kajian BBG Majlis Hadits Ikhwan dan Akhwat di room Hadits Dho’if dan Palsu. Dan diposting di blog pribadi penulis dan Pembina BBG Majlis Hadits: <a href="../">http://abufawaz.wordpress.com</a>, <span style="color:#ff0000;">PIN<span style="color:#000000;">: 285734BB)</span></span></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/859/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/859/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/859/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/859/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/859/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/859/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/859/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/859/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/859/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/859/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/859/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/859/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/859/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/859/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=859&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/19/hadits-hadits-palsu-tentang-keutamaan-menziarahi-kuburan-orang-tua-dan-kerabat-pada-hari-jumat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2012/01/bohong2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BOHONG</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HADITS-HADITS PALSU DAN BATIL TENTANG KEUTAMAAN WANITA HAIDH / الأحاديث الموضوعة والباطلة في فضائل المرأة الحائض</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/13/hadits-hadits-palsu-dan-batil-tentang-keutamaan-wanita-haidh/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/13/hadits-hadits-palsu-dan-batil-tentang-keutamaan-wanita-haidh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 10:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[GRUP MAJLIS HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS DHO'IF DAN PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[BAHAYA HADITS PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH HAIDH]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS PALSU TENTANG KEUTAMAAN WANITA HAIDH]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN WANITA HAIDH]]></category>
		<category><![CDATA[PERMASALAHAN WANITA HAIDH DAN NIFAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=853</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad wasitho Abu Fawaz, Lc Akhir-akhir ini telah beredar di internet, atau melalui sms, email dan BM riwayat-riwayat yang cukup banyak yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan besar bagi wanita muslimah yang mengalami haidh dan amalan-amalan yang dilakukannya pada saat itu. &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/13/hadits-hadits-palsu-dan-batil-tentang-keutamaan-wanita-haidh/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=853&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad wasitho Abu Fawaz, Lc<br />
</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2012/01/bohong1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-854" title="BOHONG" src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2012/01/bohong1.jpg?w=500" alt=""   /></a>Akhir-akhir ini telah beredar di internet, atau melalui sms, email dan BM riwayat-riwayat yang cukup banyak yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan besar bagi wanita muslimah yang mengalami haidh dan amalan-amalan yang dilakukannya pada saat itu. Di antara keutamaan-keutamaannya yang disebutkan adalah sebagai berikut:</p>
<ol start="1">
<li>Allah mengampuni semua dosa besar dan kecil yang pernah dilakukan oleh wanita yang haidh.</li>
<li>Allah tidak akan mencatat kesalahan-kesalahan wanita yang sedang haidh hingga tiba masa haidh berikutnya.</li>
<li>Allah memberikan kepada wanita yang sedang haidh pahala 60 (enam puluh) orang yang mati syahid.</li>
<li>Allah akan membangunkan sebuah kota di dalam Surga bagi wanita yang haidh.</li>
<li>Allah akan memberikan cahaya kepada wanita yang haidh sebanyak rambut yang ada di kepala dan badannya.</li>
<li>Jika wanita yang sedang haidh itu mati, maka ia mati dalam keadaan syahid.</li>
<li>Allah akan mencatat baginya pembebasan dari api neraka.</li>
<li>Allah akan memberikan kepadanya jaminan keamaan dari azab (siksaan-Nya).</li>
<li>Dan lain sebagainya.  <span id="more-853"></span></li>
</ol>
<p>Namun sayangnya riwayat-riwayat yang menyebutkan keutamaan-keutamaan yang agung tersebut tidak ada yang benar datangnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bahkan itu semua dinisbatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam secara dusta dan batil oleh sebagian orang.</p>
<p>Berikut ini akan saya sebutkan beberapa riwayat yang berkaitan dengan hal ini beserta terjemahannya.</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>HADITS PERTAMA:</strong></span><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>عن النبي صلى الله عليه وسلم &#8220;إذا إغتسلت المراه من حيضها، وصلت ركعتين تقرا فاتحة الكتاب وسورة الاخلاص 3 مرات في كل ركعه غفر الله لها كل ذنب عملته من صغيره وكبيره. ولم تكتب عليها خطيئه إلى الحيضه الاخرى. وأعطاها اجر 60 شهيد, وبنى لهامدينه في الجنه. واعطاها بكل شعره على رأسها نورا</strong><strong> . </strong><strong>وان ماتت إلى الحيضه ماتت شهيده</strong><strong> .</strong></p>
<p>Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Apabila seorang wanita mandi setelah berakhir masa haidnya, lalu ia melaksanakan sholat dua roka’at dengan membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas sebanyak tiga kali pada setiap roka’atnya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa besar maupun kecil yang pernah diperbuatnya, dan kesalahan-kesalahannya tidak akan dicatat (oleh Allah) hingga datang masa haidh berikutnya, dan Allah akan memberinya pahala 60 (enam puluh) orang yang mati syahid, dan akan dibangunkan untuknya sebuah kota di dalam Surga, serta Allah akan memberinya cahaya sejumlah rambut yang ada di kepalanya. Dan jika ia mati karena haidnya, maka ia mati dalam keadaan syahid.”</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>HADITS KEDUA:</strong></span><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>وقالت عائشة رضي الله عنها:&#8221;ما من امراه تحيض إلا كان حيضها كفاره لما معى من ذنوبها ، وإن قالت عند حيضهاالحمد الله على كل حال واستغفرك من كل ذنب</strong><strong> &#8221; </strong><strong>كتب لها براءة من النار. وأمان من العذاب.وأيضا تقدم ان الحائض إذا استغفرت عند كل صلاه 70مره :كتب لها ألف ركعه .. ومحى عنها 70 ذنبا. وبنى لها في كل شعره في جسدها مدينه في الجنة</strong><strong>.</strong></p>
<p>Aisyah radhiyallahu anha berkata: “Tidaklah seorang wanita mengalami haidh melainkan haidnya itu akan menjadi penghapus bagi dosa-dosanya. Dan jika ia mengucapkan ketika mengalami haidh, “Alhamdulillah ‘Ala Kulli Haalin wa Astaghfiruka min Kulli Dzanbin” (segala puji bagi Allah dalam keadaan apapun, dan aku memohon ampunan kepada-Mu dari segala dosa), maka dicatat (oleh Allah) baginya pembebasan dari api neraka, dan jaminan keamanan dari siksaan. Demikian sebagaimana yang telah lalu disebutkan bahwa wanita yang haidh apabila ia beristighfar sebanyak 70 (tujuh puluh) kali pada setiap sholat, maka dicatat baginya (pahala) seribu roka’at, dan dihapuskan darinya 70 (tujuh puluh) dosa, dan dibangunkan untuknya sebuah kota di dalam surga sebanyak rambut yang ada pada badannya.”</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong><span style="text-decoration:underline;">DERAJAT HADITS:</span></strong></span></p>
<p>Hadits-hadits tersebut di atas derajatnya <span style="color:#ff0000;"><strong>PALSU</strong></span> dan <span style="color:#ff0000;"><strong>BATIL</strong>. <span style="color:#000000;">Karena semuanya itu dibuat dan disebarluaskan oleh para tukang cerita lalu dinisbatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam secara dusta.</span></span></p>
<p>Di antara bukti-bukti yang menunjukkan kepalsuan dan kebatilannya adalah hal-hal berikut ini:</p>
<ol>
<li>Riwayat-riwayat tersebut tidak ditemukan sama sekali di dalam kitab-kitab hadits apa pun, baik itu  dalam kitab hadits yang enam (Shohih, Bukhori, Shohih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah), atau dalam kitab-kitab Al-Musnad seperti Musnad imam Ahmad, Musnad imam Asy-Syafi’i, Musnad Abu Ya’la, Musnad Al-Bazzar, Musnad ‘Abd bin Humaid, atau dalam kitab-kitab Al-Mu’jam seperti Al-Mu’jam Al-Kabir, Al-Mu’jam Al-Ausath, Al-Mu’jam Ash-Shoghir karya imam Ath-Thobroni, atau dalam kitab-kitab Al-Mushonnaf seperti Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Mushonnaf Abdurrrozzaq, atau dalam kitab-kitab hadits lainnya seperti As-Sunan Al-Kubro karya Al-Baihaqi, Al-Mustadrok karya Al-Hakim, Shohih Ibnu Hibban, Shohih Ibnu Khuzaimah, Sunan Ad-Daruquthni, Sunan Ad-Darimi dan selainnya.</li>
<li>Riwayat-riwayat tersebut tidak memiliki sanad hadits (rangkaian para perowi yang meriwayatkannya) yang jelas.</li>
<li>Di dalam matan hadits tersebut terdapat kemungkaran (atau keganjilan) yang nampak jelas dilihat dari susunan kalimatnya, dan pahala-pahala besar yang tidak pernah ada di dalam kebanyakan hadits-hadits shohih yang menjelaskan Fadhilah amal (amalan-amalan yang memiliki keutamaan) meskipun hanya sepersepuluhnya saja.</li>
<li>Riwayat-riwayat tersebut disebutkan di dalam kitab Nuzhatu Al-Majalis Wa Muntakhobu An-Nafa-is karya Abdurrahman bin Abdussalam Ash-Shofuri Asy-Syafi’i (wafat pada tahun 884 H). Dan beliau telah menyebutkan dua riwayat di atas di dalam kitabnya tersebut dalam konteks cerita, namun tanpa sanad. Dan kitabnya ini termasuk di antara kitab-kitab Ar-Roqo-iq yang populer. (kitab Roqo-iq kandungan isinya tentang hal-hal yang dapat melunakkan hati dan kezuhudan, pent). Di dalam kitabnya ini juga, dia acap kali menyebutkan kisah-kisah dan berita-berita tentang kehidupan orang-orang sholih sebagai kesimpulan dari pembahasan kitabnya itu. Bahkan dia telah memenuhi kitabnya itu dengan hadits-hadits palsu yang didustakan atas nama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan juga riwayat-riwayat dari Bani Israil yang tidak shohih.</li>
<li>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Kitab-kitab yang membahas tentang kezuhudan ini dan selainnya tidak pernah luput<strong> </strong>dari hadits-hadits dan cerita-cerita yang DHO’IF (lemah) dan BATIL. Dan dalam kitab Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim sudah dapat dipastikan adanya hal-hal itu. Akan tetapi riwayat-riwayat dho’if dan batil yang ada dalam kitab-kitab selain itu jauh lebih banyak lagi.” (Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah XVIII/72).</li>
</ol>
<p>Berdasarkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini, maka kita pun menjadi sadar dan tidak heran lagi kalau akhir-akhir ini sering sekali menjumpai atau membaca dan mendengar hadits-hadits atau riwayat-riwayat tentang berbagai keutamaan besar untuk amalan-amalan tertentu, orang-orang tertentu, atau berita-berita di waktu mendatang yang sampai kepada kita namun tanpa sanad dan sumber yang jelas. Bahkan saking batil dan palsunya karena memang buatan orang-orang di zaman sekarang, kita pun sangat kesulitan untuk mencari tahu sumber aslinya di kitab apa meskipun tanpa sanad. Ini terjadi tiada lain sebabnya karena kebodohan akan bahaya berdusta atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sehingga siapapun bisa membuat hadits palsu sesuka hatinya, kemudian disandarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Semoga Allah melindungi kita dari keburukan ini semua.</p>
<p>Setelah mengetahui kepalsuan dan kebatilan riwayat-riwayat di atas dan yang semisalnya, maka sudah seharus bagi kita semua khususnya para wanita muslimah untuk tidak meyakininya sebagai hadits Nabi, apalgi melakukan amalan-amalan yang disebutkan di dalamnya dalam rangka mencari pahala dan keutamaan.</p>
<p>Meskipun riwayat-riwayat tentang keutamaan wanita haidh di atas terbukti palsu dan batil, akan tetapi para wanita muslimah janganlah berkecil hati atau merasa sedih ketika mengalami haidh, karena hal ini merupakan ketetapan Allah pada para wanita semuanya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada istrinya, Aisyah radhiyallahu anha yang bersedih dan menangis ketika mengalami haidh dalam perjalanan safar Haji bersama Nabi. Nabi bertanya kepada Aisyah demi menghibur dan meringankan kesedihannya, “Apakah engkau sedang mengalami haidh?” dia jawab: “iya”. Maka Nabi bersabda: “Sesungguhnya haidh ini merupakan perkara yang telah Allah tetapkan (untuk terjadi) pada para wanita.”<strong> (HR. Bukhori I/113 no.290, dan Muslim II/870 no.1211).</strong></p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya para wanita muslimah bersabar atas ketetapan Allah yang penuh hikmah ini, dan mengharapkan pahala dari-Nya atas segala kesulitan dan kegelisahan yang ia rasakan selama mengalami haidh, karena yang demikian ini termasuk dari jenis sakit yang disebutkan dalam keumuman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits shohih berikut ini:</p>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; قَالَ « مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ </strong><strong>حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا</strong><strong> ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ »</strong></p>
<p>Dari Abu sa’id Al-Khudri dan dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhuma-, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, sakit, kebingungan, kesedihan dan kerumitan hidup, atau bahkan tertusuk duri, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.” <strong>(HR. Bukhari V/2137 no.5318, dan Muslim IV/1990 no.2573).</strong></p>
<p>Demikian penjelasan tentang derajat hadits-hadits tersebut  di atas yang dapat saya sampaikan. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Wallahu ta’ala a’lam bish-showab.</p>
<p>Alhamdulillah, telah selesai menulis dan menyusun artikel ini pada hari Jumat pukul 16.40 WIB, tanggal 13 januari 2012 di kediamannya, Klaten – Jawa Tengah.</p>
<p>(Artikel ini dibuat untuk materi kajian BBG Majlis Hadits Ikhwan dan Akhwat di room Hadits Dho’if dan Palsu. Dan diposting di blog pribadi penulis dan Pembina BBG Majlis Hadits: <a href="../">http://abufawaz.wordpress.com</a>, <span style="color:#ff0000;"><strong>PIN</strong>: <span style="color:#000000;"><strong>285734B</strong><strong>B</strong>)</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/853/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=853&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/13/hadits-hadits-palsu-dan-batil-tentang-keutamaan-wanita-haidh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2012/01/bohong1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BOHONG</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HADITS PALSU TENTANG HURU-HARA AKHIR ZAMAN PADA HARI JUMAT DI PERTENGAHAN BULAN ROMADHON / الحديث الموضوع في الصيحة الكبرى في رمضان</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/03/hadits-palsu-tentang-huru-hara-akhir-zaman-pada-hari-jumat-di-pertengahan-bulan-romadhon-%d8%a7%d9%84%d8%ad%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%88%d8%b6%d9%88%d8%b9-%d9%81%d9%8a-%d8%a7%d9%84/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/03/hadits-palsu-tentang-huru-hara-akhir-zaman-pada-hari-jumat-di-pertengahan-bulan-romadhon-%d8%a7%d9%84%d8%ad%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%88%d8%b6%d9%88%d8%b9-%d9%81%d9%8a-%d8%a7%d9%84/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 20:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[GRUP MAJLIS HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS DHO'IF DAN PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[BAHAYA HADITS DHO'IF DAN PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS PALSU TENTANG HURU-HARA AKHIR ZAMAN DI BULAN ROMADHON]]></category>
		<category><![CDATA[HARI KIAMAT PADA HARI JUMAT BULAN ROMADHON 2012]]></category>
		<category><![CDATA[HURU-HARA HARI JUMAT PADA PERTENGAHAN ROMADHON]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=846</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Bismillah. Segala puji bagi Allah, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan ajarannya &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/03/hadits-palsu-tentang-huru-hara-akhir-zaman-pada-hari-jumat-di-pertengahan-bulan-romadhon-%d8%a7%d9%84%d8%ad%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%88%d8%b6%d9%88%d8%b9-%d9%81%d9%8a-%d8%a7%d9%84/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=846&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2012/01/bohong.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-847" title="BOHONG" src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2012/01/bohong.jpg?w=500" alt=""   /></a>Bismillah. Segala puji bagi Allah, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan ajarannya hingga hari kiamat.</p>
<p>Akhir-akhir ini banyak sekali pertanyaan dari beberapa member BB Group Majlis Hadits Ikhwan dan Akhwat seputar derajat hadits huru-hara akhir zaman yang terjadi pada pertengahan bulan Romadhon yang bertepatan dengan hari Jumat.</p>
<p>Maka kami katakan, bahwa para ulama hadits terdahulu maupun yang hidup di zaman sekarang telah menerangkan dengan jelas dan gamblang bahwa hadits-hadits yang berbicara tentang masalah tersebut tidak ada satu pun yang Shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, baik ditinjau dari segi sanad hadits maupun realita yang ada. Bahkan semuanya adalah hadits-hadits munkar dan palsu yang didustakan atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p dir="RTL">Berikut ini akan saya sebutkan teks (lafazh) hadits tersebut dengan sanadnya, serta studi kritis para ulama terhadapnya.  <span id="more-846"></span><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>قَالَ نُعَيْمٌ بْنُ حَمَّادٍ : حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ قَالَ : حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ حُسَيْنٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ الْحَارِثِ الْهَمْدَانِيِّ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : &#8220;إذا كانَتْ صَيْحَةٌ في رمضان فإنه تكون مَعْمَعَةٌ في شوال، وتميز القبائل في ذي القعدة، وتُسْفَكُ الدِّماءُ في ذي الحجة والمحرم.. قال: قلنا: وما الصيحة يا سول الله؟ قال: هذه في النصف من رمضان ليلة الجمعة فتكون هدة توقظ النائم وتقعد القائم وتخرج العواتق من خدورهن في ليلة جمعة في سنة كثيرة الزلازل ، فإذا صَلَّيْتُمْ الفَجْرَ من يوم الجمعة فادخلوا بيوتكم، وأغلقوا أبوابكم، وسدوا كواكـم، ودَثِّرُوْا أَنْفُسَكُمْ، وَسُـدُّوْا آذَانَكُمْ إذا أَحْسَسْتُمْ بالصيحة فَخَرُّوْا للهِ سجدًا، وَقُوْلُوْا سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ ، ربنا القدوس فَمَنْ يَفْعَلُ ذَلك نَجَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ)</strong><strong></strong></p>
<p>Nu’aim bin Hammad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Umar, dari Ibnu Lahi&#8217;ah, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab bin Husain, dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari Al-Harits Al-Hamdani, dari Ibnu Mas&#8217;ud radhiallahu &#8216;anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: <em>“Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antar suku, pent) di bulan Dzul Qo’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul Hijjah dan Muharram…”. Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan solat Subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: “Mahasuci Allah Al-Quddus, Mahasuci Allah Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus”, kerana barangsiapa melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan binasa”.</em></p>
<p><strong>(Hadits ini diriwayatkan oleh Nu’aim bin Hammad di dalam kitab Al-Fitan I/228, No.638, dan Alauddin Al-Muttaqi Al-Hindi di dalam kitab Kanzul &#8216;Ummal, No.39627).</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><strong>DERAJAT HADITS:</strong></span></p>
<p>Hadits ini derajatnya <strong>PALSU</strong> (Maudhu’), karena di dalam sanadnya terdapat beberapa perowi hadits yang pendusta dan bermasalah sebagaimana diperbincangkan oleh para ulama hadits. Para perowi tersebut ialah sebagaimana berikut ini</p>
<p><strong></strong><strong>1. Nu&#8217;aim bin Hammad</strong></p>
<p>Dia seorang perowi yang Dho’if (lemah),</p>
<p>An-Nasa&#8217;i berkata tentangnya: &#8220;Dia seorang yang Dho’if (lemah).&#8221; <strong>(Lihat Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin, karya An-Nasa’i I/101 no.589)</strong></p>
<p>Abu Daud berkata: “Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dua puluh hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang tidak mempunyai dasar sanad (sumber asli, pent).”</p>
<p>Imam Al-Azdi mengatakan: &#8220;Dia termasuk orang yang memalsukan hadits dalam membela As-Sunnah, dan membuat kisah-kisah palsu tentang keburukan An-Nu’man (maksudnya, Abu Hanifah, pent), yang semuanya itu adalah kedustaan<strong>.&#8221;  (Lihat Mizan Al-I’tidal karya imam Adz-Dzahabi IV/267).</strong></p>
<p>Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Tidak boleh bagi siapa pun berhujjah dengannya, dan ia telah menyusun kitab Al-Fitan, dan menyebutkan di dalamnya keanehan-keanehan dan kemungkaran-kemungkaran.” <strong>(Lihat As-Siyar A&#8217;lam An-Nubala X/6</strong><strong></strong><strong>09).</strong></p>
<p><strong>2. Ibnu Lahi’ah (Abdullah bin Lahi’ah).</strong></p>
<p>Dia seorang perowi yang Dho’if (lemah), karena mengalami kekacauan dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar.</p>
<p>An-Nasa&#8217;i berkata tentangnya: &#8220;Dia seorang yang Dho’if (lemah).&#8221; <strong>(Lihat Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin, karya An-Nasa’i I/64 no.346)</strong></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata: “Dia mengalami kekacauan di dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar.” <strong>(Lihat Taqrib At-Tahdzib I/319 no.3563).</strong><strong></strong><strong></strong></p>
<p><strong>3. Abdul Wahhab bin Husain. </strong></p>
<p>Dia seorang perowi yang majhul (tidak dikenal).</p>
<p>Al-Hakim berkata tentangnya: “Dia seorang perowi yang Majhul (tidak jelas jati dirinya dan kredibilitasnya).” <strong>(Lihat Al-Mustadrak No. 8590)</strong></p>
<p>Imam Adz-Dzahabi berkata di dalam At-Talkhish: “Dia mempunyai riwayat hadits palsu.” <strong>(Lihat Lisan Al-Mizan, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani II/139)</strong><strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>4. Muhammad bin Tsabit Al-Bunani. </strong></p>
<p>Dia seorang perowi yang Dho’if (lemah dalam periwayatan hadits) sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu hajar Al-Asqolani, Ibnu Hibban dan An-Nasa’i.</p>
<p>An-Nasa&#8217;i berkata tentangnya: &#8220;Dia seorang yang Dho’if (lemah).&#8221;</p>
<p>Yahya bin Ma’in berkata: “Dia seorang perowi yang tidak ada apa-apanya.” <strong>(Lihat Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal, karya Ibnu ‘Adi VI/136 no.1638).</strong></p>
<p>Ibnu Hibban berkata: “Tidak boleh berhujjah dengannya, dan tidak boleh pula meriwayatkan darinya.” <strong>(Lihat Al-Majruhin, karya Ibnu Hibban II/252 no.928).</strong></p>
<p>Imam Al-Azdi berkata: “Dia seorang yang gugur riwayatnya.” <strong>(Lihat Tahdzib At-Tahdzib, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani IX/72 no.104)</strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong><strong>5. Al-Harits bin Abdullah Al-A’war Al-Hamdani. </strong></p>
<p>Dia seorang perowi pendusta, sebagaimana dinyatakan oleh imam Asy-Sya’bi, Abu Hatim dan Ibnu Al-Madini.</p>
<p>An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia bukan seorang perowi yang kuat (hafalannya, pent).” <strong>(Lihat Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal, karya Ibnu ‘Adi II/186 no.370).</strong></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata tentangnya: “Imam Asy-Sya’bi telah mendustakan pendapat akalnya, dan dia juga dituduh menganut paham/madzhab Rofidhoh (syi’ah), dan di dalam haditsnya terdapat suatu kelemahan.” <strong>(Lihat Taqrib At-Tahdzib I/146 no.1029).</strong></p>
<p><strong>Ali bin Al-Madini berkata: “Dia seorang pendusta.” </strong></p>
<p><strong>Abu Hatim Ar-Rozi berkata: “Dia tidak dapat dijadikan hujjah.” (Siyar A’lam An-Nubala’, karya imam Adz-Dzahabi IV/152 no.54)</strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong><span style="text-decoration:underline;">PERKATAAN PARA ULAMA TENTANG HADITS INI:</span></strong></span></p>
<p>Al-Uqoily rahimahullah berkata: “Hadits ini tidak memiliki dasar dari hadits yang diriwayatkan oleh perowi yang tsiqoh (terpercaya), atau dari jalan yang tsabit (kuat dan benar adanya).” <strong>(Lihat Adh-Dhu’afa Al-Kabir III/52).</strong></p>
<p>Ibnul jauzi rahimahullah berkata: “Hadits ini dipalsukan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” <strong>(Lihat Al-Maudhu’aat III/191).</strong></p>
<p><strong>Syaikh Al-Albani </strong>rahimahullah berkata: “Hadits ini Palsu (Maudhu’). Dikeluarkan oleh Nu’aim bin Hammad dalam kitab Al-Fitan.” Dan beliau menyebutkan beberapa riwayat dalam masalah ini dari Abu Hurairah dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhuma<strong>. (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah no.6178, 6179).</strong></p>
<p><strong>Syaikh Abdul Aziz bin Baz</strong> rahimahullah berkata: “Hadits ini tidak mempunyai dasar yang benar, bahkan ini adalah hadits yang batil dan dusta.” <strong>(Lihat Majmu’ Fatawa Bin Baz XXVI/339-341).</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;"><strong>KESIMPULAN:</strong></span></span></p>
<p>Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hadits ini adalah hadits Maudhu’ (Palsu). Tidak boleh diyakini sebagai kebenaran, dan tidak boleh dinisbatkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Karena disamping sanad hadits ini tidak ada yg dapat diterima sebagai hujjah, juga realita telah mendustakannya. Sebab telah berlalu tahun-tahun yang banyak dan telah terjadi berulang kali hari Jumat yang bertepatan dengan tanggal lima belas (pertengahan) bulan Romadhon, namun kenyataannya tidak pernah terjadi sebagaimana berita yang terkandung di dalam hadits ini. (Alhamdulillah).</p>
<p>Oleh karena itu, kita dilarang keras menyebarluaskannya kepada orang lain baik melalui media cetak, maupun elektronik, atau dalam obrolan dan khutbah kecuali dalam rangka menjelaskan sisi kelemahan, kepalsuan, dan kebatilannya, serta bertujuan untuk memperingatkan umat darinya.</p>
<p>Jika kita telah melakukan ini, berarti kita telah bebas dan selamat dari ancaman keras Nabi shallallahu alaihi wasallam, yaitu berupa masuk neraka bagi siapa saja yang sengaja berdusta atas nama beliau, baik dengan tujuan menjelekkan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan ajarannya, atau dalam rangka membela Nabi dan memotivasi kaum muslimin untuk bersemangat dalam beribadah kepada Allah.</p>
<p>Demikian jawaban atas pertanyaan dalam masalah ini yang dapat saya sampaikan. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p>Telah selesai ditulis pada hari Rabu, 04 Januari 2012 di kediamannya, Klaten – Jawa Tengah.</p>
<p><strong>(Artikel: <a href="../">http://abufawaz.wordpress.com</a>, dan diposting oleh Pembina BB Group Majlis Hadits di Room Hadits Dho’if dan Palsu. <span style="color:#ff0000;">PIN</span>: 285734BB).</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/846/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/846/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/846/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/846/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/846/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/846/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/846/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=846&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/03/hadits-palsu-tentang-huru-hara-akhir-zaman-pada-hari-jumat-di-pertengahan-bulan-romadhon-%d8%a7%d9%84%d8%ad%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%88%d8%b6%d9%88%d8%b9-%d9%81%d9%8a-%d8%a7%d9%84/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2012/01/bohong.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BOHONG</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PANDUAN PRAKTIS BERDOA SESUAI TUNTUNAN NABI / صفة دعاء النبي صلى الله عليه وسلم</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/29/panduan-praktis-berdoa-sesuai-tuntunan-nabi-%d8%b5%d9%81%d8%a9-%d8%af%d8%b9%d8%a7%d8%a1-%d8%a7%d9%84%d9%86%d8%a8%d9%8a-%d8%b5%d9%84%d9%89-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-%d8%b9%d9%84%d9%8a%d9%87-%d9%88/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/29/panduan-praktis-berdoa-sesuai-tuntunan-nabi-%d8%b5%d9%81%d8%a9-%d8%af%d8%b9%d8%a7%d8%a1-%d8%a7%d9%84%d9%86%d8%a8%d9%8a-%d8%b5%d9%84%d9%89-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-%d8%b9%d9%84%d9%8a%d9%87-%d9%88/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 16:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAQ DAN ADAB]]></category>
		<category><![CDATA[DOA DAN DZIKIR]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH AMAL]]></category>
		<category><![CDATA[FIQH]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH IBADAH]]></category>
		<category><![CDATA[GRUP MAJLIS HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[ADAB BERDOA]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[DZIKIR]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH DOA]]></category>
		<category><![CDATA[HUKUM MENGANGKAT TANGAN DALAM BERDOA]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN DOA]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN DZIKIR]]></category>
		<category><![CDATA[MAJLIS DZIKIR]]></category>
		<category><![CDATA[MAKNA DOA]]></category>
		<category><![CDATA[MENGUSAP WAJAH SETELAH BERDOA]]></category>
		<category><![CDATA[PANDUAN BERDOA SESUAI TUNTUNAN NABI]]></category>
		<category><![CDATA[SUNNAH DAN BID'AH]]></category>
		<category><![CDATA[SYARAT TERKABULNYA DOA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=836</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Doa adalah jalan keselamatan, tangga pengantar, sesuatu yang dituntut oleh orang-orang yang berpengetahuan, kendaraan orang-orang shalih, tempat berlindung bagi kaum yang terzalimi dan tertindas. Melalui doa, nikmat diturunkan dan melaluinya pula murka Allah dihindarkan. &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/29/panduan-praktis-berdoa-sesuai-tuntunan-nabi-%d8%b5%d9%81%d8%a9-%d8%af%d8%b9%d8%a7%d8%a1-%d8%a7%d9%84%d9%86%d8%a8%d9%8a-%d8%b5%d9%84%d9%89-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-%d8%b9%d9%84%d9%8a%d9%87-%d9%88/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=836&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/doa-adalah-ibadah1.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/doa-adalah-ibadah1.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" title="DOA ADALAH IBADAH" width="300" height="224" class="alignleft size-medium wp-image-838" /></a>Doa adalah jalan keselamatan, tangga pengantar, sesuatu yang dituntut oleh orang-orang yang berpengetahuan, kendaraan orang-orang shalih, tempat berlindung bagi kaum yang terzalimi dan tertindas. Melalui doa, nikmat diturunkan dan melaluinya pula murka Allah dihindarkan. Alangkah besar kebutuhan para hamba Allah akan doa. Seorang muslim tidak akan pernah bisa lepas dari kebutuhannya terhadap doa dalam setiap situasi dan kondisinya.</p>
<p>Doa adalah obat yang paling mujarab, ia ibarat musuh bagi penyakit, ia senantiasa melawan, menghilangkan atau meringankannya. Begitulah kedudukan doa, seyogyanya bagi seorang muslim untuk mengetahui keutamaan-keutamaan dan adab-adab doa, kita memohon kepada Allah agar menerima doa dan amal sholeh kita. <span id="more-836"></span></p>
<p><strong> <span style="text-decoration:underline;">A. MAKNA DOA</span></strong></p>
<p>Secara bahasa, berarti meminta atau memohon dengan sepenuh hati.</p>
<p>Sedangkan menurut istilah syar’i, berarti permohonan seorang hamba kepada Allah ta’ala dengan sepenuh hati. Dan diartikan pula dengan pensucian, pemujaan dan semisalnya. (lihat syuruthu ad-du’a wa mawani’u al-ijabah, karya Syaikh Sa’id bin Ali Al-Qohthoni, hlm. 5).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">B. MACAM-MACAM DOA</span></strong></p>
<p>Doa ada dua macam:</p>
<ol start="1">
<li><strong>Doa Ibadah</strong>,</li>
</ol>
<p>Yaitu memohon pahala dengan melaksanakan amal-amal kebaikan seperti mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengamalkan konsekuensi keduanya, shalat, zakat, puasa, haji, menyembelih dan bernadzar karena Allah. Maka barangsiapa melaksanakan ibadah-ibadah tersebut dan selainnya berarti ia telah berdoa dan memohon ampunan kepada Allah, mengharap pahala dari-Nya dan merasa takut terhadap azab-Nya.</p>
<p>Doa semacam ini tidak boleh diarahkan kepada selain Allah ta’ala. Barangsiapa mengarahkannya kepada selain Allah, maka ia telah jatuh pada kekafiran akbar yang menyebabkannya keluar dari agama Islam dan masuk ke dalam neraka. Sebagaimana firman Allah ta’ala:</p>
<p dir="RTL"><strong>وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (60)</strong><strong></strong></p>
<p><em> “Dan Tuhanmu berfirman: &#8220;Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku [berdoa kepada-Ku] akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina&#8221;. </em><strong>(</strong><strong>QS. Al-Mu’min / Ghafir: 60</strong><strong>)</strong></p>
<p><strong>Dan juga firman</strong><strong>-Nya:</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)</strong><em> </em><em></em></p>
<p><em>“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)&#8221;. </em><strong>(</strong><strong>QS. Al-An’aam: 162-163</strong><strong>)</strong></p>
<ol start="2">
<li><strong>Doa mas-alah (permohonan)</strong>,</li>
</ol>
<p>Yaitu seorang hamba memohon apa saja yang bermanfaat seperti datangnya kebaikan dan kemaslahatan atau tercegahnya keburukan dan kemudharatan, dan memohon segala kebutuhan.</p>
<p>Hukum doa semacam ini ada dua:</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span></em>: <strong>Boleh</strong>, apabila seorang hamba memohon kepada orang lain yang masih hidup dan ada di hadapannya dalam hal-hal yang mampu dilakukan oleh orang tersebut, seperti mengatakan kepadanya, ‘Tolong ambilkan air minum untukku, atau berilah aku makanan’ atau perkataan yang semisalnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:</p>
<p dir="RTL"><strong>مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ وَمَنْ سَأَلَ بِاللَّهِ فَأَعْطُوهُ وَمَنْ دَعَاكُمْ فَأَجِيبُوهُ</strong></p>
<p>“Barangsiapa memohon perlindungan (kepadamu) dengan menyebut nama Allah maka lindungilah ia. Barangsiapa meminta (kepada kalian) dengan menyebut nama Allah maka berilah ia. Barangsiapa mengundang kamu maka penuhilah undangannya,&#8230;dst.” <strong>(</strong><strong>HR. Abu Daud</strong><strong> I/524 no.1672</strong><strong>, an-Nasa-i</strong><strong> V/82 no.2567, </strong><strong>dan Ahmad</strong><strong> II/68 no.5365, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma)</strong></p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Kedua</span></em>: <strong>Haram</strong>, yaitu apabila seorang hamba memohon kepada makhluk dalam hal-hal yang tidak mampu dilaksanakan kecuali oleh Allah semata, seperti mengatakan, ‘Wahai tuanku, atau wahai syaikh/kiyai, atau wahai pembesar jin, sembuhkanlah penyakitku, lapangkanlah rezkiku, kembalikan barang yang telah hilang dariku, berilah aku jodoh dan anak, selamatkan aku dari bencana’, maka ini adalah kekufuran dan kesyirikan yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, walaupun makhluk yang diminta doa tersebut masih hidup dan ada dihadapan kita. Allah ta’ala berfirman:</p>
<p dir="RTL"><strong>وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (17)</strong><em> </em><em></em></p>
<p><em>“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, Maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.</em>” <strong>(QS. Al-An’aam: 17)</strong></p>
<p>Dan firman-Nya pula (yang artinya):</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka Sesungguhnya kamu kalau begitu Termasuk orang-orang yang zalim&#8221;. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, Maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” </em><strong>(</strong><strong>QS. Yunus: 106-107</strong><strong>)</strong></p>
<p><strong>(Lihat pula: QS. Al-A’raaf: 194, 197; Al-Hajj: 11-13; Fathir: 13-14; Al-Ahqaaf: 5-6; Al-Maidah:72; A-Nisa’: 48, 116; Al-An’aam: 88; Asy-Syu’ara: 213; Az-Zumar: 65-66).</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"> C. KEUTAMAAN DOA</span></strong><strong>:</strong></p>
<p>Doa memiliki keutamaan dan faedah yang tak terhitung, kedudukannya sebagai satu bentuk ibadah cukup menjadi bukti keutamaanya. Diantara keutamaannya:</p>
<ol start="1">
<li><strong>Doa </strong><strong>adalah ibadah itu sendiri</strong>.</li>
</ol>
<p>Sebagaimana yang sabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:</p>
<p dir="RTL"><strong>اَلدُّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ</strong></p>
<p>”<strong>Doa adalah ibadah</strong>.” (<strong>HR</strong><strong>. Abu Daud I/466 no.1479, </strong><strong>Tirmizi V/374 no.3247</strong><strong>, Ibnu Majah II/1258 no.3828, dan Ahmad IV/267 no.18378, dan An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhu. Dan </strong><strong>dishahihkan oleh </strong><strong>syaikh Al-Albani</strong>).</p>
<p>Meninggalkan doa adalah bentuk menyombongkan diri dari menyembah Allah, sebagaimana Allah ta’ala berfirman:</p>
<p dir="RTL"><strong>وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (60)</strong><strong></strong></p>
<p><strong><em> “Dan Tuhanmu berfirman: &#8220;Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina&#8221;. </em></strong><strong>(QS. Al-Mu’min/Ghafir: 60)</strong></p>
<ol start="2">
<li><strong>Doa itu menunjukan tawakal kepada Allah ta’ala. </strong></li>
</ol>
<p>Hal itu dikarenakan orang yang berdo’a dalam kondisi memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan urusan hanya kepada-Nya bukan  kepada yang lain-Nya. Sebagaimana doa juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan bentuk pemenuhan akan perintah-Nya. Allah ta’ala berfirman:</p>
<p dir="RTL"><strong>وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ</strong><strong></strong></p>
<p><strong><em>“Dan Tuhanmu berfirman: &#8220;Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. </em>(</strong><strong>QS. Al-Mu’min/Ghafir: 60)</strong></p>
<ol start="3">
<li><strong>Doa juga merupakan senjata yang kuat yang digunakan seorang muslim dalam mencari kebaikan dan menolak kemadharatan.</strong><strong> </strong></li>
</ol>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p dir="RTL"><strong>مَنْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَمَا سُئِلَ اللَّهُ شَيْئًا يَعْنِى أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُسْأَلَ الْعَافِيَةَ ».</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ »</strong></p>
<p><em> “Barang siapa diantara kalian telah dibukakan baginya pintu doa, pasti dibukakan pula baginya pintu rahmat, dan tidaklah Allah diminta sesuatu yang Dia berikan lebih Dia senangi dari pada diminta kekuatan.” Dan Rasulullah </em>shallallahu alaihi wasallam bersabda:<em> “sesungguhnya doa itu bermanfaat baik terhadap apa yang terjadi maupun belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa.” </em><strong>(HR. At-T</strong><strong>irmid</strong><strong>zi V/552 no.3548, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma.</strong><strong> dihasankan oleh syaikh </strong><strong>Al-Albani).</strong></p>
<ol start="4">
<li><strong>Doa adalah senjata yang digunakan para nabi dalam menghadapi situasi-situasi sulit. </strong></li>
</ol>
<p>Begitu pun nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam perang badar, ketika ia melihat jumlah kaum musyrikin sebanyak seribu sedang pasukan islam tiga ratus Sembilan belas, ia segera menghadap kiblat seraya mengangkat kedua tanganya berdoa:</p>
<p dir="RTL"><strong>اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِى مَا </strong><strong>وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِى الأَرْضِ ». فَمَازَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ. وَقَالَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ كَذَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ</strong></p>
<p>“<em>Ya Allah wujudkanlah untuk kami apa yang engkau janjikan, ya Allah berikanlah kepada kami apa yang engkau janjikan, ya Allah jika sekumpulan kaum muslimin ini binasa, maka tidak ada yang akan menyembah engkau di muka bumi ini.” Rasulullah </em>shallallahu alaihi wasallam<em> terus melantunkan doa seraya membentangkan kedua tanganya menghadap kiblat hingga selempangnya jatuh, maka datanglah Abu Bakar mengambil selempang Rasulullah </em>shallallahu alaihi wasallam<em> dan meletakanya di atas pundaknya dan menjaganya dari belakang dan berkata: wahai nabi Allah, doa engkau kepada Tuhanmu sudah cukup, karena Dia pasti akan mewujudkan apa yang Dia janjikan untukmu.” (</em><strong>HR.</strong><strong> Muslim III/1383 no.1763, dari Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu)</strong><em></em></p>
<p>Demikian pula nabi Ayub alaihissalam, ia menggunakan senjata doa ketika mengalami berbagai macam cobaan, terisolir dari manusia, tidak ada lagi yang menyayanginya selain istrinya sendiri, dalam kondisi seperti itu ia tetap bersabar dan mengharap ridho Allah, dan ketika cobaan itu telah berlarut lama, ia berdoa:</p>
<p dir="RTL"><strong>وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)</strong><em> </em><em></em></p>
<p><em>“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: &#8220;(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang&#8221;. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”</em>. (QS: Al-Anbiya’: 83-84)<br />
<strong>
<ol start="5">
<li>Doa dapat menghilangkan kegelisahan dan kesedihan, menjadikan hati lapang, dan mempermudah urusan.</li>
</ol>
<p></strong><br />
Dalam berdoa, seorang hamba bermunajat kepada Tuhannya, mengakui kelemahan dan ketidak berdayaannya, mengungkapkan rasa butuhnya kepada Pencipta dan Pemiliknya, doa juga sarana untuk menghindari murka Allah ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:</p>
<p dir="RTL">مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَیْهِ</p>
<p><em>“Barang siapa tidak mau meminta kepada Allah, niscaya Dia akan marah kepadanya” </em><strong>(HR.</strong><strong> Ahmad II/442 no.9699</strong><strong>, dan At-</strong><strong>Tirmid</strong><strong>zi V/456 no.3373</strong><strong>, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Dan </strong><strong>dihasankan syaikh Al-Albani). </strong></p>
<p>Alangkah indahnya ungkapan seorang penyair:</p>
<p><em>Janganlah engkau meminta manusia satu kebutuhan,</em></p>
<p><em>Mintalah kepada yang pintu-Nya tak pernah tertutup.</em></p>
<p><em>Allah marah jika engkau tidak meminta-Nya,</em></p>
<p><em>Sedang manusia justru marah ketika diminta.</em></p>
<ol start="6">
<li><strong>Doa juga menjadi senjata bagi orang-orang yang terzalimi, ia adalah tempat berlindung bagi orang-orang lemah yang putus harapan, tertutup segala pintu di hadapanya. </strong></li>
</ol>
<p>Imam Syafi’i mengatakan:</p>
<p><em>“Apakah engkau meremehkan doa dan memandangnya sepele,</em></p>
<p><em>Padahal engkau tidak tahu apa yang diperbuat doa.</em></p>
<p><em>Ia adalah anak panah-anak panah malam yang tak kan meleset,</em></p>
<p><em>Akan tetapi ia memiliki masa dan masa itu ada penghujungnya”.</em></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"> D. SYARAT-SYARAT TERKABULNYA DOA</span></strong></p>
<p>Banyak orang yang berdoa kepada Allah tetapi mereka melakukan perbuatan yang menyebabkan doa mereka ditolak dan tidak dikabulkan. Hal ini dikarenakan kebodohan mereka tentang syarat-syarat terkabulnya doa, padahal apabila salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka doa doa apapun tidak akan dikabulkan oleh Allah.</p>
<p><strong>Berikut ini kami akan sebutkan</strong><strong> syarat-syarat terkabulnya doa. Dan </strong><strong>yang terpenting di antaranya ialah</strong><strong>:</strong></p>
<p><strong></strong><strong>1. Ikhlas karena Allah semata</strong><br />
Sebagaimana firman Allah ta’ala:</p>
<p dir="RTL"><strong>فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (14)</strong><strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya</em>&#8220;. <strong>(QS. Al-Mu’min/Ghafir: 14)</strong></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan bahwa setiap orang yang beribadah dan berdoa hendaknya dengan niat ikhlas (karena Allah) serta menyelisihi orang-orang musyrik dalam cara dan madzhab mereka. (Tafsir Ibnu Katsir IV/73).</p>
<p>Termasuk syarat terkabulnya doa adalah tidak beribadah dan tidak berdoa kecuali kepada Allah. Jika seseorang memalingkan sebagian ibadah kepada selain Allah, baik kepada para Nabi atau para wali, seperti mengajukan permohonan dan perlindungan kepada mereka, maka doanya tidak akan dikabulkan oleh Allah, dan nanti di akhirat kelak ia termasuk orang-orang yang merugi serta kekal di dalam api Neraka Jahannam bila dia meninggal dunia sebelum bertaubat dari perbuatan syiriknya itu.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Al-Ittiba’ </strong><strong></strong></p>
<p>Yaitu Mengikuti Tuntunan Nabi Muhammad <strong>shallallahu alaihi wasallam</strong> dalam segala bentuk ibadah. Dan ini merupakan salah satu dari makna syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah <strong>(</strong><strong>أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ</strong><strong>), </strong>yaitu agar di dalam beribadah kepada Allah harus sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Setiap ibadah yang diada-adakan atau dibuat-buat secara baru yang tidak pernah diajarkan atau dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka ibadah itu tertolak, walaupun pelakunya adalah seorang muslim yang beribadah kepada Allah dengan niat yang ikhlas. Karena sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kita semua untuk senantiasa mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam segala urusan agama, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p dir="RTL"><strong>وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا</strong><strong></strong></p>
<p>  “<em>Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.</em>(<strong>QS. Al Hasyr : 7</strong><strong>)</strong></p>
<p><strong>            </strong>Dan firman-Nya pula:</p>
<p dir="RTL"><strong>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ </strong><strong>اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ</strong><em> </em><em></em></p>
<p><em>“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu</em>”. <strong>(</strong><strong>QS. Al-Ahzaab: 21</strong><strong>)</strong></p>
<p>Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga telah memperingatkan umatnya agar meninggalkan segala perkara ibadah yang tidak ada contoh atau tuntunannya dari beliau, sebagaimana sabda beliau shallallahu alaihi wasallam:</p>
<p dir="RTL"><strong>مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</strong> <strong></strong></p>
<p>“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang bukan termasuk dalam urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak”. <strong>(</strong><strong>HR. Muslim</strong><strong> III/1343 no.1718, dari Aisyah radhiyallahu anha)</strong></p>
<p><strong> 3. Tidak Berdoa Untuk Sesuatu Dosa atau Memutuskan Silaturahmi </strong></p>
<p>Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits berikut ini.</p>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا</strong><strong></strong></p>
<p>“Dari Abu Said bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: &#8220;Apabila seorang muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung unsur dosa atau pemutusan silaturahmi melainkan Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal, yaitu; (1) Allah akan menyegerakan pengabulan doanya, atau (2) Allah menjadikannya sebagai simpanan baginya di akhirat, atau (3) Allah menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya&#8221;. <strong>(HR. Ahmad III/18 no.11149. dan hadits ini derajatnya Hasan Shohih sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib II/128 no.1633)</strong><strong>.<br />
</strong><br />
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud <strong>(</strong>suatu doa yang tidak mengandung unsur dosa) artinya berdoa untuk kemaksiatan, sebagai contoh seseorang berdoa dengan mengucapkan: &#8220;Ya Allah takdirkan aku untuk bisa membunuh si fulan&#8221;, sementara si fulan itu tidak berhak dibunuh, atau berdoa: &#8220;Ya Allah berilah aku rezki untuk bisa minum khamer&#8221;, atau &#8220;Ya Allah pertemukanlah aku dengan seorang wanita cantik untuk berzina&#8221;. Atau berdoa untuk memutuskan silaturrahmi suatu contoh : &#8220;Ya Allah jauhkanlah aku dari bapak dan ibuku serta saudaraku&#8221;, atau doa semisalnya. Doa tersebut pengkhususan terhadap makna yang umum. Imam Al-Jazari mengatakan, bahwa memutuskan silaturahmi bisa berupa tidak saling menyapa, saling menghalangi dan tidak berbuat baik dengan semua kerabat dan keluarga.”</p>
<p><strong>4. Hendaknya Makanan, minuman dan Pakaiannya dari yang Halal dan Baik </strong></p>
<p><strong></strong>Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan dalam sebuah hadits:</p>
<p dir="RTL"><strong>ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ</strong></p>
<p>&#8220;Kemudian Nabi menyebutkan seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi seraya berdoa: Ya Rabbi, ya Rabbi (Wahai Tuhanku), sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya bisa terkabulkan?.&#8221; <strong>(</strong><strong>HR</strong><strong>. Muslim II/703 no.1015</strong><strong>).</strong></p>
<p>Imam An-Nawawi berkata: “Bahwa yang dimaksud lama bepergian dalam rangka beribadah kepada Allah seperti haji, ziarah, bersilaturahmi dan yang lainnya”. (Syarah Shohih Muslim III/457).</p>
<p>Pada zaman sekarang ini berapa banyak orang yang mengkonsumsi makanan, dan minuman serta memakai pakaian yang haram baik dari harta hasil riba, perjudian atau harta suap atau yang lainnya. Na’udzu billahi min dzalik.<strong> </strong></p>
<p><strong>5. Tidak Tergesa-gesa Dalam Menunggu Terkabulnya Doa </strong></p>
<p><strong></strong>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p dir="RTL"><strong>يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ رَبِّى فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِى</strong></p>
<p>&#8220;Artinya : Akan dikabulkan permintaan seseorang di antara kamu, selagi tidak tergesa-gesa, yaitu mengatakan: Saya telah berdoa kepada Tuhanku tetapi tidak dikabulkan&#8221;. <strong>(Shahih Al-Bukhari, kitab Da&#8217;awaat </strong><strong>V</strong><strong>/2335 no.5981, dan</strong><strong> Muslim IV/2095 no.2735).</strong></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata: Yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: <strong>(</strong>Saya telah berdoa kepada Tuhanku tetapi tidak dikabulkan<strong> )</strong>, Ibnu Baththaal mengatakan, bahwa seseorang bosan berdoa lalu meninggalkannya, seakan-akan mengungkit-ungkit dalam doanya atau mungkin dia berdoa dengan baik sesuai dengan syaratnya, tetapi bersikap bakhil dalam doanya dan menyangka bahwa Allah tidak mampu mengabulkan doanya, padahal Dia adalah dzat Yang Maha Mengabulkan doa dan tidak pernah habis pemberian-Nya.” <strong>(Fathul Bari XI/145</strong><strong>, dan Syarah Shohih Al-Bukhori oleh Ibnu Baththol XIX/137</strong><strong>)</strong>.</p>
<p>Syaikh Al-Mubarak Furi menjelaskan bahwa Imam Al-Madzhari berkata: Barangsiapa yang bosan dalam berdoa, maka doanya tidak terkabulkan sebab doa adalah ibadah, baik dikabulkan atau tidak, seharusnya seseorang tidak boleh bosan beribadah. Tertundanya permohonan boleh jadi belum waktunya doa tersebut dikabulkan karena segala sesuatu telah ditetapkan waktu terjadinya, sehingga segala sesuatu yang belum waktunya terjadi tidak akan mungkin terjadi, atau boleh jadi permohonan tersebut tidak terkabulkan dengan tujuan Allah mengganti doa tersebut dengan pahala, atau boleh jadi doa tersebut tertunda pengabulannya agar orang tersebut rajin berdoa, sebab Allah sangat senang terhadap orang yang rajin berdoa karena doa memperlihatkan sikap rendah diri, menyerah dan merasa membutuhkan Allah. Orang sering mengetuk pintu akan segera dibukakan pintu dan begitu pula orang yang sering berdoa akan segera dikabulkan doanya. Maka seharusnya setiap kaum Muslimin tidak boleh meninggalkan berdoa. <strong>[Mir</strong><strong>-</strong><strong>atul Mafatih VII</strong><strong>/349]</strong>.</p>
<p><strong>6 &amp; 7. Hendaknya Berdoa dengan Hati yang Khusyu&#8217; dan Yakin bahwa Doanya Pasti akan Dikabulkan</strong><strong>.</strong><strong> </strong></p>
<p><strong></strong>Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p dir="RTL"><strong>ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَه</strong></p>
<p>&#8220;Mohonlah kepada Allah sedangkan kamu merasa yakin akan dikabulkan karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai&#8221;. <strong>(HR. Tirmidzi V/517 no.3479)</strong></p>
<p>Syaikh Al-Mubarak Furi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi: (<strong>dari hati yang lalai)</strong> adalah hati yang berpaling dari Allah atau berpaling dari yang dimintanya. (Mir&#8217;atul Mafatih VII/360-361).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">E. ADAB-ADAB BERDO’A</span></strong></p>
<p>Adab-adab berdoa banyak sekali, semuanya dianjurkan untuk dilaksanakan saat berdoa, agar ia menjadi penguat untuk dikabulkannya doa. Di antara adab-adab berdoa adalah:</p>
<p><strong>1- Memulai </strong><strong>doa dengan bacaan </strong><strong>hamdalah (</strong><strong>puja-puji syukur kepada</strong><strong> Allah ta’ala)</strong><strong> dan shalawat atas N</strong><strong>abi Muhammad shallallahu alaihi wasallam</strong><strong>.</strong></p>
<p>Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits berikut ini.<br />
عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَ بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَاعِدًا إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَقَالَ <strong>اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى</strong><strong>. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهَ -صلى الله عليه وسلم- « عَجِلْتَ أَيُّهَا الْمُصَلِّى إِذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَدِ اللَّهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ وَصَلِّ عَلَىَّ ثُمَّ ادْعُهُ ». قَالَ ثُمَّ صَلَّى رَجُلٌ آخَرُ بَعْدَ ذَلِكَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَصَلَّى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُّهَا الْمُصَلِّى ادْعُ تُجَبْ »</strong><br />
 Dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu anhu, ia berkata: Tatkalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk, tiba-tiba ada seorang laki-laki masuk (masjid, pent) lalu berdoa: “<em>Allahumaghfirli Warhamni </em>(Ya Allah, ampunilah dosaku dan rahmatilah diriku).”<em> </em>Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:<em> “Kamu telah tergesa-gesa wahai orang yang berdoa. Jika kamu berdoa, maka duduklah, lalu ucapkan pujian kepada Allah dengan sesuatu yang layak bagi-Nya, dan bershalawatlah kepadaku, lalu berdoalah.” </em>Kemudian ada laki-laki lain berdoa setelah itu, ia mengucapkan pujian kepada Allah dan bershalawat kepada nabi, maka nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya<em>: “Wahai orang yang berdoa, berdoalah (kepada Allah, pent), niscaya engkau akan dikabulkan.” </em><strong>(HR. At-Tirmizi V/516 no.</strong><strong>3476.</strong><strong> Dan </strong><strong>dishahihkan syaikh Al-Albani di dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib II/130 no.1643</strong><strong>).</strong></p>
<p><strong>2- Mengakui dosa dan kesalahan di hadapan Allah.</strong></p>
<p>Mengakui dosa dan kesalahan menunjukan kesempurnaan ubudiyah (penghambaan) kepada Allah ta’ala, sebagaimana doa nabi Yunus ‘alaihissalam berikut ini:</p>
<p dir="RTL"> <strong>وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87)</strong><strong><em> </em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam Keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia menyeru dalam <span style="text-decoration:underline;">Keadaan yang sangat gelap</span>: &#8220;Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.&#8221; </em>(QS. </strong><strong>Al-Anbiya: 87)</strong></p>
<p>Yang dimaksud dengan Keadaan yang sangat gelap ialah di dalam perut ikan, di dalam laut dan di malam hari.</p>
<p><strong>3- Bersungguh-sungguh dalam berdoa dan memantapkan</strong><strong> hati dalam Meminta kepada Allah ta’ala.</strong><strong></strong></p>
<p>Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits berikut ini.</p>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ أَنَسٍ &#8211; رضى الله عنه &#8211; قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; «</strong><strong> إِذَا</strong><strong> </strong><strong>دَعَا</strong><strong> </strong><strong>أَحَدُكُمْ</strong><strong> </strong><strong>فَلْيِعْزِمِ</strong><strong> </strong><strong>اْلمَسْأَلَةَ،</strong><strong> </strong><strong>وَلاَ</strong><strong> </strong><strong>يَقُوْلَنَّ : اَللَّهُمَّ</strong><strong> </strong><strong>إِنْ</strong><strong> </strong><strong>شِئْتَ</strong><strong> </strong><strong>فَأَعْطِنِيْ،</strong><strong> </strong><strong>فَإِنَّهُ</strong><strong> </strong><strong>لاَ</strong><strong> </strong><strong>مُسْتَكْرِهَ</strong><strong> </strong><strong>لَهُ</strong><strong> »</strong></p>
<p><em> Dari Anas (bin Malik) radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: </em><em>“Jika salah seorang dari kalian berdoa, maka hendaknya ia memantapkan </em><em>hatinya</em><em> dalam meminta, dan janganlah mengucapkan</em><em>: “</em><em>Ya Allah,</em><em> jika E</em><em>ngkau mau,</em><em> berilah aku,karena sesungguhnya tidak ada yang bisa memaksa Allah.” </em><strong>(HR. </strong><strong>Bukhari V/2334 no.5979,</strong><strong> dan </strong><strong>Muslim IV/2063 no.2678</strong><strong>).</strong></p>
<p><strong> 4- Berwudhu, menghadap kiblat dan mengangkat tangan ketika berdoa.</strong></p>
<p>Amalan-amalan tersebut akan lebih mendatangkan kekhusyu’an dan kejujuran dalam menghadap kepada Allah. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits berikut.</p>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ زَيْدٍ الأَنْصَارِىَّ أَنَّ النَّبِىَّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى يُصَلِّى ، وَأَنَّهُ لَمَّا دَعَا &#8211; أَوْ أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ &#8211; اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ .</strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Zaid Al-Anshori radhiyallahu anhu, ia mengatakan, “Bahwa <em>Nabi shallallau alaihi wasallam</em><em> keluar ke tanah lapang</em><em> untuk sholat istisqo’ (</em><em>minta hujan).</em><em> Lalu ketika</em><em> beliau hendak</em><em> berdoa, beliau</em><em> menghadap kiblat dan membalik selempangnya.”</em> <strong>(HR.Bukhari I/348 no.982, dan Muslim II/611 no.894).</strong></p>
<p>Dan sebagaimana diterangkan di dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, tatkala Nabi shallallahu alaihi wasallam selesai dari perang Hunain – Abu Musa menceritakan, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam meminta air, lalu beliau berwudhu, kemudian mengangkat kedua tanganya seraya berdoa:” <em>Ya Allah ampunilah Ubaid bin Amir</em>.” Dan aku melihat putih ketiaknya.” <strong>(</strong><strong>HR.</strong><strong> Bukhari IV/1571 no.4068, dan </strong><strong>Muslim IV/1943 no.2498)</strong></p>
<p><strong>5- Merendahkan suara dalam berdoa</strong></p>
<p>Hal ini sebagaimana perintah Allah ta’ala di dalam firman-Nya:</p>
<p dir="RTL"> <strong>ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (55)</strong><strong><em> </em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em> “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”</em></strong><em>.</em> <strong>(</strong><strong>QS. Al-A’raaf: 55)</strong></p>
<p>Dan diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, ia berkata: “Kami (para sahabat) pernah melakukan safar bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Tiba-tiba ada sebagian sahabat yang membaca takbir dengan suara keras, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p dir="RTL"><strong>«</strong><strong> </strong><strong>أَيُّهَا</strong><strong> </strong><strong>النَّاسُ،</strong><strong> </strong><strong>اِرْبِعُوْا</strong><strong> </strong><strong>عَلَى</strong><strong> </strong><strong>أَنْفُسِكُمْ،</strong><strong> </strong><strong>إِنَّكُمْ</strong><strong> </strong><strong>لاَ</strong><strong> </strong><strong>تَدْعُوْنَ</strong><strong> </strong><strong>أَصَمَّ</strong><strong> </strong><strong>وَلاَ</strong><strong> </strong><strong>غَائِبًاً،</strong><strong> </strong><strong>إِنَّكُمْ</strong><strong> </strong><strong>تَدْعُوْنَ</strong><strong> </strong><strong>سَمِيْعاً</strong><strong> </strong><strong>قَرِيْباً</strong><strong> </strong><strong>وَهُوَ</strong><strong> </strong><strong>مَعَكُمْ </strong><strong>»</strong></p>
<p><em>“Wahai manusia, sayangilah diri kalian (maksudnya, janganlah bertakbir dengan suara keras, pent)</em><em>, karena </em><em>sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada (Tuhan) </em><em>yang tuli dan tidak pula kepada (Tuhan) </em><em>yang jauh. sesungguhnya</em><em> kalian sedang </em><em>berdoa kepada Dzat </em><em>Yang Maha Mendengar lagi Maha</em><em> Dekat, dan Dia selalu menyertai kalian.</em><em>” </em><strong>(HR. Bukhari IV/1541 no.3968, dan Muslim IV/2076 no.2704</strong><strong>)</strong></p>
<p><strong>6- Tidak membuat-buat kalimat bersajak</strong></p>
<p>Hal itu karena orang yang berdoa harus dalam kondisi merendahkan diri di hadapan Allah, sedangkan perbuatan membuat-buat seperti itu tidak pantas. Ibnu Abas radhiyallahu anhu pernah menyampaikan nasehat kepada salah seorang muridnya, ia berkata: “Jauhilah sajak dalam berdoa, sesungguhnya aku mendapatkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sahabatnya menjauhi hal itu.”</p>
<p><strong>7- Hendaknya m</strong><strong>emilih waktu-waktu yang dianjurkan dan saat-saat yang mulia.</strong></p>
<p>Di dalam kehidupan dunia ini, seorang muslim yang bertakwa akan selalu merasa butuh kepada Allah demi keselamatan dan kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Oleh karenanya, ia diperintahkan agar banyak berdoa kepada Allah dengan meminta segala hajatnya yang berkaitan dengan urusan dunia maupun agamanya kapan saja dan dalam kondisi bagaimana pun. Akan tetapi, di dalam beberapa ayat al-Qur’an dan hadits yang shohih diterangkan adanya waktu-waktu yang mulia dan sangat dianjurkan berdua padanya, seperti waktu setelah shalat, ketika dikumandangkan adzan, antara adzan dan iqamat, sepertiga malam terakhir, hari Jumat, hari Arafah, saat turun hujan, ketika sujud, ketika berangkat menyerbu musuh dalam jihad fisabililah, dan selainnya.</p>
<p><strong>8- Tidak mendoakan kejelekan</strong><strong> bagi</strong><strong> diri sendiri</strong><strong>, keluarga dan harta</strong></p>
<p>Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:</p>
<p dir="RTL"> <strong>لاَ</strong><strong> </strong><strong>تَدْعُوْا</strong><strong> </strong><strong>عَلَى</strong><strong> </strong><strong>أَنْفُسِكُمْ،</strong><strong> </strong><strong>وَلاَ</strong><strong> </strong><strong>تَدْعُوْا</strong><strong> </strong><strong>عَلَى</strong><strong> </strong><strong>أَوْلاَدِكُمْ،</strong><strong> </strong><strong>وَلاَ</strong><strong> </strong><strong>تَدْعُوْا</strong><strong> </strong><strong>عَلَى</strong><strong> </strong><strong>أَمْوَالِكُمْ،</strong><strong> </strong><strong>لاَ</strong><strong> </strong><strong>تُوَافِقُوْا</strong><strong> </strong><strong>مِنَ</strong><strong> </strong><strong>اللهِ</strong><strong> </strong><strong>سَاعَةً</strong><strong> </strong><strong>يُسْأَلُ</strong><strong> </strong><strong>فِيْهَا</strong><strong> </strong><strong>عَطَاءً</strong><strong> </strong><strong>فَيَسْتَجِيْبُ</strong><strong> </strong><strong>لَكُمْ</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Janganlah kalian mendoakan jelek terhadap diri kalian, jangan pula terhadap anak-anak dan harta kalian, jangan sampai kalian mendapati satu saat Allah diminta satu permintaan lalu Dia mengabulkan untuk kalian<strong>“ </strong></em><strong>(HR.</strong><strong> Muslim IV/2304 no.3009</strong>).</p>
<p>Demikian penjelasan singkat tentang Panduan Praktis Berdoa Sesuai Tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam yang dapat kami sampaikan. Mudah-mudahan menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat. Dan saya memohon kepada Allah agar Dia melimpahkan kepada kita semua taufiq dan pertolongan-Nya untuk dapat berdoa dan beribadah kepada-Nya dengan niat ikhlas karena mengharap wajah-Nya dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, serta istiqomah di atas agama-Nya yang haq hingga akhir hayat.</p>
<p><strong>(Artikel Group Majlis Hadits di BlackBerry Messenger. Sumber: Buletin Al-Ittiba&#8217; edsi khusus tahun ke-2, 1429 H / 2008 M, Yayasan Mutiara Hikmah, Klaten &#8211; Jawa Tengah).</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/836/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=836&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/29/panduan-praktis-berdoa-sesuai-tuntunan-nabi-%d8%b5%d9%81%d8%a9-%d8%af%d8%b9%d8%a7%d8%a1-%d8%a7%d9%84%d9%86%d8%a8%d9%8a-%d8%b5%d9%84%d9%89-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-%d8%b9%d9%84%d9%8a%d9%87-%d9%88/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/doa-adalah-ibadah1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DOA ADALAH IBADAH</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERUPAYA MENJADI HAMBA ALLAH YANG SELALU BERSYUKUR / من فضائل الشكر وآدابه</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/22/berupaya-menjadi-hamba-allah-yang-selalu-bersyukur-%d9%85%d9%86-%d9%81%d8%b6%d8%a7%d8%a6%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%b4%d9%83%d8%b1-%d9%88%d8%a2%d8%af%d8%a7%d8%a8%d9%87/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/22/berupaya-menjadi-hamba-allah-yang-selalu-bersyukur-%d9%85%d9%86-%d9%81%d8%b6%d8%a7%d8%a6%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%b4%d9%83%d8%b1-%d9%88%d8%a2%d8%af%d8%a7%d8%a8%d9%87/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 00:34:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAQ DAN ADAB]]></category>
		<category><![CDATA[BENING HATI (TAZKIYATUN NUFUS)]]></category>
		<category><![CDATA[DOA DAN DZIKIR]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH AMAL]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH IBADAH]]></category>
		<category><![CDATA[GRUP MAJLIS HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[TAFSIR]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[ADAB BERSYUKUR]]></category>
		<category><![CDATA[BERUPAYA MENJADI HAMBA ALLAH YANG SELALU BERSYUKUR]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN BERSYUKUR]]></category>
		<category><![CDATA[SYUKUR NIKMAT]]></category>
		<category><![CDATA[TAZKIYATUN NUFUS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=829</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Sungguh betapa banyak nikmat Allah kepada kita. Dari mulai terlahir ke dunia hingga sekarang, nikmat Allah tidak pernah berhenti mengalir kepada kita. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, nikmat Allah selalu tercurah. Bahkan, &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/22/berupaya-menjadi-hamba-allah-yang-selalu-bersyukur-%d9%85%d9%86-%d9%81%d8%b6%d8%a7%d8%a6%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%b4%d9%83%d8%b1-%d9%88%d8%a2%d8%af%d8%a7%d8%a8%d9%87/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=829&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</p>
<p><div id="attachment_830" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/doa-agar-menjadi-hamba-yang-bersyukur.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/doa-agar-menjadi-hamba-yang-bersyukur.jpg?w=300&#038;h=288" alt="" title="DOA AGAR MENJADI HAMBA YANG BERSYUKUR" width="300" height="288" class="size-medium wp-image-830" /></a><p class="wp-caption-text">DOA AGAR MENJADI HAMBA ALLAH YANG BERSYUKUR</p></div>Sungguh betapa banyak nikmat Allah kepada kita. Dari mulai terlahir ke dunia hingga sekarang, nikmat Allah tidak pernah berhenti mengalir kepada kita. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, nikmat Allah selalu tercurah. Bahkan, ketika tidur pun nikmat itu tetap ada. Setiap detik yang kita lalui, nikmat Allah tidak pernah putus menghampiri kita. Karena saking banyaknya, mustahil kita mampu menghitungnya. Kewajiban kita sekarang hanya satu, yaitu mensyukurinya. Dengan bersyukur, hidup kita akan semakin bahagia dan beruntung. Sebaliknya, dengan mengkufuri nikmat, hidup kita akan semakin sengsara dan penuh dengan kesulitan.  <span id="more-829"></span></p>
<p><strong>A.	MAKNA BERSYUKUR</strong><br />
Bersyukur artinya seseorang memuji Allah ta’ala yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepadanya. Baik berupa kenikmatan jasmani seperti harta benda, kesehatan, keamanan, anak, istri dan lain sebagainya. Atau yang berupa kenikmatan rohani seperti iman, islam, petunjuk, ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang lurus dan benar dalam beragama, selamat dari segala penyimpangan dan kesesatan, rasa senang, lapang dada, hati yang  tenang dan lain sebagainya.</p>
<p>Nikmat Allah ta’ala yang dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya itu sangat banyak, sehingga tidak ada seorang pun yang mampu menghitungnya, sebagaimana firman Allah ta’ala:<br />
 وَإِنْ تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا<br />
“Apabila kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan bisa menghitungnya”. (QS. An Nahl : 18)</p>
<p>B.	HUKUM BERSYUKUR<br />
Bersyukur merupakan kewajiban bagi setiap hamba yang beriman, sebagaimana firman Allah ta’ala:<br />
فاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْنِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْنِ<br />
“Ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku akan ingat kepadamu, bersyukurlah kepadaKu dan jangan kamu kufur (ingkar)”. (QS. Al Baqarah : 152)</p>
<p>Kenikmatan yang banyak itu wajib disyukuri oleh setiap orang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah dan hari Kiamat, karena kesemuanya itu datang dari Allah ta’ala, Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu pun dari para makhluk-Nya, akan tetapi justru merekalah yang sangat membutuhkan Allah.  Sebagaimana firman Allah ta’ala:</p>
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ </p>
<p>“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah dialah yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)</p>
<p><strong>C.	KEUTAMAAN BERSYUKUR KEPADA ALLAH</strong><br />
Orang yang bersyukur kepada Allah akan mendapatkan banyak keutamaan dan manfaat, diantaranya:</p>
<p><strong>1.	Mendapatkan tambahan nikmat dari Allah.  </strong><br />
Allah ta’ala berfirman:<br />
 لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ<br />
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu”. (QS. Ibrahim : 7)<br />
<strong>2.	Selamat dari siksaan Allah.</strong><br />
Allah ta’ala berfirman:<br />
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا </p>
<p>“Tidaklah Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa’ : 147)</p>
<p>Yang dimaksud Allah mensyukuri hamba-hamba-Nya ialah Allah memberi pahala terhadap amal-amal hamba-hamba-Nya, mema&#8217;afkan kesalahannya, menambah nikmat-Nya.</p>
<p><strong>3.	Mendapatkan pahala yang besar. </strong><br />
Allah ta’ala berfirman:<br />
 وَسَيَجْزِ اللهُ الشَاكِرِيْنَ<br />
“Dan Allah akan memberi ganjaran pahala bagi orang-orang yang bersyukur ”. (QS. Ali ‘Imran : 144)</p>
<p><strong>D.	Bagaimanakah Mensyukuri Nikmat Allah?</strong><br />
Agar dapat mewujudkan rasa syukur kepada Allah ta’ala atas segala limpahan nikmat-Nya, maka ada 3 cara yang harus ditempuh oleh seorang hamba, yaitu:</p>
<p><strong>1.	Bersyukur Dengan Hati.</strong><br />
Maksudnya seorang hamba mengetahui dan mengakui bahwa semua kenikmatan yang ada pada dirinya itu datangnya dari Allah ta’ala. Tidak boleh sedikit pun merasa bahwa kenikmatan apapun yang dimilikinya baik berupa harta kekayaan, kedudukuan atau jabatan, kesehatan atau kesuksesan lainnya adalah diperoleh karena hasil jerih payanya sendiri, atau karena ilmu dan ketrampilan yang dimilikinya, bukan karena kehendak Allah ta’ala.</p>
<p><strong>2.	Bersyukur Dengan Lisan.</strong><br />
Yaitu lisan seorang hamba yang beriman selalu mengucapkan puji syukur kepada Allah setiap kali mendapatkan suatu kenikmatan, baik dengan ucapan  الحمد لله (Alhamdulillah) atau membasahi lidahnya dengan doa dan dzikir yang maknanya mengandung puja-puji syukur kepada-Nya.</p>
<p><strong>3.	Bersyukur Dengan Anggota Badan.</strong><br />
Segala nikmat yang dirasakan oleh orang yang beriman, akan dijadikan sebagai pendorong baginya untuk lebih banyak dan bersemangat di dalam beribadah kepada Allah. Sehingga semakin banyak kenikmatan yang diperolehnya, maka semakin meningkat pula ibadahnya kepada Allah.<br />
Dan termasuk dalam makna bersyukur dengan anggota badan ialah menjaga dan menjauhkan anggota badan dari segala perbuatan dosa dan maksiat yang mendatangkan dosa dan kemurkaan dari Allah.</p>
<p>Di antara salah satu cara agar kita mampu menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur kepada-Nya ialah dengan melihat kepada orang-orang yang derajatnya dalam urusan dunia di bawah kita, seperti melihat masih banyaknya orang yang lebih miskin daripada kita dalam hal harta benda. Atau kita melihat kepada orang-orang yang kurang sempurna dalam hal fisik (cacat jasmani), sementara kita memiliki fisik atau badan yang sempurna dan sehat. Adapun dalam urusan agama dan akhirat (yakni keimanan dan ketaatan, atau ilmu dan amal ibadah), maka hendaknya kita melihat kepada orang-orang yang kedudukannya lebih tinggi daripada kita. Karena dengan demikian, kita semakin terdorong untuk bersemangat dalam menambah keimanan, ilmu agama, dan amal ibadah, serta semakin sungguh-sungguh untuk menjauhi segala perbuatan dosa dan maksiat yang akan menghancurkan dan menyengsarakan kehidupan kita di dunia dan akhirat.</p>
<p>Kita memohon kepada Allah ta’ala agar menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang selalu bersyukur atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya, dan menganugerahkan kepada kita kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. </p>
<p><strong>[Materi Kajian Group Majlis Hadits BlackBerry Messenger, room Bening Hati (Tazkiyatun Nufus)]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/829/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=829&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/22/berupaya-menjadi-hamba-allah-yang-selalu-bersyukur-%d9%85%d9%86-%d9%81%d8%b6%d8%a7%d8%a6%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%b4%d9%83%d8%b1-%d9%88%d8%a2%d8%af%d8%a7%d8%a8%d9%87/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/doa-agar-menjadi-hamba-yang-bersyukur.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DOA AGAR MENJADI HAMBA YANG BERSYUKUR</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HADITS-HADITS DHO’IF DAN PALSU TENTANG KEUTAMAAN SURAT AL-KAHFI / الأحاديث الضعيفة والموضوعة في فضائل سورة الكهف</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/13/hadits-hadits-dhoif-dan-palsu-tentang-keutamaan-surat-al-kahfi-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b9%d9%8a%d9%81%d8%a9-%d9%88%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%88/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/13/hadits-hadits-dhoif-dan-palsu-tentang-keutamaan-surat-al-kahfi-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b9%d9%8a%d9%81%d8%a9-%d9%88%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%88/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 17:21:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[FADHILAH AMAL]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH SURAT AL-QUR'AN]]></category>
		<category><![CDATA[GRUP MAJLIS HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS DHO'IF DAN PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[BAHAYA HADITS DHO'IF DAN PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH SURAT AL-KAHFI]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS DHO'IF DAN PALSU TENTANG SURAT AL-KAHFI]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN SURAT AL-KAHFI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=822</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Pada postingan sebelumnya kami telah menyebutkan hadits-hadits shohih tentang keutamaan surat Al-Kahfi, maka pada kali ini, kami akan melanjutkannya dengan menyebutkan beberapa hadits dho’if , palsu dan batil yang berkaitan dengan keutamaan surat tersebut. &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/13/hadits-hadits-dhoif-dan-palsu-tentang-keutamaan-surat-al-kahfi-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b9%d9%8a%d9%81%d8%a9-%d9%88%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%88/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=822&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/man-kadzaba-alayya-mutaammidan.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/man-kadzaba-alayya-mutaammidan.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" title="MAN KADZABA &#039;ALAYYA MUTA&#039;AMMIDAN" width="300" height="224" class="alignleft size-medium wp-image-824" /></a>Pada postingan sebelumnya kami telah menyebutkan hadits-hadits shohih tentang keutamaan surat Al-Kahfi, maka pada kali ini, kami akan melanjutkannya dengan menyebutkan beberapa hadits dho’if , palsu dan batil yang berkaitan dengan keutamaan surat tersebut. </p>
<p>Hal ini dikarenakan banyaknya riwayat-riwayat batil tentang keutamaan-keutamaan surat Al-Kahfi yang didustakan atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Di antara keutamaannya ialah sebagai berikut:<br />
1.	Surat Al-Kahfi sebagai penghalang dari api neraka bagi siapa saja yang membacanya.<br />
2.	Orang yang membaca surat al-Kahfi akan memperoleh pahala besar yang memenuhi jarak antara langit dan bumi.<br />
3.	Orang yang membaca surat Al-Kahfi, jika dia mati, maka dianggap sebagai orang yang mati Syahid dan dikumpulkan di padang mahsyar bersama para syuhada’.<br />
4.	Barangsiapa menulis surat Al-Kahfi dan memasukkannya ke dalam botol, lalu disimpan di dalam rumah maka ia sekeluarga akan bebas dari kefakiran dan gangguan apapun untuk selamanya.<br />
5.	Barangsiapa menulis surat Al-Kahfi dan menjadikannya di tempat-tempat penyimpanan makanan pokok seperti gandum, beras, dan semisalnya, maka ia akan tercegah dari segala hal yang akan merusak makanan pokoknya.<br />
Keutamaan-keutaman besar tersebut telah disebutkan di dalam hadits-hadits berikut ini. <span id="more-822"></span></p>
<p><strong>Hadits Pertama: </strong></p>
<p>Imam At-Tirmidzi rahimahullah berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ja’far, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qotadah, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Ma’dan bin Abi Tholhah, dari Abu Darda radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:</p>
<p>مَنْ قَرَأَ ثَلاَثَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ </p>
<p>“Barangsiapa membaca tiga ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari fitnah Dajjal.”<br />
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi V/162 no.2886, dan ia berkata; hadits ini (derajatnya) Hasan shohih).</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong></p>
<p>Hadits ini derajatnya <strong>DHO’IF</strong> (lemah) karena ia termasuk hadits <strong>SYAADZ </strong>(yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang tsiqoh (terpercaya) tetapi menyelisihi hadits lain yang diriwayatkan oleh perawi lainnya yang lebih tsiqoh darinya, pent), sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah III/509 no.1336, Dho’if At-Targhib wa At-Tarhib I/221 no.883, Dho’if Sunan At-tirmidzi I/343 no.542.</p>
<p>Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini Shohih dengan lafazh selain lafazh hadits ini. Adapun lafazh hadits ini maka ia itu Syaadz. Syu’bah atau perowi yang sesudahnya telah keliru. Dan Syu’bah juga pernah keliru di tempat (riwayat) lainnya. kekeliruan pertama, perkataannya (dalam meriwayatkan hadits, pent): “Tiga (ayat)”. Padahal yang benar adalah lafazh: “Sepuluh (ayat)”, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam bagian pertama tentang Hadits-hadits shohih tentang keutamaan surat Al-Kahfi di atas.</p>
<p><strong>Hadits Kedua:</strong></p>
<p>Imam Al-Baihaqi rahimahullah meriwayatkan dari jalan Al-Kholili Muhammad bin Abdurrahman Al-Jad’ani, dari Sulaiman bin Mirqo’, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: </p>
<p> سُوْرَةُ الْكَهْفِ تُدْعَى فِيْ التَّوْرَاةِ : اَلْحَائِلَةُ ؛ تَحُوْلُ بَيْنَ قَارِئِهَا وَبَيْنَ النَّارِ </p>
<p>“Surat Al-Kahfi dinamakan di dalam kitab Taurat dengan Al-Ha’ilah; karena surat ini menjadi penghalang antara orang yang membacanya dengan api neraka.”<br />
(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam kitab Syu’ab Al-Iman  II/475 no.2448, dan Ar-Rofi’i I/300).</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong></p>
<p>Hadits ini derajatnya <strong>DHO’IF JIDDAN</strong> (sangat lemah), sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah VII/256 no.3259.</p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat seorang perowi yang bernama Sulaiman bin Mirqo’ dan Muhammad bin Abdurrahman Al-Jad’ani.</p>
<p>Al-‘Uqoili berkata tentang Sulaiman bin Mirqo’: “Dia seorang yang Munkar haditsnya. Haditsnya tidak dapat dijadikan mutabi’ (penguat bagi riwayat lain).” (Lihat Adh-Dhu’afa II/143).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata tentang Muhammad bin Abdurrahman Al-Jad’ani di dalam kitab Taqrib At-Tahdzib: “Haditsnya ditinggalkan.” </p>
<p>Dan Al-Baihaqi juga menilai hadits ini cacat (dho’if) karenanya. Beliau berkata: “Muhammad bin Abdurrahman telah meriwayatkan hadits ini sendirian, sedangkan dia adalah perowi yang munkar haditsnya.”</p>
<p><strong>Hadits Ketiga:</strong></p>
<p>حديث : ألا أخبركم بسورة ملأت عظمتها ما بين السماء و الأرض ؟ و لقارئها من الأجر مثل ذلك، و من قرأها غفر له ما بينه و بين الجمعة الأخرى، وزيادة ثلاثة أيام ؟ قالوا : بلى قال : سورة الكهف</p>
<p>Hadits (yang artinya): “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang suatu surat yang mana keagungannya memenuhi jarak antara langit dan bumi, dan orang yang membacanya akan memperoleh pahala seperti itu juga. Dan barangsiapa yang membacanya (pada hari atau malam Jumat, pent), maka dosa-dosanya akan diampuni antara hari Jumat itu hingga hari Jumat berikutnya dan ditambah tiga hari?” mereka (para sahabat) menjawab: “Mau”, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ia adalah surat Al-Kahfi.”<br />
(Diriwayatkan oleh Ad-Dailami, dari Abdurrahman bin Hisyam Al-Makhzumi, ia berkata; telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha secara marfu’).</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong></p>
<p>Hadits ini dinyatakan <strong>DHO’IF JIDDAN</strong> (Sangat Lemah) oleh syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah V/504 no.2482, dan Dho’if Al-Jami’ Ash-Shoghir no.2160).</p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat seorang perowi yang bernama Hisyam Al-Makhzumi (dia adalah putranya Abdullah bin Ikrimah Al-Makhzumi). </p>
<p>Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Dia (Hisyam Al-Makhzumi) menyendiri dalam meriwayatkan hal-hal yang tidak ada asal-usulnya dari hadits riwayat Hisyam bin Urwah. Aku tidak tertarik (atau tidak terkagumkan) untuk berhujjah dengan hadits yang ia riwayatkan secara sendirian.”</p>
<p>Syaikh Al-Albani berkata: “Anaknya Hisyam Al-Makhzumi (yang bernama) Abdurrahman tidak aku dapatkan biografinya sekarang ini.”</p>
<p>Telah beredar pula beberapa riwayat BATIL dan PALSU yang didustakan atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menjelaskan keutamaan surat Al-Kahfi, di antaranya ialah:</p>
<p><strong>Hadits Keempat:</strong></p>
<p>حديث : مَنْ كَتَبَهَا وَجَعَلَهَا فِيْ إِنَاءِ زُجَاجٍ ضَيِّقِ الرَّأْسِ ، وَجَعَلَهَا فِيْ مَنْزِلِهِ ، يَأْمَنُ الفَقْرَ وَالدَّيْنَ، وَيَأمَنُ هُوَ وَأَهْلُهُ مِنْ أَذَى النَّاسِ ، وَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى أَحَدٍٍ أبداً </p>
<p>Riwayat (yang artinya): “Barangsiapa menulis surat Al-Kahfi dan menjadikannya di sebuah wadah yang terbuat dari kaca yang ujungnya sempit (semacam botol, pent), lalu meletakkannya di dalam rumahnya, maka ia akan merasa aman dari kefakiran dan (terlilit) hutang sebagaimana ia dan keluarganya merasa aman dari gangguan manusia, dan ia tidak akan merasa butuh kepada seorang pun selama-lamanya.” </p>
<p><strong>Hadits Kelima:</strong></p>
<p> حديث : مَنْ كَتَبَهَا وَجَعَلَهَا فِيْ مخازن القمح والشعير والأرُزّ والحِمَّص وغير ذلك دَفَعتْ عنه كلّ مؤذٍ بإذن الله تعالى من جميع ما يطرأ على الحُبوب في خَزْنها إن شاء الله تعالى</p>
<p>Riwayat (yang artinya): “Barangsiapa menulis surat Al-Kahfi dan menjadikannya di tempat-tempat penyimpanan gandum, beras, himmash (sejenis kacang-kacangan, pent) dan selainnya, niscaya dengan izin Allah surat Al-Kahfi tersebut akan mencegah dari dirinya segala hal yang akan mengganggunya, yaitu berupa apa-apa yang akan merusak biji-bijian tersebut di dalam tempat penyimpanannya, insya Allah Ta’ala.” </p>
<p><strong>Hadits Keenam:</strong></p>
<p>حديث : من قرأ سورة ( الكهف ) في كلّ ليلة جُمُعة ، لم يَمُت إلاّ شهيداً ، ويبعثه الله مع الشهداء ، واُوقف يوم القيامة مع الشهداء </p>
<p>Riwayat (yang artinya): “Barangsiapa menulis surat Al-Kahfi pada setiap malam Jumat, maka ia tidak akan mati kecuali dalam keadaan mati syahid, dan Allah akan membangkitkannya bersama para syuhada’, dan pada hari Kiamat ia akan di berdirikan (di padang Mahsyar, pent) bersama para syuhada’.”</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong></p>
<p>Hadits-hadits ini (Hadits keempat, kelima dan keenam) derajatnya <strong>PALSU</strong> DAN <strong>BATIL</strong>.<br />
Hadits-hadits ini didustakan atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam, karena beliau tidak pernah mengucapkannya. Dan saya (penulis) sudah berusaha mencarinya di kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah Wal Jama’ah baik hadits Shohih maupun Dho’if, dan ternyata sampai saat ini belum menemukannya juga. Kemudian saya mencarinya di beberapa sumber atau situs kelompok (agama) Syi’ah dan ternyata saya menemukannya. walhamdulillah. Mereka menisbatkan riwayat-riwayat tersebut kepada imam Abu Abdillah Ja’far Ash-Shodiq, salah satu imam mereka yang berjumlah 12 (dua belas) imam. </p>
<p>Maka dari itu, kita sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah harus lebih berhati-hati dalam menuntut ilmu agama, baik secara langsung dengan duduk di hadapan seorang guru maupun dengan jalan membaca buku atau artikel-artikel yang ada di majalah, bulletin maupun yang ada di situs-situs internet. Guru yang kita ambil ilmunya, serta buku, majalah dan situs internet yg kita baca haruslah jelas aqidah dan manhajnya. Sehingga kita selamat dari berbagai kesesatan dan kebatilan dalam beribadah kepada Allah dan benar dalam menerapkan syariat Islam dalam kehidupan kita sehari-hari. Wallahu Al-Hadi ila Sawa-i As-Sabiil.</p>
<p>(Artikel ini telah selesai disusun oleh penulis di tempat tinggalnya, Klaten – Jawa Tengah, pada hari Selasa, 13 Desember 2011, menjelang Maghrib. Walhamdulillah alladzi bini’matihi tatimmu ash-shoolihaat).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/822/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=822&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/13/hadits-hadits-dhoif-dan-palsu-tentang-keutamaan-surat-al-kahfi-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b9%d9%8a%d9%81%d8%a9-%d9%88%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%88/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/man-kadzaba-alayya-mutaammidan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">MAN KADZABA &#039;ALAYYA MUTA&#039;AMMIDAN</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HADITS-HADITS SHOHIH TENTANG KEUTAMAAN SURAT AL-KAHFI / الأحاديث الصحيحة في فضل سورة الكهف</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/09/hadits-hadits-shohih-tentang-keutamaan-surat-al-kahfi-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b5%d8%ad%d9%8a%d8%ad%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d9%81%d8%b6%d9%84-%d8%b3%d9%88%d8%b1/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/09/hadits-hadits-shohih-tentang-keutamaan-surat-al-kahfi-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b5%d8%ad%d9%8a%d8%ad%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d9%81%d8%b6%d9%84-%d8%b3%d9%88%d8%b1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 00:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[FADHILAH AMAL]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH SURAT AL-QUR'AN]]></category>
		<category><![CDATA[GRUP MAJLIS HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS SHOHIH]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH SURAT AL-KAHFI]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN SURAT AL-KAHFI]]></category>
		<category><![CDATA[SURAT AL-KAHFI PELINDUNG DARI FITNAH DAJJAL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=812</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Surat Al-Kahfi merupakan salah satu surat Al-Quran Al-Karim yang mempunyai keagungan dan keutamaan dibanding beberapa surat yang lain. Akan tetapi tidak sedikit dari kaum muslimin yang belum mengetahui keagungan dan keutamaannya, sehingga sebagian mereka &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/09/hadits-hadits-shohih-tentang-keutamaan-surat-al-kahfi-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b5%d8%ad%d9%8a%d8%ad%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d9%81%d8%b6%d9%84-%d8%b3%d9%88%d8%b1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=812&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/keutamaan-surat-al-kahfi.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/keutamaan-surat-al-kahfi.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" title="keutamaan surat al-kahfi" width="300" height="224" class="alignleft size-medium wp-image-813" /></a>Surat  Al-Kahfi merupakan salah satu surat Al-Quran Al-Karim yang mempunyai keagungan dan keutamaan dibanding beberapa surat yang lain. Akan tetapi tidak sedikit dari kaum muslimin yang belum mengetahui keagungan dan keutamaannya, sehingga sebagian mereka jarang atau bahkan hampir tidak pernah membaca dan menghafalnya. Terlebih khusus pada hari dan malam Jumat. Mereka lebih suka dan antusias membaca surat Yasin yang dikhususkan pada malam Jumat dengan harapan mendapatkan keutamaannya. Namun sayangnya, semua hadits yang menerangkan keutamaan surat Yasin tidak ada yang Shohih datangnya dari nabi shallallahu alaihi wasallam. </p>
<p>Demikianlah keadaan umat Islam. Tidaklah mereka bersemangat mengamalkan hadits-hadits lemah dan palsu serta tidak jelas asal-usulnya, maka sebanyak itu pula mereka meninggalkan amalan-amalan sunnah yang dijelaskan di dalam-hadits-hadits shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. <span id="more-812"></span></p>
<p>Adapun keutamaan dan keagungan surat Al-Kahfi, maka akan didapatkan oleh setiap muslim dan muslimah yang membacanya dengan niat ikhlas demi mengharap wajah dan ridho Allah, mengimani dan menghayati makna-maknanya serta berusaha mengamalkan hukum dan pelajaran yang terkandung di dalamnya sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>Berikut ini kami akan sebutkan hadits-hadits shohih tentang keutamaan surat Al-Kahfi.</p>
<p><strong>Hadits Pertama:</strong></p>
<p>عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ »</p>
<p>Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka  Allah akan menyinarinya dengan cahaya di antara dua Jum’at.”</p>
<p>(Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrok II/399 no.3392, dan Al-Baihaqi di dalam Sunannya III/249 dengan nomor.5792) </p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong><br />
Hadits ini derajatnya <strong>SHOHIH</strong>.</p>
<p>Al-Hakim berkata: “Isnad Hadits ini shohih, akan tetapi imam Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya”.</p>
<p>Syaikh Al Albani berkata: “Hadits ini shohih.” (lihat Shohih Al-Jami’ no. 6470, dan Shohih At-Targhib wa At-Tarhib I/180 no.736).</p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/keutamaan-10-ayat-pertama-surat-al-kahfi.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/keutamaan-10-ayat-pertama-surat-al-kahfi.jpg?w=300&#038;h=191" alt="" title="keutamaan 10 ayat pertama surat al-kahfi" width="300" height="191" class="alignleft size-medium wp-image-814" /></a><strong>Hadits Kedua:</strong></p>
<p>عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ » وفي رواية ـ من آخر سورة الكهف ـ  </p>
<p>Dari Abu Darda’ radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal.  Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “(sepuluh ayat terakhir) dari surat Al-Kahfi.” </p>
<p>(Diriwayatkan oleh Muslim I/555 no.809, Ahmad V/196 no.21760, Ibnu Hibban III/366 no.786, Al-Hakim II/399 no.3391, dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman V/453 no.2344).</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong><br />
Hadits ini derajatnya <strong>SHOHIH</strong>.</p>
<p>Syaikh Al Albani berkata: “Hadits ini shohih.” (lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah II/123 no.582).<br />
Dan di dalam hadits lain dijelaskan maksud daripada perlindungan dan penjagaan dari fitnah Dajjal ialah sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:</p>
<p>فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُورَةِ الْكَهْفِ [ فَإِنَّهَا جِوَارُكُمْ مِنْ فِتْنَتِهِ ]</p>
<p>“…maka barangsiapa di antara kalian yang menjumpai Dajjal, hendaknya ia membacakan di hadapannya ayat-ayat pertama surat Al-Kahfi, karena ayat-ayat tersebut (berfungsi) sebagai penjaga kalian dari fitnahnya.” </p>
<p>(<strong>SHOHIH</strong>. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shohihnya bab Dzikru Dajjal, IV/2250 no.2937, dan Abu Daud II/520 no.4321, dari jalan Nawas bin Sam’an radhiyallahu anhu).<br />
Hadits ini dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah II/123 no.582, Tahqiq Misykat Al-Mashobih III/188 no.5475, dan Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud IX/321 no.4321.</p>
<p><strong>Hadits Ketiga:</strong></p>
<p>عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من قرأ سورة الكهف كما أنزلت ، كانت له نورا يوم القيامة من مقامه إلى مكة ، ومن قرأ عشر آيات من آخرها ثم خرج الدجال لم يسلط عليه ، ومن توضأ ثم قال : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، كَتَبَ فِي رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابَعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ»</p>
<p>Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi sebagaimana diturunkannya, maka surat ini akan menjadi cahaya baginya pada hari Kiamat dari tempat tinggalnya hingga ke Mekkah. Dan barangsiapa membaca sepuluh ayat terkahir dari surat Al-Kahfi lalu Dajjal keluar (datang), maka Dajjal tidak akan membahayakannya. Dan barangsiapa berwudhu lalu ia mengucapkan;<br />
“SUBHAANAKALLOHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA” (artinya: Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq diibadahi selain Engkau, aku memohon ampunan dan aku bertaubat kepada-Mu),  maka ia akan ditulis pada lembaran putih yang bersih, kemudian dicetak dengan alat cetak yang tidak akan robek sampai hari Kiamat.” </p>
<p>(Diriwayatkan oleh An-Nasa’i di dalam ‘Amal Al-Yaumi wa Al-Lailati no.81 dan 952, Ath-Thobroni di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath II/123 no.1455, dan Al-Hakim I/752 no.2072 dan beliau berkata; hadits ini Shohih sesuai dengan syarat imam Muslim, akan tetapi keduanya (maksudnya imam Bukhori dan Muslim) tidak mengeluarkannya (di dalam kitab Shohih keduanya, pent)).</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong><br />
Hadits ini derajatnya <strong>SHOHIH</strong>.</p>
<p>Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini shohih.” (lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah VI/312 no.2651).<br />
Demikianlah beberapa hadits shohih tentang keutamaan dan keagungan surat Al-Kahfi.<br />
Mudah-mudahan kita semua diberi kemudahan oleh Allah untuk dapat mengamalkannya dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/812/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=812&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/09/hadits-hadits-shohih-tentang-keutamaan-surat-al-kahfi-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b5%d8%ad%d9%8a%d8%ad%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d9%81%d8%b6%d9%84-%d8%b3%d9%88%d8%b1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/keutamaan-surat-al-kahfi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">keutamaan surat al-kahfi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/keutamaan-10-ayat-pertama-surat-al-kahfi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">keutamaan 10 ayat pertama surat al-kahfi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KISAH DUA MALAIKAT YANG MABUK, BERZINA DAN MEMBUNUH / قصة باطلة عن هاروت وماروت في ارتكابهما كبائر الذنوب</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/06/kisah-dua-malaikat-yang-mabuk-berzina-dan-membunuh-%d9%82%d8%b5%d8%a9-%d8%a8%d8%a7%d8%b7%d9%84%d8%a9-%d8%b9%d9%86-%d9%87%d8%a7%d8%b1%d9%88%d8%aa-%d9%88%d9%85%d8%a7%d8%b1%d9%88%d8%aa-%d9%81%d9%8a/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/06/kisah-dua-malaikat-yang-mabuk-berzina-dan-membunuh-%d9%82%d8%b5%d8%a9-%d8%a8%d8%a7%d8%b7%d9%84%d8%a9-%d8%b9%d9%86-%d9%87%d8%a7%d8%b1%d9%88%d8%aa-%d9%88%d9%85%d8%a7%d8%b1%d9%88%d8%aa-%d9%81%d9%8a/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 08:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[GRUP MAJLIS HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS DHO'IF DAN PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[KISAH]]></category>
		<category><![CDATA[KISAH BATIL DAN PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[KISAH MALAIKAT HARUT DAN MARUT]]></category>
		<category><![CDATA[MABUK]]></category>
		<category><![CDATA[MALAIKAT]]></category>
		<category><![CDATA[MEMBUNUH]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=807</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Ibnu Hibban rahimaullah berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Sufyan, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Bukair, dari Zuhair &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/06/kisah-dua-malaikat-yang-mabuk-berzina-dan-membunuh-%d9%82%d8%b5%d8%a9-%d8%a8%d8%a7%d8%b7%d9%84%d8%a9-%d8%b9%d9%86-%d9%87%d8%a7%d8%b1%d9%88%d8%aa-%d9%88%d9%85%d8%a7%d8%b1%d9%88%d8%aa-%d9%81%d9%8a/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=807&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/bohong1.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/bohong1.jpg?w=500" alt="" title="BOHONG"   class="alignleft size-full wp-image-810" /></a>Ibnu Hibban rahimaullah berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Sufyan, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Bukair, dari Zuhair bin Muhammad, dari Musa bin Jubair, dari Nafi&#8217;, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam bersabda: <span id="more-807"></span></p>
<p> إِنَّ آدَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَهْبَطَهُ اللَّهُ تَعَالَى إِلَى الأَرْضِ ، قَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ : أَيْ رَبِّ ، {أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ} ، قَالُوا : رَبَّنَا نَحْنُ أَطْوَعُ لَكَ مِنْ بَنِي آدَمَ . قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِلْمَلاَئِكَةِ : هَلُمُّوا مَلَكَيْنِ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ ، حَتَّى يُهْبَطَ بِهِمَا إِلَى الأَرْضِ ، فَنَنْظُرَ كَيْفَ يَعْمَلاَنِ . قَالُوا : رَبَّنَا ، هَارُوتُ وَمَارُوتُ . فَأُهْبِطَا إِلَى الأَرْضِ ، وَمُثِّلَتْ لَهُمَا الزُّهَرَةُ امْرَأَةً مِنْ أَحْسَنِ الْبَشَرِ ، فَجَاءَتْهُمَا ، فَسَأَلاَهَا نَفْسَهَا ، فَقَالَتْ : لاَ وَاللَّهِ ، حَتَّى تَكَلَّمَا بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ مِنَ الإِِشْرَاكِ . فَقَالاَ : وَاللَّهِ لاَ نُشْرِكُ بِاللَّهِ أَبَدًا . فَذَهَبَتْ عَنْهُمَا ثُمَّ رَجَعَتْ بِصَبِيٍّ تَحْمِلُهُ ، فَسَأَلاَهَا نَفْسَهَا ، فَقَالَتْ : لاَ وَاللَّهِ ، حَتَّى تَقْتُلاَ هَذَا الصَّبِيَّ ، فَقَالاَ : وَاللَّهِ لاَ نَقْتُلُهُ أَبَدًا . فَذَهَبَتْ ثُمَّ رَجَعَتْ بِقَدَحِ خَمْرٍ تَحْمِلُهُ ، فَسَأَلاَهَا نَفْسَهَا ، فَقَالَتْ : لاَ وَاللَّهِ ، حَتَّى تَشْرَبَا هَذَا الْخَمْرَ . فَشَرِبَا ، فَسَكِرَا فَوَقَعَا عَلَيْهَا ، وَقَتَلاَ الصَّبِيَّ ، فَلَمَّا أَفَاقَا ، قَالَتِ الْمَرْأَةُ : وَاللَّهِ مَا تَرَكْتُمَا شَيْئًا مِمَّا أَبَيْتُمَاهُ عَلَيَّ إِلاَّ قَدْ فَعَلْتُمَا حِينَ سَكِرْتُمَا ، فَخُيِّرَا بَيْنَ عَذَابِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، فَاخْتَارَا عَذَابَ الدُّنْيَا.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Adam ketika ia diturunkan oleh Allah ke bumi, para malaikat berkata, &#8220;Wahai Robb-ku, apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?&#8221; </p>
<p>Allah berfirman: &#8220;Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.&#8221;<br />
Mereka berkata, &#8220;Wahai Rabb kami, kami lebih taat kepadamu dari pada bani adam (manusia)&#8221;.<br />
Allah berkata kepada para malaikat, &#8220;Datangkan kepadaku dua malaikat dari malaikat-malaikat yang ada sehingga keduanya diturunkan ke bumi dan kita lihat bagaimana keduanya berbuat?&#8221;.<br />
Para malaikat berkata: &#8220;Wahai Rabb kami, turunkanlah Harut dan Marut&#8221;. </p>
<p>Kemudian keduanya pun diturunkan ke bumi, dan dinampakkanlah hiasan dunia kepada mereka berdua dalam bentuk seorang wanita yang paling cantik. Wanita itu pun datang kepada mereka berdua dan kedua malaikat itu meminta diri wanita tersebut (untuk disetubuhi, pent). Sang wanita berkata, &#8220;Tidak !! Demi Allah, sampai kalian berdua mengucapkan kalimat syirik ini. Keduanya berkata, &#8220;Demi Allah, kami tidak akan berbuat syirik kepada Allah. Wanita itu pun meninggalkan mereka berdua. Kemudian wanita itu kembali dengan membawa seorang bayi, maka kedua malaikat itu kembali meminta diri sang wanita. Sang wanita berkata, &#8220;Tidak!! Demi Allah, sampai kalian membunuh bayi ini. Kedua malaikat itu berkata, &#8220;Demi Allah, kami tidak akan membunuhnya selamanya&#8221;. Maka sang wanita pergi. Kemudian ia kembali lagi membawa segelas khamer. Kedua malaikat kembali meminta diri sang wanita. Maka sang wanita berkata, &#8220;Tidak!! Demi Allah, sampai kalian minum khamer ini&#8221;. Akhirnya, keduanya pun meminum khamer tersebut, lalu keduanya mabuk sehingga keduanya menyetubuhi sang wanita itu, dan membunuh bayi. Tatkala keduanya sadar, sang wanita berkata, &#8220;Demi Allah, tidak satu pun yang kalian tinggalkan dari apa yang kalian abaikan di hadapanku, kecuali telah kalian lakukan ketika kalian mabuk. Keduanya pun diperintahkan untuk memilih siksa dunia atau siksa akhirat. Maka keduanya memilih siksa dunia&#8221;.</p>
<p>(HR. Ahmad dalam Al-Musnad II/134 no. 6178, Ibnu Hibban dalam Shohih-nya XIV/63 no.6186, Ibnu Abi ad-Dunya dalam Al-Uqubat no.222, Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhob no.787, dan selainnya)</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong><br />
Hadits ini <strong>BATIL</strong>. Tidak benar datangnya dari Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam.</p>
<p>Syaikh Al-Albani berkata: Hadits ini BATIL.&#8221; (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah I/315 no.170)</p>
<p>Syaikh Syu&#8217;aib Al-Arnauth dalam ta&#8217;liqnya terhadap Musnad Imam Ahmad berkata: &#8220;Isnad hadits ini DHO&#8217;IF (lemah), dan matannya BATIL.&#8221; (Lihat Musnad Ahmad II/134)</p>
<p>Di dalam sanad hadits ini ada seorang perowi yang bernama Zuhair bin Muhammad At-Tamimiy Al-Marwaziy. Dia tsiqoh (orang terpercaya), tapi biasa meriwayatkan hadits yang munkar, seperti hadits Harut dan Marut ini.</p>
<p>Selain itu, gurunya yang bernama Musa bin Jubair, dia adalah seorang perowi hadits yang mastur (tidak jelas orangnya atau tidak diketahui jati dirinya).</p>
<p>Intinya, hadits ini batil baik sanad, maupun matannya.</p>
<p>Dan hadits ini adalah termasuk berita isra’iliyyat (berita-berita yg datang dari Bani Israil) yang terambil dari Ka’ab Al-Ahbar sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah I/315 no.170.</p>
<p>Dengan demikian, kita tidak boleh mempercayainya apalagi menceritakan dan menyebarluaskannya kpd orang lain baik melalui lisan maupun tulisan di berbagai media cetak sperti koran, majalah, buku maupun media elektronik spt internet (website/blog/facebook, twitter), radio, televisi, blackberry messenger atau lainnyan, agar kita bebas dari ancaman keras Nabi bagi para pemalsu hadits atau pendusta atas nama Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam, yaitu mempersiapkan tempat duduknya di dalam api neraka, sebagaimana disebutkan dalam hadits yg mutawatir. Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam:</p>
<p>مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ</p>
<p>“Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka hendaklah dia mengambil tempat duduknya dari api neraka.” (SHOHIH. Diriwayatkan oleh Bukhari I/434 no.1229, dan Muslim I/10 no.3).</p>
<p>Kita diperbolehkan menyebarkan hadits ini dan hadits palsu dan batil lainnya kpd orang lain dengan tujuan menjelaskan kepalsuan/kedustaan dan kebatilannya kpd kaum muslimin dan memperingatkan mereka dari bahaya hadits-hadits dho&#8217;if dan palsu.</p>
<p>Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan smg kita semakin berhati-hati dalam membaca hadits-hadits dan menuntut ilmu agama.</p>
<p><strong>[Artikel ini pada asalnya sebagai materi kajian di room Hadits Dho'if dan Palsu di Grup Majlis Hadits BBM yang dibina dan diasuh oleh penulis].</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/807/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/807/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/807/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/807/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/807/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/807/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/807/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=807&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/06/kisah-dua-malaikat-yang-mabuk-berzina-dan-membunuh-%d9%82%d8%b5%d8%a9-%d8%a8%d8%a7%d8%b7%d9%84%d8%a9-%d8%b9%d9%86-%d9%87%d8%a7%d8%b1%d9%88%d8%aa-%d9%88%d9%85%d8%a7%d8%b1%d9%88%d8%aa-%d9%81%d9%8a/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/bohong1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BOHONG</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HADITS-HADITS LEMAH TENTANG KEUTAMAAN SURAT AL-HASYR / الأحاديث الضعيفة في فضل سورة الحشر</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/04/hadits-hadits-lemah-tentang-keutamaan-surat-al-hasyr-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b9%d9%8a%d9%81%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d9%81%d8%b6%d9%84-%d8%b3%d9%88%d8%b1/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/04/hadits-hadits-lemah-tentang-keutamaan-surat-al-hasyr-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b9%d9%8a%d9%81%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d9%81%d8%b6%d9%84-%d8%b3%d9%88%d8%b1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 10:06:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[FADHILAH AMAL]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH SURAT AL-QUR'AN]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS DHO'IF DAN PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH SURAT AL-HASYR]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS DHO'IF]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS LEMAH]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR'AN]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN SURAT AL-HASYR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=799</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad wasitho Abu Fawaz, Lc Surat Al-Hasyr merupakan salah satu surat di antara surat-surat Al-Qur’an Al-Karim. Barangsiapa yang membacanya secara lengkap atau membaca sebagian ayat-ayatnya pada waktu-waktu tertentu maka ia akan memperoleh pahala dan keutamaan yang besar sebagaimana disebutkan &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/04/hadits-hadits-lemah-tentang-keutamaan-surat-al-hasyr-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b9%d9%8a%d9%81%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d9%81%d8%b6%d9%84-%d8%b3%d9%88%d8%b1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=799&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><div id="attachment_800" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/s15.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/s15.jpg?w=500" alt="" title="S15"   class="size-full wp-image-800" /></a><p class="wp-caption-text">حديث ضعيف في فضل سورة الحشر</p></div>Surat Al-Hasyr merupakan salah satu surat di antara surat-surat Al-Qur’an Al-Karim. Barangsiapa yang membacanya secara lengkap atau membaca sebagian ayat-ayatnya pada waktu-waktu tertentu maka ia akan memperoleh pahala dan keutamaan yang besar sebagaimana disebutkan di dalam beberapa hadits nabi shallallahu alaihi wasallam. Di antara keutamaan-keutamaan membacanya adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Orang yang membaca surat Al-Hasyr akan dimintakan ampunan oleh 70.000 (tujuh puluh ribu) malaikat dari pagi hingga sore, atau sebaliknya.<br />
2. Orang yang membaca surat Al-Hasyr, jika ia meninggal dunia pada hari itu juga, maka ia akan dianggap sebagai orang yang mati syahid.<br />
3. Orang yang membaca surat Al-Hasyr berhak menjadi penghuni surga. <span id="more-799"></span></p>
<p>Demikianlah beberapa keutamaan besar yang akan didapatkan oleh siapa saja yang membacanya. Akan tetapi sayangnya hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan-keutamaan surat Al-Hasyr ini tidak ada yang shohih datangnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagaimana telah diteliti dan dikoreksi oleh para ulama hadits yang kredibel di bidangnya.</p>
<p>Berikut ini akan saya sebutkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan membaca surat Al-Hasyr.</p>
<p><strong>Hadits Pertama:</strong></p>
<p>عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَقَرَأَ ثَلاَثَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ وَكَّلَ اللَّهُ بِهِ سَبْعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ حَتَّى يُمْسِىَ وَإِنْ مَاتَ فِى ذَلِكَ الْيَوْمِ مَاتَ شَهِيدًا وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِى كَانَ بِتِلْكَ الْمَنْزِلَةِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ.</p>
<p>Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Siapa saja yang membaca , A’udzhu billahi as-Sami’ al-’Alim, min asy-Syaithan ar-Rajim dan membaca tiga ayat terakhir surat al-Hasyr pada pagi hari sebanyak tiga kali, maka Allah akan mengutus 70.000 (tujuh puluh ribu) malaikat kepadanya. Malaikat itu memohonkan ampunan baginya hingga sore hari. Jika dia meninggal pada hari itu, dia wafat sebagai Syahid. Dan siapa saja yang membacanya pada sore hari, dia akan memperoleh balasan yang sama.” (HR. Ahmad V/26 no.20321, dan at-Tirmidzi V/182 no.2922, Ibnu As-Sunni dalam Amal Al-Yaum wa Al-Lailah no.78) </p>
<p>Imam at-Tirmidzi mengatakan: “Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan periwayatan ini.”</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong><br />
Hadits ini derajatnya DHO’IF (Lemah).<br />
Di dalam sanad hadits ini ada seorang perowi yang bernama Kholid bin Thohman Abul ‘Ala’ Al-Khoffaaf, dia seorang perowi yang dho’if (lemah). </p>
<p>Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Dia itu orang yang dho’if. Telah mengalami kekacauan dalam hafalannya sejak sepuluh tahun sebelum wafatnya. Padahal sebelum itu dia seorang yang tsiqoh (terpercaya). Dalam masa kekacauan hafalannya, dia membenarkan semua riwayat yang disampaikan kepadanya.” </p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata tentangnya: “Dia perowi yang shoduuq (jujur) , tetapi tertuduh menganut faham syi’ah, kemudian pernah mengalami kekacauan dalam hafalannya.” (Lihat Taqrib At-Tahdzib no.1644).</p>
<p>Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits ini Dho’if (lemah).” (Lihat Irwa’ al-Ghalil no.342, dan Dho’if Al-Jami’ Ash-Shoghir no.5732)</p>
<p><strong>Hadits Kedua:</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/bas-qana_340763708.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/bas-qana_340763708.jpg?w=300&#038;h=221" alt="" title="bas-qana_340763708" width="300" height="221" class="alignleft size-medium wp-image-801" /></a>Diriwayatkan pula dari Abu Umamah radhiyallahu anhu, dengan lafazh:</p>
<p>من قرأ خواتيم الحشر من ليل أو نهار فقبض في ذلك اليوم أو الليلة فقد أوجب الجنة </p>
<p>“Barangsiapa membaca ayat-ayat terakhir dari surat Al-Hasyr di waktu siang atau malam hari, lalu dia meninggal dunia pada hari itu, maka ia berhak masuk surga.”</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong><br />
Hadits ini derajatnya DHO’IF JIDDAN (Sangat Lemah).</p>
<p>Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits ini Dho’if jiddan (sangat lemah).” (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah X/133 no. 4631, dan Dho’if Al-Jami’ Ash-Shoghir no.5770)</p>
<p><strong>Hadits Ketiga:</strong></p>
<p>Dan disebutkan pula dalam riwayat lain dengan lafazh:</p>
<p>اسم الله الأعظم في ست آيات من آخر سورة الحشر</p>
<p>“Nama Allah yang paling agung ada pada enam ayat terakhir dari surat Al-Hasyr.”</p>
<p>Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits ini Dho’if (lemah).” (Lihat Dho’if Al-Jami’ Ash-Shoghir no.853)</p>
<p><strong>Hadits Keempat:</strong></p>
<p>Disebutkan pula dalam riwayat lain dengan lafazh:</p>
<p>إذا أخذت مضجعك فاقرأ سورة الحشر ، إن مت مت شهيدا  </p>
<p>“Jika engkau hendak tidur, maka bacalah surat Al-Hasyr. Jika engkau mati, maka engkau mati dalam keadaan syahid.”</p>
<p>Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits ini Dho’if (lemah).” (Lihat Dho’if Al-Jami’ Ash-Shoghir no.307).</p>
<p>Dengan demikian, tidak ada satu riwayat pun yang shohih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang keutamaan surat Al-Hasyr. Kita tidak boleh meyakini riwayat-riwayat tersebut di atas kemudian mengamalkannya. Cukuplah bagi kita beribadah kepada Allah dan mencari pahala dan keutamaan-keutamaan amalan atau bacaan Al-Quran berdasarkan hadits-hadits yang shohih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Wallahu ta’ala a’lam bish-showab.</p>
<p><strong>(Artikel ini pada asalnya adalah jawaban atas pertanyaan seorang member Grup Majlis Hadits di BBM yang dibina oleh penulis)</strong>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/799/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=799&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/04/hadits-hadits-lemah-tentang-keutamaan-surat-al-hasyr-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b9%d9%8a%d9%81%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d9%81%d8%b6%d9%84-%d8%b3%d9%88%d8%b1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/s15.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">S15</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/12/bas-qana_340763708.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bas-qana_340763708</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEUTAMAAN SHOLAT ISYROQ / فضل صلاة الإشراق</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/28/keutamaan-sholat-isyroq-%d9%81%d8%b6%d9%84-%d8%b5%d9%84%d8%a7%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d8%b4%d8%b1%d8%a7%d9%82/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/28/keutamaan-sholat-isyroq-%d9%81%d8%b6%d9%84-%d8%b5%d9%84%d8%a7%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d8%b4%d8%b1%d8%a7%d9%82/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 23:43:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[FADHILAH AMAL]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN SHOLAT]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN SHOLAT ISYROQ]]></category>
		<category><![CDATA[PAHALA HAJI DAN UMROH]]></category>
		<category><![CDATA[SHOLAT ISYROQ]]></category>
		<category><![CDATA[SHOLAT SYURUQ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=796</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Sholat ini dinamakan Shalat Isyroq atau Syuruq atau Thulu’. Dinamakan demikian karena pelaksanaannya berkaitan dengan waktu matahari terbit (mulai memancarkan sinarnya). Hukum sholat Isyroq/Syuruq adalah Sunnah. Keutamaan Sholat Isyroq: Orang yang melaksanakannya diberi pahala &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/28/keutamaan-sholat-isyroq-%d9%81%d8%b6%d9%84-%d8%b5%d9%84%d8%a7%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d8%b4%d8%b1%d8%a7%d9%82/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=796&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><div id="attachment_797" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/cimg0006.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/cimg0006.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="CIMG0006" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-797" /></a><p class="wp-caption-text">FOTO SUASANA SEBUAH KOTA DI KUWAIT DI PAGI HARI (WAKTU ISYROQ)</p></div>Sholat ini dinamakan Shalat Isyroq atau Syuruq  atau Thulu’. Dinamakan demikian karena pelaksanaannya berkaitan dengan waktu matahari terbit (mulai memancarkan sinarnya).</p>
<p>Hukum sholat Isyroq/Syuruq adalah Sunnah.</p>
<p><strong>Keutamaan Sholat Isyroq:</strong><br />
Orang yang melaksanakannya diberi pahala oleh Allah seperti pahala haji dan umroh dengan sempurna.</p>
<p>Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan ini adalah hadits-hadits berikut ini: <span id="more-796"></span></p>
<p><strong>Hadits Pertama:</strong></p>
<p>عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »</p>
<p>Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Barangsiapa Mengerjakan shalat Shubuh berjamaah, lalu dia duduk berdzikir sampai matahari terbit, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat, maka ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, “sempurna, sempurna, sempurna (pahalanya, pent).” (HR. At-Tirmidzi II/481 no.586)</p>
<p><strong>Derajat Hadits:</strong><br />
Hadits ini derajatnya <strong>HASAN</strong>, sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah IX/189 no.3403, dan Misykatu Al-Mashobih I/212 no.971, dan Shohih At-Targhib wa At-Tarhib I/111 no.464.</p>
<p><strong>Hadits Kedua:</strong></p>
<p>عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ:”مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ”.</p>
<p>Dari Abu Umamah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh di masjid secara berjamaah, lalu dia tetap berada di dalam masjid sampai melaksanakan shalat sunnah (di waktu, pent) Dhuha, maka (pahala) amalannya itu seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji atau umroh secara sempurna.” (HR. Thobroni VIII/154 no.7663).</p>
<p><strong>Derajat Hadits:</strong><br />
Hadits ini derajatnya <strong>HASAN LIGHOIRI</strong>, sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib I/112 no.469.</p>
<p>Beliau mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh imam Thobroni namun sebagian perowinya masih diperselisihkan (kredibilitasnya, pent) oleh para ulama hadits, akan tetapi hadits ini memiliki jalan periwayatan lain yang banyak).</p>
<p>Dengan demikian, maka hadits-hadits tersebut dapat diyakini kebenarannya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan dijadikan hujjah atau landasan hukum dalam melakukan amal ibadah.</p>
<p><strong>Tanya 1</strong>: Kapan waktu pelaksanaan sholat sunnah Isyroq ? Apakah hal itu tidak bertentangan dengan hadits yang melarang kita melakukan sholat pada saat matahari terbit?</p>
<p><strong>Jawab</strong>: Waktu sholat Isyroq / Syuruq / Thulu’ ialah pada awal waktu sholat Dhuha atau sholat hari raya idul adha, yaitu setelah matahari terbit dan menaik setinggi 1 tombak. Atau jika diperkirakan dengan hitungan menit maka sekitar 15 s/d 20 menit setelah matahari terbit. (Lihat Fatawa Syaikh Bin Baz XXV/171, dan Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Liqo’ al-Bab al-Maftuh XXIV/141 no. Fatwa. 22389).</p>
<p>Dengan demikian waktu pelaksanaan sholat sunnah Isyroq / Syuruq tidak bertentangan dengan salah satu waktu terlarang mngerjakan sholat, yaitu ketika “pas/tepat” matahari terbit. Wallahu a’lam bish-showab.</p>
<p><strong>Tanya 2</strong>: Apakah Sholat Isyroq termasuk sholat Dhuha ataukah sholat sunnah tersendiri?</p>
<p><strong>Jawab</strong>: Sebagian ulama mengatakan bahwa sholat Isyroq adalah bagian dr sholat Dhuha krn dilakukan di awal waktu Dhuha dan waktunya hanya sbentar, tidak spt waktu sholat Dhuha. Jadi, jika dikerjakan di awal waktu Dhuha maka disebut sholat Isyroq / Syuruq.</p>
<p><strong>Tanya 3</strong>: Bagaimana cara melaksanakannya agar mendapatkan keutamaan seperti pahala orang yang haji dan umroh?</p>
<p><strong>Jawab</strong>: Cara melaksanakan shalat Isyroq/Syuruq sama dengan sholat-sholat sunnah lain yang dikerjakan sebanyak 2 rokaat, dari mulai takbirotul ihrom smp salam, gerakan dan bacaannya sama. Perbedaannya hanya pada niat sholat. Yaitu kita menetapkan niat di dalam hati saja (tanpa diucapkan dngan lisan) bhwa kita akan melaksanakan sholat sunnah Isyroq dan mngharapkan pahala dari Allah spt disebutkan dlm hadits diatas.</p>
<p>Setelah sholat Shubuh berjamaah di masjid, dia tidak pulang ke rumah atau tidak tidur-tiduran (apalagi sampai ngorok), akan tetapi dia berdiam di masjid utk berdzikir kpd Allah dg dzikir dan wirid syar’i atau membaca Al-Quran, atau mendengarkan taushiyah/kajian ba’da subuh hingga matahari terbit. Kmdian skitar 15 atau 20 menit sesudah matahari terbit, kita berdiri melaksanakan sholat sunnah isyroq tsb.</p>
<p><strong>Tanya 4</strong>: Apakah orang yang sakit sehingga tidak dapat pergi ke masjid bisa mendapat keutamaan sholat sunnah Isyroq?</p>
<p><strong>Jawab</strong>: Jika kebiasaan dia sewaktu sehat selalu mngerjakan sholat sunnah Isyroq maka ia bisa mendapatkan keutamaannya. Hal ini Sbgmn Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا</p>
<p>“Jika seseorang sakit atau bersafar, maka dicatat baginya pahala amalan sebagaimana yang biasa ia kerjakan di saat ia  mukim atau ketika ia sehat.” (HR. Bukhari III/1092 no. 2834)</p>
<p>Kita memohon kepada Allah taufiq dan pertolongan-Nya agar kita dapat melaksanakan dengan giat dan mudah setiap amalan yang dapat mendatangkan keridhoan-Nya dan pahala yg besar, serta memasukkan kita ke dalam Surga-Nya yangg penuh dengan kenikmatan hakiki nan abadi.</p>
<p>آمين يا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ .</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/796/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=796&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/28/keutamaan-sholat-isyroq-%d9%81%d8%b6%d9%84-%d8%b5%d9%84%d8%a7%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d8%b4%d8%b1%d8%a7%d9%82/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/cimg0006.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">CIMG0006</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU TENTANG KEUTAMAAN AMALAN-AMALAN DI BULAN MUHARRAM (Bagian ke-2)</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/28/hadits-hadits-lemah-dan-palsu-tentang-keutamaan-amalan-amalan-di-bulan-muharram-bagian-ke-2/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/28/hadits-hadits-lemah-dan-palsu-tentang-keutamaan-amalan-amalan-di-bulan-muharram-bagian-ke-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 23:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS DHO'IF DAN PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[ANAK YATIM]]></category>
		<category><![CDATA[BAHAYA HADITS PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[BULAN SURO]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS DHO'IF]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS LEMAH]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[HARI ASYURA]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN DZIKIR]]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN PUASA ASYURA']]></category>
		<category><![CDATA[KEUTAMAAN SHOLAT]]></category>
		<category><![CDATA[PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[SEDEKAH]]></category>
		<category><![CDATA[SEPULUH MUHARRAM]]></category>
		<category><![CDATA[SHODAQOH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=793</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Hadits Kelima: KEUTAMAAN PUASA SEMBILAN HARI PERTAMA BULAN MUHARROM قال ابن الجوزي : أنبأنا ظفر بن على الهمداني أنبأنا أبو رجاء حمد بن أحمد التاجر حدثنا أبو نعيم أحمد بن عبدالله الحافظ حدثنا محمد &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/28/hadits-hadits-lemah-dan-palsu-tentang-keutamaan-amalan-amalan-di-bulan-muharram-bagian-ke-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=793&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/d8a3d986d8a7-d8b7d988d98ad984d8a8-d8b5d8bad98ad8b1-d8acd8afd8a71.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/d8a3d986d8a7-d8b7d988d98ad984d8a8-d8b5d8bad98ad8b1-d8acd8afd8a71.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" title="أنا طويلب صغير جدا" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-794" /></a><strong>Hadits Kelima:</strong></p>
<p><strong>KEUTAMAAN PUASA SEMBILAN HARI PERTAMA BULAN MUHARROM</strong></p>
<p>قال ابن الجوزي : أنبأنا ظفر بن على الهمداني أنبأنا أبو رجاء حمد بن أحمد التاجر حدثنا أبو نعيم أحمد بن عبدالله الحافظ حدثنا محمد بن عبدالرحمن بن الفضل حدثنا أبو زيد خالد بن النضر حدثنا إسماعيل بن عباد حدثنا سفيان بن حبيب عن موسى الطويل عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: &#8221; مَنْ صَامَ تِسْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ أَوَّلِ الْمُحَرَّمِ بَنَى الله ُلَهُ قُبَّةً فِي الْهَوَى مِيْلاً فِيْ مِيْلٍ لَهَا أَرْبَعَةُ أَبْوَابٍ&#8221;.</p>
<p>Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Telah memberitahukan kepada kami Zhafr bin Ali Al-Hamadani, ia berkata; telah memberitahukan kepada kami Abu Roja’ Hamd bin Ahmad At-Tajir, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al-Hafizh, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman bin Al-Fadhl, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Khalid bin An-Nadhr, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abbad, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Habib, dari Musa Ath-Thowil, dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>“<strong>Barangsiapa berpuasa Sembilan hari dari hari pertama bulan Muharram, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah kubah di udara seluas satu mil dikali satu mil. Kubah tersebut memiliki empat pintu</strong>.”</p>
<p>(Dikeluarkan oleh Ibnul jauzi dalam kitab Al-Maudhu’aat , bab Shaumu tis’ati ayyaamin min awwali al-muharrom II/199).</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong><br />
Hadits ini derajatnya <strong>PALSU </strong>(Maudhu’).  <span id="more-793"></span></p>
<p>Di dalam sanadnya ada seorang perowi yang <strong>Musa Ath-Thowil</strong>, dia seorang pendusta (pemalsu hadits).</p>
<p>Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Musa Ath-Thowil meriwayatkan hadits-hadits palsu dari Anas (bin Malik radhiyallahu anhu, pent). Tidak diperbolehkan mencatat hadits-haditsnya kecuali untuk mengingkarinya.”</p>
<p>Ibnu ‘Adi berkata tentangnya: “dia meriwayatkan dari Anas radhiyallahu anhu hadits-hadits mungkar, dan dia juga seorang perowi yang majhul (tidak dikenal jati dirinya).” (Lihat Mizan Al-I’tidal, karya imam Adz-Dzahabi no.8888).</p>
<p><strong>Hadits Keenam:</strong></p>
<p><strong>KEUTAMAAN AMALAN-AMALAN DI HARI ASYURA’ (10 MUHARROM)</strong></p>
<p>Sebagian orang awam yang menganut madzhab Ahlus Sunnah melakukan hal-hal yang membuat marah orang-orang Syi’ah Rafidhoh, yaitu dengan membuat hadits-hadits palsu seputar keutamaan hari Asyura’ (hari kesepuluh bulan Muharrom), karena orang-orang Syi’ah Rofidhoh menganggap atau bahkan meyakini bahwa hari Asyura’ adalah hari keburukan dan berkabung serta mengekspresikan kesedihan atas terbunuhnya Husain bin Ali bin Abu Tholib di Karbala’. Kami para penganut akidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berlepas diri dari kedua kelompok (kubu) yang saling berlawanan tersebut dalam menyikapi hari Asyura’. </p>
<p>Telah ada riwayat yang shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang keutamaan puasa hari Asyura’ (tanggal 10 Muharrom), yaitu akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu, akan tetapi mereka (orang-orang awam/jahil) belum merasa puas dengan keutamaan seperti itu, sehingga mereka memberanikan diri untuk menambah-nambahi dan memperpanjang keutamaan-keutamaan berbagai amalan pada hari Asyura’ secara dusta dan mengatas-namakan Nabi shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>Diantara hadits yang mereka palsukan atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam ialah sebagaimana berikut:</p>
<p>قال ابن الجوزي : حدثنا أبو الفضل محمد بن ناصر من لفظه وكتابه مرتين قال أنبأنا أحمد بن الحسين بن قريش أنبأنا أبو طالب محمد بن على ابن الفتح العشارى، وقرأت على أبى القاسم الحريري عن أبى طالب العشارى حدثنا أبو بكر أحمد بن منصور البرسرى حدثنا أبو بكر أحمد بن سليمان النجاد حدثنا إبراهيم الحربى حدثنا سريح بن النعمان حدثنا ابن أبى الزناد عن أبيه عن الاعرج عن أبى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:<br />
&#8221; إن الله عز وجل افترض على بنى إسرائيل صوم يوم في السنة يوم عاشوراء وهو اليوم العاشر من المحرم، فصوموه ووسعوا على أهليكم فيه، فإنه من وسع على أهله من ماله يوم عاشوراء وسع عليه سائر سنته، فصوموه فإنه اليوم الذى تاب الله فيه على آدم، وهو اليوم الذى رفع الله فيه إدريس مكانا عليا، وهو اليوم الذى نجى فيه إبراهيم من النار، وهو اليوم الذى أخرج فيه نوحا من السفينة، وهو اليوم الذى أنزل الله فيه التوراة على موسى، وفيه فدى الله إسماعيل من الذبح، وهو اليوم الذى أخرج الله يوسف من السجن، وهو اليوم الذى رد الله على يعقوب بصره، وهو اليوم الذى كشف الله فيه عن أيوب البلاء، وهو اليوم الذى أخرج الله فيه يونس من بطن الحوت، وهو اليوم الذى فلق الله فيه البحر لبنى إسرائيل، وهو اليوم الذى غفر الله لمحمد ذنبه ما تقدم وما تأخر، وفى هذا اليوم عبر موسى البحر، وفى هذا اليوم أنزل الله تعالى التوبة على قوم يونس، فمن صام هذا اليوم كانت له كفارة أربعين سنة، وأول يوم خلق الله من الدنيا يوم عاشوراء، وأول مطر نزل من السماء يوم عاشوراء، وأول رحمة نزلت يوم عاشوراء، فمن صام يوم عاشوراء فكأنما صام الدهر كله، وهو صوم الانبياء، ومن أحيا ليلة عاشوراء فكأنما عبدالله تعالى مثل عبادة أهل السموات السبع، ومن صلى أربع ركعات يقرأ في كل ركعة الحمد مرة وخمسين مرة قل هو الله أحد غفر الله خمسين عاما ماض وخمسين عاما مستقبل وبنى له في الملا الاعلى ألف ألف منبر من نور، ومن سقى شربة من ماء فكأنما لم يعص الله طرفة عين، ومن أشبع أهل بيت مساكين يوم عاشوراء، مر على الصراط كالبرق الخاطف. ومن تصدق بصدقة يوم عاشوراء فكأنما لم يرد سائلا قط، ومن اغتسل يوم عاشوراء لم يمرض مرضا إلا مرض الموت، ومن اكتحل يوم عاشوراء لم ترمد عينيه تلك السنة كلها، ومن أمر يده على رأس يتيم فكأنما بر يتامى ولد آدم كلهم، ومن صام يوم عاشوراء أعطى ثواب عشرة ألف ملك، ومن صام يوم عاشوراء أعطى ثواب ألف حاج ومعتمر، ومن صام يوم عاشوراء أعطى ثواب ألف شهيد، ومن صام يوم عاشوراء كتب له أجر سبع سموات وفين خلق الله السموات و الارضين والجبال والبحار، وخلق العرش يوم عاشوراء، وخلق القلم يوم عاشوراء، وخلق اللوج يوم عاشوراء، وخلق جبريل يوم عاشوراء، ورفع عيسى يوم عاشوراء، وأعطى سليمان الملك يوم عاشوراء، ويوم القيامة يوم عاشوراء، ومن عاد مريضا يوم عاشوراء فكأنما عاد مرضى ولد آدم كلهم &#8220;.</p>
<p>Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Fadhl Muhammad bin Nashir dari lafazh (lisan) dan kitab beliau sebanyak dua kali, ia berkata; telah memberitahukan kepada kami Ahmad bin Al-Husain bin Quraisy, ia berkata; telah memberitahukan kepada kami Abu Tholib Muhammad bin Ali bin Al-Fath Al-‘Usyari, dan aku telah membacakan (hadits-hadits) di hadapan Abu Al-Qosim Al-Hariri, dari Abu Tholib Al-‘Usyari, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Manshur Al-Barsari, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Sulaiman An-Najjad, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al-Harbi, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Suraih bin An-Nu’man, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Az-Zinad, dari ayahnya, dari Al-A’roj, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla telah mewajibkan kepada Bani Israil puasa satu hari dalam setahun, hari ‘Asyura’, yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharrom. Oleh karena itu, hendaklah kalian berpuasa ‘Asyura dan lapangkanlah nafkah kalian terhadap keluarga kalian pada hari itu, karena sesungguhnya barangsiapa melapangkan nafkah kepada keluarganya dari harta bendanya pada hari ‘Asyura, niscaya Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun. </p>
<p>Lakukanlah puasa Asyura’, karena pada hari itu Allah menerima taubat nabi Adam, mengangkat nabi Idris pada tempat/kedudukan yang tinggi, menyelamatkan nabi Ibrahim dari kobaran api, mengeluarkan nabi Nuh dari kapalnya, menurunkan kitab Taurat kepada nabi Musa, memberikan tebusan bagi nabi Ismail dari penyembelihan, mengeluarkan nabi Yusuf dari penjara, mengembalikan mata penglihatan nabi Ya’qub, membebaskan nabi Ayub dari bencana (penyakit), mengeluarkan nabi Yunus dari perut ikan paus/hiu, membelah lautan menjadi daratan bagi bani Israil, mengampuni dosa-dosa nabi Muhammad yang telah lalu maupun yang akan datang. Pada hari (Asyura’) itu juga nabi musa menyeberangi lautan, Allah menurunkan taubat kepada kaum nabi Yunus.  Maka barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’, ia akan memperoleh penghapusan dosa selama 40 (empat puluh) tahun. </p>
<p>Hari Asyura’ adalah hari pertama yang Allah ciptakan dari (hari-hari) dunia. Pada hari Asyura’, Allah menurunkan hujan dari langit untuk pertama kalinya, dan pada hari itu juga pertama kali rahmat Allah turun (ke dunia). </p>
<p>Barangsiapa berpuasa Asyura’, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun. Puasa Asyura’ adalah puasanya para nabi. Dan barangsiapa menghidupkan malam Asyura’ maka seakan-akan ia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya para penghuni tujuh langit. Barangsiapa sholat empat rokaat dan pada setiap rokaat ia membaca alhamdu (al-Fatihah) sekali dan Qul Huwallah (al-Ikhlas) 50 (lima puluh) kali, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya selama 50 (lima puluh) tahun yang lalu dan 50 (lima puluh) tahun yang akan datang, dan Allah akan membuatkan baginya satu juta mimbar terbuat dari cahaya di hadapan para malaikat yang mulia. </p>
<p>Barangsiapa memberi seteguk air minum (pada hari Asyura), maka seakan-akan ia tidak pernah bermaksiat kepada Allah sekejap pun. Barangsiapa mengenyangkan keluarga orang-orang miskin pada hari Asyura’, maka ia akan berjalan di atas ash-shiroth (jembatan yang terbentang di atas neraka Jahannam menuju surga, pent) secepat kilat. </p>
<p>Barangsiapa bersedekah dengan suatu sedekah pada hari Asyura’, maka seakan-akan ia tidak pernah menolak seorang pun yang meminta-minta. Barangsiapa mandi pada hari Asyura’, maka ia tidak akan mengalami sakit apapun kecuali kematian. Barangsiapa memakai celak pada hari Asyura’ maka kedua matanya tidak akan mengalami sakit sepanjang tahun itu. Barangsiapa tangannya mengusap kepala anak yatim, maka seakan-akan ia ia telah berbuat baik kepada semua anak yatim. </p>
<p>Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’, maka ia diberi pahala 10.000 (sepuluh ribu) malaikat. Dan barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’, ia akan diberi pahala 1000 (seribu) orang yang menunaikan haji dan umroh. Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’, maka ia diberi pahala 1000 (seribu) orang yang mati syahid. Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’ , maka ia diberi pahala tujuh lapis langit. </p>
<p>Pada hari Asyura’ Allah menciptakan (tujuh lapis) langit dan bumi, gunung-gunung dan lautan, ‘Arsy, al-Qolam (pena), Lauhul Mahfuzh, dan malaikat Jibril. Pada hari Asyura’ Allah mengangkat nabi Isa, dan memberikan kerajaan kepada nabi Sulaiman. Hari Kiamat juga terjadi pada hari Asyura’. Dan barangsiapa menjenguk orang sakit pada hari Asyura’, maka seakan-akan ia telah menjenguk semua orang sakit dari keturunan nabi Adam.”</p>
<p>(Dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Maudhu’aat, bab fi dzikri Asyura’ II/200-201).</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong><br />
Hadits ini derajatnya <strong>PALSU </strong>(Maudhu’).</p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat seorang perowi yang bernama <strong>Ibnu Abi Az-Zinad</strong>.</p>
<p>Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Dia tidak ada apa-apanya, dan haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah. Dan nama Abu Az-Zinad adalah Abdullah bin Dzakwan. Sedangkan nama anaknya adalah Abdurrahman. Dahulu (Abdurrahman) Ibnu Mahdi tidak meriwayatkan hadits darinya.”</p>
<p>Imam Ahmad berkata tentangnya: “Dia seorang perowi yang mudhthorib haditsnya (perowi yang menyampaikan riwayat secara tidak akurat atau berbeda-beda, pent).”</p>
<p>Abu Hatim Ar-Rozi berkata tentangnya: “Dia tidak dapat dijadikan hujjah. Barangkali sebagian ahlul ahwa (atau ahli bid’ah) telah memasukkannya di dalam haditsnya.”</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu hajar Al-Asqolani berkata tentangnya: “Shoduq (), hafalannya mengalami perubahan ketika ia datang ke kota Baghdad.” (Taqrib At-Tahdzib II/340 no.3861).</p>
<p><strong>Beberapa Tanda Kepalsuan di dalam Hadits ini:</strong></p>
<p>Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Kepalsuan hadits ini sudah sangat jelas dan tanpa diragukan lagi oleh setiap muslim yang berakal. Apalagi si pemalsu hadits ini tidak malu-malu lagi menyebutkan di dalamnya hal-hal yang mustahil, seperti perktaannya; “hari yang pertama kali Allah ciptakan adalah hari Asyura’ (hari kesepuluh).” Ini merupakan ketololan dan kelalaian dari si pemalsu hadits. Sebab hari Asyura’ (kesepuluh) tidaklah dinamakan demikian melainkan telah didahului dengan hari kesembilan. (Lihat kitab Al-Maudhu’aat II/201).</p>
<p>Di dalam hadits ini juga si pemalsu mengatakan, “Allah menciptakan Langit-langit dan bumi serta gunung-gunung pada hari Asyura’.” Padahal telah ada hadits shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menyelisihi perkataannya, yaitu sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah ta’ala telah menciptakan tanah (bumi) pada hari Sabtu dan telah menciptakan gunung-gunung pada hari Ahad, dan Allah menciptakan pepohonan pada hari Senin…dst.” (<strong>SHOHIH</strong>. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah, karya Syaikh Al-Albani IV/449 no.1833).</p>
<p>Di dalam hadits palsu ini juga, terdapat penyelewengan dan perubahan dalam masalah ukuran-ukuran pahala yang tidak sesuai dengan kebaikan dan kemurahan Syariat Islam. Apakah pantas seseorang yang berpuasa satu hari lalu diberi pahala seperti halnya 1000 (seribu) orang yang haji dan umroh serta 1000 (seribu) orang yang mati syahid? Yang demikian ini bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’at Islam.</p>
<p>(Hadits-hadits ini diterjemahkan dari kitab Al-Maudhu&#8217;aat karya Ibnul jauzi dan kitab-kitab lainnya (Maktabah Syamilah) dan disusun oleh penulis pada hari Senin, 28 November 20011 di kediamannya, Juwiring, Klaten, Jawa Tengah).   </p>
<p><strong>Bersambung&#8230;(insya Allah)</strong> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/793/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=793&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/28/hadits-hadits-lemah-dan-palsu-tentang-keutamaan-amalan-amalan-di-bulan-muharram-bagian-ke-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/d8a3d986d8a7-d8b7d988d98ad984d8a8-d8b5d8bad98ad8b1-d8acd8afd8a71.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">أنا طويلب صغير جدا</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU TENTANG KEUTAMAAN PUASA DAN AMALAN-AMALAN DI BULAN MUHARROM/ الأحاديث الضعيفة والموضوعة في فضائل صوم عاشوراء والقربات في شهر المحرم</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/27/hadits-hadits-lemah-dan-palsu-tentang-keutamaan-puasa-dan-amalan-amalan-di-bulan-muharrom-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b9%d9%8a%d9%81%d8%a9-%d9%88%d8%a7/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/27/hadits-hadits-lemah-dan-palsu-tentang-keutamaan-puasa-dan-amalan-amalan-di-bulan-muharrom-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b9%d9%8a%d9%81%d8%a9-%d9%88%d8%a7/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 13:56:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[HADITS]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS DHO'IF DAN PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[Bahaya]]></category>
		<category><![CDATA[BATIL]]></category>
		<category><![CDATA[BID'AH]]></category>
		<category><![CDATA[DHO'IF]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[DZIKIR]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH]]></category>
		<category><![CDATA[HADITS PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[hijriyah]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[LEMAH]]></category>
		<category><![CDATA[Muharam]]></category>
		<category><![CDATA[PALSU]]></category>
		<category><![CDATA[PUASA]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Suro]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=785</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Hadits Pertama: Imam Ath-Thobroni rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rozin bin Jami’ Al-Mishri Abu Abdillah Al-Mu’addal, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Habib, ia berkata; telah menceritakan kepada kami &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/27/hadits-hadits-lemah-dan-palsu-tentang-keutamaan-puasa-dan-amalan-amalan-di-bulan-muharrom-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b9%d9%8a%d9%81%d8%a9-%d9%88%d8%a7/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=785&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/d8a3d986d8a7-d8b7d988d98ad984d8a8-d8b5d8bad98ad8b1-d8acd8afd8a7.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/d8a3d986d8a7-d8b7d988d98ad984d8a8-d8b5d8bad98ad8b1-d8acd8afd8a7.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" title="أنا طويلب صغير جدا" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-786" /></a><strong>Hadits Pertama:</strong></p>
<p>Imam Ath-Thobroni rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rozin bin Jami’ Al-Mishri Abu Abdillah Al-Mu’addal, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Habib, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sallaam Ath-Thowil, dari Hamzah Az-Zayyaat, dari Laits bin Abi Saliim, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: </p>
<p>مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ كَانَ لَهُ كَفَّارَةَ سَنَتَيْنِ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلاَثُوْنَ يَوْمًا</p>
<p>“Barangsiapa berpuasa pada hari Arofah maka puasa itu akan menghapuskan (dosa-dosa) selama dua tahun. Dan barangsiapa yang berpuasa satu hari di bulan Muharram maka baginya dari setiap hari (bagaikan berpuasa) 30 hari”. (Dikeluarkan oleh Ath-Thobaroni dalam Al-Mu’jam Ash-Shoghir  II/164 no.963).</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong><br />
Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’).<br />
Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah: “Ini adalah hadits PALSU (maudhu’). </p>
<p>Di dalam sanadnya ada dua orang perowi pendusta (pemalsu hadits), yaitu:<br />
1. Sallam Ath-Thowil dan dia adalah pendusta.<br />
Ibnu Khorrosy berkata tentangnya: “Dia seorang pendusta.”<br />
Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Dia meriwayatkan hadits-hadits palsu dari para perowi yang tsiqoh (terpercaya/kredibel), dan sepertinya dia yang sengaja memalsukannya.”<br />
Al-Hakim berkata tentangnya pula: “Dia meriwayatkan hadits-Hadits palsu.”</p>
<p>2. Al-Haitsam bin Habib diklaim oleh imam Adz-Dzahabi sebagi orang yang meriwayatkan hadits bathil”. (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah I/596 no.412, dan Dho’if At-Targhib wat Tarhib I/154 no. 615).</p>
<p><strong>Hadits Kedua:</strong>  <span id="more-785"></span></p>
<p>Imam Ath-Thobroni rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Yusuf Al-Qodhi dan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la bin Hammad An-Narsi, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Jabbar bin Al-Ward, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Ubaidillah bin Abi Yazid, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>لَيْسَ لِيَوْمٍ فَضْلٌ عَلَى يَوْمٍ فِي الصِّيَامِ إِلاَّ شَهْرُ رَمَضَانَ وَيَوْمُ عَاشُوْرَاءَ</p>
<p>“Tidak ada satu haripun yang memiliki keutamaan melebihi hari-hari yang lainnya dalam hal berpuasa kecuali bulan Ramadhan dan hari ‘Asyuro’”.<br />
(Diriwayatkan oleh Ath-Thobaroni di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir XI/127 no.11253).</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong><br />
Hadits ini derajatnya DHO’IF JIDDAN (Sangat Lemah).</p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat seorang perowi yang bernama Abdul Jabbar bin Al-Ward yang dikatakan oleh Imam Al-Bukhori: “Dia menyelisihi pada sebagian hadits-haditsnya” dan berkata Ibnu Hibban tentangnya: “Dia sering salah dan keliru (wahm).”<br />
Syaikh Al-Albani rahimahulla berkata: “Hadits ini MUNGKAR.” (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah I/453no. 285, dan Dho’if At-Targhib wa  At-Tarhib I/155 no. 616).</p>
<p><strong>Hadits Ketiga:</strong></p>
<p>Imam Ath-Thobroni rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul warits bin Ibrahim Abu Ubaidah Al-Askari, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ali bin Abu Tholib Al-Bazzaz, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Al-Haishom bin Asy-Syuddakh, dar Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Alqomah, dari Abdullah (bin Mas’ud), dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: </p>
<p>مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ لَمْ يَزَلْ فِيْ سَعَةٍ سَائِرَ سَنَتِهِ </p>
<p>“Barangsiapa yang melapangkan (nafkah) kepada keluarganya pada hari ‘Asyura, niscaya ia akan senantiasa dalam kelapangan (rizkinya) selama setahun itu”. (Diriwayatkan oleh Ath-Thobrani X/77 no.10007, dan Al-Baihaqi di dalam kitab Syu’abul Iman VIII/312 no.3635)</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong><br />
Hadits ini derajatnya DHO’IF (Lemah).</p>
<p>Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Hadits ini TIDAK SHOHIH.”<br />
Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini DHO’IF (Lemah). (Lihat tahqiq beliau terhadap Misykat Al-Mashobih, I/434 no.1926).</p>
<p>Di dalam sanadnya ada seorang perowi yang majhul (Tidak dikenal jati dirinya), yaitu: Al-Haishom bin Asy-Syuddakh.<br />
Al-‘Uqoili berkata: “Al-Haishom adalah perowi yang majhul, dan hadits ini tidak mahfuzh.”<br />
Ibnu Hibban berkata: “Al-Haishom meriwayatkan hal-hal yang aneh dan berbahaya, tidak boleh berhujjah dengannya.”</p>
<p>Hadits ini disebutkan pula oleh Ibnul Qoyyim dalam Al-Manar Al-Munif Fi Ash-Shohih wa Adh-Dho’if, I/111 no.223, dan Asy-Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah, I/98 no.37).</p>
<p><strong>Hadits Keempat:</strong></p>
<p>Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitabnya Al-Maudhu’aat , bab Puasa di akhir dan awal tahun (baru Hijriyah) berkata: “Telah memberitahukan kepada kami Muhammad bin Nashir, ia berkata; telah memberitahukan kepada kami Abu Ali Al-Hasan bin Ahmad, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Al-Fawaris, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Umar bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Ayub, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Syadzan, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdullah Al-Harwi, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Quthb bin Wahb, dari Ibnu Juraij, dari Atho’, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً</p>
<p>“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kafarat/tertutup dosanya selama 50 tahun.”<br />
(Dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at II/566, Ay-Syaukani dalam Al-Fawa-id Al-Majmu’ah I/96 no.31, dan selainnya).</p>
<p><strong>DERAJAT HADITS:</strong><br />
Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’).</p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat dua perowi pendusta dan pemalsu hadits, yaitu Al-Harwi Al-juwaibari dan Wahb.<br />
Ibnul Jauzi berkata tentang keduanya, yaitu Al-Harwi atau dikenal juga dengan Al-Juwaibari, dan Wahb bahwa keduanya adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits.  (Lihat Al-Mawdhu’at II/566)<br />
Asy-Syaukani berkata tentang hadits ini: “Di dalam hadits ini ada dua perawi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.” (lihat Al Fawa-id Al Majmu’ah I/96 no.31). </p>
<p>Jika demikian derajat haditsnya, maka tidak boleh bagi siapapun dari umat Islam yang mengkhususkan puasa dan amalan-amalan ibadah lainnya seperti doa menyambut tahun baru hijriyah, dzikir berjama’ah, menghidupkan malamnya dengan qiyamul lail, bersedekah, membaca Al-Qur’an, mengadakan pengajian dan selainnya pada awal dan akhir tahun Hijriyah, karena haditsnya jelas-jelas sangat lemah atau bahkan PALSU, bukan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam. Cukuplah bagi kita beribadah kepada Allah dengan amalan-amalan yang dilandasi dengan hadits-hadits yang jelas dan pasti keshohihannya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>Bersambung (insya Allah).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/785/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=785&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/27/hadits-hadits-lemah-dan-palsu-tentang-keutamaan-puasa-dan-amalan-amalan-di-bulan-muharrom-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%ad%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%ab-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b9%d9%8a%d9%81%d8%a9-%d9%88%d8%a7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/d8a3d986d8a7-d8b7d988d98ad984d8a8-d8b5d8bad98ad8b1-d8acd8afd8a7.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">أنا طويلب صغير جدا</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>المبادئ الإيمانية للتاجر المسلم / BEKAL-BEKAL KEIMANAN BAGI PENGUSAHA MUSLIM</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/23/%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%a8%d8%a7%d8%af%d8%a6-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d9%8a%d9%85%d8%a7%d9%86%d9%8a%d8%a9-%d9%84%d9%84%d8%aa%d8%a7%d8%ac%d8%b1-%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%b3%d9%84%d9%85-bekal-bekal-keimanan-bagi/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/23/%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%a8%d8%a7%d8%af%d8%a6-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d9%8a%d9%85%d8%a7%d9%86%d9%8a%d8%a9-%d9%84%d9%84%d8%aa%d8%a7%d8%ac%d8%b1-%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%b3%d9%84%d9%85-bekal-bekal-keimanan-bagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 06:53:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIQH]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH BISNIS / PERDAGANGAN]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH MU'AMALAH]]></category>
		<category><![CDATA[BEKAL]]></category>
		<category><![CDATA[BISNIS]]></category>
		<category><![CDATA[DAGANG]]></category>
		<category><![CDATA[DASAR]]></category>
		<category><![CDATA[IMAN]]></category>
		<category><![CDATA[JUAL BELI]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[PEDAGANG]]></category>
		<category><![CDATA[PENGUSAHA]]></category>
		<category><![CDATA[PENGUSAHA MUSLIM]]></category>
		<category><![CDATA[PRINSIP]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=781</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Iman dan amal adalah dua perkara prinsip yang saling terikat antara satu dan lainnya sebagaimana ruh dan jasad. Di dalam Al-Qur’an didapatkan lafazh iman yang dikaitkan dengan amal shalih lebih dari 200 kali penyebutan. &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/23/%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%a8%d8%a7%d8%af%d8%a6-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d9%8a%d9%85%d8%a7%d9%86%d9%8a%d8%a9-%d9%84%d9%84%d8%aa%d8%a7%d8%ac%d8%b1-%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%b3%d9%84%d9%85-bekal-bekal-keimanan-bagi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=781&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/rambu-rambu-islami.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/rambu-rambu-islami.jpg?w=300&#038;h=212" alt="" title="rambu-rambu-islami" width="300" height="212" class="alignleft size-medium wp-image-782" /></a>Iman dan amal adalah dua perkara prinsip yang saling terikat antara satu dan lainnya sebagaimana ruh dan jasad. Di dalam Al-Qur’an didapatkan lafazh iman yang dikaitkan dengan amal shalih lebih dari 200 kali penyebutan. </p>
<p>Hasan Al-Bashri mendefinisikan iman dengan “Apa yang telah menetap dalam hati manusia, kemudian dibenarkan dengan perbuatan.”</p>
<p>Al-Auza’i berkata: “Dahulu para ulama salaf (maksudnya para sahabat, pent) tidak membedakan (memisahkan) antara iman dan amal.” (Fathul Bari, karya Ibnu Hajar Al-Asqolani I/5).</p>
<p>Dengan demikian, iman merupakan faktor penting yang akan menggerakkan semua bentuk aktivitas manusia. Dari sini nampak adanya urgensi untuk menggabungkan antara iman dan amal shalih bagi para pengusaha muslim. Berikut ini kami akan sebutkan beberapa prinsip keimanan yang semestinya diketahui dan diamalkan oleh setiap pengusaha muslim.  <span id="more-781"></span></p>
<p><strong>Pertama: Menghadirkan Niat yang Baik dalam Bekerja</strong><br />
Niat adalah ruh bagi setiap amal, inti dan pondasinya. Suatu amal akan selalu mengikutinya. Jika niatnya benar, maka amalnya pun benar. Jika rusak niatnya, maka amalnya juga akan rusak. Oleh karena itu Rasulullah bersabda:<br />
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى<br />
“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari I/3 no.1, dan Muslim III/1515 no.1907)</p>
<p>Hadits ini tidak terbatas pada masalah ibadah saja, akan tetapi ia juga mencakup bab muamalah dan lainnya. Semua amalan dapat berubah posisinya karena faktor niat, dianggap sebagai ibadah dan amal shalih yang mendekatkan diri kepada Allah atau sebaliknya.</p>
<p>Maka jika seorang muslim bekerja dengan niat mencari rezeki di bidang pendidikan, pertanian, peternakan, perdagangan, industri, kesehatan, ketrampilan atau selainnya, maka aktivitasnya itu akan dinilai sebagai ibadah. Begitu pula jika tujuannya adalah untuk menjaga diri dari hal-hal yang haram, mencukupkan diri dengan hal-hal yang halal, dan untuk menafkahi keluarganya. Rasulullah bersabda:<br />
إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ<br />
“Sesungguhnya engkau tidaklah memberikan suatu nafkah yang diharapkan dengannya wajah Allah semata melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, sampaipun sesuap makanan yang engkau masukkan ke dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari I/30 no.56, dan Muslim III/1250 no.1628, dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu).</p>
<p>Oleh karena itu, Islam menganjurkan pengusaha muslim agar memiliki orientasi yang sama dalam masalah ibadah dan muamalah. Dan hal itu tidak mungkin bisa dilakukan jika ia tidak mengikhlaskan apa yang ia lakukan karena Allah semata, membebaskan diri dari penghambaan terhadap nafsu syahwat, harta, perhiasan, jabatan serta kenikmatan dunia yang lainnya. Rasulullah bersabda:<br />
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ<br />
“Celaka para hamba dinar. Celaka para hamba dirham dan hamba pakaian. Jika ia diberi, maka ia merasa lega. Dan jika ia tidak diberi, maka ia menggerutu.” (HR. Bukhari III/1057 no.2730, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu)</p>
<p><strong>Kedua: Meyakini bahwa harta milik Allah, manusia hanya diberi amanah.</strong><br />
Seorang pengusaha muslim hendaknya meyakini bahwa harta benda adalah milik Allah, sedangkan manusia hanya diberi amanah. Di samping itu pula, hendaknya ia menyadari betul bahwa harta hanyalah sebagai sarana, bukanlah tujuan. Dan untuk mendapatkan yang baik, maka menjadi keharusan baginya untuk mencarinya dari sumber yang halal, tidak menahan yang bukan haknya, tidak berbangga-bangga dengan kepemilikannya serta mengakui anugerah Allah padanya. Hendaklah harta yang dimilikinya bisa mengantarkannya untuk lebih mengenal akhirat dengan tanpa melupakan kenikmatan dunia.</p>
<p>Seorang pengusaha muslim harus menyadari bahwa harta yang ada di tangannya merupakan titipan dari Allah yang harus ia kelolah dengan baik dan benar sesuai ketentuan Sang Pemilik harta sesungguhnya. Dia adalah Allah, satu-satunya Raja dari segala raja, Pemilik dari segala pemilik. Karena semua harta yang ada padanya akan dimintai pertanggung-jawabannya pada hari kiamat kelak, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:<br />
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ<br />
“Pada Hari Kiamat nanti kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser (dari hadapan Allah) sehingga ia dimintai pertanggung-jawaban tentang empat perkara: Usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya darimana didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dipergunakan.” (HR. At-Tirmidzi IV/612 no.2417 dari Abu Barzah Al-Aslami. Syaikh Al-Albani berkata: “Shahih”). </p>
<p><strong>Ketiga: Mengimani Takdir Allah disertai Sikap Selalu Bersyukur.<br />
</strong>Beriman kepada takdir Allah, baik ketentuan yang baik atau yang buruk, manis atau pahit merupakan pondasi dasar keimanan. Seorang pengusaha muslim wajib mengimani takdir Allah dengan keimanan yang kokoh, bahwa semua hal yang terjadi tidaklah akan meleset darinya. Dan semua bentuk manfaat dan bahaya telah ditetapkan oleh Allah.</p>
<p>Dari Abdullah bin Abbas, dikisahkan bahwa suatu ketika dia naik kendaraan di belakang Rasulullah, dan beliau bersabda:<br />
يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ<br />
“Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat. Jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu. Jika engkau minta sesuatu, maka mintalah kepada Allah. Jika engkau minta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa jika semua umat berkumpul, kemudian mereka ingin memberimu manfaat, maka tidak akan ada manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah tetapkan Allah untukmu. Dan jika umat semuanya berkumpul untuk mendatangkan bahaya kepadamu, maka tidak akan ada bahaya kecuali apa yang telah digariskan Allah untukmu. Pena (pencatat takdir, pent) telah diangkat dan buku catatan telah dikeringkan.” (HR. At-Titmidzi IV/667 no.2516 dan Ahmad I/307 no.2804, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma) </p>
<p>Dengan demikian jika ada keuntungan dalam hartanya, maka seorang pengusaha muslim akan bersyukur. Ia tidak akan bergembira secara berlebihan. Allah berfirman:<br />
لا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ<br />
“Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS. Al-Qashash: 76)</p>
<p>Dan jika ia mengalami nasib sebaliknya, maka ia akan tetap sabar, ridha, dan tenang hatinya. Karena ia meyakini bahwa Allah tidaklah menetapkan sesuatu kecuali di dalamnya ada kemaslahatan. Allah menganugerahkan harta benda pada hamba yang Dia cintai dan hamba yang tidak Dia cintai. Dia juga mempersempit rezeki pada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai.</p>
<p>Dari Shuhaib radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:<br />
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ<br />
“Sungguh sangat menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya ia anggap baik. Dan tidak akan terjadi seperti itu kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kelapangan, maka ia akan bersyukur. Dan itu yang terbaik baginya. Dan jika ia mengalami musibah, maka ia bersabar. Dan itu yang terbaik baginya.” (HR. Muslim IV/2295 no.2999, dari Shuhaib radhiyallahu anhu)</p>
<p><strong>Keempat: Selalu Berusaha dan Bekerja untuk Mendapatkan Rezeki disertai Tawakkal kepada Allah<br />
</strong>Seorang pengusaha muslim dituntut untuk mengambil sebab dalam mencari rezeki dan mengembangkan harta disertai dengan semangat tawakkal kepada Allah. Allah Dzat yang member rezeki kepada burung-burung setiap pagi dan sorenya, sudah tentu sangat mampu member rezeki kepada manusia. Dialah yang menundukkan segala sesuatu, yang menjalankan segala sesuatu, yang mendatangkan semua sebab di dunia ini. Inilah yang diisyaratkan oleh Rasullullah dalam sebuah haditsnya:<br />
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا<br />
“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka pasti kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, yang berangkat di pagi hari dalam keadaan perut kosong, kemudian kembali di sore hari dalam keadaan kenyang. “ (HR. Tirmidzi IV/573 no.2344, Ibnu Majah II/1394 no.4164 dan Ahmad I/30 no.205, 373, dari Umar bin Khathab. Dan syaikh Al-Albani berkata: “Shahih”)</p>
<p>Allah berfirman:<br />
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ<br />
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)</p>
<p>Dalam banyak ayat Al-Qur’an, Allah telah menyinggung tentang anjuran kepada manusia untuk mencari sumber kehidupan dan menggali rezeki, di antaranya adalah firman-Nya:<br />
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ<br />
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 5)</p>
<p>Dan firman-Nya pula:<br />
وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الأرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ<br />
“Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah.” (QS. Al-Muzzammil: 20)</p>
<p>Imam Qurthubi mengatakan berkaitan dengan ayat ini dalam kitab tafsirnya Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, “Dalam ayat ini, Allah telah menyamakan antara derajat orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan orang-orang yang mencari harta yang halal untuk memberi nafkah dirinya dan keluarganya, agar ia mampu berbuat baik kepada sesame, dan mampu bersedekah dengan kelebihan hartanya. Oleh karena itu, Ibnu Umar berkata, “Tidaklah Allah menciptakan kematian yang aku ingin mati sekali lagi, setelah kematian di jalan Allah. Dan kematian itu lebih aku cintai daripada kematian di antara dua bukit bersama kendaraanku, yaitu kematian yang menjemputku saat aku mencari rezeki Allah dengan berjalan di atas bumi ini.”<br />
Demikian pula Rasulullah memberikan motivasi kepada umatnya agar selalu berusaha dan bekerja untuk mencari rezeki . Diantaranya adalah hadits berikut:</p>
<p>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ &#8211; رضى الله عنه &#8211; يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا ، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ »<br />
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh salah seorang dari kalian mencari kayu bakar lalu memikulnya di atas punggungnya itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, lalu ia memberinya atau menolaknya.” (HR. Bukhari II/730 no.1968)</p>
<p>عَنِ الْمِقْدَامِ &#8211; رضى الله عنه &#8211; عَنْ رَسُولِ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; قَالَ « مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ &#8211; عَلَيْهِ السَّلاَمُ &#8211; كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ »<br />
Dari Al-Miqdam radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seseorang di antara kalian yang makan makanan apa pun, jauh lebih baik dari makan makanan yang berasal dari hasil keringat sendiri. Dan sesungguhnya nabi Daud alaihissalam memakan makanan dari hasil jerih payahnya sendiri.” (HR. Bukhari II/730 no.1966).</p>
<p>Maka, hendaknya setiap pengusaha muslim berupaya untuk mengambil sebab-sebab nyata yang bisa mendatangkan rezeki yang halal lagi baik. Dan hendaknya hatinya merasa tenang dan yakin bahwa sebab-sebab rezeki itu bukanlah faktor utama munculnya rezeki. Karena pada hakikatnya rezeki itu sendiri sudah dijatah dan nasib setiap orang telah ditentukan. Dan apa yang telah ditentukan oleh Allah pasti akan terwujud.</p>
<p><strong>Kelima: Meyakini bahwa Allah telah Menentukan Kelebihan atas Orang Lain</strong><br />
Allah berfirman:<br />
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ<br />
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32)</p>
<p>Oleh karena itu, seorang pengusaha muslim hendaknya meyakini prinsip ini. Janganlah terlalu silau dengan orang yang mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Hendaknya dia melihat orang yang rezekinya lebih sedikit darinya, kemudian ia memuji kepada Allah atas anugerah-Nya selama ini. Karena terkadang kelapangan rezeki justru merupakan ujian dari Allah untuk mengetahui apakah orang tersebut termasuk orang yang bersyukur atas nikmat-Nya atau orang yang membanggakan diri.</p>
<p>Demikian pula dengan kesempitan rezeki pada seseorang. Mungkin saja hal itu merupakan cara Allah untuk memberikan hikmah kepada manusia yang diwujudkan-Nya dalam bentuk ujian, agar dapat diketahui apakah ia termasuk orang yang sabar dalam cobaan atau justru banyak mengeluh. Allah berfirman:<br />
وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّي رِزْقِهِمْ عَلَى مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ<br />
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (QS. An-Nahl: 71)</p>
<p>Allah berfirman pula:<br />
وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا<br />
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 32)</p>
<p>Sesungguhnya dengan cara yang demikian, Islam menginginkan agar setiap pengusaha muslim mampu menjadikan jiwa mereka bersih dari kebencian, kedengkian dan iri, yang merupakan penyakit hati dan perusak amal yang berbahaya. Dengan keadaan seperti ini, dia akan bisa hidup dengan hati yang sehat, tenang dan terbebas dari bisikan kebencian dan kedengkian. </p>
<p><strong>Keenam: Selalu Menjaga Aturan-aturan Syari’at dalam Ibadah</strong><br />
Tidak sepantasnya bila seorang pengusaha muslim hanya menyibukkan dirinya mencari sumber penghidupan dunia, dan melalaikan sumber kehidupan akhirat, yang akhirnya akan membuat umurnya sia-sia dan perniagaannya merugi. Dan keuntungan yang seharusnya dia raih di akhirat tidak akan sebanding dengan keuntungan yang dia dapat di dunia. Dan akhirnya, ia seakan-akan menggadaikan akhiratnya untuk membeli dunia. Di dalam Al-Qur’an, Allah telah memuji hamba-hamba-Nya yang mampu memadukan antara mencari rezeki dengan cara perdagangan dan ibadah kepada Allah. Allah berfirman: </p>
<p>فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ (36) رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ (37) لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (38)</p>
<p>“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. An-Nuur: 36-38)</p>
<p>Mereka tetaplah orang-orang yang melakukan transaksi jual beli atau melakukan aktivitas ekonomi yang lain, tetapi jika telah datang waktu shalat, maka mereka bersegera menunaikan hak Allah atas mereka. Mereka menunaikan zakat, menyucikan harta mereka sehingga Allah menyelimuti harta mereka dengan keberkahan. Allah berfirman: </p>
<p>فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p>“Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)<br />
Perdagangan meskipun dipuji karena termasuk sumber rezeki yang halal, akan tetapi bisa menjadi tercela jika ia didahulukan daripada hal-hal yang mestinya didahulukan. Dari sini kita mendapatkan isyarat yang sangat jelas dari firman Allah: </p>
<p>وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ</p>
<p>“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik pemberi rezki.” (QS. Al-Jumu’ah: 11)<br />
Dan hendaklah memperbanyak semua bentuk amal kebaikan menjadi perilaku khas setiap pengusaha muslim. Dengannya, hati manusia akan tersentuh dan akan melahirkan cinta dan kasih sayang antar sesama. Allah berfirman:<br />
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى</p>
<p>“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah: 2)</p>
<p>Dalam takwa tersimpan keridhaan Allah, dan dalam al-birr (berbuat baik) tersimpan keridhaan manusia. Barangsiapa yang mampu menggabungkan antara dua keridhaan tersebut, maka dia akan mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan yang sempurna.</p>
<p>Demikian tulisan sederhana tentang beberapa prinsip keimanan bagi pengusaha muslim sebagai bekal dalam menjalankan bisnis. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a’lam bish-showab.  </p>
<p><strong>[Sumber: Majalah Pengusaha Muslim Edisi…. Volume 1 / 2010]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/781/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/781/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/781/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/781/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/781/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/781/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/781/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=781&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/23/%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%a8%d8%a7%d8%af%d8%a6-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d9%8a%d9%85%d8%a7%d9%86%d9%8a%d8%a9-%d9%84%d9%84%d8%aa%d8%a7%d8%ac%d8%b1-%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%b3%d9%84%d9%85-bekal-bekal-keimanan-bagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/rambu-rambu-islami.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">rambu-rambu-islami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ما ينتفع به الميت بعد موته / AMALAN-AMALAN YANG BERMANFAAT BAGI ORANG MATI</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/12/%d9%85%d8%a7-%d9%8a%d9%86%d8%aa%d9%81%d8%b9-%d8%a8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%8a%d8%aa-%d8%a8%d8%b9%d8%af-%d9%85%d9%88%d8%aa%d9%87-amalan-amalan-yang-bermanfaat-bagi-orang-mati/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/12/%d9%85%d8%a7-%d9%8a%d9%86%d8%aa%d9%81%d8%b9-%d8%a8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%8a%d8%aa-%d8%a8%d8%b9%d8%af-%d9%85%d9%88%d8%aa%d9%87-amalan-amalan-yang-bermanfaat-bagi-orang-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 05:59:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIQH]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH IBADAH]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[HADIAH]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MASJID]]></category>
		<category><![CDATA[Mayit]]></category>
		<category><![CDATA[ORANG MATI]]></category>
		<category><![CDATA[PAHALA]]></category>
		<category><![CDATA[SEDEKAH]]></category>
		<category><![CDATA[SHODAQOH]]></category>
		<category><![CDATA[WAKAF]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=777</guid>
		<description><![CDATA[AMALAN-AMALAN YANG BERMANFAAT BAGI ORANG MATI (BAGIAN PERTAMA) Oleh: Team Redaksi Buletin Al-Ittiba&#8217; Sesungguhnya manusia berdasarkan fitrahnya, diciptakan senang memberikan manfaat kepada orang yang telah meninggal dunia, dengan anggapan bahwa amalan yang mereka kerjakan itu bisa memberikan manfaat kepada si &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/12/%d9%85%d8%a7-%d9%8a%d9%86%d8%aa%d9%81%d8%b9-%d8%a8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%8a%d8%aa-%d8%a8%d8%b9%d8%af-%d9%85%d9%88%d8%aa%d9%87-amalan-amalan-yang-bermanfaat-bagi-orang-mati/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=777&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AMALAN-AMALAN YANG BERMANFAAT BAGI ORANG MATI<br />
(BAGIAN PERTAMA)</p>
<p>Oleh: Team Redaksi Buletin Al-Ittiba&#8217;</p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/masjid-ittiba-klaten.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/masjid-ittiba-klaten.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="masjid ittiba&#039; klaten" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-778" /></a>Sesungguhnya manusia berdasarkan fitrahnya, diciptakan senang memberikan manfaat kepada orang yang telah meninggal dunia, dengan anggapan bahwa amalan yang mereka kerjakan itu bisa memberikan manfaat kepada si mayat ketika berada di dalam kuburan dan setelah ia dibangkitkan darinya.</p>
<p>Di antara amalan yang paling banyak dilakukan oleh umat Islam dewasa ini adalah tahlilan dan yasinan, yaitu dengan memperingati hari-hari tertentu dari kematian seseorang dengan anggapan bahwa itu dapat membantu perjalanan roh orang yang meninggal menuju akhirat. <span id="more-777"></span> Padahal hal ini sama sekali tidak pernah dicontohkan dan diperintahkan oleh Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam. Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda:<br />
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ<br />
&#8220;Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka perbuatan tersebut tertolak.&#8221;  (HR. Bukhari dan Muslim)    </p>
<p>Berdasarkan hadits-hadits shahih dari Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam, maka ada beberapa amalan yang pahalanya bisa terus mengalir bagi seseorang meskipun ia telah meninggal dunia. Diantaranya adalah:</p>
<p><strong>A. AMALAN DARI PERBUATANNYA SENDIRI SEBELUM MENINGGAL</strong></p>
<p><strong>1. Shadaqah jariyah</strong>:<br />
Shadaqah jariyah adalah suatu ketaatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengharapkan ridha Allah Ta&#8217;ala, agar orang-orang umum bisa memanfaatkan harta yang disedakahkannya tersebut sehingga pahalanya mengalir baginya sepanjang barang tersebut masih ada. </p>
<p><div id="attachment_779" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/kajian-rutin-masjid-al-ittiba-klaten.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/kajian-rutin-masjid-al-ittiba-klaten.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="kajian rutin masjid al-ittiba&#039; klaten" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-779" /></a><p class="wp-caption-text">KAJIAN RUTIN MASJID AL-ITTIBA&#039; , KLATEN, JAWA TENGAH</p></div>Para ulama telah menafsirkan shadaqah jariyah dengan wakaf untuk kebaikan. Seperti mewakafkan tanah, masjid, madrasah, rumah hunian, kebun kurma, mushaf Al-Qur’an, kitab yang berguna, dan lain sebagainya. Disini merupakan dalil disyariatkannya mewakafkan barang yang bermanfaat dan perintah untuk melakukannya, bahkan itu termasuk amalan yang paling mulia yang bisa dilakukan seseorang untuk kemuliaan dirinya di akhirat. Yang pertama ini bisa dilakukan oleh para ulama maupun orang awam. </p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda:<br />
  إِذَا مَاتَ إِبْنُ آدَمَ إِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ, أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِه, أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ<br />
&#8220;Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendo&#8217;akannya.&#8221; [HR. Muslim, HR. Muslim (5/73), Imam Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad hal.8, Abu Daud (2/15), an-Nasa’i (2/129), ath-Thahawi di dalam Al-Musykil (1/85), al-Baihaqi (6/278), dan Ahmad (2/372). Lihat Ahkamul Jana-iz Wa Bida’uha oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal.224].</p>
<p>Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam juga bersabda:<br />
مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ<br />
 &#8220;Barangsiapa yang membangun masjid untuk mencari wajah Allah, niscaya Allah membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>2. Ilmu yang Bermanfaat:</strong><br />
Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda:<br />
مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا فَلَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْعَامِلِ<br />
&#8220;Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang  yang mengamalkannya sedikitpun.&#8221; (HR. Ibnu Majah).<br />
Sama saja apakah dia mengajarkan ilmu tersebut kepada seseorang atau berupa buku yang orang-orang mempelajarinya setelah kematiannya.</p>
<p>Dari &#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha, dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda:<br />
وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِى الْمَاءِ (رواه ابن ماجه</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Orang yang menuntut ilmu (syar&#8217;i) akan dimintakan ampunan oleh segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, sampai ikan-ikan yang ada di dalam lautan.&#8221; (HR. Ibnu Majah)</p>
<p>Dan Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda:<br />
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk (kebajikan), maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.&#8221; (HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan selainnya).</p>
<p>Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata: “Hal ini (yakni ilmu yang bermanfaat) bisa dilakukan dengan cara seseorang mengajarkan ilmu kepada manusia perkara-perkara agama mereka. Ini khusus bagi para ulama yang menyebarkan ilmu dengan cara mengajar, mengarang dan menuliskannya. Orang yang awam juga bisa melakukannya dengan cara ikut serta di dalamnya berupa mencetak kitab-kitab yang bermanfaat atau membelinya lalu menyebarkannya atau mewakafkannya. Juga membeli mushaf lalu membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan atau meletakkannya di masjid-masjid. Hal ini menganjurkan kita untuk mempelajari ilmu dan mengajarkannya, menyiarkannya dan menyebarluaskan kitab-kitabnya agar bisa mengambil manfaat sebelum dan sesudah kematian dia. Manfaat ilmu akan tetap ada selama di permukaan bumi ini masih ada seorang muslim yang sampai kepadanya ilmu tersebut. Berapa banyak ulama yang meninggal semenjak ratusan tahun yang lalu tetapi ilmunya masih ada dan dimanfaatkan melalui kitab-kitab yang telah dikarangnya lalu dipakai dari generasi ke generasi sesudahnya dengan perantara para muridnya kemudian para pencari ilmu setelah mereka. Dan setiap kali kaum muslimin menyebutkan nama dia, mereka selalu mendoakan kebaikan dan mendoakan agar Allah merahmati dia. Ini adalah fadhilah (keutamaan dan karunia) dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Berapa banyak generasi yang diselamatkan Allah dari kesesatan dengan jasa seorang ulama, maka ulama itu mendapatkan seperti pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat”.</p>
<p><strong>3. Segala amalan sholih yang dilakukan oleh anak yang sholih akan bermanfaat bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia:</strong><br />
Allah Ta’ala berfirman,<br />
وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى<br />
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An Najm: 39).<br />
Di antara yang diusahakan oleh manusia adalah anak yang sholih.</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ<br />
“Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” [HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa-i no. 4451. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]</p>
<p>Ini berarti amalan dari anaknya yang sholih masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun sudah berada di liang lahat karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.<br />
Namun sayang, orang tua saat ini melupakan modal yang satu ini. Mereka lebih ingin anaknya menjadi seorang penyanyi atau musisi –sehingga dari kecil sudah dididik les macam-macam-, dibanding anaknya menjadi seorang da’i atau orang yang dapat memberikan manfaat pada umat dalam masalah agama. Sehingga orang tua pun lupa dan lalai mendidik anaknya untuk mempelajari Iqro’ dan Al Qur’an. Sungguh amat merugi jika orang tua menyia-nyiakan anaknya padahal anak sholih adalah modal utama untuk mendapatkan aliran pahala walaupun sudah di liang lahat.</p>
<p><strong>4. Apabila manusia, hewan atau burung memakan tanaman milik orang yang telah meninggal dunia</strong>:<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda:<br />
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةً وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ<br />
&#8220;Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan dari tanaman tersebut merupakan sedekahnya (orang yang menanam). Dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut merupakan sedekahnya. Dan apa yang dimakan oleh binatang buas dari tanaman tersebut merupakan sedekahnya. Dan apa yang dimakan oleh seekor burung dari tanaman tersebut merupakan sedekahnya. Dan tidaklah dikurangi atau diambil oleh seseorang dari tanaman tersebut kecuali merupakan sedekahnya.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Imam Nawawi berkata mengomentari hadits di atas, &#8220;Hadits ini menunjukkan keutamaan menanam dan mengelola tanah, dan bahwa pahala orang yang menanam tanaman itu mengalir terus selagi yang ditanam atau yang berasal darinya itu masih ada sampai hari kiamat.&#8221;</p>
<p>Hal ini berbeda dengan shodaqoh jariyah, karena tanaman itu tidak dimaksudkan (diniatkan) sebagai shodaqoh jariyah, akan tetapi hasil yang dimakan dari tanaman ter-sebut menjadi shodaqoh jariyah tanpa keinginan dari pemiliknya atau ahli warisnya.</p>
<p><strong>5. Bersiaga di jalan Allah:</strong><br />
Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda:<br />
رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِى كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِىَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ<br />
&#8220;Bersiaga di jalan Allah (menjaga jika musuh menyerang) sehari semalam lebih baik dari pada puasa dan mendirikan shalat satu bulan, dan apabila (orang yang bersiaga tersebut) meninggal dunia maka amalan yang sedang dia kerjakan tersebut (pahalanya terus) mengalir kepadanya, rezekinya terus disampaikan kepadanya dan dia terjaga dari ujian (kubur).&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p><strong>6. Menggali kubur untuk mengubur seorang Muslim:</strong><br />
Dari Abu Rafi&#8217; Radhiyallahu &#8216;Anhu, dia berkata, Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya: &#8220;Barangsiapa yang memandikan jenazah dan ia menyembunyikan cacat jenazah tersebut, niscaya dosanya diampuni sebanyak 40 dosa. Dan barangsiapa yang mengafani jenazah, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya kain sutera yang halus dan tebal dari surga. Dan barang siapa yang menggali kuburan untuk jenazah dan dia memasukkannya ke dalam kuburan tersebut, maka dia akan diberi pahala seperti pahala membuatkan rumah, yang jenazah itu dia tempatkan (di dalamnya) sampai hari kiamat.&#8221; (HR. Al Baihaqi dan Al Hakim. Al Hakim berkata, &#8220;Hadits ini sesuai syarat Imam Muslim&#8221;, dan Imam Adz-Dzahabi menyetujuinya).</p>
<p><strong>B. AMALAN YANG BERASAL DARI USAHA-USAHA ORANG LAIN</strong></p>
<p><strong>1. Do&#8217;a untuk mayit:</strong><br />
Orang yang telah meninggal akan mendapatkan manfaat dari do&#8217;a orang lain pada beberapa tempat/waktu yaitu:</p>
<p>a. Do&#8217;a ketika akan meninggal atau setelah meninggal<br />
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu &#8216;Anha, dia berkata, Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda:<br />
إِذَا حَضَرْتُمُ الْمَرِيضَ أَوِ الْمَيِّتَ فَقُولُوا خَيْرًا فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ<br />
“Jika kalian mengunjungi orang yang sakit atau orang yang telah meninggal maka ucapkanlah kebaikan, sesungguhnya para malaikat mengaminkan apa-apa yang kalian ucapkan.&#8221; (HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad).</p>
<p>b. Do&#8217;a untuk mayit dalam shalat jenazah<br />
Dari Abu Umamah Radhiyallahu &#8216;Anhu, dia berkata, Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda, &#8220;Jika kalian menyalatkan jenazah, maka murnikanlah do&#8217;a untuknya.&#8221; (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).</p>
<p>Dari Auf bin Malik Radhiyallahu &#8216;Anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam   menyalatkan satu jenazah, lalu saya hafalkan do&#8217;anya. Beliau berdo&#8217;a:<br />
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ<br />
&#8220;Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, jauhkanlah dia (dari musibah), maafkanlah dia, muliakanlah tempatnya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah dia dengan air, dengan es dan embun, bersihkanlah ia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana pakaian yang putih dibersihkan dari kotoran. Berilah ia ganti kampung yang lebih baik dari kampungnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarganya (di dunia), istri yang lebih baik dari istrinya (di dunia). Masukkanlah ia ke dalam surga, lindungilah ia dari adzab kubur dan adzab neraka.&#8221; Lalu Auf bin Malik berkata, &#8220;Sampai-sampai aku membayangkan sekiranya akulah mayat itu.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>c. Memohonkan ampunan untuk mayit<br />
Dari &#8216;Utsman bin &#8216;Affan Radhiyallahu &#8216;Anhu, dia berkata, &#8220;Kebiasaan Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam apabila selesai menguburkan mayat, beliau berdiri lalu bersabda, &#8220;Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu dan mintalah keteguhan, sesungguhnya sekarang dia sedang ditanya.&#8221; (HR. Abu Dawud dan Hakim).</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam juga bersabda, &#8220;Sesungguhnya Allah sungguh akan mengangkat derajat seorang hamba yang shaleh di surga. Hamba tadi berkata, &#8220;Ya Rabb, bagaimana bisa saya mendapatkan derajat ini?&#8221; Allah menjawab, &#8220;Karena istighfar anakmu untukmu.&#8221; (HR, Imam Ahmad dengan sanad yang shahih).</p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam menyebut anak, karena anak yang biasanya beristighfar untuk orang tuanya. Penyebutan anak di sini sebagai keumuman, bukan sebagai pembatasan manfaat hanya dari anak. Maka seorang Muslim mana saja meminta ampun untuk saudaranya Muslim yang lain, niscaya hal itu bermanfaat baginya.</p>
<p>d. Do&#8217;a untuk yang telah meninggal ketika kuburannya diziarahi<br />
Dari Buraidah Radhiyallahu &#8216;Anhu, dia berkata, &#8220;Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam mengajari para sahabat jika ziarah kubur, agar hendaklah mereka mengatakan:<br />
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ أَنْتُمْ لَنَا فَرَطٌ وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ لَنَا وَلَكُمْ<br />
&#8220;Semoga keselamatan bagi kalian wahai penghuni kubur dari golongan mu&#8217;min dan muslim. Kami insya Allah pasti akan menyusul kalian. Kalian bagi kami adalah pendahulu dan kami bagi kalian adalah pengikut. Aku memohonkan bagi diri kami dan kalian keselamatan.&#8221; (HR. Muslim, An-Nasa’i dan Ahmad).</p>
<p>e. Do&#8217;a untuk orang-orang yang telah meninggal secara keseluruhan<br />
Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَااغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ<br />
&#8220;Dan orang-orang yang datang setelah mereka (para sahabat), mereka mengatakan, &#8220;Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam keimanan.&#8221; (QS. Al-Hasyr:10).</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya: &#8220;Do&#8217;a seorang Muslim untuk saudaranya (sesama Muslim) yang tidak ada di hadapannya merupakan (do&#8217;a) mustajabah (dikabulkan). Di dekat kepala orang yang berdo&#8217;a tersebut ada malaikat yang ditugaskan, setiap dia berdo&#8217;a kebaikan untuk saudaranya, malaikat tersebut berkata, &#8220;Amin dan semoga kamu mendapatkan hal yang sama.&#8221; (HR. Muslim).<br />
Do&#8217;a tersebut berlaku bagi orang yang masih hidup dan juga bagi yang telah meninggal dunia.</p>
<p><strong>2. Banyaknya Orang yang Menyalatkan Jenazah:</strong><br />
Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda, &#8220;Tidak ada satu jenazah pun yang dishalatkan oleh sekelompok Muslim yang mencapai seratus—semuanya meminta buat si mayat—kecuali permintaan mereka buat si mayat itu diterima.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Boleh jadi sang mayit juga diampuni dosanya jika dishalatkan oleh kurang dari seratus orang asalkan orang-orang yang menyalatkan itu termasuk orang-orang yang bertauhid. Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda, &#8220;Tidak ada seorang Muslim pun yang wafat, lalu jenazahnya dishalatkan oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, kecuali Allah menerima permintaan mereka buat si mayit itu.&#8221;</p>
<p><strong>3. Melunasi Hutang si mayit:</strong><br />
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan seorang mayit yang masih memiliki utang, kemudian beliau bertanya, “Apakah orang ini memiliki uang untuk melunasi hutangnya?” Jika diberitahu bahwa dia bisa melunasinya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mensholatkannya. Namun jika tidak, maka beliau pun memerintahkan, “Kalian shalatkan aja orang ini.”<br />
Tatkala Allah memenangkan bagi beliau beberapa peperangan, beliau bersabda,<br />
أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ فَمَنْ تُوُفِّىَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَعَلَىَّ قَضَاؤُهُ وَمَنْ تَرَكَ مَالاً فَهُوَ لِوَرَثَتِهِ</p>
<p>“Aku lebih pantas bagi orang-orang beriman dari diri mereka sendiri. Barangsiapa yang mati, namun masih meninggalkan utang, maka aku lah yang akan melunasinya. Sedangkan barangsiapa yang mati dan meninggalkan harta, maka itu untuk ahli warisnya.”[ HR. Bukhari no. 2298 dan Muslim no. 1619]<br />
Hadits ini menunjukkan bahwa pelunasan hutang si mayit dapat bermanfaat bagi dirinya.<br />
Bersambung pada edisi berikutnya, insya Allah….</p>
<p><strong>[Sumber: Buletin Dakwah Al-Ittiba’, Yayasan Mutiara Hikmah Klaten, Edisi 27 Tahun III 1430 H / 2009 M]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/777/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=777&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/12/%d9%85%d8%a7-%d9%8a%d9%86%d8%aa%d9%81%d8%b9-%d8%a8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%8a%d8%aa-%d8%a8%d8%b9%d8%af-%d9%85%d9%88%d8%aa%d9%87-amalan-amalan-yang-bermanfaat-bagi-orang-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/masjid-ittiba-klaten.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">masjid ittiba&#039; klaten</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/11/kajian-rutin-masjid-al-ittiba-klaten.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kajian rutin masjid al-ittiba&#039; klaten</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>الأدلة الواضحة في وجوب زكاة الذهب والفضة / PANDUAN PRAKTIS ZAKAT EMAS DAN PERAK</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/27/%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%af%d9%84%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d9%88%d8%a7%d8%b6%d8%ad%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d9%88%d8%ac%d9%88%d8%a8-%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d8%b0%d9%87%d8%a8-%d9%88%d8%a7%d9%84%d9%81/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/27/%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%af%d9%84%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d9%88%d8%a7%d8%b6%d8%ad%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d9%88%d8%ac%d9%88%d8%a8-%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d8%b0%d9%87%d8%a8-%d9%88%d8%a7%d9%84%d9%81/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 02:29:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIQH]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH IBADAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH MU'AMALAH]]></category>
		<category><![CDATA[ZAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[BIMBINGAN]]></category>
		<category><![CDATA[cara]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[nishob]]></category>
		<category><![CDATA[panduan]]></category>
		<category><![CDATA[SEDEKAH]]></category>
		<category><![CDATA[SHODAQOH]]></category>
		<category><![CDATA[wajib]]></category>
		<category><![CDATA[ZAKAT MAL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=772</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho AbuFawwaz, Lc Pada edisi kali ini kami akan menjelaskan syarat wajib zakat emas dan perak serta tata cara menghitung dan mengeluarkannya. Seorang muslim yang mempunyai emas dan perak wajib mengeluarkan zakat bila keduanya telah mencapai nishob (batasan &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/27/%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%af%d9%84%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d9%88%d8%a7%d8%b6%d8%ad%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d9%88%d8%ac%d9%88%d8%a8-%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d8%b0%d9%87%d8%a8-%d9%88%d8%a7%d9%84%d9%81/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=772&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Oleh</em>: Muhammad Wasitho AbuFawwaz, Lc<br />
</strong><br />
<a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/10/emas600px1.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/10/emas600px1.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" title="emas600px1" width="300" height="200" class="alignleft size-medium wp-image-773" /></a>Pada edisi kali ini kami akan menjelaskan syarat wajib zakat emas dan perak serta tata cara menghitung dan mengeluarkannya.</p>
<p>Seorang muslim yang mempunyai emas dan perak wajib mengeluarkan zakat bila keduanya telah mencapai nishob (batasan minimal suatu harta dikenai kewajiban zakat berdasarkan ketentuan syariat)  dan haul (berputarnya harta selama satu tahun) serta pemiliknya telah memenuhi syarat-syarat wajibnya zakat sebagaimana yang telah kami sebutkan pada beberapa edisi yang lalu. Dan kewajiban mengeluarkan zakat emas dan perak ini berlaku untuk setiap tahun sekali. <span id="more-772"></span></p>
<p><strong>A.Landasan Disyariatkannya Zakat Emas dan Perak</strong><br />
Benda emas dan perak dengan berbagai macam bentuk dan sifatnya tanpa kecuali, jika telah mencapai nishob dan telah berputar satu tahun, maka wajib dikeluarkan zakatnya. Baik dalam bentuk sebagai mata uang dinar (emas) dan dirham (perak), potongan emas batangan yang belum diolah/dibentuk, sudah diolah/dibentuk menjadi perhiasan atau peralatan makan dan minum, seperti gelas dan piring, atau dalam bentuk yang lainnya. Kewajiban zakat emas dan perak ini berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ (konsensus) para ulama.<br />
Allah Ta’ala berfirman:<br />
وَالَّذِينَ يَكْنزونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ<br />
“Dan orang-orang yang menimbun emas dan peraknya serta tidak menginfaqkannya di jalan Allah, maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 34).<br />
Dan yang dimaksud dengan menimbun, dalam ayat ini, adalah tidak menunaikan zakatnya.</p>
<p>Di dalam hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam bersabda:<br />
مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّى مِنْهَا حَقَّهَا إِلاَّ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحَ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِىَ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيُرَى سَبِيلُهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ<br />
&#8220;Tidaklah pemilik emas dan pemilik perak yang tidak menunaikan haknya (emas dan perak) darinya (yaitu zakat), kecuali jika telah terjadi hari kiamat (emas dan perak, pent) dijadikan lempengan-lempengan di neraka, kemudian dipanaskan di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarlah dahinya, lambungnya dan punggungnya. Setiap kali lempengan itu dingin, dikembalikan (dipanaskan di dalam Jahannam) untuk (menyiksa)nya. (Itu dilakukan pada hari kiamat), yang satu hari ukurannya 50 ribu tahun, sehingga diputuskan (hukuman) di antara seluruh hamba. Kemudian dia akan melihat (atau: akan diperlihatkan) jalannya, kemungkinan menuju surga, dan kemungkinan menuju neraka&#8221;. (HR Muslim II/680 no. 987, dari Abu Hurairah). Dan haq atas kekayaan emas dan perak adalah zakat.</p>
<p><strong>B.Syarat Wajibnya Zakat Emas dan Perak</strong><br />
1.	Telah mencapai nishob.<br />
2.	Telah berputar selama1 haul (tahun).<br />
3.	Harus berupa emas murni atau perak murni (24K/99%), bukan campuran. Jika campuran, walaupun mencapai nishob, maka tidak ada kewajiban zakatnya, sebab berat aslinya kurang dari itu.</p>
<p>Dengan demikian, jika ada seorang muslim atau muslimah yang mempunyai perhiasan emas dan perak campuran (tidak murni atau kurang dari 24 karat), sedangkan ia ingin mengeluarkan kewajiban zakatnya, maka harus ditentukan terlebih dahulu kandungan murninya, lalu zakati 2,5%-nya dari nilai murni, jika sudah mencapai nishob. Akan tetapi jika kandungan murninya belum mencapai nishob, maka tidak ada kewajiban zakatnya.</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah pernah ditanya tentang cara mengeluarkan zakat perhiasan emas yang tercampur dengan benda-benda lain, maka beliau menjawab: “Yang wajib dizakati adalah emasnya jika untuk digunakan, sedangkan batu-batu mulia, seperti permata, berlian dan lain-lainnya, semua ini tidak ada kewajiban untuk mengeluarkan zakat. Jika perhiasan itu terdiri dari berbagai macam unsur seperti yang ditanyakan, maka si pemilik hendaknya mencari tahu akan nilai emas yang bercampur dengan unsur-unsur lainnya, dengan bantuan suaminya, walinya atau dengan memperlihatkan kepada orang yang ahli dalam hal itu, jika sulit untuk diketahui secara pasti maka cukup dengan memperkirakannya, jika emas yang terkandung dalam perhiasan tersebt telah mencapai nishab, maka wajib bagi pemiliknya untuk berzakat dari emas itu. Nishob emas adalah sembilan puluh dua gram, emas yang harus dizakatkan adalah dua setengah persennya yang harus dikeluarkan setiap tahunnya. Demikian pendapat yang benar di antara beberapa pendapat para ulama. Dan jika perhiasan itu diperdagangkan, maka perhiasan itu dihitung secara keseluruhan, termasuk emas, intan, permata, dan lain-lainnya sebagaimana barang-barang dagangan lainnya yang diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya menurut pendapat mayoritas ulama.” (Lihat Fatawa Al-Mar&#8217;ah II/42).</p>
<p><strong>C.Nishob dan Kadar Zakat Emas dan Perak</strong><br />
Nishob emas adalah 20 dinar/mitsqal atau seberat 85 gram emas murni (24 karat). Sedangkan nishob perak adalah 200 dirham atau seberat 595 gram perak murni. </p>
<p>Adapun rincian nishob emas dan perak berdasarkan ukuran modern hasil penelitian sebagian ulama seperti syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah dalam kitabnya Asy-Syarhul Mumti’ VI/103 adalah sebagai berikut:<br />
1 Dinar = 4,25 gr, 1 Dirham = 2,975 gr. </p>
<p>Dari data ini, maka nishob emas adalah: 4,25 gr x 20 = 85 gram. Dan nishob perak adalah: 2,975 gr x 200 = 595 gram.<br />
Adapun kadar atau persentase zakat yang wajib dikeluarkan dari keduanya adalah 2,5% (dua setengah persen). Ketentuan-ketentuan tersebut di atas telah dijelaskan di dalam hadits-hadits berikut ini:<br />
عَنْ عَلِىٍّ &#8211; رضى الله عنه &#8211; عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « فَإِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَىْءٌ &#8211; يَعْنِى فِى الذَّهَبِ &#8211; حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ »<br />
Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Jika engkau memiliki 200 dirham dan telah melewati 1 tahun (haul), maka zakatnya adalah 5 dirham dan engkau setelah itu tidak ada kewajiban apapun atas 200 dirham tersebut; Sampai engkau memiliki 20 dinar dan telah melewati masa 1 tahun, maka zakatnya adalah ½ dinar. Adapun kelebihan dirham atau dinar, maka patokannya adalah seperti tersebut di atas.” (HR. Abu Daud I/493 no.1573. dan hadits ini di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani). </p>
<p>Dan diriwayatkan dari Abu Sa&#8217;id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:<br />
وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ مِنَ الْوَرِقِ صَدَقَةٌ ،<br />
“Tidak ada kewajiban zakat pada wariq/perak yang kurang dari 5 uqiyah (1 uqiyah berjumlah 40 dirham)”. (HR. Bukhari II/529 no. 1390, dan Muslim II/675 no. 980)</p>
<p>Dan di dalam sebuah surat Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu yang ditulisnya kepada Anas bin malik Radhiyallahu ‘Anhu dinyatakan:<br />
وَفِى الرِّقَةِ رُبْعُ الْعُشْرِ<br />
“Dan pada perak, ada kewajiban zakat sebesar 2,5% (dua setengah persen).” (HR. Bukhari II/527 no. 1386).</p>
<p><strong>D.Cara Menghitung dan Mengeluarkan Zakat Emas dan Perak</strong><br />
Untuk membayar zakat emas dan perak ada dua cara.<br />
<strong>Cara pertama:</strong> Membeli emas atau perak sebesar zakat yang harus ia bayarkan, lalu memberikannya langsung kepada siapa saja yang berhak menerimanya.</p>
<p><strong>Cara kedua: </strong>Ia membayar zakat emas dan perak dengan uang yang berlaku di negerinya sejumlah harga zakat (emas atau perak) yang harus ia bayarkan pada saat itu. Sehingga yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah menanyakan harga beli emas atau perak per gram saat dikeluarkannya zakat. Jika ternyata telah mencapai nishob dan haul, maka dikeluarkan zakat sebesar 2,5% (1/40) dari berat emas atau perak yang dimiliki dan disetarakan dalam mata uang di negeri tersebut.</p>
<p>Sebagai contoh (ilustrasi); bila harga emas murni Rp.550.000,-/gram, dan perak murni 8.000,-/gram. Maka cara mengetahui nishob dan kadar zakatnya dalam bentuk emas atau uang (nilainya) adalah sebagai berikut:</p>
<p>Nishob emas = 85 gram x Rp.550.000,-/gram = Rp.46.750.000,-<br />
Nishob perak = 595 gram x Rp.8.000,-/gram = Rp.4.760.000,-</p>
<p><strong>Contoh 1:</strong> Harta yang dimiliki adalah 100 gram emas murni (24 karat) dan telah berputar selama setahun. Berarti dikenai wajib zakat karena telah melebihi nishob.<br />
Zakat yang dikeluarkan (dengan emas) = 1/40 x 100 gram emas = 2,5 gram emas<br />
Zakat yang dikeluarkan (dengan uang) = 2,5 gram emas x Rp.550.000,-/gram = Rp.1.375.000,-</p>
<p><strong>Contoh 2:</strong> Harta yang dimiliki adalah 700 gram perak murni dan telah berputar selama setahun. Berarti dikenai wajib zakat karena telah melebihi nishob.<br />
Zakat yang dikeluarkan (dengan perak) = 1/40 x 700 gram perak = 17,5 gram perak<br />
Zakat yang dikeluarkan (dengan uang) = 17,5 gram perak x Rp.8.000,-/gram perak = Rp.140.000,-</p>
<p><strong>E. Apakah Perhiasan Wanita Wajib Dikeluarkan Zakatnya?</strong><br />
Perhiasan yang biasa digunakan oleh para wanita itu beraneka ragam bentuk dan sifatnya. Jika perhiasan tersebut terbuat dari permata, zamrud dan mutiara, selain emas dan perak, maka tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama’ bahwa itu semua tidak wajib dikeluarkan zakatnya, kecuali kalau digunakan sebagai barang perdagangan, maka wajib dizakati zakat perdagangan. (Lihat Al-Umm oleh Imam Syafi’i II/36, Jami’ ahkamin Nisa’ Syaikh Mushthofa Al-Adawi II/143-165, Shohih Fiqhis Sunnah oleh Syaikh Abu Malik II/26).</p>
<p>Sedangkan perhiasan wanita yang terbuat dari emas dan perak, apakah wajib dikeluarkan zakatnya ataukah tidak?<br />
Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama menjadi beberapa pendapat. </p>
<p><strong>Pendapat pertama;</strong> Tidak wajib dikeluarkan zakatnya. ini adalah madzhab mayoritas ulama’, serta merupakan madzhab dari Ibnu Umar, Jabir bin Abdillah, Aisyah dan Asma’ binti Abu Bakr. </p>
<p><strong>Pendapat kedua;</strong> Wajib dikeluarkan zakatnya.</p>
<p><strong>Pendapat ketiga;</strong> Wajib dizakati sekali saja untuk selamanya.</p>
<p>Dari ketiga pendapat ini yang nampak rajih (kuat dan benar) adalah pendapat kedua yang mengatakan bahwa perhiasan emas dan perak wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini:<br />
1. Keumuman firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang telah kami sebutkan pada landasan disyariatkannya zakat emas dan perak di atas.<br />
2. Hadits-hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang menunjukkan secara persis wajibnya zakat pada perhiasan emas dan perak. Diantaranya adalah sebagai berikut:<br />
• Hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya yang bernama ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash Radhiyallahu ‘Anhu:<br />
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَمَعَهَا ابْنَةٌ لَهَا وَفِى يَدِ ابْنَتِهَا مَسَكَتَانِ غَلِيظَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَهَا « أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا ». قَالَتْ لاَ. قَالَ « أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللَّهُ بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ ». قَالَ فَخَلَعَتْهُمَا فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَقَالَتْ هُمَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِرَسُولِهِ.<br />
Bahwasanya ada seorang wanita mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersama putrinya yang mengenakan dua gelang emas yang tebal di tangannya, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bertanya kepadanya: “Apakah engkau telah membayarkan zakatnya?” Wanita itu menjawab: “Belum.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata: “Apakah menggembirakan dirimu bahwa dengan sebab dua gelang emas itu Allah akan memakaikan atasmu dua gelang api dari neraka pada hari kiamat nanti?” Maka wanita itu pun melepaskan kedua gelang itu dan memberikannya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam seraya berkata: “Keduanya untuk Allah Azza Wajalla dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Dawud I/488 no.1563, dan An-Nasa’I V/38 no.2479. Hadits ini dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil III/296).</p>
<p> • Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata:<br />
دَخَلَ عَلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرَأَى فِى يَدِى فَتَخَاتٍ مِنْ وَرِقٍ فَقَالَ « مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ ». فَقُلْتُ صَنَعْتُهُنَّ أَتَزَيَّنُ لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « أَتُؤَدِّينَ زَكَاتَهُنَّ ». قُلْتُ لاَ أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ. قَالَ « هُوَ حَسْبُكِ مِنَ النَّارِ ».<br />
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam masuk menemuiku dan melihat beberapa cincin perak tak bermata di tanganku, maka beliau berkata: “Apa ini, wahai ‘Aisyah?”. Aku pun menjawab: “Wahai Rasul Allah, aku membuatnya dalam rangka berhias untukmu”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata: “Apakah engkau telah membayarkan zakatnya?”. Aku berkata: “Belum”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Cukuplah dia yang akan menjerumuskanmu ke dalam neraka.” (HR. Abu Dawud I/488 no.1565, Ad-Daruquthni II/105 no.1, dan Al-Baihaqi IV/139 no.7339, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil III/296-297).</p>
<p> • Dan hadits-hadits lain yang semisalnya.</p>
<p>Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: “Tidak mengapa memakai perhiasan apabila dikeluakan zakatnya.” (HR. Daruquthni II/107, Baihaqi IV/139 dengan sanad hasan)</p>
<p>Wajibnya mengeluarkan zakat emas dan perak yang digunakan sebagai perhiasan adalah madzhab Ibnu Hazm, Abu Hanifah, Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri, salah satu riwayat dari Ahmad, dan salah satu pendapat dalam madzhab Asy-Syafi’i. Dan ini juga pendapat yang dipilih oleh Syaikh Al-Albani, Syaikh Abdul Aziz bin Baz bersama Al-Lajnah Ad-Da’imah, SyaikhAl-’Utsaimin dan Syaikh Muqbil Al-Wadi’i Rahimahumullah. </p>
<p>Perlu ditegaskan pula di sini, bahwa perhiasan di zaman sekarang ini telah menjadi salah satu bentuk simpanan, maka wajib zakat karena kondisi ini. Sebab, maksud utama zakat itu karena adanya pemanfaatan harta seperti perhiasan dan keindahan. Sebagaimana jika melampaui batas kewajaran, maka akan masuk ke sikap berlebihan yang hukumnya haram. Batas berlebihan sangat relatif sesuai dengan kondisi seseorang dan masyarakat di sekitarnya.</p>
<p>Demikian penjelasan singkat tentang syarat wajib zakat emas dan perak serta tata cara mengeluarkannya. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi penulis dan pembacanya, amiin. Wallahu Ta’ala A’lam Bish-Showab.</p>
<p><strong>[Sumber: majalah PENGUSAHA MUSLIM Edisi... Volume @ Tahaun 1432 / 2011]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/772/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=772&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/27/%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%af%d9%84%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d9%88%d8%a7%d8%b6%d8%ad%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d9%88%d8%ac%d9%88%d8%a8-%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d8%b0%d9%87%d8%a8-%d9%88%d8%a7%d9%84%d9%81/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/10/emas600px1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">emas600px1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>شروط وجوب الزكاة / SYARAT-SYARAT WAJIBNYA ZAKAT</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/25/%d8%b4%d8%b1%d9%88%d8%b7-%d9%88%d8%ac%d9%88%d8%a8-%d8%a7%d9%84%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-syarat-syarat-wajibnya-zakat/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/25/%d8%b4%d8%b1%d9%88%d8%b7-%d9%88%d8%ac%d9%88%d8%a8-%d8%a7%d9%84%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-syarat-syarat-wajibnya-zakat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 03:04:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIQH]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH IBADAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH MU'AMALAH]]></category>
		<category><![CDATA[ZAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[nishob]]></category>
		<category><![CDATA[SEDEKAH]]></category>
		<category><![CDATA[SHODAQOH]]></category>
		<category><![CDATA[syarat]]></category>
		<category><![CDATA[wajib]]></category>
		<category><![CDATA[ZAKAT FITRAH]]></category>
		<category><![CDATA[ZAKAT MAL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=769</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawwaz, Lc Pada edisi yang lalu, kita telah menjelaskan betapa besarnya ancaman Allah terhadap orang-orang yang enggan membayar kewajiban zakat. Maka pada edisi kali ini kita akan menyebutkan syarat-syarat wajibnya Zakat berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/25/%d8%b4%d8%b1%d9%88%d8%b7-%d9%88%d8%ac%d9%88%d8%a8-%d8%a7%d9%84%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-syarat-syarat-wajibnya-zakat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=769&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawwaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/10/zakat-mal1.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/10/zakat-mal1.jpg?w=500" alt="" title="ZAKAT MAL"   class="alignleft size-full wp-image-770" /></a>Pada edisi yang lalu, kita telah menjelaskan betapa besarnya ancaman Allah terhadap orang-orang yang enggan membayar kewajiban zakat. Maka pada edisi kali ini kita akan menyebutkan syarat-syarat wajibnya Zakat berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.</p>
<p><strong>Syarat-Syarat Wajibnya Zakat:</strong><br />
Zakat maal (harta benda) tidak wajib dikeluarkan kecuali jika telah terpenuhi syarat-syaratnya. Dan syarat-syarat wajibnya zakat itu terbagi menjadi dua bagian. Ada yang berkenaan dengan orang yang wajib mengeluarkan zakat, dan ada yang berkenaan dengan harta benda itu sendiri. <span id="more-769"></span></p>
<p><strong>A. Syarat-syarat yang berkenaan dengan orang yang wajib mengeluarkan zakat:</strong><br />
<strong>(1) Islam.</strong><br />
Maksudnya, bahwa mengeluarkan zakat itu hanya wajib atas setiap muslim, dan tidak wajib atas orang kafir (baik dia kafir dari asalnya seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, Hindu, Budha dan semisalnya maupun kafir karena murtad), karena zakat adalah salah satu rukun Islam. Hal ini berdasarkan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Mua’dz bin Jabal saat mengutusnya ke negeri Yaman:<br />
&#8230; فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِى أَمْوَالِهِمْ ، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ&#8230;<br />
“… beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya dan dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (HR.Bukhari II/505 no.1331, dan Muslim I/50 no. 19, dari Ibnu Abbas). Artinya zakat adalah kewajiban yang tidak diwajibkan kepada seseorang sebelum masuk Islam.</p>
<p>Demikian pula zakat berfungsi sebagai pensuci jiwa dan harta seorang muslim. Ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:<br />
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُم<br />
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)<br />
Sedangkan orang kafir itu najis. Dan sekiranya ia (orang kafir) berinfak emas sebesar bumi, niscaya infaknya itu tidak diterima Allah sehingga ia bertaubat dari kekufurannya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:<br />
وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللّهِ وَبِرَسُولِهِ<br />
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan Karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya.” (QS. At-Taubah: 54)</p>
<p><strong>(2) Merdeka.</strong><br />
Maksudnya, zakat tidak wajib bagi hamba sahaya karena ia tidak memiliki harta benda. Sebab harta apapun yang ada di tangan hamba sahaya, maka sesungguhnya harta itu milik tuannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:<br />
مَنِ ابْتَاعَ عَبْدًا وَلَهُ مَالٌ فَمَالُهُ لِلَّذِى بَاعَهُ إِلاَّ أَنْ يَشْتَرِطَ الْمُبْتَاعُ<br />
“Barangsiapa membeli seorang budak dan ia memiliki harta, maka hartanya itu diperuntukkan bagi orang yang menjualnya, kecuali jika seorang pembeli telah mensyaratkannya (yakni si pembeli mensyaratkan di dalam transaksi jual beli bahwa budak dan apa saja yang ada di tangannya menjadi milik pembeli, pent).” (HR. Bukhari II/838 no.2250, dan Muslim III/1172 no.1543).</p>
<p><strong>Masalah</strong>: Apakah anak kecil dan orang gila yang kaya dan memenuhi syarat-syaratnya diwajibkan mengeluarkan zakat?</p>
<p>Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Namun pendapat yang nampak kuat adalah adalah yang menyatakan bahwa anak kecil yang belum baligh dan orang gila diwajibkan mengeluarkan zakat jika telah terpenuhi syarat-syaratnya. Karena Allah dan Rasul-Nya memerintahkan secara umum kepada orang kaya muslim agar mengeluarkan zakat tanpa mengecualikan anak-anak kecil dan orang gila. Allah Ta’ala berfirman:<br />
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا<br />
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)<br />
Karena zakat berkaitan dengan harta, bukan dengan personalnya. Dan demikianlah pendapat mayoritas ulama sebagaimana yang dipegangi oleh madzhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali. (Lihat Al-Fiqhu Al-Islami Wa Adillatuhu, karya Wahbah Az-Zuhaili II/739-740).</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:<br />
أَلاَ مَنْ وَلِىَ يَتِيمًا لَهُ مَالٌ فَلْيَتَّجِرْ فِيهِ وَلاَ يَتْرُكْهُ حَتَّى تَأْكُلَهُ الصَّدَقَةُ<br />
“Barangsiapa menjadi wali anak yatim yang memiliki harta, maka Dagangkanlah (kembangkanlah) harta anak yatim itu, dan janganlah membiarkan hartanya (berkurang, pent) karena dikeluarkan zakatnyat.” (HR. At-Tirmidzi III/32 no.641, dan Al-Baihaqi VI/2 no.10764).</p>
<p><strong>B.  Syarat-syarat yang berkenaan dengan harta benda yang wajib dikeluarkan zakatnya. </strong><br />
<strong>(1) Kepemilikan harta tersebut secara penuh</strong>.<br />
Maksudnya, penguasaan seseorang terhadap harta kekayaan tersebut secara sempurna, sehingga bisa menggunakannya secara khusus. Atau harta benda itu milik individu dan tidak berkaitan dengan hak orang lain. Karena Allah Ta’ala mewajibkan zakat ketika harta itu sudah dinisbatkan kepada pemiliknya. sebagaimana firman Allah Ta’ala:<br />
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا<br />
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (At-Taubah: 103)<br />
Karena itulah zakat tidak diambil dari harta yang tidak ada pemiliknya secara definitif. Seperti al-fa’i (harta yang diperoleh dari orang kafir tanpa perang), ghanimah (harta rampasan perang), aset negara, kepemilikan umum, dan wakaf khairi. </p>
<p>Demikian pula tidak wajib zakat pada harta haram, yaitu harta yang diperoleh seseorang dengan cara haram, seperti ghasab (ambil alih semena-mena atau tanpa hak), mencuri, pemalsuan, suap, riba, ihtikar (menimbun untuk memainkan harga), menipu dan lain sebagainya. Cara-cara ini tidak membuat seseorang menjadi pemilik harta. Ia wajib mengembalikan kepada pemiliknya yang sah. Jika tidak ditemukan pemiliknya, maka ia wajib menyalurkan semua hartanya untuk kepentingan kaum muslimin secara umum, tanpa ada niat bersedekah atau mengharap pahala darinya. Karena Allah adalah Dzat yang Maha baik, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:<br />
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا<br />
“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja (dari amalan para hamba-Nya, pent).” (HR. Muslim II/703 no.1015)<br />
Sedangkan piutang, yang masih ada harapan kembali, maka pemilik harta harus mengeluarkan zakatnya setiap tahun. Namun jika tidak ada harapan kembali, karena orang yang berhutang mengalami kesulitan dalam pelunasan hutangnya atau karena sebab lainnya, maka pemilik piutang hanya berkewajiban zakat pada saat hutang itu dikembalikan dan hanya zakat untuk satu tahun saja meskipun telah lewat beberapa tahun. (Lihat Dalil Al-Irsyaadaat Li Hisab Zakati Asy-Syarikaat, hal.24). </p>
<p> <strong>(2) Termasuk harta yang berkembang.</strong><br />
Maksudnya, harta yang wajib dikeluarkan zakatnya harus berupa harta yang berkembang aktif, atau siap berkembang, yaitu harta yang lazimnya memberi keuntungan dan manfaat kepada pemiliknya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda:<br />
لَيْسَ عَلَى الْمُسْلِمِ صَدَقَةٌ فِى عَبْدِهِ وَلاَ فَرَسِهِ<br />
“Seorang muslim tidak wajib mengeluarkan zakat pada budak dan kudanya.” (HR. Bukhari II/532 no.1395, dan Muslim II/675 no.982).</p>
<p>Berdasarkan hadits ini, beberapa ulama berpendapat bahwa rumah tempat tinggal dan perabotannya serta kendaraan tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Karena harta itu disiapkan untuk kepentingan konsumsi pribadi, bukan untuk dikembangkan. Dari ini pula rumah, pertokoaan, mobil yang disewakan dikenakan zakat karena dikategorikan sebagai harta berkembang, jika telah memenuhi syarta-syarat lainnya.</p>
<p><strong>(3) Telah mencapai nishob.</strong><br />
Nishob ialah batas minimal suatu harta dikenai kewajiban zakat berdasarkan ketentuan syariat. Jika kurang dari batas minimal tersebut, maka tidak wajib zakat. Sebagai contoh, nishob onta adalah 5 (lima) ekor onta, nishob kambing adalah 40 (empat puluh) ekor kambing. Nishob emas adalah 20 (dua puluh) mitsqal atau kurang lebih seberat 85 (delapan puluh lima) gram emas murni. Nishob perak adalah 200 (dua ratus) Dirham atau setara dengan 595 (lima ratus sembilan puluh lima) gram perak murni. Nishob zakat perdagangan adalah senilai 85 (delapan puluh lima) gram emas murni. (Lihat Dalil Al-Irsyaadaat Li Hisab Zakati Asy-Syarikaat, hal.24-25).</p>
<p>Maka, jika seseorang memiliki onta kurang dari lima ekor onta, atau memiliki emas atau barang dagangan yang nilainya kurang dari 85 gram emas murni atau kurang dari 200 dirham perak murni, maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:<br />
لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ مِنَ التَّمْرِ صَدَقَةٌ ، وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ مِنَ الْوَرِقِ صَدَقَةٌ ، وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ ذَوْدٍ مِنَ الإِبِلِ صَدَقَةٌ<br />
“Tidak ada kewajiban zakat pada kurma (atau hasil pertanian, pent) yang kurang dari 5 wasaq (setara dengan 900 kg, pent). Tidak ada kewajiban zakat pada wariq/perak yang kurang dari 5 uqiyah (1 uqiyah berjumlah 40 dirham). Dan tidak ada kewajiban zakat pada onta yang kurang dari 5 ekor.” (HR. Bukhari II/529 no. 1390, dan Muslim II/675 no. 980)</p>
<p>Syarat mencapai nishob adalah syarat yang disepakati oleh mayoritas ulama. Hikmahnya adalah orang yang memiliki harta kurang dari nishob tidak termasuk orang kaya, sedangkan zakat hanya diwajibkan atas orang kaya untuk menyenangkan orang fakir dan miskin. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:<br />
&#8230; فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِى أَمْوَالِهِمْ ، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ&#8230;<br />
“… beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya dan dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (HR.Bukhari II/505 no.1331, dan Muslim I/50 no. 19, dari Ibnu Abbas). </p>
<p><strong>(4) Telah mencapai haul (masa satu tahun).</strong><br />
Maksudnya, harta yang dikenai zakat telah melewati masa satu tahun atau 12 bulan Hijriyah. Ini terhitung sejak harta itu mencapai nishob pada pemiliknyanya. Syarat ini berlaku bagi zakat pada mata uang, perdagangan dan hewan ternak. Sedangkan untuk zakat hasil pertanian tidak ada syarat melewati masa satu tahun, karena zakat dari hasil pertanian dikeluarkan pada setiap kali panen jika telah mencapai nishobnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:<br />
وَآتُواْ حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ<br />
“Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin).” (QS. Al-An’am: 141)</p>
<p><strong>(5) Nishob itu sudah lebih dari kebutuhan pokok pemiliknya.</strong><br />
Yang dimaksud kebutuhan pokok ialah kebutuhan yang jika tidak terpenuhi ia akan mengalami kesulitan, kebinasaan atau bahkan kematian. Seperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal, alat kerja, alat perang, dan bayar hutang. Jika ia memiliki harta dan dibutuhkan untuk keperluan ini, maka ia tidak wajib zakat. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:<br />
وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ<br />
“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.” (QS. Al-Baqarah: 219). </p>
<p>Yang dimaksud Al-afwu dalam ayat di atas adalah yang lebih dari kebutuhan keluarga, seperti yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dan kebanyakan ulama tafsir. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada ayat tersebut). Kebutuhan dasar itu mencakup kebutuhan pribadi dan yang menjadi tanggung jawabnya seperti isteri, anak, orang tua, kerabat yang dibiayai. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:<br />
خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى<br />
“Sebaik-baik sedekah (zakat) ialah yang dikeluarkan dari apa yang telah melebihi kebutuhan pokok.” (HR. Bukhari II/518 no. 1360, dan Muslim II/717 no.1034) </p>
<p><strong>Masalah</strong>: Apakah hutang menghalangi seseorang dari kewajibannya mengeluarkan zakat?</p>
<p>Dalam hal ini para ulama telah sepakat bahwa apabila hutangnya tidak mengurangi nishob, maka ia berkewajiban mengeluarkan zakat pada semua harta kekayaannya yang telah mencapai nishob, baik emas, perak, perdagangan, hewan ternak maupun hasil pertanian.</p>
<p>Adapun jika hutangnya menggugurkan atau mengurangi nishob, maka telah terjadi silang pendapat diantara mereka. Namun pendapat yang nampak rajih (kuat) menurut kami adalah pendapat yang menyatakan bahwa hutang tidak menghalangi seseorang dari kewajibannya mengeluarkan zakat. Ini adalah pendapat imam Syafi’i (pendapat terakhir beliau), sebagian ulama pengikut madzhab Syafi’i, imam Ahmad (dalam satu pendapat beliau), madzhab zhahiri, dan merupakan pendapat yang dipegangi oleh syaikh Abdul Aziz bin Baz dan syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Di antara alasan-alasan mereka adalah sebagai berikut:<br />
(1)	Keumuman dalil-dalil yang mewajibkan zakat pada harta, diantaranya firman Allah Ta’la:<br />
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا<br />
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)<br />
(2)	Tidak ada satu dalil pun dari Al-Qur’an, As-Sunnah maupun Ijma’ para ulama yang menggugurkan kewajiban zakat pada harta yang diperoleh dari hutang.<br />
(3)	 Tidak ada satu riwayat pun yang menunjukkan bahwa para amil zakat di zaman Nabi yang bertugas memungut zakat bertanya kepada pemilik harta yang telah mencapai nishob, apakah ia mempunyai hutang atau tidak. Demikian pula Nabi tidak pernah memerintahkan mereka agar menanyakan hal itu, padahal kebanyakan para petani di zaman itu terbiasa berhutang (pinjam modal) dalam tempo satu atau dua tahun.<br />
(4)	Bahwa zakat merupakan kewajiban pada harta, sebagaimana dalam wasiat Nabi kepada Muadz bin Jabal ketika beliau mengutusnya ke negeri yaman sebagai duta dakwah. Sedangkan hutang adalah kewajiban yang berkaitan dengan dzimmah (tanggungan). Oleh karenanya, jika sekiranya semua harta yang ada di tangan seseorang yang berhutang rusak, tetap saja hutangnya itu tidak gugur sedikit pun dari tanggungannya.</p>
<p>Demikian penjelasan singkat tentang syarat-syarat wajibnya zakat. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi penulis dan pembacanya.  Wallahu Ta’ala A’lam Bish-Showab.</p>
<p><strong>[Sumber: Majalah PENGUSAHA MUSLIM Edisi... Volume 2 Tahun 1432 / 2011]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/769/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=769&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/25/%d8%b4%d8%b1%d9%88%d8%b7-%d9%88%d8%ac%d9%88%d8%a8-%d8%a7%d9%84%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-syarat-syarat-wajibnya-zakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/10/zakat-mal1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ZAKAT MAL</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>عقوبة تارك الزكاة / ANCAMAN MENINGGALKAN KEWAJIBAN ZAKAT</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/20/%d8%b9%d9%82%d9%88%d8%a8%d8%a9-%d8%aa%d8%a7%d8%b1%d9%83-%d8%a7%d9%84%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-ancaman-meninggalkan-kewajiban-zakat/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/20/%d8%b9%d9%82%d9%88%d8%a8%d8%a9-%d8%aa%d8%a7%d8%b1%d9%83-%d8%a7%d9%84%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-ancaman-meninggalkan-kewajiban-zakat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 04:59:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIQH]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH IBADAH]]></category>
		<category><![CDATA[ZAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[ancaman]]></category>
		<category><![CDATA[azab]]></category>
		<category><![CDATA[bayar]]></category>
		<category><![CDATA[hukuman]]></category>
		<category><![CDATA[ingkar]]></category>
		<category><![CDATA[Menolak]]></category>
		<category><![CDATA[SEDEKAH]]></category>
		<category><![CDATA[SHODAQOH]]></category>
		<category><![CDATA[siksa]]></category>
		<category><![CDATA[siksaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=765</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Pada edisi yang lalu, kita telah mengetahui betapa agungnya keutamaan dan faedah zakat dan sedekah, dan betapa besarnya balasan dan manfaat di dunia maupun akhirat yang Allah berikan kepada orang-orang yang menunaikan kewajiban zakat &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/20/%d8%b9%d9%82%d9%88%d8%a8%d8%a9-%d8%aa%d8%a7%d8%b1%d9%83-%d8%a7%d9%84%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-ancaman-meninggalkan-kewajiban-zakat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=765&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Oleh</em>: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/10/neraka.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/10/neraka.jpg?w=300&#038;h=187" alt="" title="NERAKA" width="300" height="187" class="alignleft size-medium wp-image-766" /></a>Pada edisi yang lalu, kita telah mengetahui betapa agungnya keutamaan dan faedah zakat dan sedekah, dan betapa besarnya balasan dan manfaat di dunia maupun akhirat yang Allah berikan kepada orang-orang yang menunaikan kewajiban zakat dan mengeluarkan sedekah dari sebagian harta yang mereka miliki. Maka pada edisi kali ini kita akan menyebutkan hukum Zakat dan ancaman dari Allah bagi orang-orang yang enggan membayar kewajibannya, <span id="more-765"></span> berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.</p>
<p><strong>A.	HUKUM MEMBAYAR ZAKAT:</strong><br />
Zakat merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah (seperti shalat, haji, dan puasa) yang telah diatur secara rinci berdasarkan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah, sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia.</p>
<p>Diantara dalil syar’i yang menunjukkan wajibnya membayar zakat adalah firman Allah Ta’ala:<br />
وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ<br />
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku&#8217;lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)</p>
<p>Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:<br />
بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ<br />
“Agama Islam itu dibangun di atas lima rukun (yaitu): “Persaksian bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari, dan Muslim)</p>
<p><strong>B.	ANCAMAN BAGI ORANG YANG MENINGGALKAN KEWAJIBAN ZAKAT:</strong><br />
Di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, Allah telah memberikan ancaman yang sangat keras terhadap orang yang meninggalkan kewajiban zakat dengan beraneka ragam siksaan, di antaranya:</p>
<p>1.Pada hari Kiamat Allah akan mengalungkan harta yang tidak dikeluarkan zakatnya di leher pemiliknya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:<br />
وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ<br />
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil (kikir) dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180). </p>
<p>Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang dalam tafsir ayat ini: Yakni, janganlah sekali-kali orang yang bakhil menyangka, bahwa dia mengumpulkan harta itu akan bermanfaat baginya. Bahkan hal itu akan membahayakannya dalam (urusan) agamanya, dan kemungkinan juga dalam (urusan) dunianya. Kemudian Allah memberitakan tentang tempat kembali hartanya pada hari kiamat, Dia berfirman,“Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di leher mereka, kelak pada hari kiamat.” [Tafsir Ibnu Katsir, surat Ali Imran ayat 180]</p>
<p>2. Harta yang tidak dikeluarkan Zakatnya akan dirubah oleh Allah menjadi seekor ular jantan yang beracun lalu menggigit atau memakan pemiliknya.<br />
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:<br />
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ &#8211; رضى الله عنه &#8211; قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً ، فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ ، لَهُ زَبِيبَتَانِ ، يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ &#8211; يَعْنِى شِدْقَيْهِ &#8211; ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ ، أَنَا كَنْزُكَ » ثُمَّ تَلاَ ( لاَ يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ ) الآيَةَ<br />
&#8220;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;Anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa diberi harta oleh Allah, lalu dia tidak menunaikan (kewajiban) zakatnya, pada hari kiamat hartanya dijadikan untuknya menjadi seekor ular jantan aqra’ (yang kulit kepalanya rontok karena dikepalanya terkumpul banyak racun), yang berbusa dua sudut mulutnya. Ular itu dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat. Ular itu memegang (atau menggigit tangan pemilik harta yang tidak berzakat tersebut) dengan kedua sudut mulutnya, lalu ular itu berkata,’Saya adalah hartamu, saya adalah simpananmu’. Kemudian beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membaca (firman Allah ta’ala,QS. Ali Imran: 180): ’Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil menyangka…dst’.” (HR Bukhari II/508 no. 1338)</p>
<p>Di dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam bersabda:<br />
وَلاَ صَاحِبِ كَنْزٍ لاَ يَفْعَلُ فِيهِ حَقَّهُ إِلاَّ جَاءَ كَنْزُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ يَتْبَعُهُ فَاتِحًا فَاهُ فَإِذَا أَتَاهُ فَرَّ مِنْهُ فَيُنَادِيهِ خُذْ كَنْزَكَ الَّذِى خَبَأْتَهُ فَأَنَا عَنْهُ غَنِىٌّ فَإِذَا رَأَى أَنْ لاَ بُدَّ مِنْهُ سَلَكَ يَدَهُ فِى فِيهِ فَيَقْضَمُهَا قَضْمَ الْفَحْلِ<br />
“Tidaklah pemilik harta simpanan yang tidak melakukan haknya padanya (maksudnya tidak mengeluarkan zakatnya, pent), kecuali harta simpanannya akan datang pada hari kiamat sebagai seekor ular jantan aqra’ yang akan mengikutinya dengan membuka mulutnya. Jika ular itu mendatanginya, pemilik harta simpanan itu lari darinya. Lalu ular itu memanggilnya,“Ambillah harta simpananmu yang telah engkau sembunyikan! Aku tidak membutuhkannya.” Maka ketika pemilik harta itu melihat, bahwa dia tidak dapat menghindar darinya, dia memasukkan tangannya ke dalam mulut ular tersebut. Maka ular itu memakannya sebagaimana binatang jantan memakan makanannya.” (HR Muslim II/684 no. 988)</p>
<p>3. Tubuh orang yang tidak mengeluarkan zakat akan dibakar (dipanggang) di dalam neraka Jahannam dengan hartanya sendiri yang telah dipanaskan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:<br />
وَالَّذِينَ يَكْنزونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنزتُمْ لأنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنزونَ<br />
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarnya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: &#8220;Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan.” (QS. At-Taubah: 34-35)</p>
<p>Di dalam hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam bersabda:<br />
مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّى مِنْهَا حَقَّهَا إِلاَّ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحَ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِىَ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيُرَى سَبِيلُهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ<br />
&#8220;Tidaklah pemilik emas dan pemilik perak yang tidak menunaikan haknya (perak) darinya (yaitu zakat), kecuali jika telah terjadi hari kiamat (perak) dijadikan lempengan-lempengan di neraka, kemudian dipanaskan di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarlah dahinya, lambungnya dan punggungnya. Tiap-tiap lempengan itu dingin, dikembalikan (dipanaskan di dalam Jahannam) untuk (menyiksa)nya. (Itu dilakukan pada hari kiamat), yang satu hari ukurannya 50 ribu tahun, sehingga diputuskan (hukuman) di antara seluruh hamba. Kemudian dia akan melihat (atau: akan diperlihatkan) jalannya, kemungkinan menuju surga, dan kemungkinan menuju neraka&#8221;. (HR Muslim II/680 no. 987, dari Abu Hurairah).</p>
<p>Demikianlah beberapa siksaan pedih di akhirat yang akan dirasakan oleh orang-orang yang enggan membayar zakat. Sedangkan hukuman bagi mereka di dunia adalah sebagai berikut:</p>
<p>4. Pemerintah muslim berhak mengambil secara paksa zakat dan juga separuh harta milik orang yang enggan membayar kewajibannya tersebut sebagai hukuman atas perbuatan maksiatnya itu.<br />
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam:<br />
فِي كُلِّ إِبِلٍ سَائِمَةٍ . فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ ابْنَةُ لَبُونٍ . لاَ تُفَرَّقُ إِبِلٌ عَنْ حِسَابِهَا . مَنْ أَعْطَاهَا مُؤْتَجِرًا فَلَهُ أَجْرُهَا ، وَمَنْ مَنَعَهَا فَإِنَّا آخِذُوهَا مِنْهُ وَشَطْرَ إِبِلِهِ عَزْمَةً مِنْ عَزَمَاتِ رَبِّنَا لاَ يَحِلُّ لآلِ مُحَمَّدٍ مِنْهَا شَيْءٌ<br />
&#8220;Pada onta yang digembalakan dari setiap 40 ekor, (zakatnya yang wajib dikeluarkan berupa) bintu labun (yakni Onta yang telah genap berumur dua tahun dan masuk tahun ke tiga, pent). Tidak boleh onta dipisahkan dari hitungannya. Barangsiapa mengeluarkan zakat untuk mencari pahala, maka dia mendapatkan pahalanya. Dan barangsiapa yang enggan membayarnya, maka sesungguhnya kami akan mengambil (zakat)nya dan separuh hartanya, sebagai kewajiban dari kewajiban-kewajiban Rabb kami. Dan tidak halal bagi keluarga Muhammad sesuatu pun dari zakat itu&#8221;. (HR An-Nasai V/25 no. 2448, Ahmad V/2 no. 20030; di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 4265).</p>
<p>5. Dihukumi sebagai orang kafir (murtad) jika ia enggan membayar Zakar karena mengingkari kewajibannya.<br />
Hal ini dikarenakan ia telah mendustakan Allah dan rasul-Nya. Dan berlaku padanya hukum orang murtad, seperti halal darahnya, batal akad pernikahannya, tidak berhak mendapat jatah warisan dan tidak pula mewariskan. Jika ia meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat maka jenazahnya tidak dimandikan, tidak disholatkan, dan tidak boleh dikubur di pekuburan kaum muslimin.</p>
<p>Jika yang mengingkari kewajiban zakat berupa jamaah (dalam jumlah yang cukup banyak), maka pemerintah muslim berhak memerangi mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah Abu bakar Ash-Shiddiq dan para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum. (Lihat hadits riwayat Bukhari di dalam shahihnya II/507 no. 1335).</p>
<p>Adapun jika ia enggan membayar zakat karena bakhil (kikir) namun masih meyakini kewajibannya, maka ia dihukumi sebagai orang muslim yang fasiq karena telah berbuat dosa besar, dan bukan orang kafir.</p>
<p>Demikian beberapa Ancaman keras di dunia dan akhirat bagi orang muslim yang enggan membayar kewajiban Zakat. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat, dan dapat menyadarkan kita semua akan penting dan wajibnya Zakat, serta memotivasi kita untuk bersemangat dalam melaksanakannya. Wabillahi at-Taufiq. </p>
<p><strong>[Sumber: Majalah PENGUSAHA MUSLIM Edisi.. Volume 2 Tahun 1432 / 2011].</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/765/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=765&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/20/%d8%b9%d9%82%d9%88%d8%a8%d8%a9-%d8%aa%d8%a7%d8%b1%d9%83-%d8%a7%d9%84%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-ancaman-meninggalkan-kewajiban-zakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/10/neraka.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">NERAKA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>من فضائل الزكاة وفوائدها / KEUTAMAAN DAN FAEDAH ZAKAT</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/20/%d9%85%d9%86-%d9%81%d8%b6%d8%a7%d8%a6%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-%d9%88%d9%81%d9%88%d8%a7%d8%a6%d8%af%d9%87%d8%a7-keutamaan-dan-faedah-zakat/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/20/%d9%85%d9%86-%d9%81%d8%b6%d8%a7%d8%a6%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-%d9%88%d9%81%d9%88%d8%a7%d8%a6%d8%af%d9%87%d8%a7-keutamaan-dan-faedah-zakat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 02:58:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIQH]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH IBADAH]]></category>
		<category><![CDATA[ZAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[FADHILAH]]></category>
		<category><![CDATA[FAEDAH]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[MANFAAT]]></category>
		<category><![CDATA[SEDEKAH]]></category>
		<category><![CDATA[SHODAQOH]]></category>
		<category><![CDATA[ZAKAT FITRAH]]></category>
		<category><![CDATA[ZAKAT MAL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=761</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Membayar zakat merupakan salah satu dari rukun Islam yang sangat penting setelah dua kalimat syahadat dan shalat. Banyak sekali dalil syar’i dari Al-Qur’an, As-Sunnah maupun ijma’ kaum muslimin yang menunjukkan secara jelas dan gamblang &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/20/%d9%85%d9%86-%d9%81%d8%b6%d8%a7%d8%a6%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-%d9%88%d9%81%d9%88%d8%a7%d8%a6%d8%af%d9%87%d8%a7-keutamaan-dan-faedah-zakat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=761&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Oleh</em>: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/10/zakat-mal.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/10/zakat-mal.jpg?w=500" alt="" title="ZAKAT MAL"   class="alignleft size-full wp-image-762" /></a>Membayar zakat merupakan salah satu dari rukun Islam yang sangat penting setelah dua kalimat syahadat dan shalat. Banyak sekali dalil syar’i dari Al-Qur’an, As-Sunnah maupun ijma’ kaum muslimin yang menunjukkan secara jelas dan gamblang bahwa membayar zakat merupakan kewajiban agama yang jika seorang muslim meninggalkannya karena mengingkari kewajibannya, maka ia menjadi kafir (murtad), karena pada hakikatnya ia telah mendustakan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini sebagaimana pendapat yang disepakati para ulama secara ijma’.  <span id="more-761"></span> (Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah II/572, dan Al-Majmu’ karya imam An-Nawawi V/334). Dia harus bertaubat jika ingin kembali diakui lagi sebagai seorang muslim. Jika dia enggan bertaubat, maka berdasarkan dalil-dalil syar’i boleh untuk diperangi.</p>
<p>Orang yang enggan membayar kewajiban zakat karena kikir atau membayarnya namun tidak sesuai kewajibannya maka ia telah berbuat zhalim dan terancam dengan ancaman Allah yang sangat keras. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya:<br />
وَالَّذِينَ يَكْنزونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنزتُمْ لأنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنزونَ (35)<br />
“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, Lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: &#8220;Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35)</p>
<p>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ &#8211; رضى الله عنه &#8211; قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً، فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ ، لَهُ زَبِيبَتَانِ ، يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ &#8211; يَعْنِى شِدْقَيْهِ &#8211; ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ ، أَنَا كَنْزُكَ » ثُمَّ تَلاَ ( لاَ يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ ) الآيَةَ<br />
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang diberi oleh Allah harta kemudian ia tidak membayar zakatnya, maka akan dijelmakan harta itu pada hari kiamat dalam bentuk ular yang kedua kelopak matanya menonjol. Ular itu melilitnya kemudian menggigit dengan dua rahangnya sambil berkata: “Aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu”. Lalu beliau membacakan firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat”. (QS. Ali ‘Imron: 180). (HR. Bukhari II/508 no.1338)</p>
<p><strong>Beberapa Keutamaan Dan Faedah Zakat</strong></p>
<p>Membayar Zakat dan mengeluarkan infaq dan shodaqoh memiliki keutamaan dan faedah yang sangat banyak di dunia maupun di akhirat, di antaranya:<br />
1. Membayar zakat merupakan salah satu sifat orang-orang baik yang akan menjadi penghuni Surga.<br />
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta).” (QS. Adz-Dzaariyaat: 15-19)</p>
<p>2. Membayar zakat merupakan salah satu sifat orang-orang beriman yang berhak diberi rahmat (kasih sayang) oleh Allah.<br />
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (71)<br />
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma&#8217;ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)</p>
<p>3. Pembayar zakat akan mendapatkan pahala besar yang berlipat ganda, dan harta (zakat)nya akan ditumbuh kembangkan oleh Allah.<br />
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ<br />
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah”. (QS. Al-Baqarah: 276)<br />
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ &#8211; رضى الله عنه &#8211; قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ &#8211; وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ &#8211; وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ »<br />
Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa bersedekah senilai dengan sebiji Kurma dari penghasilan yang baik (halal) –dan Allah hanya menerima sedekah yang baik (halal)-, maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia menumbuh-kembangkannya bagi pemiliknya sebagaimana salah seorang dari kamu menumbuh-kembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti (sepenuh) gunung.” (HR. Bukhari II/511 no.1344, dan Muslim II/702 no.1014).</p>
<p>4. Membayar Zakat merupakan salah satu sebab dihapuskannya kesalahan dan dosa.<br />
Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:<br />
وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ<br />
“Dan sedekah itu dapat menghapuskan dosa (kesalahan) sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi V/11 no.2616, dan Ahmad V/231 no.22069).</p>
<p>5. Membayar Zakat akan mensucikan harta dan jiwa pelakunya, menumbuh-kembangkan harta (Zakat)nya, dan menjadi sebab terbukanya pintu-pintu rezeki. Dan yang jelas berkahnya akan melimpah.<br />
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:<br />
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا<br />
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)</p>
<p>Dan diriwayatkan dari Abu Gharzah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah  berwasiat kepada para pedagang dengan sabdanya:<br />
يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ الْحَلِفُ وَاللَّغْوُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ<br />
“Wahai para pedagang sesungguhnya jual beli ini dicampuri dengan perbuatan sia-sia dan sumpah oleh karena bersihkanlah ia dengan shadaqah.” (HR. Ahmad IV/6 no.16179, Nasai VII/14 no.3797, dan Ibnu Majah II/726 no.2145. Dan dinyatakan Shahih oleh syaikh Al-Albani).</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:<br />
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ<br />
“Sedekah (Zakat) itu tidak akan mengurangi harta benda.” (HR. Muslim IV/2001 no.2588).</p>
<p>6. Membayar Zakat merupakan sebab datangnya segala kebaikan. Sedangkan meninggalkan kewajiban Zakat akan menyebabkan terhalangnya kebaikan-kebaikan.<br />
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam:<br />
وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا<br />
“Dan tidaklah mereka meninggalkan kewajiban (membayar) zakat harta benda mereka melainkan hujan tidak akan diturunkan kepada mereka. kalau sekiranya bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan (yakni mereka ditimpa kekeringan, pent).” (HR. Ibnu Majah II/1332 no.4019, dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.105).</p>
<p>7. Orang yang membayar Zakat (atau sedekah) dengan niat ikhlas karena Allah akan mendapatkan perlindungan dan naungan Arsy Allah di hari kiamat.<br />
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; قَالَ « سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ, وذكر فيه :&#8230; وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ &#8230;<br />
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, diantaranya yaitu: “Seseorang yang menyedekahkan hartanya dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari I/234 no.629, dan Muslim II/715 no.1031)</p>
<p>8. Membayar Zakat (atau sedekah) dapat mencegah (atau mengobati) berbagai macam penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani.<br />
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Obatilah orang-orang yang sakit diantaramu dengan shadaqah.” (Shahih At-Targhib) </p>
<p>Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam juga pernah bersabda kepada orang yang mengeluhkan tentang kekerasan hatinya:<br />
إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ<br />
“Jika engkau ingin melunakkan hatimu maka berilah makan pada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad II/263 no.7566, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu . namun dinyatakan Dho’if oleh syaikh Syu’aib Al-Arnauth karena di dalam sanadnya ada seorang perawi yang majhul (tidak jelas identitasnya)).</p>
<p>9. Orang yang berinfaq akan didoakan kebaikan oleh malaikat setiap hari.<br />
Hal ini bedasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam:<br />
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا<br />
“Tidaklah seorang hamba berada pada suatu hari melainkan akan turun dua malaikat yang salah satunya mengucapkan (doa), “Ya, Allah berilah orang-orang yang berinfaq itu balasan”, dan malaikat yang lain mengucapkan (doa), “Ya, Allah berilah pada orang yang bakhil/kikir kebinasaan (hartanya).” (HR. Bukhari II/522 no.1374, dan Muslim II/700 no.1010, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).</p>
<p>10. Shadaqah merupakan indikasi kebenaran iman seseorang.<br />
Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:<br />
وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ<br />
“Shadaqah merupakan bukti (keimanan).” (HR.Muslim I/203 no.223)</p>
<p>11. Zakat merupakan sarana untuk membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup para fakir miskin.</p>
<p>12. Zakat bisa mengurangi kecemburuan sosisal, dendam dan rasa dongkol yang ada dalam dada fakir miskin. Karena masyarakat bawah pada umumnya jika melihat mereka yang berkelas ekonomi tinggi menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaaat bisa tersulut rasa benci dan permusuhan mereka. Jikalau harta yang demikian melimpah itu dimanfaatkan untuk mengentaskan kemiskinan tentu akan terjalin keharmonisan dan cinta kasih antara si kaya dan si miskin.</p>
<p>13. Membayar zakat berarti memperluas peredaran harta benda atau uang. Karena ketika harta dibelanjakan maka perputarannya akan meluas dan lebih banyak pihak yang mengambil manfaat.</p>
<p>Demikian beberapa keutamaan dan faedah Zakat atau shodaqaoh dan infak yang dapat kami sebutkan. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat, dan dapat menyadarkan kita semua akan penting dan wajibnya Zakat, serta memotivasi kita untuk bersemangat dalam melaksanakannya. Wabillahi at-Taufiq. </p>
<p><strong>[Sumber: Majalah PENGUSAHA MUSLIM, Edisi.. Volume 2 tahun 1432 / 2011] </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/761/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=761&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/10/20/%d9%85%d9%86-%d9%81%d8%b6%d8%a7%d8%a6%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%b2%d9%83%d8%a7%d8%a9-%d9%88%d9%81%d9%88%d8%a7%d8%a6%d8%af%d9%87%d8%a7-keutamaan-dan-faedah-zakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/10/zakat-mal.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ZAKAT MAL</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>أحكام الضرائب والجمارك في الفقه الإسلامي / HUKUM PAJAK DALAM FIQIH ISLAM</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/09/17/%d8%a3%d8%ad%d9%83%d8%a7%d9%85-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b1%d8%a7%d8%a6%d8%a8-%d9%88%d8%a7%d9%84%d8%ac%d9%85%d8%a7%d8%b1%d9%83-%d9%81%d9%8a-%d8%a7%d9%84%d9%81%d9%82%d9%87-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d8%b3%d9%84/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/09/17/%d8%a3%d8%ad%d9%83%d8%a7%d9%85-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b1%d8%a7%d8%a6%d8%a8-%d9%88%d8%a7%d9%84%d8%ac%d9%85%d8%a7%d8%b1%d9%83-%d9%81%d9%8a-%d8%a7%d9%84%d9%81%d9%82%d9%87-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d8%b3%d9%84/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 18:04:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[FATWA ULAMA]]></category>
		<category><![CDATA[FIQH]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH KONTEMPORER]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH MU'AMALAH]]></category>
		<category><![CDATA[bea cukai]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[Haram]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>
		<category><![CDATA[PANDANGAN]]></category>
		<category><![CDATA[perpajakan]]></category>
		<category><![CDATA[SYARIAT ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=737</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya berdasarkan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di antara larangan Allah ialah melakukan kezhaliman kepada sesama manusia dengan &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/09/17/%d8%a3%d8%ad%d9%83%d8%a7%d9%85-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b1%d8%a7%d8%a6%d8%a8-%d9%88%d8%a7%d9%84%d8%ac%d9%85%d8%a7%d8%b1%d9%83-%d9%81%d9%8a-%d8%a7%d9%84%d9%81%d9%82%d9%87-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d8%b3%d9%84/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=737&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/09/pajak.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/09/pajak.jpg?w=500" alt="" title="PAJAK"   class="alignleft size-full wp-image-738" /></a>Merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya berdasarkan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah. </p>
<p>Di antara larangan Allah ialah melakukan kezhaliman kepada sesama manusia dengan mengambil harta benda mereka tanpa hak, seperti mencuri, korupsi, memakan harta riba, mewajibkan bayar pajak bagi seluruh masyarakat terutama kaum muslimin, dan lain sebagainya.</p>
<p>Oleh karenanya, dalam edisi kali ini kami akan menjelaskan tentang hukum pajak menurut pandangan Islam,  bagaimana kaum muslimin menyikapinya,  dan syarat-syarat dibolehkannya pemungutan pajak. Mudah-mudahan pembahasan ini bermanfaat.   <span id="more-737"></span></p>
<p><strong>A.  DEFINISI PAJAK</strong><br />
Dalam istilah bahasa Arab, pajak dikenal dengan nama Adh-Dharibah atau bisa juga disebut Al-Maks, yang artinya adalah ; “Pungutan yang ditarik dari rakyat oleh para penarik pajak.” (Lihat Lisanul Arab IX/217-218 dan XIII/160, dan Shahih Muslim dengan syarahnya oleh Imam Nawawi XI/202). </p>
<p>Menurut imam al-Ghazali dan imam al-Juwaini, pajak ialah apa yang diwajibkan oleh penguasa (pemerintahan muslim) kepada orang-orang kaya dengan menarik dari mereka apa yang dipandang dapat mencukupi (kebutuhan Negara dan masyarakat secara umum, pent) ketika tidak ada kas di dalam baitul mal.” (Lihat Syifa’ul Ghalil hal.234, dan Ghiyats al-Umam Min Iltiyats Azh-Zhulmi hal.275). </p>
<p>Adapun pajak menurut istilah kontemporer adalah iuran rakyat kepada kas negara (pemerintah) berdasarkan undang-undang -sehingga dapat dipaksakan- dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum untuk menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum.</p>
<p>Di sana ada istilah-istilah lain yang mirip dengan pajak atau adh-Dharibah diantaranya adalah :<br />
a. al-Jizyah (upeti yang harus dibayarkan ahli kitab kepada pemerintahan Islam)<br />
b. al-Kharaj (pajak bumi yang dimiliki oleh negara Islam)<br />
c. al-‘Usyur (bea cukai bagi para pedagang non muslim yang masuk ke negara Islam)</p>
<p><strong>B. BEBERAPA JENIS PAJAK DI ZAMAN SEKARANG:</strong><br />
Di zaman sekarang terdapat beberapa macam pajak yang sering kita jumpai, diantaranya ialah:<br />
- Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yaitu pajak yang dikenakan terhapad tanah dan lahan dan bangunan yang dimiliki seseorang.<br />
- Pajak Penghasilan (PPh), yaitu pajak yang dikenakan sehubungan dengan penghasilan seseorang.<br />
- Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<br />
- Pajak Barang dan Jasa<br />
- Pajak Penjualan Barang Mewam (PPnBM)<br />
- Pajak Perseroan, yaitu pajak yang dikenakan terhadap setiap perseroan (kongsi) atau badan lain semisalnya.<br />
- Pajak Transit/Peron dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>C. HUKUM PAJAK DALAM FIQIH ISLAM:</strong><br />
Berdasarkan istilah-istilah di atas (al-Jizyah, al-Kharaj, dan al-‘Usyur), kita dapatkan bahwa pajak sebenarnya diwajibkan bagi orang-orang non muslim kepada pemerintahan Islam sebagai bayaran jaminan keamanan. Maka ketika pajak tersebut diwajibkan kepada kaum muslimin, para ulama dari zaman sahabat, tabi’in hingga sekarang berbeda pendapat di dalam menyikapinya.</p>
<p><strong>Pendapat Pertama</strong>: Menyatakan bahwa pajak tidak boleh sama sekali dibebankan kepada kaum muslimin, karena kaum muslimin sudah dibebani kewajiban zakat. Di antara dalil-dalil syar’i yang melandasi pendapat ini adalah sebagaimana berikut:<br />
1) Firman Allah Ta’ala:<br />
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ<br />
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil….”. (QS. An-Nisa’: 29).</p>
<p>Dalam ayat ini Allah melarang hamba-Nya saling memakan harta sesamanya dengan jalan yang tidak dibenarkan. Dan pajak adalah salah satu jalan yang batil untuk memakan harta sesamanya.</p>
<p>2) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
أَلاَ لاَ تَظْلِمُوا ، أَلاَ لاَ تَظْلِمُوا ، أَلاَ لاَ تَظْلِمُوا ، إِنَّهُ لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ إِلاَّ بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ<br />
“Janganlah kalian berbuat zhalim (beliau mengucapkannya tiga kali, pent). Sesungguhnya tidak halal harta seseorang muslim kecuali dengan kerelaan dari pemiliknya.” (HR. Imam Ahmad V/72 no.20714, dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Jami’ush Shagir no.7662, dan dalam Irwa’al Ghalil no.1761 dan 1459)</p>
<p>3) Hadits yang diriwayatkan dari Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
لَيْسَ فِي الْمَالِ حَقٌّ سِوَى الزَّكَاةِ<br />
“Tidak ada kewajiban dalam harta kecuali zakat. ” (HR Ibnu Majah I/570 no.1789. Hadits ini dinilai dho’if (lemah) oleh syaikh Al-Albani karena di dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abu Hamzah (Maimun), menurut imam Ahmad bin Hanbal dia adalah dha’if hadistnya, dan menurut Imam Bukhari, ‘dia tidak cerdas’).<br />
Mereka mengatakan bahwa dalil-dalil syar’i yang menetapkan adanya hak wajib pada harta selain zakat hanyalah bersifat anjuran (bukan kewajiban yang harus dilaksanakan), seperti hak tamu atas tuan rumah. Mereka juga mengatakan bahwa hak-hak tersebut hukumnya wajib sebelum disyariatkan kewajiban zakat, namun setelah zakat diwajibkan, maka hak-hak wajib tersebut menjadi mansukh (dihapuskan/dirubah hukumnya dari wajib menjadi sunnah).</p>
<p>4) Hadits Buraidah radhiyallahu ‘anhu dalam kisah seorang wanita Ghamidiyah yang berzina, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentangnya:<br />
فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ<br />
“Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya perempuan itu telah benar-benar bertaubat, sekiranya seorang pemungut pajak bertaubat sebagaimana taubatnya wanita itu, niscaya dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim III/1321 no: 1695, dan Abu Daud II/557 no.4442. dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah hal. 715-716)<br />
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat beberapa pelajaran dan hikmah yang agung diantaranya ialah, “Bahwasanya pajak termasuk seburuk-buruk kemaksiatan dan termasuk dosa yang membinasakan (pelakunya), hal ini lantaran dia akan dituntut oleh manusia dengan tuntutan yang banyak sekali di akhirat kelak.” (Lihat Syarah Shahih Muslim XI/202 oleh Imam Nawawi).</p>
<p>5) Hadits Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ صَاحِبُ مَكْسٍ<br />
“Tidak akan masuk surga orang yang mengambil pajak (secara zhalim, pent).” (HR. Abu Daud II/147 no.2937. Hadist ini dinilai dho’if oleh syaikh Al-Albani)<br />
Dari beberapa dalil di atas, banyak para ulama yang menggolongkan pajak yang dibebankan kepada kaum muslim secara zhalim dan semena-mena, sebagai perbuatan dosa besar, seperti yang dinyatakan Imam Ibnu Hazm di dalam Maratib al Ijma’, Imam adz-Dzahabi di dalam bukunya Al-Kabair, Imam Ibnu Hajar al-Haitami di dalam az- Zawajir ‘an Iqtirafi al Kabair, Syaikh Shiddiq Hasan Khan di dalam ar-Raudah an-Nadiyah, Syaikh Syamsul al-Haq Abadi di dalam Aun al-Ma’bud dan selainnya.</p>
<p>6) Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya, apakah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menarik pajak dari kaum muslimin. Beliau menjawab: “Tidak, aku tidak pernah mengetahuinya.” (Lihat Syarh Ma’anil Atsar II/31)</p>
<p>7) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam kitabnya, Huquq Ar-Ra’iy war Ra’iyyah, mengatakan, “Adapun kemungkaran seperti pemungutan pajak, maka kita mengharap agar pemerintah meninjau ulang (kebijakan itu)”.</p>
<p><strong>Pendapat Kedua: </strong>Menyatakan bahwa pajak boleh diambil dari kaum muslimin, jika memang negara sangat membutuhkan dana, dan untuk menerapkan kebijaksanaan inipun harus terpenuhi dahulu beberapa syarat. Diantara para ulama yang membolehkan pemerintahan Islam mengambil pajak dari kaum muslimin adalah imam al-Juwaini di dalam kitab Ghiyats al-Umam hal. 267, Imam al-Ghazali di dalam al-Mustashfa I/426, Imam asy-Syathibi di dalam al-I’tishom II/358, Ibnu Abidin dalam Hasyiyah Ibnu Abidin II/336-337, dan selainnya.<br />
Di antara dalil-dalil syar’i yang melandasi pendapat ini adalah sebagaimana berikut:<br />
1) Firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat 177, dimana pada ayat ini Allah mengajarkan tentang kebaikan hakiki dan agama yang benar dengan mensejajarkan antara: (a) Pemberian harta yang dicintai kepada kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta-minta dan memerdekakan hamba sahaya, dengan (b) Iman kepada Allah, hari kemudian, malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menepati janji, dan lain-lainnya.<br />
Point-point dalam group (a) di atas, bukannya hal yang sunnah, tapi termasuk pokok-pokok yang hukumnya fardhu, karena disejajarkan dengan hal-hal yang fardhu, dan bukan termasuk zakat, karena zakat disebutkan tersendiri juga. </p>
<p>2) Hadits-hadits shahih mengenai hak tamu atas tuan rumah. Perintah menghormati tamu menunjukkan wajib karena perintah itu dikaitkan dengan iman kepada Allah dan hari Kiamat, dan setelah tiga hari dianggap sebagai sedekah. </p>
<p>3) Ayat Al-Quran yang mengancam orang yang menolak memberi pertolongan kepada mereka yang memerlukan, seperti halnya dalam surat Al-Ma’un, dimana Allah mangaggap celaka bagi orang yang enggan menolong dengan barang yang berguna bersamaan dengan orang yang berbuat riya’.</p>
<p>4) Adanya kaidah-kaidah umum hukum syara&#8217; yang memperbolehkan. Misalnya kaidah &#8220;Mashalih Mursalah&#8221; (atas dasar kepentingan), atau kaidah ‘mencegah mafsadat itu lebih diutamakan daripada mendatangkan maslahat’, atau kaidah ‘lebih memilih mudharat yang menimpa individu atau kelompok tertentu daripada mudharat yang menimpa manusia secara umum’. Kas Negara yang kosong akan sangat membahayakan kelangsungan negara, baik adanya ancaman dari luar maupun dari dalam. Rakyat pun akan memilih kehilangan harta yang sedikit karena pajak dibandingkan kehilangan harta keseluruhan karena negara jatuh ke tangan musuh.</p>
<p>5) Adanya perintah Jihad dengan harta. Islam telah mewajibkan ummatnya untuk berjihad dengan harta dan jiwa sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Quran (QS. 9:41, 49:51, 61:11, dll). Maka tidak diragukan lagi bahwa jihad dengan harta itu adalah kewajiban lain di luar zakat. Di antara hak pemerintah (ulilamri) dari kaum Muslimin adalah menentukan bagian tiap orang yang sanggup memikul beban jihad dengan harta ini.</p>
<p>6) Syaikh Izzuddin memberikan fatwa kepada raja al-Muzhaffar dalam hal mewajibkan pajak kepada rakyat dalam rangka mempersiapkan pasukan untuk memerangi Tatar, seraya berkata: “Apabila musuh memasuki Negeri Islam, maka wajib bagi kaum muslimin menahan serangan mereka, dan diperbolehkan bagi kalian (para penguasa) mengambil dari rakyat apa yang dapat menolong kalian dalam berjihad melawan mereka, namun dengan syarat tidak ada kas sedikitpun di dalam baitul mal, dan hendaknya kalian (penguasa dan para pejabatnya, pent) menjual (menginfakkan) barang-barang berharga milik kalian. Setiap tentara dicukupkan dengan kendaraan dan senjata perangnya saja, dan mereka itu diperlakukan sama dengan rakyat pada umumnya. Adapun memungut harta (pajak) dari rakyat padahal masih ada harta benda dan peralatan berharga di tangan para tentara, maka itu dilarang.” (An-Nujum Az-Zahirah fi Muluki Mishr wa Al-Qahirah, karya Abul Mahasin Yusuf bin Taghri VII/73).</p>
<p><strong>Kesimpulan Hukum Pajak dalam Fiqih Islam: </strong><br />
Setelah memaparkan dua pendapat para ulama di atas beserta dalil-dalilnya, maka jalan tengah dari dua perbedaan pendapat ini adalah bahwa tidak ada kewajiban atas harta kekayaan yang dimiliki seorang muslim selain zakat, namun jika datang kondisi yang menuntut adanya keperluan tambahan (darurat), maka akan ada kewajiban tambahan lain berupa pajak (dharibah). Pendapat ini sebagaimana dikemukakan oleh al-Qadhi Abu Bakar Ibnu al-Arabi, Imam Malik, Imam Qurtubi, Imam asy-Syathibi, Mahmud Syaltut, dan lain-lain. (Lihat Al-Fatawa Al-Kubra, Syaikh Mahmud Syaltut hal.116-118 cetakan Al-Azhar).</p>
<p>Diperbolehkannya memungut pajak menurut para ulama tersebut di atas, alasan utamanya adalah untuk mewujudkan kemaslahatan umat, karena dana pemerintah tidak mencukupi untuk membiayai berbagai “pengeluaran”, yang jika pengeluaran itu tidak dibiayai, maka akan timbul kemadharatan. Sedangkan mencegah kemudaratan adalah juga suatu kewajiban. Sebagaimana kaidah ushul fiqh: Ma layatimmu al-wajibu illa bihi fahuwa wajibun (Suatu kewajiban jika tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib). </p>
<p>Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani berkata, “Jika sekiranya seorang penguasa (pemerintahan muslim) hendak menyiapkan sebuah pasukan perang, maka sepantasnya dia menyiapkannya dengan harta yang diambil dari baitul mal kaum muslimin (kas Negara) jika di dalamnya memang ada harta kekayaan yang mencukupinya, dan tidak boleh baginya mengambil harta sedikitpun dari rakyat. Akan tetapi jika di dalam baitul mal tidak ada harta yang mencukupi penyiapan pasukan perang, maka dibolehkan bagi penguasa/pemerintah muslim menetapkan kebijakan kepada mereka (orang-orang kaya agar membayar pajak, pent) sehingga pasukan perang yang akan berjihad menjadi kuat.” (Lihat As-Sair Al-Kabir beserta syarahnya I/139).</p>
<p><strong>D. SYARAT-SYARAT PEMUNGUTAN PAJAK:</strong><br />
Para ulama yang membolehkan Pemerintahan Islam memungut pajak dari kaum muslimin, meletakkan beberapa syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu, diantaranya adalah sebagai berikut :<br />
<strong>Pertama</strong>: Negara komitmen dalam penerapan syariat Islam.<br />
<strong>Kedua</strong>: Negara sangat membutuhkan dana untuk keperluan dan maslahat umum, seperti pembelian alat-alat perang untuk menjaga perbatasan Negara yang sedang dirongrong oleh musuh.<br />
<strong>Ketiga</strong>: Tidak ada sumber lain yang bisa diandalkan oleh Negara, baik dari zakat, jizyah, al ‘usyur, kecuali dari pajak.<br />
<strong>Keempat</strong>: Harus ada persetujuan dari para ulama dan tokoh masyarakat.<br />
<strong>Kelima</strong>: Pemungutannya harus adil, yaitu dipungut dari –orang kaya saja-, dan tidak boleh dipungut dari orang-orang miskin. Distribusinya juga harus adil dan merata, tidak boleh terfokus pada tempat-tempat tertentu, apalagi yang mengandung unsur dosa dan maksiat.<br />
<strong>Keenam</strong>: Pajak ini sifatnya sementara dan tidak diterapkan secara terus menerus, tetapi pada saat-saat tertentu saja, ketika Negara dalam keadaan genting atau ada kebutuhan yang sangat mendesak saja.<br />
<strong>Ketujuh</strong>: Harus dihilangkan dulu pendanaan yang berlebih-lebihan dan hanya menghambur-hamburkan uang saja.<br />
<strong>Kedelapan</strong>: Besarnya pajak harus sesuai dengan kebutuhan yang mendesak pada waktu itu saja. (Lihat syarat-syarat ini secara lengkap dalam Abhats Fiqhiyyah Fi Qadhaya Az-Zakat Al-Mu’ashirah II/621-623) </p>
<p><strong>E. APAKAH PAJAK DI ZAMAN INI SESUAI DENGAN SYARIAH ISLAM?</strong><br />
Apakah pajak hari ini sudah sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan para ulama di atas? maka jawabannya adalah tidak sesuai, hal itu dikarenakan beberapa sebab:<br />
1.	Negara belum komitmen untuk menerapkan syariat Islam.<br />
2.	Pajak hari ini dikenakan juga pada barang dagangan dan barang-barang yang menjadi kebutuhan sehari-hari yang secara tidak langsung akan membebani rakyat kecil.<br />
3.	Hasil pajak hari ini dipergunakan untuk hal-hal yang bukan termasuk kebutuhan darurat, tetapi justru malah digunakan untuk membiayai tempat-tempat maksiat dan rekreasi, pengembangan budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dan sejenisnya, bahkan yang lebih ironisnya lagi sebagian besar pajak yang diambil dari rakyat itu hanya untuk dihambur-hamburkan saja, seperti untuk pembiayaan pemilu, renovasi rumah, pembelian mobil mewah untuk anggota dewan dan pejabat, dan lain-lainnya.<br />
4.	Pajak hari ini diwajibkan terus menerus secara mutlak dan tidak terbatas.<br />
5.	Pajak hari ini diwajibkan kepada rakyat, padahal zakat sendiri belum diterapkan secara serius.<br />
6.	Pajak yang diwajibkan hari ini belum dimusyawarahkan dengan para ulama dan tokoh masyarakat.<br />
7.	Pajak hari ini diwajibkan kepada rakyat kecil, padahal sumber-sumber pendapat Negara yang lain, seperti kekayaan alam tidak diolah dengan baik, malah diberikan kepada perusahaan asing, yang sebenarnya kalau dikelola dengan baik, akan bisa mencukupi kebutuhan Negara dan rakyat.</p>
<p>Dari keterangan di atas, menjadi jelas, bahwa pajak yang diterapkan hari ini di banyak negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam, termasuk di dalamnya Indonesia adalah perbuatan zhalim yang merugikan rakyat kecil, apalagi hasilnya sebagian besar dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang kurang bermanfaat, atau mengandung dosa dan maksiat, dan bahkan terbukti sebagiannya telah dikorupsi, hanya sebagian kecil yang digunakan untuk kepentingan umum dan kesejahteraan masyarakat. Wallahu A’lam bish-Showab.</p>
<p><strong>F. BAGAIMANA SIKAP KAUM MUSLIMIN TERHADAP PAJAK?</strong><br />
Berdasarkan dalil-dalil syar’i dari Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa setiap muslim wajib mentaati pemimpinnya selama pemimpin itu masih dalam kategori muslim dan selama pemimpinnya tidak memerintahkan dengan suatu kemaksiatan. Adapun jika penguasa memerintahkan rakyatnya dengan suatu kemaksiatan maka rakyat (kaum muslimin) dilarang keras oleh Allah dan Rasul-Nya untuk mentaatinya. Termasuk dalam hal ini adalah kewajiban membayar pajak dengan berbagai jenisnya yang telah disebutkan di atas.<br />
Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ<br />
“Tidak ada ketaatan dalam melakukan kemaksiatan kepada Allah, karena sesungguhnya kewajiban taat itu hanya dalam hal yang ma’ruf (baik) saja.” (HR. Bukhari no.6830, dan Muslim III/1469 no.1840).</p>
<p>Akan tetapi, bagaimana sikap kaum muslimin jika penguasa memaksa atau menggunakan kekuatannya untuk memungut pajak dari mereka, bolehkah melakukan perlawanan atau pemberontakan?<br />
Dalam keadaan demikian kaum muslimin tidak boleh melakukan perlawanan atau pemberontakan demi untuk menghindari kemudharatan yang lebih besar. Dan jika harta mereka diambil penguasa secara paksa sebagai pajak, maka berlaku bagi mereka hukum orang yang terpaksa melakukan sesuatu yang haram dan tidak dianggap sebagai dosa. Di dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berwasiat kepada umatnya:</p>
<p>يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ . قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ</p>
<p>“Akan datang sesudahku para pemimpin, mereka tidak mengambil petunjukku dan juga tidak melaksanakan tuntunanku. Dan kelak akan ada para pemimpin yang hatinya seperti hati setan dalam jasad manusia.” Maka aku (Hudzaifah) bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku mendapati hal ini?” Beliau bersabda: “Hendaklah engkau mendengar dan taat kepada pemimpinmu walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, tetaplah dengar dan taat kepadanya.” (HR. Muslim III/1475 no.1847 dari Hudzaifah Ibnul Yaman radliyallahu’anhu)</p>
<p>Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah memberi alasan yang sangat tepat dalam masalah ini. Beliau mengatakan: “Melawan pemimpin pada saat itu lebih jelek akibatnya daripada sekedar sabar atas kezhaliman mereka. Bersabar atas kezhaliman mereka (memukul dan mengambil harta kita) memang suatu madharat, tetapi melawan mereka jelas lebih besar madharatnya, seperti akan berakibat terpecahnya persatuan kaum muslimin, dan memudahkan kaum kafir menguasai kaum muslimin (yang sedang berpecah dan tidak bersatu).” (Lihat Al-Fatawa As-Syar’iyah Fi Al-Qodhoya Al-Ashriyyah halaman.93) </p>
<p>Demikian penjelasan kami tentang hukum pajak dalam pandangan Islam. Jika ada kesalahan dan kekurangan maka itu datangnya dari diri kami pribadi dan setan. Dan jika benar, maka ini datangnya dari Allah Ta’ala semata. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.</p>
<p><strong>[Sumber: Majalah PENGUSAHA MUSLIM Edisi 17 Volume 2 / Juni 2011]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/737/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/737/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/737/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/737/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/737/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/737/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/737/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/737/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/737/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/737/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/737/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/737/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/737/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/737/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=737&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/09/17/%d8%a3%d8%ad%d9%83%d8%a7%d9%85-%d8%a7%d9%84%d8%b6%d8%b1%d8%a7%d8%a6%d8%a8-%d9%88%d8%a7%d9%84%d8%ac%d9%85%d8%a7%d8%b1%d9%83-%d9%81%d9%8a-%d8%a7%d9%84%d9%81%d9%82%d9%87-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d8%b3%d9%84/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/09/pajak.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PAJAK</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>القول البين في أحكام الهدايا للموظفين / HUKUM PARSEL BAGI PEJABAT MENURUT PANDANGAN ISLAM</title>
		<link>http://abufawaz.wordpress.com/2011/08/30/%d8%a7%d9%84%d9%82%d9%88%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%a8%d9%8a%d9%86-%d9%81%d9%8a-%d8%a3%d8%ad%d9%83%d8%a7%d9%85-%d8%a7%d9%84%d9%87%d8%af%d8%a7%d9%8a%d8%a7-%d9%84%d9%84%d9%85%d9%88%d8%b8%d9%81%d9%8a%d9%86/</link>
		<comments>http://abufawaz.wordpress.com/2011/08/30/%d8%a7%d9%84%d9%82%d9%88%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%a8%d9%8a%d9%86-%d9%81%d9%8a-%d8%a3%d8%ad%d9%83%d8%a7%d9%85-%d8%a7%d9%84%d9%87%d8%af%d8%a7%d9%8a%d8%a7-%d9%84%d9%84%d9%85%d9%88%d8%b8%d9%81%d9%8a%d9%86/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 07:20:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufawaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[FATWA ULAMA]]></category>
		<category><![CDATA[FIQH]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH KONTEMPORER]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH MU'AMALAH]]></category>
		<category><![CDATA[AGAMA ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[Boleh]]></category>
		<category><![CDATA[BONUS]]></category>
		<category><![CDATA[DILARANG]]></category>
		<category><![CDATA[FIQIH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[GRATIFIKASI]]></category>
		<category><![CDATA[HADIAH]]></category>
		<category><![CDATA[halal]]></category>
		<category><![CDATA[Haram]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[PANDANGAN]]></category>
		<category><![CDATA[PARCEL]]></category>
		<category><![CDATA[PARSEL]]></category>
		<category><![CDATA[Pegawai]]></category>
		<category><![CDATA[PEJABAT]]></category>
		<category><![CDATA[SUAP]]></category>
		<category><![CDATA[SYARIAT ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufawaz.wordpress.com/?p=729</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc Kasus korupsi, suap atau uang pelicin dan nepotisme (KKN) telah membudaya dan menjadi kasus yang serius di kebanyakan negeri-negeri kaum muslimin, termasuk di negeri kita tercinta ini. Ibarat kanker ganas, ia telah menggerogoti seluruh &#8230; <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2011/08/30/%d8%a7%d9%84%d9%82%d9%88%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%a8%d9%8a%d9%86-%d9%81%d9%8a-%d8%a3%d8%ad%d9%83%d8%a7%d9%85-%d8%a7%d9%84%d9%87%d8%af%d8%a7%d9%8a%d8%a7-%d9%84%d9%84%d9%85%d9%88%d8%b8%d9%81%d9%8a%d9%86/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=729&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc</strong></p>
<p><a href="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/08/parcel1.jpg"><img src="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/08/parcel1.jpg?w=269&#038;h=300" alt="" title="parcel" width="269" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-731" /></a>Kasus korupsi, suap atau uang pelicin dan nepotisme (KKN) telah membudaya dan menjadi kasus yang serius di kebanyakan negeri-negeri kaum muslimin, termasuk di negeri kita tercinta ini. Ibarat kanker ganas, ia telah menggerogoti seluruh anggota tubuh dan menyebar dalam segala lini kehidupan kita.</p>
<p>Nampaknya kasus korupsi dan suap kepada para pejabat, birokrat, dan kepada hakim untuk memenangkan perkara sudah menjadi persoalan klasik, sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Maka pada edisi kali ini, kami akan menjelaskan hukum memberikan parsel atau hadiah kepada para pejabat atau atasan menurut pandangan Islam.  <span id="more-729"></span></p>
<p><strong>A.HUKUM MEMBERIKAN PARSEL/HADIAH KEPADA PEJABAT</strong><br />
Pada dasarnya, seseorang memberikan hadiah atau parsel kepada saudaranya seislam merupakan perbuatan terpuji dan dianjurkan oleh syariat. Apalagi jika diniatkan untuk menyambung silaturahim, kasih sayang dan rasa cinta, atau dalam rangka membalas budi dan kebaikan orang lain dengan hal yang semisal atau lebih baik darinya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
تَهَادَوْا تَحَابُّوا<br />
“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Baihaqi II/339 no.12297, dan Abu Ya’la dalam Musnadnya XI/9 no.6148, dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dari Abu Hurairah. Lihat Shahihul Jami’ no.3004 dan Irwa’ul Ghalil no.1601)</p>
<p>Dan diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:<br />
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا<br />
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima hadiah dan membalasnya.” (HR. Bukhari II/913 no.2445)</p>
<p>Namun  terkadang pula, hadiah bisa menjadi haram atau perantara menuju perkara yang haram jika hadiah tersebut untuk tujuan yang melanggar aturan syariat, seperti bertujuan menyuap orang yang menerimanya agar memberikan sesuatu yang bukan haknya, atau membebaskannya dari hukuman yang mesti menimpanya, membatilkan yang hak, atau sebaliknya. Dengan demikian, hukum memberikan hadiah itu berbeda-beda sesuai dengan tujuan pemberinya dan seberapa jauh dampak dan kerusakan yang ditimbulkan dari pemberian tersebut.</p>
<p>Terdapat beberapa hadits shahih yang sangat menarik untuk menggambarkan dan menjelaskan hukum permasalahan ini. diantaranya apa yang diriwayatkan dari Abu Humaid As-Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:<br />
اسْتَعْمَلَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; رَجُلاً مِنْ بَنِى أَسَدٍ يُقَالُ لَهُ ابْنُ الأُتَبِيَّةِ عَلَى صَدَقَةٍ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِىَ لِى . فَقَامَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; عَلَى الْمِنْبَرِ &#8211; قفَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ « مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ ، فَيَأْتِى يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِى . فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْتِى بِشَىْءٍ إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ » . ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَىْ إِبْطَيْهِ « أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ » ثَلاَثًا . قَالَ سُفْيَانُ قَصَّهُ عَلَيْنَا الزُّهْرِىُّ . وَزَادَ هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى حُمَيْدٍ قَالَ سَمِعَ أُذُنَاىَ وَأَبْصَرَتْهُ عَيْنِى<br />
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengangkat salah seorang dari suku Asad sebagai petugas (amil) yang memungut zakat Bani Sulaim. Orang memanggilnya dengan sebutan Ibnu Al-Utabiyah. Ketika ia datang, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengaudit hasil zakat yang  telah dikumpulkannya. Ia (Ibnu Al-Utabiyah) berkata, “Wahai Rasul, ini untuk Anda dan ini dihadiahkan untuk saya,” Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Kalau engkau benar, mengapa engkau tidak duduk saja di rumah ayah dan ibumu, sampai hadiah itu mendatangimu?” Lalu Rasulullahh Shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah, memanjatkan pujian kepada Allah azza wa jalla , Lalu beliau bersabda: “Aku telah tugaskan seseorang dari kalian sebuah pekerjaan yang Allah azza wa Jalla telah pertanggungjawabkan kepadaku, Lalu ia datang dan berkata: “yang ini harta kalian, sedangkan yang ini hadiah untukku”. Jika dia benar, mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya, kalau benar hadiah itu mendatanginya. Demi Allah, tidaklah salah seorang kalian mengambilnya tanpa hak, melainkan dia bertemu dengan Allah (pada hari kiamat, pen) dengan membawa unta yang bersuara, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik,” lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya hingga nampak ketiaknya, dan berkata: “Ya Allah, aku telah sampaikan,”beliau ucapkan tiga kali. (Abu Humaid As-Sa’idi, perawi hadits ini berkata), “Aku Lihat langsung dengan kedua mataku, dan aku dengar langsung dengan kedua telingaku.” (HR Bukhari VI/2624 no. 6753, dan Muslim III/1463 no. 1832)</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa hadiah itu datang kepadanya karena jabatan, kedudukan atau tugasnya.</p>
<p>Di zaman sekarang ini, kita sering sekali menjumpai sebagian orang mempermainkan istilah syariat, sehingga sesuatu yang haram dianggapnya bisa menjadi halal. Diantara istilah syariat yang mereka rubah dengan nama-nama yang indah dan menggiurkan adalah riba, diistilahkan dengan nama bunga, manfaat, faedah dan lain sebagainya. Demikian pula dengan istilah risywah (suap). Mereka mengistilahkannya dengan nama hadiah, bonus atau fee dan lain sebagainya. </p>
<p>Umar bin Abdul Aziz berkata: “Hadiah (dengan makna yang sebenarnya, pen) adalah hadiah yang ada di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan di zaman kita telah berubah menjadi suap.”</p>
<p>Maka dari itu, yang terpenting bagi seorang muslim adalah harus mengetahui bagaimana bentuk pemberian tersebut yang sebenarnya, dan apa hukum syariat tentang permasalahan itu.</p>
<p><strong>B.MAKNA HADIAH DAN SUAP</strong><br />
Hadiah diambil dari kata bahasa Arab, dan maknanya adalah pemberian seseorang yang sah memberi pada masa hidupnya, secara kontan tanpa ada syarat dan balasan”. (Lihat Aqrabul Masalik, V/341,342)</p>
<p>Sedangkan Suap (risywah) ialah memberi uang dan sebagainya kepada petugas (pegawai), dengan harapan mendapatkan kemudahan dalam suatu urusan”. (Lihat Mukhtarush Shihah, hlm. 244 dan Qamus Muhith, IV/336)<br />
dalam bahasa indonesia disebut juga dengan sogok atau memberi uang pelicin. </p>
<p><strong>C. PERBEDAAN ANTARA SUAP DENGAN HADIAH</strong><br />
Seorang muslim yang mengetahui perbedaan ini, maka ia akan dapat membedakan jalan yang hendak ia tempuh, halal ataukah haram. Perbedaan tersebut, di antaranya:</p>
<p>1). Suap adalah, pemberian yang diharamkan syariat, dan ia termasuk pemasukan yang haram dan kotor. Sedangkan hadiah merupakan pemberian yang dianjurkan syariat, dan ia termasuk pemasukan yang halal bagi seorang muslim.<br />
2). Suap, ketika memberinya tentu dengan syarat yang tidak sesuai dengan syariat, baik syarat tersebut disampaikan secara langsung maupun secara tidak langsung. Sedangkan hadiah, pemberiannya tidak bersyarat.<br />
3). Suap, diberikan untuk mencari muka dan mempermudah dalam hal yang batil. Sedangkan hadiah, ia diberikan dengan maksud untuk silaturrahim dan kasih-sayang, seperti kepada kerabat, tetangga atau teman, atau pemberian untuk membalas budi.[12]<br />
4). Suap, pemberiannya dilakukan secara sembunyi, dibangun berdasarkan saling tuntut- menuntut, biasanya diberikan dengan berat hati. Sedangkan hadiah, pemberian terang-terangan atas dasar sifat kedermawanan.<br />
5). Suap -biasanya- diberikan sebelum pekerjaan, sedangkan hadiah diberikan setelahnya. (Lihat Hadaya Lil Muwazhzhafin, Dr. Al-Hasyim, hal 27-29) </p>
<p><strong>D.MACAM-MACAM HADIAH BAGI PEJABAT DAN HUKUMNYA</strong><br />
Dalam pemberian suatu hadiah atau parsel kepada Pegawai atau pejabat dapat dibagi menjadi tiga bagian:<br />
<strong>Pertama</strong>: Hadiah Yang diharamkan bagi yang memberi maupun yang menerimanya. (Lihat Hadaya Lil Muwazhzhafin, Dr. al Hasyim, hal 35-79).<br />
Yaitu, hadiah yang diberikan dengan tujuan untuk mewujudkan atau membiarkan atau melegalkan sesuatu yang batil. Maka hukum hadiah ini haram, dan tidak boleh diterima. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Nabi Sulaiman ‘alahissalam, dia menolak hadiah Ratu Balqis dikarenakan ia merupakan suap-menyuap di dalam perkara agama agar nabi Sulaiman ‘alaihissalam diam darinya dan membiarkan dia beribadah kepada matahari sebagai sesembahan selain Allah Ta’ala. </p>
<p>Temasuk hadiah yang diharamkan pula bagi pemberi dan penerimanya adalah hadiah yang diperuntukkan bagi para pemimpin, para menteri, dan para pejabat, atas sebuah tugas yang memang wajib dilakukan oleh mereka. Atau agar mereka memberimu sesuatu yang bukan menjadi hakmu, atau mereka memaafkan kamu dari sesuatu yang tidak pantas untuk mereka maafkan. </p>
<p>Demikian pula memberikan hadiah kepada mereka dengan tujuan mengambil hati mereka tanpa hak, baik untuk kepentingan sekarang maupun untuk masa yang akan datang, yaitu dengan memalsukan data, atau mendahulukan pelayanan kepadanya daripada orang lain yang lebih berhak, atau memenangkan perkaranya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Maka ketika itu, haram bagimu memberikan hadiah kepada mereka dan haram pula bagi mereka menerima hadiah tersebut dikarenakan itu merupakan suap-menyuap. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatakan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:<br />
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ<br />
“Rasulullah melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap.” (HR. Abu Daud II/324 no.3580. dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no.5093).</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Hadiah yang diharamkan bagi yang menerimanya, dan diberi keringanan bagi yang memberikannya.<br />
Yaitu, pemberian  hadiah yang dilakukan secara terpaksa, karena apa yang menjadi haknya tidak dikerjakan, atau disengaja diperlambat oleh pegawai bersangkutan yang seharusnya memberikan pelayanan.</p>
<p>Sebagai misal, pemberian seseorang kepada pegawai atau pejabat, yang ia lakukan karena untuk mengambil kembali haknya, atau untuk mencegah kezhaliman terhadap dirinya. Apalagi ia melihat, jika sang pegawai tersebut tidak diberi uang pelicin atau sesuatu harta lainnya, maka ia akan melalaikan, atau memperlambat atau bahkan mempersulit prosesnya, atau ia memperlihatkan wajah cemberut dan masam. </p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu TaImiyyah rahimahullah berkata: “Jika seseorang memberi hadiah (dengan maksud) untuk menghentikan sebuah kezhaliman atau menagih haknya yang wajib, maka hadiah ini haram bagi yang mengambil, dan boleh bagi yang memberi. Sebagaimana Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku seringkali memberi pemberian kepada seseorang, lalu ia keluar menyandang api (neraka),” ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, Mengapa engkau memberi juga kepada mereka?” Beliau menjawab, “Mereka tidak lain kecuali meminta kepadaku, dan Allah tidak menginginkanku bakhil (kikir).” (Lihat Majmu’ Fatawa, 31/286)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Hadiah yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan agar memberi dan menerimanya.<br />
Yaitu, suatu pemberian hadiah/parsel dengan tujuan mengharapkan ridha Allah Ta’ala untuk memperkuat hubungan silaturahim, kasih sayang dan rasa cinta, atau menjalin ukhuwah Islamiah, dan bukan bertujuan memperoleh keuntungan duniawi.</p>
<p>Berikut ini kami akan sebutkan beberapa permasalahan, yang hukumnya masuk dalam bagian ini, sekalipun yang lebih utama dan lebih hati-hati bagi pejabat atau pegawai, tidak menerima hadiah/parsel tersebut, sebagai upaya untuk menjauhkan diri dari tuduhan atau pandangan negatif, dan dalam rangka membendung jalan bagi dirinya dari pemberian yang haram.</p>
<p>1). Hadiah seseorang yang tidak mempunyai kaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. Sebelum orang tersebut menjabat, ia sudah sering juga memberi hadiah, karena hubungan kerabat atau yang lainnya. Dan pemberian itu tetap tidak bentambah, meskipun orang yang ia beri sekarang sedang menjadi pejabat atau pegawai.<br />
2). Hadiah orang yang tidak biasa memberi hadiah kepada seorang pegawai yang tidak berlaku persaksiannya, seperti Qodhi /hakim bersaksi untuk anaknya, dan hadiah tersebut tidak ada hubungannya dengan jabatan atau usahanya.<br />
3). Hadiah yang telah mendapat izin dan oleh pemerintahannya atau instansinya.<br />
4). Hadiah atasan kepada bawahannya. Dengan kata lain, hadiah dari orang yang mengangkatnya sebagai hakim dan orang yang jabatannya lebih tinggi darinya. Bukan sebaliknya.<br />
5). Hadiah diberikan setelah ia meninggalkan jabatannya, dan yang lain-lain.</p>
<p><strong>E.Bagaimana dengan gratifikasi yang diperoleh oleh pegawai atau pejabat publik? Apakah faktanya sama dengan hadiah dan suap? Ataukah berbeda?</strong><br />
Yang dimaksud gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, komisi pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik. (Lihat, http://id.wikipedia.org/wiki/Gratifikasi)</p>
<p><strong>Contoh-contoh kasus yang bisa digolongkan dalam gratifikasi, antara lain:</strong><br />
1. Pembiayaan kunjungan kerja lembaga legislatif oleh eksekutif, karena hal ini dapat mempengaruhi legislasi dan implementasinya.<br />
2. Cideramata bagi guru (PNS) setelah pembagian rapor/kelulusan.<br />
3. Pungutan liar di jalan raya dan tidak disertai tanda bukti dengan tujuan sumbangan tidak jelas. Oknum yang terlibat bisa jadi dari petugas kepolisian (polantas), retribusi (dinas pendapatan daerah) dan LLAJR.<br />
4. Penyediaan biaya tambahan (fee) 10-20 persen dari nilai proyek.<br />
5. Uang retribusi untuk masuk pelabuhan tanpa tiket yang dilakukan oleh Instansi Pelabuhan, Dinas Perhubungan dan Dinas Pendapatan Daerah.<br />
6. Parsel ponsel canggih keluaran terbaru dari pengusaha kepada pejabat.<br />
7. Hadiah pernikahan untuk keluarga pejabat dari pengusaha.<br />
8. Pengurusan KTP/SIM/Paspor yang “dipercepat” dengan uang tambahan. (Lihat, http://id.wikipedia.org/wiki/Gratifikasi)</p>
<p>Berdasarkan fakta di atas, maka status atau hukum gratifikasi tersebut harus dibedakan:<br />
1. Jika gratifikasi tersebut diberikan oleh pemberinya karena terkait dengan jabatan penerimanya, baik untuk menyelesaikan urusan pada saat itu maupun pada masa yang akan datang, maka status gratifikasi tersebut haram. Statusnya, sama dengan suap.<br />
2. Jika gratifikasi tersebut diberikan oleh pemberinya, sama sekali tidak terkait dengan jabatan penerimanya, tetapi karena hubungan kekerabatan atau pertemanan, yang lazim saling memberi hadiah, maka gratifikasi seperti ini hukumnya halal.</p>
<p><strong>F.SOLUSI SUAP DAN HADIAH YANG HARAM</strong><br />
Secara singkat, solusi memberantas suap-menyuap maupun penyakit sejenisnya, terbagi dalam dua hal.<br />
<strong>Pertama: Solusi Untuk Individu Dan Masyarakat. </strong><br />
1). Setiap individu muslim hendaklah memperkuat ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa merupakan wasiat Allah Ta’ala untuk umat yang terdahulu dan yang kemudian. Dengan takwa ia mengetahui perintahNya lalu melaksanakannya, dan mengetahui laranganNya lalu menjauhinya.<br />
2). Berusaha menanamkan pada setiap diri sifat amanah, dan menghadirkan ke dalam hati besarnya dosa yang akan ditanggung oleh orang yang tidak menunaikan amanah. Dalam hati ini, peran agama memiliki pengaruh yang sangat besar, yaitu dengan penanaman akhlak yang mulia.<br />
3). Setiap individu selalu belajar memahami rizki dengan benar. Bahwa membahagiakan diri dengan harta bukanlah dengan cara yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi dengan mencari rizki yang halal dan hidup dengan qana’ah (merasa cukup dan menerima apa adanya), sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melimpahkan berkah pada hartanya, dan ia dapat hidup bahagia dengan harta tersebut.<br />
4). Menghadirkan ke dalam hati, bahwa di balik penghidupan ini ada kehidupan yang kekal, dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua perbuatan manusia akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang hartanya, dari mana engkau mendapatkannya, dan kemana engkau habiskan? Jika seseorang selamat pada pertanyaan pertama, belum tentu ia selamat pada pertanyaan berikutnya.</p>
<p><strong>Kedua: Solusi Untuk Ulil Amri (Pemerintah).</strong><strong><br />
1). Jika ingin membersihkan penyakit masyarakat ini, hendakah memulai dari diri mereka sendiri. Pepatah Arab mengatakan, rakyat mengikuti agama rajanya. Jika rajanya baik, maka masyarakat akan mengikutinya, dan demikian pula sebaliknya.<br />
2). Bekerjasama dengan para juru dakwa (alim ulama) untuk menghidupkan ruh tauhid dan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika tauhid telah lurus dan iman telah benar, maka, semuanya akan berjalan sesuai yang diinginkan oleh setiap diri seorang muslim.<br />
3). Jika mengangkat seorang pejabat atau pegawai, hendaklah mengacu kepada dua syarat, yaitu keahlian, dan amanah. Jika kurang salah satu dari dua syarat tersebut, tidak menutup kemungkinan terjadinya kerusakan. Kemudian, memberi hukuman sesuai dengan aturan syariat Islam bagi yang melanggarnya.<br />
4). Semua pejabat pemerintah seharusnya mencari penasihat dan orang kepercayaan yang shalih, yang menganjurkannya untuk berbuat baik, dan mencegahnya dari berbuat buruk. Seiring dengan itu, Ia juga menjauhi penasihat dan orang kepercayaan yang buruk.</p>
<p>Demikian penjelasan tentang hokum memberikan parsel kepada Atasan atau para pejabat tinggi Negara yang dapat sampaikan. Semoga Allah Ta’ala memberi kekuatan kepada pemerintah dan kaum muslimin untuk menegakkan ajaran agamanya pada kehidupan ini, sehingga dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan semoga pembahasan singkat dan global ini menjadi ilmu yang bermanfaat bagi penulis dan pembacanya. Wallahu a’lam bish showab.</p>
<p></strong><strong>[Sumber: MAJALAH PENGUSAHA MUSLIM Edisi 19 Volume 2 / Agustus 2011].</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufawaz.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufawaz.wordpress.com/729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufawaz.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufawaz.wordpress.com/729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufawaz.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufawaz.wordpress.com/729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufawaz.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufawaz.wordpress.com/729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufawaz.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufawaz.wordpress.com/729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufawaz.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufawaz.wordpress.com/729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufawaz.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufawaz.wordpress.com/729/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufawaz.wordpress.com&amp;blog=5595585&amp;post=729&amp;subd=abufawaz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufawaz.wordpress.com/2011/08/30/%d8%a7%d9%84%d9%82%d9%88%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%a8%d9%8a%d9%86-%d9%81%d9%8a-%d8%a3%d8%ad%d9%83%d8%a7%d9%85-%d8%a7%d9%84%d9%87%d8%af%d8%a7%d9%8a%d8%a7-%d9%84%d9%84%d9%85%d9%88%d8%b8%d9%81%d9%8a%d9%86/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50a098514e329317cb68c53f08fb0ed?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufawaz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufawaz.files.wordpress.com/2011/08/parcel1.jpg?w=269" medium="image">
			<media:title type="html">parcel</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
